Sunday, May 31, 2009
Erratum
Erratum
1/
Sebutir telur seperti mimpi
Kulitnya hijau percaya
Tidur Dia di beranda.
Hingga ada yang mendekati
sepenuh hati
dari bilik nir cahaya.
2/
Sejak dimulakan
tidur-Mu dijagai ruang-ruang antara
Dari mata ke kata
dari kata ke makna
3/
Kulitmu sehijau telur
Sebutir demi sebutir, mimpi lungkah
ketika Kau melangkah
Dari beranda, cuaca tak dapat lagi tercandra
Di ruang tengah, kamar tidur, dan dapur,
bayang-bayang semakin kabur
Semakin lamur
Akulah Si Buta
yang belum bisa
Kau celikkan!
4/
Aku meraba dan merasa
Mengindera suasana belaka
Hanya bergantung pada percaya;
Ini kerinduan sangat menyengat jangat!
Tanpa tongkat putih, anjing penuntun, dan kaca
mata hitam, aku melangkah. Mengarahkan tubuh
pada kuncup-kuncup kata
Agar tak terlangkup hidup
Tak diruntuhi serpih-serpih diri
Tak dirutuki yang mengingin abadi
5/
Tanpa merah yang sangsi
Kau tegaskan lagi tanda-tanda
yang harus kuhindari
2009
Monday, May 25, 2009
Dia Kini Berjubah
: de
1/
Dia ingin berubah. Tak sekadar mengganti
gambar avatar pada halaman profile, atau
juga mengganti alamat email. Dia bahkan
ingin segera menutup akun facebook!
2/
"Aku ingin mencari sesosok paderi dalam
diri," katanya dengan mata seredup senja
di sebuah kartu pos bertuliskan Pulau Dewata.
Aku menduga; dia akan berkelana. Jauh
ke tempat-tempat yang tak terjangkau
sesiapa bahkan oleh jagad elektronika.
3/
Blognya sudah lama tidak diupdate.
Tak berbalas beratus email, note's tag
dan chat.
4/
Dia kini berjubah. Jenggotnya lebat seperti
akar kecambah. Berdiri dekat rumah ibadah.
"Aku sudah pasrah. Tak kutemukan juga
yang kucari. Tapi aku merasa lebih baik
begini," katanya sambil senyum-senyum
sendiri, waktu kutanya apakah sang paderi
sudah dia temukan.
"Kulihat kau juga sedang gelisah," katanya
tiba-tiba. Ya, begitu tiba-tiba. Hingga tak
kudengar senja tengah mengetuk jendela.
2009
1/
Dia ingin berubah. Tak sekadar mengganti
gambar avatar pada halaman profile, atau
juga mengganti alamat email. Dia bahkan
ingin segera menutup akun facebook!
2/
"Aku ingin mencari sesosok paderi dalam
diri," katanya dengan mata seredup senja
di sebuah kartu pos bertuliskan Pulau Dewata.
Aku menduga; dia akan berkelana. Jauh
ke tempat-tempat yang tak terjangkau
sesiapa bahkan oleh jagad elektronika.
3/
Blognya sudah lama tidak diupdate.
Tak berbalas beratus email, note's tag
dan chat.
4/
Dia kini berjubah. Jenggotnya lebat seperti
akar kecambah. Berdiri dekat rumah ibadah.
"Aku sudah pasrah. Tak kutemukan juga
yang kucari. Tapi aku merasa lebih baik
begini," katanya sambil senyum-senyum
sendiri, waktu kutanya apakah sang paderi
sudah dia temukan.
"Kulihat kau juga sedang gelisah," katanya
tiba-tiba. Ya, begitu tiba-tiba. Hingga tak
kudengar senja tengah mengetuk jendela.
2009
Tuesday, May 19, 2009
Kepada Patung Kuda di Jalan Fatmawati
Kepada Patung Kuda
di Jalan Fatmawati
Dekat kedai gipsum,
kakimu terangkat ke udara.
Siapa yang akan kau sapa?
Duhai, Kaki membatu,
hentakkan saja sepi mu
ke dadaku! Ya, ke dadaku!
Agar runtuh segala ragu,
lepas setiap yang repas.
Dan yang termangu
- tetangan terbelenggu -
silakan saja berlalu!
Melintas dari hadapmu.
2009
Bugenvil
Bugenvil
/1/
Dari bahu jalan tol, tangan-tangan itu
memanjangkan mataku
Tangan yang juga melintaskan kembali
kota yang telah mati berulang kali
hingga mata ini seakan tubuh sungai
yang penuh bangkai
/2/
Apa tersisa di situ?
Selain berkas bunga
kertas yang tinggal sesaknya
dan seorang diri, ia
mengenang panjang leher hujan
dengan cupang merah malu
/3/
Ah, kenangan!
Betapa lekas bunga itu lepas
dari tubuhku
Tubuh sungai
yang terus menghempas
bangkaimu
2009
/1/
Dari bahu jalan tol, tangan-tangan itu
memanjangkan mataku
Tangan yang juga melintaskan kembali
kota yang telah mati berulang kali
hingga mata ini seakan tubuh sungai
yang penuh bangkai
/2/
Apa tersisa di situ?
Selain berkas bunga
kertas yang tinggal sesaknya
dan seorang diri, ia
mengenang panjang leher hujan
dengan cupang merah malu
/3/
Ah, kenangan!
Betapa lekas bunga itu lepas
dari tubuhku
Tubuh sungai
yang terus menghempas
bangkaimu
2009
Nautilus
Nautilus
1/
Di telingaku, Kau simpan laut
sedekat ujung maut
2/
O, Tubuh yang melengkung
lekaslah Kau bangun!
Ombak telah menggunung,
dan bahtera ini limbung
3/
Dari luar cangkang, telah
kubuang sejumlah bimbang
kusisakan sedikit sirip
dan himpun teritip di perut
perahu, di carut wajahku
Karena hanya bisa kurang,
dan tak mungkin hilang.
4/
O, Mulut yang Siput. Ini badai begitu
ribut, sedang pelayaran berpantang surut!
O, Mata yang Melata. Kau sebut apa
yang menyambar tiang bendera dan layar?
5/
Di tubuhmu, kuputar lagi
sepenggal sepi
6/
Yang meringkuk seperti kelomang
membentuk gelombang
dari
deru
dermaga
2009
1/
Di telingaku, Kau simpan laut
sedekat ujung maut
2/
O, Tubuh yang melengkung
lekaslah Kau bangun!
Ombak telah menggunung,
dan bahtera ini limbung
3/
Dari luar cangkang, telah
kubuang sejumlah bimbang
kusisakan sedikit sirip
dan himpun teritip di perut
perahu, di carut wajahku
Karena hanya bisa kurang,
dan tak mungkin hilang.
4/
O, Mulut yang Siput. Ini badai begitu
ribut, sedang pelayaran berpantang surut!
O, Mata yang Melata. Kau sebut apa
yang menyambar tiang bendera dan layar?
5/
Di tubuhmu, kuputar lagi
sepenggal sepi
6/
Yang meringkuk seperti kelomang
membentuk gelombang
dari
deru
dermaga
2009
Monday, May 18, 2009
Tobong
Tobong
1/
Tak ada seekor kera
dalam bubungan bara
sebab ini bukan tangis
seorang Shinta, Sayang.
2/
Tuhan lebih dulu menyapa
wajah merah gerabah
sebelum ditata tanganmu,
sebelum dibaca bibirmu, Api.
3/
Telah dibariskan – dan digariskan - wajahku
pada lebam sekam, ngeri jerami, dan tirus
ranting turi, agar setiap api – setiap kali
- menyirami mataku.
4/
Seperti Hanuman, yang di jarinya
tersemat amanat seorang raja,
hendak kuujarkan - kupijarkan
lagi - redup rahasia cahaya.
5/
Hingga yang dulu mengais
- menangis - tak lagi berduka
sebab Tuhan turut mengaduk
tanah, membuatku tak lagi buta.
2009
1/
Tak ada seekor kera
dalam bubungan bara
sebab ini bukan tangis
seorang Shinta, Sayang.
2/
Tuhan lebih dulu menyapa
wajah merah gerabah
sebelum ditata tanganmu,
sebelum dibaca bibirmu, Api.
3/
Telah dibariskan – dan digariskan - wajahku
pada lebam sekam, ngeri jerami, dan tirus
ranting turi, agar setiap api – setiap kali
- menyirami mataku.
4/
Seperti Hanuman, yang di jarinya
tersemat amanat seorang raja,
hendak kuujarkan - kupijarkan
lagi - redup rahasia cahaya.
5/
Hingga yang dulu mengais
- menangis - tak lagi berduka
sebab Tuhan turut mengaduk
tanah, membuatku tak lagi buta.
2009
Thursday, May 14, 2009
Hidangan
1/
Setiap malam, di meja makan,
kulihat kau menggeliat setiap
tajam pisau mengerat tubuhmu
dan setiap keratan itu
menjerat tubuhku.
2/
Dengan dada gemetar
(yang bukan tersebab lapar)
kuterima tubuhmu
jadi tubuhku
Inilah tubuh yang kusentuh
dulu. Tujuh lubang peluru
telah lama tumbuh di situ.
Dan dari lubang-lubang itu,
kutemukan kembali lukaku.
3/
Aku makin tersesat di
tubuhmu, tersangkut
dalam lubang luka
bermata nyalang.
Ada yang mendesak-desak,
seperti kerongkongan tersedak,
seperti suara isak
hanya lebih lirih;
Keluarlah! Keluarlah!
Tapi tubuhmu
makin erat,
dan tubuhku
makin berat
meninggalkan
lubang lukamu.
Menanggalkanmu!
4/
O, kuingat lagi;
Kau menggeliat di tajam pisau,
keringat dan darah jadi atau,
dan suka cita adalah duka cita
yang terlampau risau.
Kulihat lagi di meja makan,
setiap malam, tubuhku
mengerat tubuhmu, dan
tubuhmu melumat tubuhku.
Setiap malam.
Setiap makan.
2009
Setiap malam, di meja makan,
kulihat kau menggeliat setiap
tajam pisau mengerat tubuhmu
dan setiap keratan itu
menjerat tubuhku.
2/
Dengan dada gemetar
(yang bukan tersebab lapar)
kuterima tubuhmu
jadi tubuhku
Inilah tubuh yang kusentuh
dulu. Tujuh lubang peluru
telah lama tumbuh di situ.
Dan dari lubang-lubang itu,
kutemukan kembali lukaku.
3/
Aku makin tersesat di
tubuhmu, tersangkut
dalam lubang luka
bermata nyalang.
Ada yang mendesak-desak,
seperti kerongkongan tersedak,
seperti suara isak
hanya lebih lirih;
Keluarlah! Keluarlah!
Tapi tubuhmu
makin erat,
dan tubuhku
makin berat
meninggalkan
lubang lukamu.
Menanggalkanmu!
4/
O, kuingat lagi;
Kau menggeliat di tajam pisau,
keringat dan darah jadi atau,
dan suka cita adalah duka cita
yang terlampau risau.
Kulihat lagi di meja makan,
setiap malam, tubuhku
mengerat tubuhmu, dan
tubuhmu melumat tubuhku.
Setiap malam.
Setiap makan.
2009
Subscribe to:
Posts (Atom)





