Posts

Sajak-Sajak dari Pasar (2)

Pasar Gondang, Nganjuk sepi tak meringkik, tak pula mengembik meski pasar begitu berisik di hari pasarannya adalah mimpi yang berkelindan di antara los penjual buah dan makanan menggelisahkan engkau yang sedari malam tak kunjung bisa diam karena di pinggir jalan sebuah panggung hiburan tengah didirikan adalah engkau yang seksama mengamatiku dari puluhan ekor kambing, tiga dokar, dan sebuah pedati sarat kayu jati Pasar Kandangan, Kediri aku tak lagi muda, dari puluhan karung yang kuangkut dari bak truk hingga los pasar, aku beroleh panjang usia tulang-tulangku seperti lilin ulangtahun yang membara setiap kali truk itu berhenti di depan pasar, ada yang kurasakan begitu berkobar aku tak pernah lagi menebak siapa yang akan datang, lebih baik aku bertepuk tangan karena di sini setiap hari adalah hari jadi Pasar Pon Baru, Trenggalek sebagai petani, aku mengenali dengan baik tunasnya benih sabar karena dari petak sawah yang beralih fungsi jadi pasar, tumbuh pula belukar gusar yang setiap hari...

Sajak-sajak dari Pasar

Pasar Larangan, Sidoarjo hanya sebuah becak melintasi kesepian di antara panggung dan emper toko saat seorang biduan dangdut melempar senyum untukmu tapi kulihat tak ada yang bisa kautangkap sebab pada deretan dokar dan becak, seorang janda tua terlalu letih berjualan sate sejak malam tadi ; dia yang tengah membakar senyumnya sendiri sama seperti sepi yang terpanggang panasnya sendiri Pasar Pucang, Surabaya tak dapat lagi kutunggu si pelancong malam yang terakhir meninggalkan kerumunan tikus di sepanjang los penjual ayam karena sebelum pukul empat pagi telah kuhabiskan kopi pada cangkir yang ke dua dan sepi segera menyergapku kembali Pasar Balongsari, Surabaya kesedihan telah menjadi kegembiraan sesungguhnya, saat ada yang mengadu ketangkasan pada sempit halaman parkirmu sementara di pintu masuk lorong pasar, ada wanita-wanita tua yang mengadu tangisan dengan harapan pada luasan dadaku Pasar Dampit, Malang kunikmati dingin anginMu di tubuh musim yang mulai kering di bawah bulan yang se...

Malaikat di Ujung Jalan

Ini pengembaraan yang bahagia kita akan selalu bersama-sama, kaki dan sepatu tak pernah lagi peduli pada batu atau pada langit yang setengah menangis, setengah tertawa. Ini juga penggembalaan yang bersahaja, tak perlu lagi peduli pada hujan dan senja yang saling memainkan daun dan jendela itu. Kita berdua saja berjalan. Dan seperti telah saling tahu kapan akan berhenti, menepi, istirahat, atau berlari kembali, kita tak akan banyak bicara. Kau tentu tahu, bagaimana aku telah lama mempersiapkan sepasang sepatu sebagaimana engkau tak berhenti yakin dan berdoa; ada sepasang kaki yang kuat, lalu mengikatmu erat pada perjalanan seakan tanpa penat ini. Maka kita tak akan lagi peduli pada hal-hal selain perjalanan ini. Pernah sekali kita sepakat untuk berhenti, saat kulihat ada malaikat di ujung jalan memainkan sebilah belati. Aku kuatir kau akan terluka dan mati, engkau takut aku tak akan pernah sanggup lagi berlari. 2009

Telah Terbit Novelku

Image
NOVEL "DAN SEGALANYA MENGHILANG" Karya Dedy Tri Riyadi "Sejujurnya aku belum merencanakan apapun selain menghilangkan diri dari kehidupan ini. Lalu aku terkenang pada sesuatu yang ingin aku lakukan sepanjang hidupku. Bertahun-tahun aku menyukai puisi. Menjadi pembaca yang baik dari puisi-puisi orang lain. Mungkin inilah saatnya aku mencoba menuliskan puisi." – Arya Dananjaya, wartawan. "Aku dan Danan adalah sepasang kekasih yang tidak akan pernah bisa bersatu."- Miranti, mahasiswi Kyoto University. Sinopsis Sebuah peristiwa pembunuhan artis penyanyi yang sedang merintis karir menjadi diva di Indonesia membuat Danan merasa ada yang salah dalam hidupnya. Pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar kriminal membuatnya terseret dalam lingkaran pembunuhan berantai yang juga mengancam keselamatannya. Dia juga harus berjuang untuk meluruskan hidupnya yang dianggapnya salah cetak dan salah letak. Termasuk kisah cintanya dengan seorang penderita trauma kekerasa...

Sekerat Roti di TanganMu

Sekerat Roti di TanganMu 1/ Jangan Kau jerat laparku dengan sekerat roti di tanganMu 2/ Aku pasti menunggu walau seribu kepak merpati dan suara kur-kur-kur di telinga taman ini selalu seperti berjanji; ” ada sepotong frankfurter dan segelas milkshake berukuran medium, spesial untukmu! ” lalu senyumMu mengambang di bangkai sungai di bawah jembatan kayu merah marun beraroma aneh itu dan kutemukan lagi remah roti yang tak termakan gerombolan merpati itu, di atas busa air sungai yang semakin keruh menghitamkan penantianku 3/ Ada harapan yang utuh - bahkan lebih jelas dari gelas milkshake dan lebih pedas dari saus frankfuter di tanganku ini – saat Kau hendak memecah-mecah roti itu 3/ Akhirnya, aku tak bisa memaksaMu kembali setelah habis semua remah roti di paruh seribu merpati, dan sebagian lagi dibasuh busa sungai yang perlahan membuat kotaku mati 2009

Seusai Badai

Seusai Badai Yang lantak hanya kelak sebab aku tak bisa mengelak Tak bisa aku menduga kau seperti tak bisa menakar curah hujan dengan genggam tangan dan yang kelak terserak hanya doa-doa tak terucap Seperti pernah kudengar kau, dari lambung perahu, menghalau kumpulan awan Ah, seusai badai ada banyak yang bisa kita kumpulkan diam-diam 2009

Dari Sebuah Kursi di Ruang Mahkamah

Dari Sebuah Kursi di Ruang Mahkamah 1/ Aku duduk di sini, tapi – ”Siapa sedang bertamu?” 2/ Kau kisahkan kembali Bao, Sang Hakim, Meski ada yang aku tak bisa mengerti; benarkah keadilan itu datang dari langit? 3/ Aku sakit, aku menjerit! Ruang mahkamah maha sempit ini tak sanggup lagi mengurung jiwaku, tak bisa lagi memberi jawaban segala yang rumit 4/ Ya. Tak ada yang peduli pada pleidoi setebal debu di kakimu. Aku hanya ingin duduk di sini. Seorang diri. Walau tak akan kujumpai para tetamu 5/ O Sulaiman, raja bijak mana yang datang mencuri pedangmu? Begitu banyak bayi mati di kali, di tempat sampah, di restoran, di perempatan, di gendongan pengemis, tanpa ada yang membelahnya jadi dua! Tanpa ada tangis Ibunda 6/ Akan kuceritakan lagi padamu Khrisna yang Agung - dia yang hanya dua kali bertiwikrama – hanya untuk bersilang sengketa karena kau bertahan, begitu pejam - dan juga kejam! - seperti tidur Sang Baladewa! Ah, Ruang mahkamah! Betapa cepat perubahan terjadi layaknya kincir angin...