Posts

Tentang Berproses

Image
Lukisan Henri Mattise, Landscape at Collioure (1905) Baru-baru ini, ada celetukan seorang teman yang sempat menjadi heboh karena anggapan adanya seleksi yang tidak benar dari sebuah penerbitan besar. Dari beberapa komentar terhadap celetukannya itu, saya mencermati banyak yang menganggap kenapa terjadi celetukan itu pasti karena ia merasa apa yang dihasilkannya sudah layak untuk dinikmati oleh kalangan yang lebih luas daripada pembaca karyanya sekarang ini. Dalam dunia tulis menulis khususnya puisi, memang saya sendiri mengalami keraguan yang besar mengenai puisi-puisi yang pernah dan akan saya tuliskan. Apakah mereka itu bisa disebut puisi yang mencerminkan karakter, pemikiran, zaman dan bahasa yang khas saya pribadi? Ataukah apa yang saya hasilkan masih dianggap hanya perikutan dari masa lampau dan usang? Dalam video business insider yang saya tonton pagi ini, dijelaskan mengapa sebuah seni lukis modern menjadi begitu mahal untuk sesuatu yang tampaknya gampang juga dila...

Hagar dan Kebangkitan Nasional

Image
Entah kenapa nama itu terlintas saat saya sedang menuliskan apresiasi untuk sekumpulan puisi dari tiga penyair. Nama itu terlintas saat terdengar azan salat zuhur berkumandang tadi. Hagar adalah nama budak milik Abraham yang atas saran Sara, istri Abraham, dijadikan pemenuhan keinginan Abraham agar mempunyai anak. Dengan keadaan ini, Hagar menjadi perempuan lain dalam rumah tangga Sara dan Abraham. Ini memang berbeda dengan cerita The World of The Marriage, drama korea yang konon pada episode terakhirnya mendapatkan rating tertinggi dalam sejarah pertelevisian di sana. Da Kyung merebut Tae Oh dari tangan Sun Woo, sementara Sara mengizinkan Hagar memasuki hidup Abraham. Di dunia lama saat itu, budak adalah milik. Konsekuensi tanpa diakui sebagai ibu dari anak Abraham, sudah jadi derita Hagar. Tinggal nanti bergantung pada keinginan Abraham terhadap Ismael ("Dengarlah Tuhan," arti namanya) apakah ia akan mengangkat putera dari keturunan budaknya itu sebagai anak ...

Tentang Sakit

* Bagaimana demammu? Di termometer, yang ia catat: dingin atau panasnya? Bisakah ia berjalan tanpa gemetar? Nama siapa dirintihkannya dalam pelukmu? ** Bagaimana batukmu? Sudah lancarkah ia bersuara parau? Jenakkah ia dalam sesak dadamu? Berapa kali dalam semenit ia berdehem padamu? *** Dalam cair candu maut, ia menggapai guyah tubuhmu. Seseorang datang dan pergi -- menepuk-nepuk lengan seperti malaikat turun di Getsemani. 2019

Suaraku

Suaraku Mekar bunga dalam jambangan di trotoar, segera ditelan deru sepeda motor yang melintas -- Ia tak berseru apa-apa selain menawar sebuah pucat warna; kering kecoklatan rumputan di tepian tol pinggir kota. Tak dihirau ribuan kendaraan yang terburu entah ke mana -- Ia tak berteriak pada sesiapa hanya menunjuk pada waktu di mana kita harus pasrah menerima kenyataan. 2019

Kamis

Kamis Aku piatu mengetuk pintu --  berseru & menunggu seorang memadamkan nyala dari masa lalu. Aku mekar payung hitam itu -- bersedia dari hujan yang tak lagi merahasiakan apa- apa selain sejumlah nama tumbuh tanpa tanda kehidupan. Aku kata dengan seluruh hurufnya kapital -- karena belum ada yang punya hati untuk benar-benar memperhatikan; seberapa lama kesabaran membesar dan rasa takut itu lambat laun susut. 2019

Unholy Trinity

Unholy Trinity Si Maut, yang suaranya menggelegar di balik kabut, naik ke pembuluh mataku. Si Nafsu, dengan pandang rakus dan mulutnya yang selalu berliur itu, menggelar dunia di bawah kakiku. Dan ketika aku menunggu-nunggu kapan Si Dusta muncul, waktu telah mengelabuiku. 2019

Ikan dalam Akuarium

Ikan dalam Akuarium Ia melihat terang yang luas dengan pandang terbatas. Ia berenang hanya mengukur ketakberdayaan -- seperti aku yang merasa hidup hanya sebesar upaya mengira; licin daun ganggang, letup gelembung di menit ke berapa, seungu apa sirip arwana, dan seberapa rakus seekor sapu-sapu melahap lumut di bebatuan? Ia - seperti aku - melihat dari balik kekakuan dinding kaca -- betapa dingin waktu mengalir begitu saja. 2019