Posts

Sepatu dan Tukang Sepatu

Seorang tukang sepatu tertawa melihat sepatuku yang mengangga. "Hai kawan lama, lama tak jumpa!" Segera saja, mereka pun berbincang dengan jarum dan benang panjang. Saling mengkaitkan peristiwa. Menyambung lembaran yang terkoyak, bahkan menempelkan isak dengan tawa yang terbahak. Tak lama permainan pun usai. Tukang sepatu memberiku sepatu lama yang kelihatan baru. "Jangan pernah keliru, dia tak akan menipu," katanya sebelum berlalu. Karena dia tak minta upah, hatiku pun gundah. "Apa yang kamu mau?" "Pelihara saja sepatu itu, dia tahu yang kumau."

Sesobek Peta

Kita adalah lembaran peta dengan garis-garis waktu menanti pelayaran panjang kora-kora tanpa bendera pada pasang laut nelayan pun menunggu dengan jala terbuka, dia bernyanyi lagu duka Di dermaga itu, aku menghitung butiran tangis jejak sepatu berdebu sebelum gelombang menghempas "Masih adakah dari hidupku yang belum terkais?" mungkin itu wajahmu, sepotong senja di langit luas Lantas apa yang bisa kutambatkan di hatimu? tangan ini tak mampu kibarkan layar itu badai begitu bergelora, begitu menderu. Sesobek peta masih terhampar, "Sebentar lagi. Sebentar lagi," pintaku kepada matahari dan mungkin langit akan terang kembali.

Magellan dan Cinta yang Tak Pernah Mati

Di dermaga ini, kau akan kusambut seperti bulan di tengah kabut meski lunas Victoria * membawa pulang tangis, suara dari selatan padahal aku inginkan kau mengurai sejumput ikatan rambut tapi jawabmu,"Sesuatu telah terjadi dengan Kapitan Magellan" Maka akulah suku Lapu-lapu ** itu: pembunuh Sang Petualang tersebab cinta adalah tanah air yang mati-matian aku bela dan penantian telah menjadi kuburan kesepian hari-hari malang sedangkan kau : puisi yang kutulis dengan tinta airmata "Cinta itu tak akan pernah mati," katamu pada ombak yang menepi sebagaimana sepi akan tetap tinggal di hati, tak hendak pergi dan kita adalah tubuh subuh yang merindukan cahaya matahari Tapi aku begitu yakin bahwa cinta itu hanya memberi, tak hendak meminta maka pertempuran di Mactan *** aku dengar sebagai suatu cerita sedih belaka dan sauh pun segera terangkat, sebuah petualangan lain akan bermula. * Kapal Layar Magellan ** Suku yang memenangkan peperangan melawan koalisi pasukan Dat...

James Cook tak ingin singgah di Australia

Duhai awan yang mengepung terang, pada tubuh siapakah bayangmu menorehkan kisah? Angin telah mengirim basah. Di jajaran karang besar yang memerah darah, tersebutlah namamu. Nama yang selalu ingin tersebut di ujung lidah. Ombak adalah tubuhmu yang selalu memanggil pulang, mengekang kenangan lama yang ingin terulang; "Datang. Datanglah kekasih. Kau bukanlah sekedar bayang!" Samudera luas di tahun 1770 bukanlah jarak yang terbentang. Dan sambutan Aborigin tak lebih menggemaskan dari lompatan kanguru juga burung-burung penguin raja yang bermain ombak di batu-batu hingga geladak dan layar Endeavour masih terus membisu Dan jika ini kau anggap gelisah, aku menerka sebentuk tawa. Seperti James Cook yang tak ingin singgah di Australia, maka tetap diarahkannya haluan ke lautan sebelah utara.

Senja yang Salah di Pantai Kuta yang Kalah

Image
gambar diunduh dari sini Senja kali ini, hadir di saat yang salah pantai Kuta tengah berteriak pasrah, "Aku mengaku kalah!" Sebagaimana luka terdedah; cinta yang tercampak di pasir, memerah Tapi senja ingin sekali menari di laut luas walau awan mengepung matahari agar tak bebas dia ingin pantai ini terhidu dalam tarikan nafas hingga laut, langit, pantai, dan kau menjelma batas "Lantas apa arti tubuh yang basah?" rinduku tersimpan dalam ruang dada di mana bersembunyi pula dendam dan senja pun tenggelam perlahan, semakin kelam Laut mengirim ombak untuk membasuh segala keluh kapal-kapal membongkar sauh, tak ingin berlabuh mungkin memang ini saatnya matahari tidur di langit jauh

Columbus dan Cinta yang Tak Pernah Pertama

Kupeluk pinggangmu, lalu terbayang Columbus di geladak Santa Maria* memandangi Nina* dan Pinta* pada petualangan pertama. Nafasku menderu, sedahsyat gelombang di laut biru, "Menepilah pelaut, kita nyaris tenggelam!" Tapi langit terang, dan kau berbisik seperti camar sedang mencari sarang di pantai, di batuan karang. Dengan diam, kuhitung satu demi satu tiang layar, rambutmu yang urung terumbar karena belum reda segala badai, dan pantai tujuanku tak jua sampai. Inilah cinta pertama, petualang seperti aku adalah pelaut tanpa nama. Di mana jangkar belum tertambat benar, layar masih berkibar, namamu kusapa samar. * = nama kapal-kapal layar Columbus Terimakasih untuk Bang Hasan yang telah menjadikan puisi ini jadi lebih baik dibanding kan dengan versi sebelumnya.

Saling Menyilang

Sepulang dari pekan, Bapak ajari aku memasang tali sepatu baru "mereka sebaiknya saling menyilang," kira-kira begitulah dia menganjur. Di dapur, Ibu sedang memasak bubur : nasib yang terlanjur.