Posts

Chant of Lotus

Image
Karena kau cahaya, ia merupa warna dari putih sampai nila. Lewat kolam kelam dan lebar lembar kesadaran ia panggul panggilanmu -- Bangun, kau api unggun! Bagi ia sebunga, kau lingkar mekar mandala. Sejak matamu berpijar, dunia duduk gemetar, menahan tabah tahunan -- Sulur syukur sari lumpur. 2017

Imago

Wajah siapa sungguh hendak kaucari? Di sini, ia mengada pada sesama. Ke manapun kau hendak pergi, ia terlihat dalam aneka rupa & warna. Di pasar, ia baru saja meletakkan sekantung besar barang belanja. Dekat jembatan, ia berbincang -- buah-buahan tinggal pisang. Ia berkacamata, mengenakan tudung putih. Di warung, ia muncul dengan rambut digelung. Di bawah payung, ia nenek pedagang sayur, tawarkan : cabai, tomat, bahan salad. Kalau kau telah mengerti, wajahnya selalu bisa kautemukan di mana saja, walau tak seperti wajahnya pada masa lalu atau nanti, pada suatu perjumpaan paling pribadi hanya denganmu. 2017

Menjelang ke Gili

Hidup selalu perkara pergi atau kembali -- meski senantiasa kepadanya kau diberi dua pilihan: perahu cepat atau yang lambat. Seperti menjelang ke Gili, kau pun tak jenak menanti. Seperti ombak yang membawa pecahan karang ke tepi, berkali-kali. Di atas perahu, kau bisa memandang: hidup adalah soal ketenangan dalam menghadapi gelombang. Seorang anak muntah, dan yang lain pura-pura tak melihat. Namun waktu adalah soal meninggalkan atau menuju -- yang pada keduanya, kau selalu mencari sebuah arti. Meski hanya soal melihat ikan-ikan kecil diberi roti. 2017

Silencio

Dalam diam, ia mendengar surga bergemuruh. Malaikat jatuh menghunjam sebilah tuduh. "Neraka," katanya, "terletak di antara bimbang dan curiga." Maka dibawanya api suci ke relung tergelap dari dada. Ia mengungsikan diri, lebih jauh dari tubir tangis dan sumir percakapan lima gadis di depan pintu tanpa minyak lampu. "Penyesalan," katanya, "semisal epitaf. Segazal amsal leher zarafah -- apakah tinggi tajuk, ataukah wangi pucuk, membuat leher itu sulit ditekuk?" Dalam diam, ia mendengar pintu maaf diketuk. Seseorang, serupa bunda, ingin masuk. Hendak menjenguk. Sakit apakah gerangan? Selain yang sulit diterjemahkan dalam catatan tabib yang tekun. Dalam racauan mantra Sang Dukun. Ia ingin sekali membuka dada. Untuk menerima sepi hanya sebagai suasana. Dan menggantinya dengan percakapan paling akrab dari dukana. 2017

Shigeru

“Aku hendak menjangkau surga,” katamu. Dan ia mendengar langkah-langkah, guman doa, dan isak di antara pujian seperti gelombang yang belai-membelai dan mengirim pucuk ombak di pantai. “Kau mau mendengar kisahku?” Kau bertanya. Ia hanya melihat altar yang penat, lilin berpendar tapi dingin suasana. Tanda salib dibuat dengan sentuhan di dahi, pundak, dan dada. Ia tak melihat matamu basah. “Katakan! Katakan kalau kau mencintaiku,” Teriakmu teredam seluruh dinding sunyi. Dan ia tak mengerti, tak akan pernah mengerti, mengapa perpisahan bisa terasa megah? 2017

Agnus Dei

Tak ada yang berubah meski bom telah tercurah. Kotamu tegak. Kubah-kubah bangunannya putih perak. Asap hitam yang tadi naik telah turun bersama pekik mereka yang gugur. Di tembok-tembok terpampang peringatan – hidup adalah keberanian untuk berjuang! Selamat jalan. Selamat berperang. Sepasang orang tua melepas pelukan anak-anak mereka. Demi negeri ini, segala senapan diisi. Demi Tuhan yang tak pernah mati. Tak ada yang berubah meski bom telah tercurah. Karena kita telah lama jadi domba yang dilepas ke padang serigala. 2017

Enigma

Buah telah terpetik dan tak akan pernah bisa kembali ke carangnya. Dan cinta akan merupa doa sepanjang perjalanan, tak akan kembali, sebelum kau pergi dan datang lagi. Kau pasti akan menunggu, seperti tanah menanti benih, seperti masa panen di ingatan para petani itu. Sedangkan cinta adalah bentuk gerabah yang sempurna jika putarannya telah berhenti, sebelum pergi ke tungku bakaran. Ia bukan ciuman di hari pernikahan. Bukan juga jejas ombak di pasir pantai. Cinta adalah tetes tangisan ke atas nisan. 2017