Posts

aku kian kuyup

setidaknya pagi masih utuh meskipun kau belum penuh dan hutan belum mau lepaskan kicau burung ke udara sepertinya angin hanya bisa bawa sisa sisa kabar duka hingga kau pun luruh sebagai embun di permukaan telaga lalu bidadari turun dari pelangi memandikanmu dan bercerita sabun dari surga pembasuh segala dosa tapi pecah lah gerimis dan bertebaranlah hari ini kau tetap kuncup dan aku kian kuyup hutan menyimpan nyanyian burung pelengkap musim yang murung

jendela hujan

1/ sayap hujan naungi kota tak ada yang berjalan semua melaju atau terdiam tapi ternyata mereka tak juga bertahan sebentar-sebentar langit ditengok hanya untuk memastikan ke arah mana akan dibawa 2/ jendela seperti mata, berkedip sebentar lantas tertunduk sementara yang memandang bermain asap di antara cuping hidung mencari roh tenang sebab perjalanan hujan basah penuh gelisah 3/ jendela dan hujan pernah bertemu sesekali mereka pun dilanda lupa hingga malam kemarin, ketika ada yang menangis di depan jendela hujan pun termangu,"apakah aku pernah singgah di situ?"

pesan bapak tentang mimpi

bapak sering berkata," nak, bermimpilah kamu menjadi seorang pemimpin." aku malah bertanya, "jika aku jadi pemimpin, lantas bapak jadi apa?"

maka kubiarkan

maka kubiarkan ibu bercerita tentang rambut yang menua helai helai rindu bertebaran adalah uban yang rajin dicabuti saat dia menarik sehelai kudengar kidung cinta paling mesra dan air mata terseka serit sebelum rambut tergelung keterangan : serit = sisir khusus berjari-jari halus dan rapat

hujan jatuh di pucuk caping

sewaktu petani mengayunkan cangkul bumi mengerang pelan sekali, "jamahi tubuh ini seluas mungkin, sebab akan kau temui makna yang paling hakiki" dan ketika tunas padi muncul, langit iri pada senyum manja bumi setetes hujan jatuh di pucuk caping petani bergegas pulang

ekstasi

sesuatu telah terhenti ini hari, saat kau melangkah pergi dan kata tak berdaya lagi hanya suara, entah apa menyapa di rongga dada jika tak kau kira, aku pun tak akan menduga puisi ini tertulis saat gerimis di jendela berubah jadi embun katamu itu sublimasi dan kataku; "ekstasi!"

kutandai

dengan ini kunyatakan cinta sebatang kayu menghumus di rimbunan tunas baru dan jika kau tanyakan tentang rindu, di sejuk embun setelah malam kuteteskan dia mungkin hanyut di hari hujan atau kering tertiup angin setelah kabar duka andai cinta kaupahami sebagai bumi, di gairah para petani dan celoteh burung-burung parkit hatimu kutandai padi