Posts

[IsengAsyik] Kontrasnya Suasana dalam Sajak-Sajak Philip Larkin

Pengantar : Saya sedang mempersiapkan semacam essay untuk acara diskusi dua mingguan di milis Apresiasi-Sastra bulan Oktober nanti. Temanya tentang Penyair Philip Larkin. Penyair ini saya tahu namanya lewat dialog singkat saya via yahoo! messenger dengan Pak Jokpin. Setelah browsing dan googling, saya pun bisa mengunduh 102 sajak Philip Larkin untuk saya baca-baca setiap hari. Ternyata tidak sulit melacak penyair ini, karena beliau termasuk penyair yang terkenal di Inggris. Bahkan di Universitas tempat dia bekerja sebagai ahli pustaka dulu, dibuat sebuah organisasi dan tempat dengan namanya, Philip Larkin Society. Sebuah Essay sederhana ; Kontrasnya Suasana dalam Sajak-sajak Philip Larkin Sajak-sajak Philip Larkin selalu saja memuat kontras baik dari isi maupun suasana sajaknya. Maka akan kita temukan romantisme sekaligus sinisme, rindu dan benci, suka dan tidak suka. Dan kadang kala itu dituliskan apa adanya. Oleh karena itu banyak sekali hal-hal sederhana yang menjadi bermakna. ...

Pertemuan Pertama

Dan untuk selamanya sebuah taman akan kukenang. Juga pohon rimbun, dan sebuah bangku; tempat kita melepas rindu, melupakan siapa kau, siapa aku. Dan untuk selamanya akan kunamakan : taman janji, kau petik buah ranum, kusandarkan tubuhku, lalu kita bertukar masa lalu; meniadakan waktu, melupakan malu. Dan untuk berikutnya kita makan bersama, janjimu habis kukulum, kaunikmati juga sumpahku, hingga tak lagi ada ragu, dan di ragaku : kau melaju. Hingga tak akan kutemui lagi : aku, duduk di bangku taman ini, menunggumu. 2007

Sebuah Larik yang Terhapus dari Puisi Tentangmu

Rindu, katamu, datang bagai embun saat aku disekap lelap, berselimut empat dinding kabut dingin hingga kita pun resah, hilang arah dan aku pun kembali mencari sebuah larik yang terhapus dari puisi tentangmu, larik di mana kau sebutkan satu nama yang semestinya kusebut berulang-ulang sebelum tidur, sebelum sebentuk mimpi dibangun di mana kau tampakkan wajah dengan sekuntum bibir yang tak henti memanggil namaku, sepenuh sungguh 2007

Yang Diingat dari Sebuah Lagu

Sekali ini tak dihiraunya pantai, bungakelapa, dan rumput angin yang berguling, sebab langkahnya sudah pasti ke bukit itu, sebuah makam tanpa nisan, hanya ada Ibu bernyanyi dandanggula, yang diingat sebagai lagu tanah asal yang tak lagi melahirkan penyanyi sepertinya, penyanyi yang lebih suka mendengarkan nyanyiannya dilantunkan oleh penyanyi lain yang tak pernah dia kenal 2007

Kupukupu Cahaya

Pada mulanya cahaya lalu menjelma kupukupu aku ingin bertanya "Kau yang dijanjikan itu?" Sepasang sayap, sepasang mata sebuah pemandangan tak terduga begitu senyap tetapi nyata serupa kembang-kembang luka Bunga, kupukupu, dan ilalang nyanyian seorang gembala Masuklah, di dadaku ada ruang dari sana segala gelap bermula 2007

Luka Anggur

Sakit yang kaurasa, gelas yang pecah itu? Padahal baru kulepas sepatu menghampirimu 2007

Perkawinan di Kana

Seperti kau tahu, sepasang burung hinggap pada semi dadaku. Bersarang, dan sesekali mematuk kuncup luka. Lalu lenganmu, pokok ara itu. Tak berbuah namun rindang : naungan yang kadang kurindu Dan kau pun dengar; betapa keciap lapar, betapa tak siap kita sadar. Musim selalu berubah dan benih berkecambah. Ah, di tanganmu juga telur-telur di sarang rekah. Lihatlah, ada nama yang kekal di batang ara. Nama yang bakal memberitahukan sebuah rahasia luka; bahwa itu sebenarnya cinta. Seperti perkawinan di Kana, bibir pengantin ini menunggu cecapan anggur pertama : darah dari lukamu yang baru. 2007