Google
 

Thursday, July 23, 2009

Malaikat di Ujung Jalan

Ini pengembaraan yang bahagia
kita akan selalu bersama-sama,
kaki dan sepatu
tak pernah lagi peduli pada batu
atau pada langit yang setengah menangis,
setengah tertawa.

Ini juga penggembalaan yang bersahaja,
tak perlu lagi peduli pada hujan dan senja
yang saling memainkan daun dan jendela itu.

Kita berdua saja berjalan.
Dan seperti telah saling tahu
kapan akan berhenti, menepi, istirahat,
atau berlari kembali, kita tak akan banyak bicara.

Kau tentu tahu, bagaimana aku telah lama
mempersiapkan sepasang sepatu
sebagaimana engkau tak berhenti
yakin dan berdoa; ada sepasang kaki
yang kuat, lalu mengikatmu erat
pada perjalanan seakan tanpa penat ini.

Maka kita tak akan lagi peduli
pada hal-hal selain perjalanan ini.

Pernah sekali kita sepakat
untuk berhenti, saat kulihat
ada malaikat di ujung jalan
memainkan sebilah belati.

Aku kuatir kau akan terluka dan mati,
engkau takut aku tak akan pernah sanggup lagi berlari.

2009

Tuesday, July 14, 2009

Telah Terbit Novelku


NOVEL "DAN SEGALANYA MENGHILANG"

Karya Dedy Tri Riyadi

"Sejujurnya aku belum merencanakan apapun selain menghilangkan diri dari kehidupan ini. Lalu aku terkenang pada sesuatu yang ingin aku lakukan sepanjang hidupku. Bertahun-tahun aku menyukai puisi. Menjadi pembaca yang baik dari puisi-puisi orang lain. Mungkin inilah saatnya aku mencoba menuliskan puisi." – Arya Dananjaya, wartawan.

"Aku dan Danan adalah sepasang kekasih yang tidak akan pernah bisa bersatu."- Miranti, mahasiswi Kyoto University.

Sinopsis

Sebuah peristiwa pembunuhan artis penyanyi yang sedang merintis karir menjadi diva di Indonesia membuat Danan merasa ada yang salah dalam hidupnya. Pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar kriminal membuatnya terseret dalam lingkaran pembunuhan berantai yang juga mengancam keselamatannya. Dia juga harus berjuang untuk meluruskan hidupnya yang dianggapnya salah cetak dan salah letak. Termasuk kisah cintanya dengan seorang penderita trauma kekerasan domestik bernama Miranti.

Berikut pendapat yang sudah membacanya;

"Sebuah Anagram kehidupan!" – Hasan Aspahani, Penyair.

"Pertama-tama, bayangkanlah sebuah novel detektif khas Sir Arthur Conan Doyle atau Agatha Christie. Kemudian bayangkan kisah semacam itu diramu dengan gaya bertutur yang cenderung puitik-melankolik yang biasa Anda temui dalam novel-novel drama romantik khas Freya North, itulah keunggulan novel ini. Dedy tidak hanya bicara ihwal pemecahan kasus kejahatan, lewat novel ini, dia memberi tahu kita bahwa terkadang hidup merupakan kelindan peristiwa yang kompleks dan penuh makna—yang harus kita temukan signifikansinya bagi kehidupan masing-masing kita." - Fahd Djibran, Penulis, Pemimpin Redaksi Eduka.

"Dari halaman ke halaman, sebenarnya penulis mengisahkan perjalanan puisi dengan bahasa puisinya sendiri. Lewat tokoh-tokohnya, penulis menyajikan sebuah cermin. Dan saat selesai membacanya, ternyata wajah kita juga ada di situ." – Johannes Sugianto, Penyair.

"Cerita ini penuh suspense. Dibuka dengan cara semacam Beverly Barton dalam Killing Me Softly, permainan dan interaksi karakter yang kuat serta perpindahan sudut pandang yang terjaga di jalannya cerita." - Pringadi AS, Peraih HOKI Literary Award 2008 kategori Cerpen.

Facebook in Google