Posts

catatan akhir tahun

jika tanah masih berhumus kukira engkau yang begitu tandus menyemai embun dengan kenangan tanah merah pekuburan tempat ibu memetik bunga kamboja jika hujan masih basah tak hanya aku yang begitu resah nikmati luka luka penuh nanah bumbu hidup bertabur garam di sana engkau banyak temukan diam hanya angin pengembara teman lelaki pengelana di sebuah negeri tanpa nama mereka bisa tertawa bersama aku dan kamu, entah siapa dan mereka masih berduka

setidaknya

setidaknya, biarlah kepedihan tertancap di punggung kami walau sejenak biar dada ini tak selalu tegak setidaknya, hentikan sebentar lari kami yang hilang arah sebab kadang kata terendap di sela sela batu dan tanah setidaknya sejenak biarkan kami berbaring bersama bumi di bawah matahari yang sama

mahaduka

1/ luka mendedah air mata ada kenangan terbuka saat kita tak menginginkannya 2/ duka serupa langit di hari petang sebentar lagi malam akan mengekalkan warna hitamnya 3/ air mata kembali meruah banjir tak berkata sudah sungai alirkan resah hujan nyanyikan warna darah di sini, kami menghitung tubuh kami sendiri dalam gigil yang tak kunjung musykil

[Pernyataan] Cak Bono dan Asosiasi

Asosiasi dan hasil proses asosiasi berawal dari persepsi -"esse est percippi". Sebuah persoalan persepsi tentang bagaimana kita melihat suatu realitas. Misalnya saat bersama-sama berkumpul di Stasiun Gambir sambil melihat langit sore yang merah dan juga Tugu Monas yang tegak berdiri di sana maka akan banyak persepsi yang tidak akan sama antara satu orang dengan orang yang lain. Dari satu peristiwa di atas, akan ada banyak kalimat-kalimat puisi yang tercipta, misal : "Senja yang menepi dijemput malam" - Johannes Sugianto "Sore itu perih sekali" - Cak Bono "Kerlip binar matamu : airlaut yang menggerus lunas perahu" - Dino F. Umahuk "Langit sore menari gemulai" - Anto Bugtronic "Jingga melarut pada malam" - Fitri Menurut Cak Bono, salah satu ciri orang yang berbakat puisi itu ekspresit, melatih berkata-kata setiap saat, sedikit demi sedikit. Sebab puisi adalah kata yang dilatih. Pada setiap persepsi, ada lautan bawah sadar. ...

dari sebuah kalender

1/ lautan airmata angka di kalender menghitung jumlah luka 2/ angin seolah tak ingin ribut hujan telah terdiam di kolam lumpur menanti suara terompet dinyaringkan kaki ini kami tarik ke atas hindari tanah yang bergerak basah sambil mengisak dalam diam angka kembali menjadi juri suara siapa yang paling lantang 3/ tahun ini hujan penuh isak kami juga jenuh mungkin lewat malam ada seseorang tertawa riang

desember di hatimu sungguh hangat

dekat perapian dan pohon terang semisal lilin di atas meja bertatap mesra anggur dalam cawan sepasang anak dara bersayap tipis salju dalam kaos kaki tebal dan rimbunan kotak berpita semisal lonceng yang bergema ditingkahi terompet sukacita rusa rusa berlari menanti bintang fajar

kelambu

: anb selalu saja ada gangguan setiap malam sebelum terpejam sebuah doa yang belum terucapkan bahkan seekor nyamuk yang cari makan lalu aku masuk ke dalam kelambu satu-satunya teman tidur yang tenang ia redakan gangguan malam tapi aku malah tak bisa tidur berpikir kelambu ini begitu nakal dipenjarakan aku dalam ruang dengan alasan menahan nafsu jalang milik nyamuk-nyamuk kelaparan aku ucapkan sepotong doa "biarkan kelambu itu tidur, Tuhan" sebab malam masih teramat panjang