Posts

Pergi Sendiri

Ke sebalik puisi Ke rimbun semak kata Ia pergi sendiri Tak dibawanya anjing yang selalu setia menunggu di pintu gua Tak dibawanya kapak satu-satunya senjata yang ia punya Ia benar-benar sendiri dalam arti tak bersama siapa-siapa tak membawa apa-apa Ke puncak Tursina? Tidak. Ke perut naga penjaga tirta? Tidak juga. Ke sebalik puisi Ke lebat rimba kata Ia berlatih memanah cahaya 2018

Entah Benda Apa Itu

Aku telah menyebutnya: Kesedihan. Segumpal beban di dalam dada, berulangkali kurenggut, ia makin menyusup. Meski sudah di tangan, tak bisa kulemparkan. Sekalinya terlempar, ia mendarat lagi di tengkuk dan di punggung, lalu masuk sekali lagi ke dalam dada. Aku ingin menyebutnya: Cinta. Selekat apapun ia, bisa lepas begitu saja dari saku celana. Meski kukepal tangan, kusuruk-surukkan, ia malah terlempar ke luar, lalu jatuh begitu saja di jalanan. Namun, saat kulupakan, ia datang kembali. Begitu berulangkali. Kau mudah menyebutnya sebagai: Kutukan. Benda tanpa wujud dan padaku ia dijatuhkan, dilekatkan. Yang membuatku seakan diletakkan sebagai obyek penderita dalam kalimat majemuk bertingkat yang menjemukan untuk dibicarakan. Dan karenanya, kau berusaha menghindari diri dari percakapan semacam ini. Seolah ingin aku temukan dirimu hanya pada satu kesempatan dalam waktu yang begitu sempit ini. Hidupku. 2018

Sejenak Berpaling

Sejenak berpaling dari dunia yang kian bising; Dunia yang dibangun dari trotoar oleh para pedagang. Dari kantor oleh para pialang. Dari gedung pemerintahan oleh para petualang. Dunia di mana pertapa menyepi untuk bisa tampil di televisi. Para seniman sibuk sendiri, tapi tak ada karya yang abadi. Sejenak. kuajak dirimu tinggal dalam diamku, di mana yang bersuara hanyalah rindu. 2018

Lalu Kita Jadi Asing

Lalu kita jadi asing, meraba: mana pintu, mana dinding. Mencari jalan untuk bertemu. Mata saling pandang. Di tangan, saling genggam rindu. Aku tak pernah mencoba hilang, untuk kau temukan. Kau tak lari atau sembunyi supaya aku mencari. Kita hanya bimbang pada apa seharusnya berpegang. Sajak jadi lain. Berputar, berpilin lalu lepas dari angan. Liar menyeberang. 2018

Dalam Waktu

Dalam Waktu Dalam waktu, kita bertengkar dan berkelakar. Waktu, aula besar sebuah pasar. Ada yang menjajakan harapan, ada yang menggelar kesedihan. Ada pula yang mempertunjukkan kebodohan. Sepasang kekasih janji bertemu dalam waktu. Mereka melepas kerinduan ke luar dari ruang waktu. Waktu, selasar panjang menujumu. Masih maukah kau bersabar menungguku? 2018

Hidup Bagimu

Tak mengalir pada glasir keramik dingin. Tak menguap dari puncak panas genting. Ia jatuh hanya jika kau ingin menyeduh seteko teh melati di suatu pagi. Ia semacam isyarat biduk bakal mendarat di Ararat. Arah jalan menyimpang orang saleh dari Niniwe. Lembut bagai tembuni budak laki-laki dari Habsyi. Ia yang kepadamu di suatu petang, kumandangkan, "Mari meraih kemenangan!" Tak nampakkah bagimu yang serupa surga di bawah bayang pedang itu? 2018

Jangan Teruskan Membaca...

Jangan Teruskan Membaca Jika Tak Tega, Sebab Raja ini Hendak Membelah Seorang Bayi Kebenaran semacam apa yang ingin kauketahui di dunia ini? Di sebelah sana, ada ibu yang menangis. Sedang di sisi lain, seorang ibu sinis, "Ah, dia hanya pura-pura. Itu anak saya!" Apakah kebenaran harus selalu ditegakkan dengan cara mencabut pedang dan mengancam-ancam? "Baiklah," titah Raja, "biar kubelah dua saja bayi ini!" Sampai seorang ibu makin keras menangis dan mengiba, "Biarlah, Paduka, anak itu serahkan saja sama dia!" Sedang ibu yang satunya berseru bahagia, "Paduka sungguh adil jika begitu. Setiap dari kami akan beroleh sebagian yang sama." 2018