Posts

Tirani Hujan dan Basa Basi Sepi

Angkutlah akut sedihmu hingga jukut terikut pada sikut dan lutut, angkutlah sampai tubir di mana tak ada lagi bibir mendesir kata-kata. Di sini, hujan begitu edan sampai-sampai tak bisa lagi dibedakan: mana genangan, mana kenangan. Ialah kabut sengit merebut binar mata. Ia pula sepi mengentak-entak di ujung gang, sepi yang pekak dan suka berteriak dan menempelkan stiker-stiker di pantat bajaj, angkot, kopaja. Di pohon-pohon, ia berulah. Berubah jadi logam dan bau garam. Dia akan datang ke kotamu. Karena itu, angkutlah akut sedihmu sampai tak dikenali lagi cahaya matahari dan habluran warna pelangi di jembatan. Atau pada sebuah pantai di dalam lagu milik seseorang yang mirip Mozart. 2015

Upaya Berjalan di Atas Perut

Aku lupakan lagi Babilonia. Kembali ke Tursina. Peradaban tidak hanya Mesopotamia dan Mesir Kuna. Aku jauhi lagi tangkai petir emas dan lautan anyir cemas. Kusudahi saja memikirkan jalan sufi yang sepi. Para penyintas merasa di jalan itu sudah penuh dengan pencuri api. Setiap kali muncul puisi, puncak-puncak piramida jadi gemetar. Langit biru pudar. Dan kesetiaan hanya debar. Aku bersabar. Melangkah pelan ke dalam kemah tua di Maar. Dan meminum kembali air pahit itu dengan tidak menjerit atau meronta. Menikmatinya seperti mengamati cangkang amonit melingkar. Aku tak lagi mengingat Eden. Tak kuingat juga ular tua dan sumpah Hawa. Kupastikan bahwa segala yang kudengar dariNya adalah upaya berjalan di atas perut, membereskan segala sengkarut. 2015

Di Dekat Rumahmu

Aku terperangkap. Ada semacam ruang gelap memaksaku tinggal dan meninggalkan perasaan: akulah penguasa tunggal. Berapa lama disekap? Tak banyak permisalan bisa menjawab. Kau ingin selamanya, aku tersengal. Aku ingin sementara, tapi kau memaksakan: Di antara laluan waktu, di dalam lembaran kisah, yang gazal hanya diriku sendiri. Kata-kata jadi musiman. Ini kamus bahasa yang terkembang. Banyak hal dituliskan dengan cara baru. Disandikan dalam beragam susunan. Seperti candi, di atas bukit terjal dia berdiri. Puisi yang menyusun tubuhnya menjadikanku digusur perlahan. Di dekat rumahmu, kenangan jadi raja. Berhari, berbulan, bertahun lamanya. Sedang aku hitam abu. Dihidangkan huruf & angka gagu. 2015

Menunggu

Jika kau perhatikan benar, seluruh tubuhku adalah jalinan kata-kata. Mereka terpilih untuk terpilin jadi kulit dan serabut daging. Pembungkus pembuluh darah dan organ-organ dalam. Semacam perasaan yang kini begitu diabaikan daripada diabadikan. Dibicarakan tetapi dicabarkan sampai dingin bahkan seluruhnya lepas sebagai angin. Jika kau berhati-hati pada kebenaran yang terjadi adalah kau tak percaya hanya kata-kata yang bisa menuntunmu pada makna. Ada rekatan dan retakan yang membuat kau merasa – ada yang lebih dari sekadar suara dan suasana. Ada yang menawarkan sesuatu di dalam sana. Di dalam rongga tubuhku, di didih darah di tubuhmu, di ruang-ruang tak tersentuh dan di raungan bergemuruh yang tak didengar tapi sampai juga getarnya di dalam jiwamu. Jika kau pertahankan kebenaran dari kata-kata dalam tubuhku, yang kau gapai hanya gambaran-gambaran semu. Seperti pada suatu pantai kau menunggu; selain ombak, pasir, karang dan pecahan kerang, perahu-perahu nelayan s...

Dukamu

Dukamu kubawa pada kedua telapak tanganku. Pisau-pisau itu tertancap dan tak bisa kucabut. Luka mengalirkan suara yang bisa kaudengar dari puncak gunung-gunung beku. Dari hutan dan hulu sungai. Dukamu kubawa dalam sampan. Dalam suatu suasana kaku: aku adalah yang diperjalankan di atas retakan dan rekatan danau kaca. Kau penumpang menjelang ajal. Mengerang, dan menyebutkan nama-nama dan beragam kenangan. Hijauan yang tumbuh dari ceruk kelam menganga. Dukamu menjelma malam dan tubuhku yang terbuka dan terluka. Malam yang merintih sebelum pecah semua jadi buih. 2015

Siklus

Jangan bayangkan mereka yang mati. Sebab kau berulangkali jadi belulang di antara belukar nanti. Bayangkan tunas, dedaunan, bunga dan burung yang akan bersarang di cecabangmu yang anggun. Bayangkan juga tawa bayi di sayap kupu-kupu. Setelah kepompong itu terbuka, setelah bunga-bunga merona. Aku melihat gemerlap sisik ikan, keciap burung dan kepak juga kecipak kehidupan. Daun dan biji berjatuhan. Kusaksikan juga para nabi berjalan-jalan di taman, air matanya bercucuran, tapi senyumnya seperti ditahan. Mungkin Tuhan berfirman di antara kehidupan dan kematian. Di antara aku yang menulis dan kau yang membuka pintu rahasia dari reruntuhan kata. 2015

Menyusuri Gang di Kotamu, Lang

Menyusuri gang di kotamu, Lang, seperti menggali keabadian mahluk-mahluk yang lama ditaklukkan waktu, dipukul pada tengkuk lalu rubuh serupa pemabuk. Nama Tuhan dipekikkan dalam suara yang beda sama sekali dengan ketika mereka berbincang di warung kopi. Seakan mereka berubah menjadi mahluk bermahkota dan bertanduk. Puluhan gang di kotamu, Lang, adalah cermin diri yang ingin abadi. Lestari dengan ketelenjangan, kepura-puraan, dan rasa ingin menjadi para penakluk. Entah apa yang ingin dimenangkan di gang-gang ini, Lang. Sebab yang kulihat semuanya berwarna ceria. Seakan di sini anak-anak tak beranjak dewasa. Meski beragam kutuk dituliskan dan digambarkan. Dan menyusuri gang di kotamu, Lang, aku justru ingin merapikan diri. Becermin pada puluhan simbol dan gambar dengan bentuk yang pelan-pelan aku nikmati. 2015