Posts

Hoaks dalam Sastra

Bisa jadi, ketika Sergey Brin dan Larry Page bersama menciptakan mesin pencari Google dari kamar asramanya di California belum terpikirkan, betapa berjuta-juta informasi yang bisa didapatkan dengan mudah baik oleh siapa saja di dunia ini melalui gawai sekarang ini, banyak juga yang bersifat nir-fakta. Hoaks 1) , salah satunya. Dalam kamus etimologi, hoaks dinyatakan erat kaitannya dengan hocus-pocus , atau hocus pocas , nama yang biasa disematkan pada penghibur dalam seni pertunjukan, sehingga dalam hoaks ada dua unsur yang bisa disampaikan, yaitu sesuatu yang bersifat candaan atau olok-olok, dan lainnya adalah hal-hal yang tidak mengandung nilai kebenaran. Pada perkembangannya, hoaks dimaksudkan agar ada orang yang percaya apa yang ia terima itu adalah hal yang asli atau nyata, meskipun sebenarnya palsu. Dan supaya orang mudah untuk percaya, maka hoaks biasanya akan diembuskan pada masyarakat secara terus menerus. Seperti pernah dikatakan oleh Adolf Hitler 2) : “Kebohongan ...

Togog Kosong Nyaring Duitnya

Sebuah Sindiran untuk genre Puisi Esai Indonesia   Pada tahun 1729 sampai dengan tahun 1731, Alexander Pope menuliskan esai filosofis dengan bentuk puisi, menggunakan kuplet dengan iambik pentameter. Esai berbentuk puisi itu berjudul An Essay of A Man. Terdiri dari empat epistel (bagian) di mana yang pertama mengulas hubungan antara manusia dengan semesta, yang ke dua mengulas manusia berbicara mengenai dirinya sendiri sebagai mahluk individual, yang ke tiga mengulas hubungan antara manusia dengan lingkungannya (manusia sebagai mahluk sosial) dan yang terakhir adalah pertanyaan-pertanyaan potensial bagi manusia mengenai kebahagiaan. Tulisan itu dipublikasikan tahun 1733 – 1734, dan mendapatkan penghargaan luar biasa dari beberapa tokoh seperti Voltaire, Rouseau, bahkan Emanuel Kant. Inilah pertama kalinya sebuah esai ditulis dalam wujud puisi.   Menurut pengertian Thomas Gray, tulisan semacam itu dikelompokkan ke dalam satu jenis yang diberi nama puisi esai. Penjela...

Somehow, dari Darbo

101 Lampu Lemak untuk Almarhum Paman   ~ Perlu seratus cahaya untuk kesadaran agung, Chakrasamvara Paman sudah mati, dan aku tak ingin mengenangnya. Tak ingin terjebak dalam gelap kenangan itu. Penjara pengap penuh coret dan hitungan akan waktu. Karenanya aku nyalakan 101 lampu lemak yak. Tidak. Aku tidak pernah takut Paman datang dengan muka cemberut dalam mimpiku. Aku hanya tak ingin kegelisahan jadi tuhan ( dalam Genesis, Ia berjalan di taman sambil berteriak pada Adam dan Hawa dalam semak ). Tak perlu ada ziarah. Paman sudah mati, dan aku tak sedang ingin menyapanya. Aku nyalakan 101 lampu lemak yak bagi perjalananku ke Shangri-La (di sana, tak ada paman atau kenangan akan dia). Meski aku tahu, cahaya dari 101 lampu lemak itu tak bakal sampai di kaki Kun Lun. Kau Mati, Hidup Kembali, dalam Doa Kami. Tenang. Aku akan berdoa, meski tak tahu: arwahmu sedang berjalan di Hunza atau sampai di Sinchuan. Dan setelah dikremasi, abumu hendak...

Zabidi "Zay Lawanglangit" Menulis Catatan untuk Buku Puisiku "Berlatih Solmisasi"

Image
Sebuah telaah kecil dari BERLATIH SOLMISASI Kumpulan puisi Dedy Tri Riyadi Oleh Zabidi Zay lawanglangit Pembaca sekalian, “Berlatih Solmisasi” demikian Dedy Tri Riyadi melabeli buku antologi puisinya. Sebuah judul antologi puisi yang menggelitik, mengajak pembacanya pada sebuah perspektif berbeda. Seperti yang dia paparkan di pengantar bukunya : “puisi-puisi itu ditulis menggunakan metrum dan guru lagu seperti penulisan tembang-tembang gede, madya dan macapat. Dengan harapan puisi tersebut bisa ditembangkan”. Kemudian lanjutnya : “ketika menggagas puisi ini, saya berangkat dari sebuah pengertian bahwa hidup yang sesungguhnya hanyalah suara-suara yang berada dan terdengar di sekitar kita.” Sebelum masuk lebih jauh ke tubuh puisi-puisi dalam buku ini, saya paparkan sebuah deskripsi tentang musik. Secara ringkas bisa dituliskan: “Musik adalah salah satu wujud manifestasi suara alam semesta. Musik juga merupakan gerbang menuju kesadaran. Musik men...