Posts

Showing posts with the label puisi

Oasis

Jangan mandi dalam wadi yang kau tak pernah yakin ia ada di depanmu -- barangkali ia hanya buah semu dalam pikiranmu, tentang rimbun hijauan, saat yang ada hanya angin panas & keras dinding bukit batu. Namun, pergilah ke padang- belantara & merataplah di sana. Sampai -- ia muncul sebagai roti dari batu, anggur dari hujan, atau hanya sebulatan kolam yang menanti tubuh telanjangmu masuk & berenang. Mabuk & bersenang-senang. Seakan tak pernah ada tempat seperti itu di dunia ini. 2021

Nestapa

Kita selalu terburu memilih akhir dari garis sebagai titik B, karena kita rasa semua berawal dari A. Dan semua garis kita anggap lurus, tak pernah berkelok, terhenti sejenak, atau terputus karena habis tinta. Kita semua penulis yang buruk mengira selesma dan reumatik menyerang di malam dingin dan tak ada lengan berpeluk. Padahal bisa saja kita nyalakan tungku, tarik selimut, bakar cerutu, tuang anggur, lalu pandangi langit malam, tanpa berpikir tentang apa dan siapa kita di hadapan semesta, tapi -- bisakah? 2021

Jalan Kecil

"Viva alegremente!" Seloroh sopir bus tua bertopi kusut seperti hari rabu, sebelum menurunkan aku di jalan kecil dekat kafe tempat kau menunggu. Mungkin aku tampak seperti seorang pengecut atau penakut. Namun aku percaya hidup selalu dipenuhi rasa kalut bertemu orang baru, berada di tempat baru, atau tersesat pada situasi yang tak pernah kita kira sebelumnya. Dan segelas tequilla, lengkap dengan limau dan garam bukan satu-satunya cara untuk membuatnya jadi begitu biasa. Namun, itu bisa jadi jalan kecil yang nyaman untuk kita berjumpa. Jadi, kukatakan pada sopir itu, "Na verdade, meu velho, com certeza quero." Keriangan adalah jalan kecil penuh aneka pengalaman dan angan-angan menyenangkan. Paling tidak, ia tempat melipir dari riuh percakapan dengan bahasa & pikiran para penjajah dan kaum jajahannya. 2021

Mermaid"s School

Berapa lama kita bisa diam dan orang menyangka kita mati tenggelam? Apakah air mata kita terlalu berharga jika jatuh saat kapal itu melaut jauh? Seberapa cepat berjingkat ketika seluruh sisik menghilang jadi jangat, dan seluruh sirip jadi jari & kuku pada jalan-jalan batu itu? Dunia yang aku tahu masih seperti laut. Dingin dan penuh arus. Tanganku masih sering terlilit ganggang & terantuk karang. Aku suka memandang aneka warna sisik ikan. Namun, mereka tak mampu mengalihkan pesona daya hidup penuh gelora yang jadi ombak di pantai itu. Yang terdengar seperti jerit kesakitan tapi tak ada yang benar-benar memerhatikan. 2021

Masalah Kesehatan

Kami memulai membicarakan tentang kulit dan mata, ketika matahari sudah sempurna tenggelam. "Ada," kata istriku, "Vitamin untuk kulit agar tetap remaja. Cuma, harganya dua juta." Matanya menerawang, menembus langit-langit dapur rumah kontrakan kami. Tetapi, jantungku mulai sering berirama tak beraturan. Tetapi, ginjalku pun sering terasa nyeri dan pegal. Tetapi, urusan iuran bpjs pribadi juga harus segera dibereskan. Kami ingin mengakhiri pembicaraan tentang masalah kesehatan, karena matahari akan terbit lagi di pagi hari, meski gigi kami mulai berlubang dan bertanggalan. "Ada," kata istriku, "Klinik gigi baru dibuka dekat Buaran. Aku lihat papan namanya baru didirikan. Anak-anak harus segera dibenahi geligi mereka." Matanya berbinaran, terang seperti lampu philips 150 ribu yang kami pasang di langit-langit dapur rumah kontrakan kami. Tetapi, kami harus mengirit pengeluaran. Tetapi, kami masih harus membayar cicilan. Tetapi, masa depan adalah ke...

Rumah

1. Di halamannya, aku bermimpi daun berbentuk hati, separuh hijau, selebihnya kuning tua kecoklatan jatuh dengan asa jadi serasah untuk sebentuk biji berkecambah. Di pagi basah, sebagian dari diriku berdiri memandangi langit cerah. Sebagian lain masih belum bisa tidur. Terlalu banyak rencana di dalam rumah. Terlalu banyak bencana di luar rumah. Tubuhku kolam duka bergolak-golak airnya. Yang ingin kusampaikan padamu -- langit cerah dan akan selalu cerah. Meski mendung akan datang dan hujan akan turun. Kata-katamu, atap dengan pelimbahan yang siap menampung hujan itu. Haruskah aku risau pada hujan? Jadi, aku berdiri di halaman dengan keyakinan seperti daun jatuh itu. Daun berbentuk hati, sebagian hijau, sebagian lagi kuning kecoklatan. Dan tubuhku kolam bergolak-golak airnya. Seperti ada tangan yang terus menerus bergerak di dalamnya. 2. Puisi ini menjadi beranda. Pot-pot bungaran memamerkan warna. Mereka perlu teduhan dan cahaya. Mereka perlu hujan atau air pancuran. Setiap hari, kau be...

Sebilah Pisau

1. Aku pikir ini malam. Dan benar, ini malam. Seharusnya aku sudah tertidur. Dan setelahnya, aku bermimpi. Apa arti hidup tanpa bermimpi? Pertanyaan itu, pisau tergeletak di meja dapur. Sebentuk nyawa adalah taruhannya. Nasib semata luka. Dengan atau tanpa darah -- luka adalah luka. Setiap kita tak pernah bermimpi akan mendapat luka di hidupnya. 2. Waktu, tahun berapa saja, hari apa saja, mengiris hidup kita. Namun, kita tak mampu menghentikan waktu. Kecuali, kau adalah luka. Kecuali, kau adalah pisau. Pisau yang tajam mengembalikan kenangan. Membuatmu jadi bayi di mata ibu. Pisau, anggota keluarga yang tak ingin kita akui keberadaannya. Namun, ia ada. Tergeletak di meja dapur. Di sebelah mimpimu. 3. Ada malam menjelma pisau. Pagi harinya, aku tinggal bercak darah di dinding, di lantai, di jalanan. Tak ada yang bermimpi jadi pisau. Tak ada yang bermimpi jadi malam. 4. Kata adalah pisau. Kata menembus daging dan jantung. Malam ini, dalam mimpiku -- kau menjelma rumah jagal. Tak ada yang...

Bersin

Jangan beri banyak alasan untuk sesuatu yang sederhana. Aku tahu dan percaya -- kau perlu demam dan selesma dan momen yang tepat, meski itu singkat. Jangan terlalu mudah mengatakan sesuatu maha penting karena direncana. Aku malas mendebat -- karena ada waktu untuk kau istirahat menjauh dari segala perkara, menepikan sejumlah gulana. Mengertilah -- larik-larik ini serumpang suasana ruang isolasi; selimut bau minyak kayu putih bercampur kecut keringat dan rintih malam-malam yang tak ingin kau perdengarkan. Dan, aku memang masih ragu: ini semacam reaksi spontan pada dunia dan kukuh kuasa. 2020

Telepon

Aku menyebut namamu, tapi namamu juga namaku. Hubungan kita semata dibentuk dari kabel, transmiter, satelit, dan kehendak untuk saling terkait. Sedang yang akan memisahkan; daratan, lautan, dan cinta. Kadang, sering hilang sinyal -- kita memang di tengah perjalanan, turun-naik lift kehidupan. Namun, kita akan selalu terhubung. Ada dengung di kabel begitu percakapan terhenti. Tidak peduli jika hanya bertukar kabar atau memang menyampaikan duka -- waktu tak pernah terasa pas saat hendak memutus. 2020

Sajak Pertama

Bahkan kita belum tahu apa arti tangisan itu. Nyanyi satwa hilang lahan? Atau tangan kita tak mampu menahan apa yang tak pernah diucapkan sebentang firman? Aku mengira; hanya sebuah persembahan. Aku menjeritkan nama-nama dan tak ada namamu di sana. Kau seperti tidur, seperti terkubur. Kita menggali waktu. Di sana -- kita akan bertemu. Bahkan kita belum tahu apakah kita memang akan bertemu. Ada yang membunuh diriku. Ada yang menuduh; kaukah itu? Dalam kalam: kita akan terus diperjalankan. Kita merasa harus menemukan. Sebuah jalan berarti pagar terbuka, dan kita tak lagi duduk di taman. Kita sibuk dengan seluruh pikiran, tapi tak pernah berjalan ke mana-mana. Kita bergerak dengan bermacam kehendak. Aku mencarimu. Kau mencariku. Sampai seekor gagak mematuk tanah. Mengajari kita menyimpan darah tumpah. Dan kita berlari ke sembarang negeri. Kita menghindar dari sekeranjang ngeri. Beban itu bernama cinta. Karena beban itu kita bersuara. Jangan mengira ini hanya persembahan. Ini lebih dari me...

Bingkisan

Pertama, kau akan terkejut saat ia sampai di hadapanmu, meski sebelumnya, dari luar pintu pagar, pengantar itu telah berteriak, "Paket!" dan kau telah melihat wujudnya -- kardus coklat berbungkus plastik bening, masih ditambah lilitan pita perekat plastik bening, yang tanpa ragu kau segera membubuhkan tanda tangan pada resi yang disodorkan. Setelah keterkejutan itu lesap, kau segera merasa penasaran. Dunia seperti apa terbuka bagi seekor anak ayam dari dalam cangkang telur? Semasam apa sebutir mempelam yang tiba-tiba jatuh di halaman dari pohon yang didera hujan semalaman? Meskipun ia telah terbuka, kau masih juga didera perasaan untuk memastikan: sebiru apa baju itu sesuai dengan warna toska yang kaupesan? Apakah panjangnya tepat pada pertengahan betismu? Seberapa mirip ia dengan gambar katalog yang membuatmu tertarik untuk membelinya? Manusia memang hidup dengan banyak dugaan dan kecurigaan, meskipun bingkisan itu sudah sampai dengan aman di tangannya. Meletakkan dengan sek...

Gambar

Kau bisa berlama-lama menatapnya; kanvas putih, selarik warna pudar. Kau bisa bersitahan berpendapat -- ini masa lalu, waktu yang ingin kukuburkan, atau, di waktu lain, kau ingin mengatakan -- di sana ada masa depan, terang sekaligus samar. Kau tidak bisa menolak pada seseorang yang ingin sekali menyebut; ada sekelompok manusia terusir dari situ. Kau juga tak bisa membantah jika ia ingin berkata; di sana ada keterasingan yang belum pernah dirasakan sesiapa. Kanvas putih, selarik warna pudar, mempersilakan kau masuk dan mendengar apa saja; meski hanya gema dari ruang hitam di hatimu. 2020

Beberapa Puisi Terjemahan

Vladimir Mayakovsky Rasanya Mungkin Berbeda Seekor kuda melihat seekor unta lalu tertawa terbahak "Betapa aneh bentuk dari kuda itu!" Unta itu membalas: "Kau - seekor kuda? sama sekali tak mendekati! Kau seekor unta yang belum jadi, sepertinya." Hanya Tuhan, yang tentu Mahatahu, mengenali mereka sebagai mamalia dari jenis yang berbeda. 1929 Paavo Haavikko Kidung Bunga Memanggung pokok-pokok cemara; buah-buahnya berguguran tiada jeda; O kau, anak gadis penebang pohon, melangkah laksana ancala, betapa gusar dan betapa megah, dengar, kalau kau tak pernah dicinta, kalau aku tak pernah dicinta (kata-katamu terpahit saat kita berpisah), O dengarkan -- buah-buah cemara, menghujan ke atasmu dengan limpah, tanpa jeda, tanpa kasih. Nissim Ezekiel Malam Kalajengking...

Menyairkan, Menyiarkan.

Image
Menyairkan, Menyiarkan.   … Ada guguran salju di bukit-bukit itu! Dan seluruh diriku ada dalam genta-genta. Yang kelonengnya tak bisa menyelamatkan siapapun dari jurang! (Penjelajah, Osip Mandelstam, 1912) Saya menerima sebuah buku puisi berjudul "Bunga, Kupu-kupu, Mimpi dan Kerinduan" karya Wirja Taufan yang merangkum puisi-puisinya dengan bertanggal tahun 1983 sampai 2020. Hal ini mencerminkan sudah lumayan panjang laku kepenyairan yang telah ditempuhnya. Wirja Taufan, yang berdasarkan epilog yang ditulis oleh sastrawan Damiri Mahmud, juga pernah menggeluti profesi lain selain menyair yaitu penyiar radio (tepatnya RRI). Seorang penyair, seperti petikan puisi Osip Mandelstam yang saya kutip di atas, adalah benar sebagai seorang saksi zamannya. Ia hendak berbuat sesuatu untuk apa yang ia saksikan. Dalam puisi itu, tersirat bahwa ia sepenuhnya berada dalam genta dan membunyikan tanda bahaya (genta, bel). Meskipun ia juga sadar belum tentu hal itu bisa menyelamatkan seseorang. ...