O, Kekasihku, pergilah ke Jakarta atau ke tempat paling jauh dari jangkauan mataku. Lalu berdiamlah di ujung kabel telepon. (“ Meneleponlah Kekasih! ”, M. Aan Mansyur) Kenangan, entah bagaimana caranya, terbangun dari tidurnya. Mengetuk kepala saya yang setengah mengantuk dan meracau di telinga seperti siaran radio yang dikacaukan hujan. Dari balik larik-larik puisi, mata saya melirik padanya. Aku ingin pergi, atau setidaknya, keluar dari sini! Saya tahu, bahkan sangat tahu, kenangan itu yatim piatu. Bahkan tak seperti sepatu, yang tiba-tiba tanpa diminta, lahir kembar. Melihat saya cuma manggut-manggut, wajahnya makin cemberut. Sepertinya, keinginannya sudah tak tertahan lagi. Tapi bagaimana caranya dia bisa pergi? Saya sodorkan telepon genggam, barangkali ada sanak saudaranya yang ingin dihubungi. Sambil tetap cemberut, telepon genggam itu dia rebut dari tanganku. Berapa sisa pulsamu? Aku ingin mendengar suara kekasihku yan...