Posts

Kucing

Kucing Keluarkan aku dari dalam karungmu! Agar tak permah terjadi perniagaan pura-pura antara yang culas dan ia yang tak merasa curiga pada dunia yang lebih belukar daripada selasar pasar ikan dan lengang sebuah gang. Juga supaya Si Payah punya kesempatan bangkit seperti Si Sakit sudah pulih dari tujuh malam demam berdarah, dan lebih dari itu ia kini lebih berdaya seperti punya sembilan nyawa. Cabut aku dari kumismu! Biar ada rasa kecewa tak bisa masuk pada lubang sebatas tengkuk. Biar tumbuh satu kesempatan melegakan dari nyeri tak tertahankan di pinggang. Sudahi aku dari rasa malu padamu! Karena dengan begitu -- bebas aku meniti malam dan mengeraskan suara semesra asmara-asmara kita. 2019

Panggilan

Panggilan Mengapa di mulutmu terselip namaku? Mengapa aku harus menoleh dari rumput ke sayap kupu-kupu yang gemetar itu? Betapa malang nasib angin pada helai yang terkulai. Ia membangkitkan putus asa belaka. Sia-sia mendorong batu lalu menggulirkannya kembali. Tak akan jadi bisik – “Siapa bilang begitu, bahkan dengan memakan buah pohon ini, kalian justru bisa menjadi Tuhan." Baik akan kuperhatikan yang bergelora dalam cahaya. Helai-helai suara penuh warna. Supaya tak tertipu untuk kali kedua. Cukup sudah seribu babi dirasuk arwah lalu terjun dari tubir seakan berebut butir mutiara. Cukup sudah dari atas bukit dua belah batu bertulis dipecah karena segala doa disebut untuk sebentuk lembu. Mengapa telingaku bagai biri-biri mengenali suara gembala yang lari mencari seekor yang terhilang dari kumpulannya? Mengapa merasa sudah dipilih dari selaksa yang bakal rebah di sisi kanan? Merasa sebagai seorang ibu dari Gerika...

Atap

Atap Ingatkan lagi dan lagi aku tentang keruntuhan, keyakinan yang guyah, dan cinta yang tak menyerah. Meski selalu ada pertanyaan -- "Mengapa harus ada yang merasa kalah?" Salju tak turun di bulan Juni, dan penghujan belum tentu jatuh jadi musim di akhir tahun. Karenanya, ingatkan lagi aku soal bertahan, bersetia pada perubahan, dan rindu yang mudah ditangguhkan. Agar harapan jadi sebuah tangga -- meski tak mengarah ke surga -- sedia dan berguna saat datang badai dan setelahnya. Genting melorot, kayu lapuk, anak kucing dalam ruang plafon, tumpukan serasah menutup lubang di talang air, hanya masalah kecil yang membuatku terpanggil -- Jangan cepat terusik pada hal-hal yang bocor dan berisik. Meninggilah sejenak. Dan memperbaiki bubungan pasti mengingatkanmu pada hal-hal yang mudah tergelincir lalu jatuh. 2019

Dua Bulan di Puncak Gunung -- Aku Merenungkan Ini

Dua Bulan di Gunung, Aku Merenungkan Ini Kelak tubuhku tak akan kau sentuh lagi, dan saat itu, aku tak hendak peduli. Namun saat api siap menghabisi nasibku, bagimu, aku, baru punya arti. 2018

Dua Bulan di Puncak Gunung -- Kelak Akan Dihapus

Kelak Akan Dihapus Pertanyaanmu dan kesulitanku untuk menjawabnya akan dilebur oleh caranya menghibur, "Apakah waktu satu-satunya Si Penggali Kubur?" Kekecewaanku dan caramu menempatkan harapan akan ditukas oleh kesetiaannya menjaga yang bakal tumbuh dari yang dicabut, dipatahkan, lalu dijadikan tanda pada kubur itu. Kemalanganmu dan petualanganku kelak akan dihapus oleh janjinya untuk datang di kali yang lain, membawa bunga, doa, dan cerita yang dibuka dengan kata, "Berbahagialah..." 2018

Dua Bulan di Puncak Gunung -- Lagu Persembahan

Lagu Persembahan Langit tak menyimpan kekecewaan di balik awan. Awan tak menahan kesedihan di punggung angin. Angin tak akan memberi  kebencian pada pohon. Pohon hanya ingin memberi tanda pada tanah. Tanah selalu bersyukur pada yang bakal dikubur, seperti rahasia sekecil debu --  betapa muskil aku tak mencintaimu. 2018

Dua Bulan di Puncak Gunung -- Gunung Akan Mengisahkan Air Mataku

Gunung Akan Mengisahkan Air Mataku Sebagai sebatang sungai menuju lembah mengairi ladang dan sawah, dan seorang gembala membawa ternaknya untuk man di dan minum setelah lelah bermain dan kau hitung dalam malam menjelang tidurmu. Gunung akan mengisahkan air mataku seperti laut dengan gelombang ganas hendak membolak-balikkan perahu di mana seorang nelayan berusaha tetap tenang dan tertidur dalam kenangan dan harapan untuk segera berjumpa denganmu. Namun gunung tak ingin membuka rahasia bahwa air mataku hanya embun bergulir sebentar pada daun selembar sebelum dibakar matahari pagi yang membuatmu bangun dan merasa -- ada yang hilang pada dadamu, dan seorang penghibur dijanjikan bangkit  untuk menemanimu. 2018