Posts

Bunyi Mahkota Bunga yang Jatuh

Ia menamakannya – kekecewaan, karena memang tak ada yang hirau apalagi terpukau pada sebuah kejadian yang teramat biasa itu. Kau – boleh menyebutnya kesedihan. Atau hal-hal lain yang teramat ringan, serupa perpisahan atau kehilangan. Bunyi mahkota bunga yang jatuh itu telah didengar sempurna oleh angin, lalu buru-buru disampaikannya pada permukaan kolam yang segera membuat riak begitu mahkota bunga itu menyentuhnya hingga seekor burung yang tengah minum tiba-tiba memandang pucuk pohon itu dan menyangka ada yang begitu merindu. 2016

Pada Satu Titik

Pada satu titik, hanya ada musik, dan perasaan yang terbangun begitu mendengarnya. Ia mengantarmu mengembara, tapi ia tetap di situ, tak ke mana. Pada satu titik, kau akan pergi. Meninggalkan satu alunan tak terhenti. Alunan yang sampai padaku kini. 2016

Sesaat Sebelum Chorus

Ia merasa di stasiun kereta. Tidak. Ia merasa duduk di dalam kereta. Tidak. Ia merasa duduk dalam kereta roller coaster . Ya. Ia merasa sebentar lagi kereta roller coaster itu bergerak. Ya. Bergerak menukik. Ya. Menukik dengan sangat kencang. Ia lupa menyiapkan perasaan. Sejumput takut. Sebenang tenang. Ia merasa jadi umpan di ujung kail. Dan terlalu kuatir ikan itu akan membuka mulut dan menelannya utuh. Ia bersyukur untuk tidak berpikir. Sebab ia tahu tak ada gunanya menyesal. Ia merasa sudah terlanjur dan tak bisa mundur. Ia tunggu suara yang akan menuntunnya. Ada yang menunggunya bertindak. Seperti mereka yang menangis dan melambaikan tangan melihat kereta bergerak meninggalkan stasiun. Mulut-mulut yang cuma menganga dengan tawa atau takjub melihat gerak roller coaster ini. Tatapan penuh harap dari Sang Nelayan yang tak lain dirinya sendiri. Bersama sebuah nada, ia tahu, ini waktunya meluncur ke arah yang semakin tinggi, juga s...

Kuntulan

1/ Para rawuh kakung putri Mugi sregep nggone ngaji Ngaji iku sangu mati Sowan marang maha suci Sangu mati dudu bandha Utawa dudu raja brana Iman Islam ingkang sampurna Amal sholeh luwih utomo Ia memberi kegenapan dan berdiri di tengah jalan. Memberi kesan pada yang memandang bahwa ia adalah benar-benar pendekar. Penerus harapan yang sudah dibakar. Ia tahu, kota mudah ditaklukan dan kata-kata biasa dirapatkan sebagai api menyala, sampai semua rindu hangus, dan cinta bukan kepura-puraan, seperti gerak menangkis dan menendang sesama teman. Ia bernyanyi bukan melipur duka, sebab duka hanya warna bendera kusam dipasang di tiang listrik di ujung gang, dan dunia tak berpantang padanya. Karenanya ia berdiri membusung dada, memberi tanda: Ini saatnya bagimu menyampaikan pesan! 2/ Shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah Shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah Tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah wa kulli mujahidin lillah bi ahlil badri ya Allah Kesucian tak ...

Sintren

1/ Turun-turun sintren Sintrene widadari Nemu kembang ning ayun ayunan Kembange Siti Mahendra Widodari temurunan naranjing ka awak sira Ia bukan lagi pertanyaan -- apakah cinta bisa mengubah dunia? Hanya ia belum menjadi jawaban. Ia ragam kemungkinan seperti temali, kacamata, hiasan kepala, serta bunga ronce atau gadis yang dikurung dalam pesta dan diberi kesempatan untuk tampil ke dua kali, dalam keadaan yang benar-benar berbeda. Seperti kata yang disusun beraturan dalam sebuah puisi. Kau, bisa memilih kesempatanmu sendiri. Bertanya atau menjawab masalah di dunia ini. 2/ Sih Solasih Solandana Menyan putih pengundang dewa Ala dewa saking sukma Widadari temurunan Ia akan datang, tanpa kau minta seperti ketika ia memutuskan pergi. Sebuah kebebasan adalah berlari tanpa ada yang bertanya, "Apa yang ingin kau hindari? Ke mana kau hendak pergi?" Atau sembunyi adalah cara untuk mengurangi rasa takut di dalam dada. Entah hanya untuk menentr...

Jaran Kepang

Kau belum menjadi, masih kumis dan alis dipertebal dengan arang. Dan kata-kata dibariskan seperti para prajurit hendak berperang. Dia belum bertalu, hanya doa-doa panjang dikamitkan di antara janggut. Sekepal nasi putih, segelas kental kopi tanpa gula, dibakarlah setanggi. Kau bertanya -- inikah yang sia-sia, Pertunjukan kata tanpa makna? Dia hanya tabuhan gambang dan canang. Dan dia bergerak tanpa arahan. Bergerak seperti ribuan ekor kuda memasuki sebidang tanah lapang. 2016

Kentrung

Dulu pantun, rebana dan timlung. Bukan ukulele, tapi cerita yang tak sepele. Dulu ia berjalan di pantai utara. Dari Tuban sampai Semarang. Berhari-hari diterangkan matahari. Supaya hatimu mau memberi. Tidak, dia tidak bercanda. Meski yang kau dengar serupa irama. Jangan sebut dangdut. Karena langkah sekarang, tak seringan hari yang kalut. Hari yang sering kau sebut. 2016