Posts

Showing posts from April, 2015

Ternyata Selubung itu Belum Terbuka, Milner

Ternyata selubung itu belum terbuka, Milner. Ada yang masih menutup muka, ada juga yang terbiasa membungkus diriku ini. Dalam perkataan lain, masih bisa dikuliti dari tiap kata buku-buku yang aku baca. Buku yang menerbangkan aku ke gelap hutan, ke ruang ratapan itu. Buku yang membuang jauh aku ke dalam dirimu. Selubung yang padanya ditambahkan rahasia, semacam warna, hal yang tabu, atau perlu dicerahkan dengan lentera. Karenanya, aku menulis puisi ini. Menguraikan kejadian-kejadian yang sengaja disembunyikan. Yang sengaja dibunyikan dengan cara berbeda. 2015

Buccere, Mata itu Bercerita

Kau menginginkan ada yang terbelalak, memandang dengan tak jenak: sejenis gagak terbang dari kata-kata yang tegak. Mata itu akan bercerita: dari satu puisi dunia seolah terhenti. Duka digali dari diri, dan cinta mengalir tanpa henti. Kau ingin ada yang melihat: betapa terbakar yang sia-sia: kata-kata dari tangan dan dada yang gemetar. Kata-kata yang seolah bermakna: ini salah dan itu benar. Dan kunci-kunci yang menutup semua pertanyaan terbuka. Dan tali-tali yang mengekang diri dilepaskan. Dan pada mata itu (yang terkadang terbuka tapi kadang juga tertutup) dunia dibingkai dengan rapi. Dengan semacam bentuk hati. 2015

Yang Tak Sepele dari Infante

Jika boleh kusebut, pada setiap kata selalu ada kabut. Yang mengaburkan apa yang berada di belakangnya, dan menegaskan siapa yang ingin dikedepankannya. Aku hanya bisa menduga, mengapa setiap kata bisa berdiri di sana, lengkap dengan kemuramannya. Lanskap tak rapi dengan figur tak beralas kaki. Mengangkat diri sendiri di tengah belantara (apa yang kuduga sebagai jarak) semacam kerinduan. Aku hanya bisa menyebut diriku tenggelam dalam satu warna: kadang, tak semua yang kurekam perlu untuk diceritakan. 2015

Setelah Mrozik

Cinta, bukan angsa. Dia mengembara dan kembali pada telaganya sendiri. Telaga yang teramat sepi. Telaga yang berulangkali membunuhi mimpi. Cinta, bukan juga kupu-kupu. Dia yang terbang, dan menyimpang ingatan tentang kembang-kembang. Beruntung sekali yang mekar dan terkenang. Aku mungkin penyuka warna. Penyuka kata-kata yang bisa mengubah suasana. Tapi aku bukan pecinta yang biasa. Aku ingin cinta yang merangkum alam raya. 2015

Seperti Mata Mengundang Cahaya

Berkali-kali aku datang, serupa burung menyusun sarang. Menyatakan cinta adalah pekerjaan tanpa penyelesaian. Menghadirkan aneka ragam bukti: telur, ulat, kepompong, kupu-kupu, dan burung yang siap memakan, sebuah lingkaran kehidupan. Tapi itu semua tak cukup untuk meyakinkan setiap lubang yang tersusun dari bawah sampai ke atas pada seluruh dinding kata-kata. Sebab ada seekor burung dengan lapar pada paruh, gelisah pada mata, dan bunyi pada perutnya pada setiap lubang itu. Meskipun aku datang dengan gaun yang berkembang, kemben yang hampir tak menutup dada, serta rambut yang kuikat ke belakang, selalu saja ada kata yang meminta untuk aku terus datang. Barangkali, setiap waktu dalam diriku adalah keinginan untuk menjawab setiap pertanyaan. Bahkan pertanyaan yang menumpuk dan menutupi diriku sendiri. Karena itu, Kekasih, meski aku remuk aku terus datang. Seperti mata mengundang cahaya untuk bisa terus melihat hal-hal yang absurd dan yang nyata. 2015

Setidaknya

Tak semua yang baik berbunga. Pun botol parfum yang kupegang ini. Atau waktu yang terus menjulur dan menjalari tubuhku. Aku, sebagaimana bahasa, berdiam sederhana. Mencoba mengharumkan isi hati. Tetapi terbuka, dan membiarkan diri dilalui olehmu. Barangkali, menunggu adalah bersetia. Atau setidaknya membuat segalanya rapi. Pasti, di suatu hari, ada yang diam-diam pergi -- tak pernah setuju. 2015

Semua Logo Adalah Wujudmu

Di sini kita lengkap, tanpa nostalgia. Hanya ada sajak terbuka, menatap angkasa. Waktu bergerak, dari simbol dan benda-benda. Aku tetap -- menjaga prasangka. Kau berlalu, di ujung jemariku. Menuju tunduk tepi, merunduk dari mimpimu. Sebuah tanya adalah gerak pemalu; Betapa gelap masa lalu? Aku tak menjawab -- sajak masih terbuka seperti menduga hujan bintang di cakrawala. Ah, kamu! Harusnya aku sudah tahu: semua logo adalah wujudmu. Semua yang menghendak dituliskan hanyalah soal waktu. Waktu berduka tetaplah tiba-tiba. Seperti ada yang bertanya: Siapkah kita bertemu, dan siapakah aku menurutmu? 2015