Posts

Kimchi

Kimchi Aku diasinkan waktu, diasingkan dari rindu. Bertahun-tahun lalu, kau tak mengenalku, bahkan tak tahu cara menyebut namaku. Aku difermentasikan pengalaman, diintepretasikan jadi beragam kenyataan. Sampai kau mengira, pada suatu waktu, kau adalah aku yang dimasukkan ke dalam bejana sunyi, diperam dan dipendam jadi puisi. 2012

Ular dan Sekerat Apel

Dari luar pagar, ular itu memberi kabar: sekerat apel di tanganmu itu akan lebih berat dari menambal hal-hal yang kelak retak. Semacam namamu yang harus berakhir jadi gumam di bibirnya. Mungkin nanti ada yang akan terlempar, seolah kain selembar, dan yang jatuh dekat pintu itu, ada selain rasa sesal dan air mata. Lalu namanya - Ya. Namanya - jadi sunyi yang mencengkeram. Kau hendak mengingatnya, tapi tak bisa mengatakannya. Di dalam taman, tangan seseorang yang mengerat apel itu bergetar, lalu langkah-langkah pun terdengar: bersiaplah pintu, baju, dan seluar! Ada yang hendak digiringkan pada sebuah pengasingan. Kau hendak bersiap, tapi waktu selalu gesit diluput-tangkap. Di tanganmu hanya risau pisau dan sesal sekerat apel, sedang ingatan tentang rasa memiliki pelan-pelan mengundurkan diri dari pertemuan itu. Ada yang hendak kukatakan, tapi siapa mampu mengingat: bisa ular atau selebar pisau itu yang lebih dulu menyayat? 2012

Sepasang Mata Malam

Di depan komputer, puisi sedang belajar membaca saya. Seperti Iblis mencobai Yesus, berkata Ia, "Kalau kau Penyair, ambillah beberapa kata, jadikan puisi." Tentu, karena aku bukan Yesus, aku tak mengutip kitab suci. Aku menyitir Tarji: Adakah yang lebih tobat dibanding air mata. Aku juga mencuplik Jokpin: Hanya hati kata yang dapat membuat dadaku berdenyut dan mataku menyala. Seperti Iblis, Puisi itu membawaku ke atas bubungan, mungkin agar aku bisa lebih leluasa ditengok senja yang pemalu itu. Lalu bertanya Ia, "Ada yang berkata: Yang bukan penyair, dilarang ambil bagian! lalu siapa kamu?" Aku tak hendak menjatuhkan diri, ku ambil saja sepotong Sapardi: Siapa meledak dalam diriku Siapa aku Tanya bertemu tanya, Puisi dan aku seperti sepasang mata malam, yang siap saling menerkam sebelum senja berubah warna 2012

Sesuatu Seperti Hujan

Semua berjalan tak lancar seperti hujan itu. Ada mendung dan angin yang diam, mendahului atau sebentuk punggung gunung membuatnya tertahan, agar turunlah ia sebagai hujan, sesuatu yang selalu kau kira sebagai kesedihan. Padahal, bisa jadi, ia hanya lelaki yang tengah merindu rumah, atau seorang perempuan sedang tenggelam dalam kenangan, akan seseorang yang mirip dengan lelaki petualang itu. Atau, ini suatu kejadian yang begitu basah, seperti sesuatu yang tiba-tiba mengingatkan pada sosok ayah yang ramah, juga ibu yang kerap membelai helai-helai rambutmu sebelum kau tidur. Ah, rasanya semua berjalan tak pernah sempurna, bukan? Sama seperti hujan yang tak ada di dalam agenda rencana, dan tiba-tiba mengguyurku, begitu aku mendarat di bandara kotamu. 2012

Seni Mendengarkan #3

Mendengarkanmu menyanyi, ada seribu burung dan kupukupu terbang tinggi ke wajah alam raya. Dan pintu surga seolah baru saja dibuka, seratus mungkin seribu malaikat turun ke mayapada. Sibuk sekali langit menghitung yang melayang, sementara awan seolah dipiatukan oleh waktu. Pepohonan dan gunung hanyalah butir-butir batu, digerus oleh bulir-bulir nada yang kaulantunkan itu. Lalu ketika aku bertanya pada diriku: Siapakah aku? Tak ada yang menimpalinya walau hanya sekadar meminta ulang pertanyaan itu dengan bertanya: Apa? Sungguh tak ada yang mendengarkan aku selain kata-kata yang kutulis untuk menggambarkan betapa kosong dan tragis nasib seorang pendengar ketika seseorang bernyanyi merdu Semuanya, berlaku seperti sekawanan ternak yang ketika matahari hendak terbenam, beriring pulang, dan di tengah perjalanan itu, yang dibayangkan adalah sesuatu yang sungguh tentram. Sungguh tentram. 2012

Seni Mendengarkan #2

Beginilah aku jika kau mengaduh: berusaha tenang seperti sebuah sauh ketika ditenggelamkan ke perut laut, padahal ia tak bisa berenang, tak bisa mengambang. Dan seperti sauh, sesungguhnya aku tak pernah menjauh. Baik saat badai, maupun sewaktu di dermaga itu. Ada yang menyambung perasaanmu dan keputusanku: jenjang tangan nelayan dan panjang utas tambang. Mereka mengenalkan cara menarik dan mengulur, mengekalkan karat dan garam, agar kita semakin paham: laut itu hidup yang tak pernah redup dari gelombang. Meskipun aku bukan tiang layar dan kompas, ketika kau mengaduh, sekuat daya kubuat perahu itu tenang. 2012

Seni Mendengarkan #1

Mendengarkanmu mengeluh seperti menuruni bukit terjauh Lepas dari dekap kabut hutan dan lembab lembut dedaunan Lantas bertanya dalam diri: Apakah arti berlari? Selain mengejar sesuatu yang kelak jatuh Yang akan terlepas dari rengkuh Mendengarkanmu mengeluh seakan mempersiapkan upacara suci, di mana kita sendiri adalah korban, sekaligus api yang kelak mengabukannya Lalu ada doa dan puja-puji: kepada Tuhan Dia yang telah menjadikan waktu Dan kita yang seolah diperangkapNya Dan kita hanya bisa mengeluarkan sebentuk suara: yang bergema sendiri di dalam dada 2012