Posts

Hari Keberangkatan

Bergegas mengemas mimpi sebelum menelepon taksi ada tanya yang menepi "apa yang akan terjadi?" Ratusan kenangan menyelam bagai ikan dalam lautan bayang-bayang berkeriapan sepanjang perjalanan "Inikah rindu itu?" ada malu yang terpalu berdentam bertalu Ada kata dalam hati "aku harus pergi" sebelum semua mimpi tak berarti esok nanti

Sajak Peron

Barisan bangku tidak teratur melontarkan kata yang jujur "Siapa yang bisa tidur?" Sebentar lagi peluit terdengar layaknya sebuah kabar Di sini hanya persinggahan tak ada yang bisa kita rebahkan tak juga kantong mimpi bahkan bunga akan mati Di antara deru yang berseru kita kemas hati buru-buru Gerbong-gerbong telah terbuka meminta paksa tubuh dan jiwa untuk perjalanan penuh makna Dari barisan bangku peron ini kita mengantri untuk pergi

Sajadah

"kapan doa sampai pada alamatnya?" terlipat rapi sebuah tanya terbalut bau wangi di dalam almari walau selembar walau sebentar sujud 'kan kubenamkan pada sutera penuh kelembutan

Bidadari dalam Palung

Palung waktu ciptakan pusarannya sendiri Aku terseret di tepinya Lalu senja pun mengerung "Setan mana yang pantas aku kutuk?" Aku diam. Hari pun telanjur malam Bidadari dalam palung ajak aku pulang "Setan!" keluhnya kudengar saat sampai di kamar

Sajak Asap

Aku pegang dada menahan kata tanya " Api sembunyi di mana?"

Sajak Api

Sebuah kata tersulut di bibir kayu, merayu Api pun membara dalam rindu, tanpa ragu tuntas lah janji api pada kayu Kayu tunduk, hukum alam dipeluk kala cinta diukir sebagai unggun gemunung angan pun ditimbun Pada sulut pertama kali Api telanjur birahi kayu pasrah menanti arti

Sajak Belukar

/1/ Api telah meninggi berderak lah bunyi bara tak mau pergi Sejak semak disulut tanganku memegang lutut hampir sujud /2/ Pokok kayu menghitam layu api meredam laju Belukar musnah jadi abu dan debu tanah aku, ladang yang punah