Posts

Ninabobo

1/ Tidurlah, Lautku, jenak ombak teduh badai dengung angin setelah rinai. Aku camar pencari ketam, ingin terbang dari sarang ke lautan, menyuruk ke tubuh gelombang. 2/ Tidurlah, Lautku, jadi latu hilang bara hitam arang tanpa nyala. Aku jejak terik di pucuk waru ingin berteduh pada bayangan, O, betapa memabukkan cahaya! 3/ Jika kau tertidur, Lautku mimpimu hanyut perahu jala yang dibiarkan mengembang dan menjaring ikan-ikan. Jika kau tertidur, Lautku malamku kalut kulit gaharu dahan yang menguar heharuman dan menahan sarang balam. Kita tak saling mengenal, bahkan tak akan mengekalkan. 4/ Pada suatu masa, kau dan aku sama merasa : bagian dari semesta. Maka, malam ini, kita mencari makna jauh ke dalam diri. Mengasingkan yang akan kita cari, dan yang telah kita sangka sebagai lagu menjelang bermimpi. 2014

Lagu Pantai

Irikah lidah ombak pada lentik embun di daun waru? Bahagiakah ketam yang basah di ceruk karang? Di pantai ini, kerinduan harum pasir. Di pantai ini, kebekuan gagal berdesir. Sebuah pulau terpencil memanggil. Elang laut mengepak hal-hal yang mustahil dimengerti awan jauh. Di cakrawala, cinta seperti rona senja yang mampir. Sebentar lagi gelap, katamu. Dan aku menurut pada rentang dekap dermaga. Di mana perahu dan jukung seolah kanak yang manja. 2014

Embun

Akulah embun, jeritnya memekik di atas daun. Pada pagi buta, dia menuntun ke ujung lamun. Bukankah, kau, cahaya? Yang disembunyikan mata dan disentuhkan ke telapak ini. Sejak pagi menjadi dalam diri. Akulah embun, jeritnya seperti menolak ditenun waktu. Aku setuju. Sebab nanti, di siang hari, ada yang mesti pergi. Atau kembali? 2014

Dia Baru Saja Lewat

Dia baru saja lewat, seperti hujan dengan angin yang kebat. Jangan sakit hati, Dik. Meski kau kenang juga ciuman di taman itu, di bawah pohon ara. Dia tak tergenggam, serupa remah roti yang musnah sebelum burung gereja itu datang dan mematukinya, seperti kutuk yang ditolak, Dan cinta bukan mantra, tapi kesakitan di dadamu, Dik. Yang walaupun tenang batang terbantin, gugur pula daun itu terbanting-banting. Dia baru saja lewat, dan tak menoleh kepadamu. Seperti burung gereja itu, kembali ke bentang kawat. 2014

Dua Sajak di Kompas Minggu, 27 April 2014

Berikut ini adalah 2 sajak saya yang dimuat di Kompas Minggu, 27 April 2014; Bagaimana Capung Melihat Dunia Ingatlah peristiwa ini: Musa baru saja selesai menulis, sedang di bawah bukit, Harun tak kuasa menolak upacara di hadapan patung sapi emas. 1/ Dalam semak itu, seekor siput merambati tangkai bunga, tapi lingkar kambium tunggul itu tak lagi mengingatkan tentang waktu. Barangkali, saat itu, kau mendengar ada yang menyanyi dengan syahdu; "Cahaya siang telah datang, dan aku ingin segera pulang." 2/ Seekor capung yang baru saja hendak terbang mengira langit terbuat dari lembar-lembar kain sutra. Sementara berhelai-helai dedaunan rumput seolah tangan yang menghimbau; "Siapa yang memihak pada Tuhan, datanglah ke depan kemahku!" Dan berkumpullah kita, di halaman sajak. Capung itu melihat cahaya di balik semak. 3/ Rasanya, seekor burung pernah mematuk serpih kayu itu. Entah di kulitnya, atau bagian batangnya yang mudah pecah...

Ketika Kau Tiada

Aku mencarimu lewat tanda-tanda yang bisa aku kesan. Lewat suara yang merisaukan. Lewat licik laku angin yang menabur dingin di sela-sela jemari yang menghapus buram di jendela. Dan kalau tak bisa, aku mengenangmu lewat gambar-gambar yang berkelebat dari jendela dan mengenangmu sebagai tetes air yang membuat jalannya sendiri di sana. Lalu aku menduga ada semacam suara mengaduh sendirian dan tak terhirau oleh sesiapa. Suara yang tak bisa kukatakan ketika kau tiada. Terlebih, segala kata dalam puisi ini, tak bisa menghadirkan kau kepadaku. 2014

Cinta di Tanah Lapang

Seperti permainan kanak, cinta mudah pecah oleh gelak tawa dan tangis yang tiba-tiba, katamu. Tapi malam turun ke bukit itu lengkap dengan cuacanya yang pengap. Laut mingkup, menyimpan kilaunya. Menyisakan mata yang terbuka. Tadi, seorang pelaut membuka kitab, menderulah tujuh samudra dan kisah kibas sisik todak. Kau bilang padanya - jangan tergesa! Awan belum bertelur bulan, dan lampu di teras mengeraskan makna penantian. Seperti lagu yang pernah kudengar sebelum remaja, kita adalah tanah lapang yang siap digeruduk langkah-langkah bocah. Ditingkahi rasa penasaran tentang kisah-kisah tua. Yang setua cinta? Yang setahu mata, kataku, sebelum dia menutup di sebuah pulau. Dirayu engkau. 2014