Posts

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya Indonesia didirikan dengan kesadaran bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh karena itu maka segala bentuk penjajahan di dunia harus dihapuskan. Kalimat “segala bentuk penjajahan” termasuk di dalamnya adalah dominasi satu pihak atas pihak lainnya, dan juga adanya upaya pemusnahan. Atas dasar itulah, kami para sastrawan dan pegiat sastra yang tergabung dalam Ruang Sastra menggagas pentingnya untuk bersuara atas kekerasan yang bahkan telah mengarah pada genosida pada entitas suku Rohingya tengah terjadi di wilayah Arakan, Rakhine, Myanmar.   Terlepas dari apakah ini persoalan politik, atau sektarian, agama, yang menjadi perhatian kami adalah nasib ribuan orang baik tua maupun muda, sampai pada anak-anak dan bayi yang menderita karena kekerasan yang terjadi di sana. Siapapun, baik apapun suku dan agamanya, tidak boleh dibiarkan menderita, dipersekusi, dan dianiaya, akibat kekerasan yang dipicu dan dilakukan oleh siapap...

Puisi-Puisi Berlatar Imlek

Dedy Tri Riyadi Ya Sui 1/ Tak ada duka setelah kauterima segala yang merah dengan tabah. Ada mungkin sejumlah kecewa, tapi itu   karena tak bisa membaca pepatah. 2/ Ia, yang padamu diserahkan, semacam petuah – dahan hijau baik disimpan, burung berkicau terpancing datang. Kau, yang menerimanya, tentu paham juga – selagi sanak berkumpul, tidaklah patut menelisik isi sampul. 3/ Ia tak pernah menyesal sebab tahun baru awal. Hanya sedikit kesal pada yang menyoal – rencana menikah sudah pasti gagal? Ia malah merasa bahagia ketika langit jadi jingga. Ketika popo, nene, kungkung, yeye, duduk bersama di satu meja. 2017 Ya Sui           =        lengkapnya Ya Sui Qian, Angpao Popo             =        nenek dari pihak ibu, istilah Tionghoa Nene    ...

Cahaya dan Warna

Cinta itu gelap, katamu, karenanya aku meraba, mencari, dan bertanya; "Apakah Kau cahaya dan semata cahaya?" Cinta itu nir warna, katamu, setelah bergelap, berterus terang, menemu yang padat, seterui yang mekar, dan me- mahami yang berguguran. "Apakah ia yang serupa bening prisma, dan segala warna dari cahaya diteruskan dari sana?" Ia meyakinkan diri. Meyakini bahwa cinta juga rupa-rupa warna yang menyebar. Yang tak dapat ia hitung dengan sabar, dengan jemarinya yang bergetar. 2017

Yusuf Meludahi Lututnya

Ia menggulung celana dan meludahi lututnya seperti menanggung cedera dan ingin menyudahi perihnya. Ini terjadi setelah sebuah pesta musik bubar, setelah anak-anak muda saling memberi kabar -- dunia harus dipersatukan dalam satu ikatan. Ini bermula ketika Yusuf hendak berwisata ke sebelah utara, dan yang ia sangka sebagai saudara ternyata dibenci oleh kerabat Yusuf paling dekat. Yusuf jatuh dengan kecewa. Lalu hiburnya pada lutut, pada kakinya; "Sekali-kali, adalah Yakub yang terluka di lututnya. Setelah bergulat dengan malaikat. Setelah itu, Allah-nya memberikan nikmat." 2017

Yusuf dan Kubur untuk Yeshua

Ia berangkatkan duka seperti membebat tubuh Yeshua dengan kain lenan pilihan. Ia berangkat dari Rama, dari kubur perjanjian Samwil dan Daud, untuk menghibur mereka yang tak terampil untuk menyebut Yeshua sebagai guru. Ia membuka kubur baru, "Biarlah, semua kekejaman ini buyar sebelum hari Paskah. Jagalah juga dengan seregu pasukan, sementara kuberi juga waktu meramu rempah-rempah dan balsam, sebagai bagian dari upacara pemakaman. Setelah itu, biarkan aku hanya bagian akhir dari suatu pemberian." Ia jadi semacam kesimpulan -- hidup seseorang kadang cukup dikenangkan karena satu perbuatan." 2017

Sepotong Rindu

: untuk Padre Hiro Ia inginkan hari selesai dengan tangan terlipat di depan paha kitab yang terbuka -- tepat di bagian Kidung Agung : Apakah kelebihan kekasihmu daripada kekasih yang lain, sehingga kausumpahi kami begini?* Lilin di altar luruh dalam rindu. Ruang kapel wangi gaharu, tapi kau tak ada di situ. Ia ingin menarik diri sesegera mungkin dari sergapan angin, tapi diingatnya seorang samaria telah menggapai jubahnya dengan iman -- aku percaya pada ketulusan tapi Tuhan lebih suka pada jerit putus asa, juga derit yang rumpang di bilik pengakuan dosa. Ia ingin menutup kitab dan merapikan hal-hal yang mungkin lingsir sebelum perjamuan terakhir. Namun malam belum penat, secangkir espreso belum kelar juga mengendapkan kelir sepi. 2017 * Petikan dari Kidung Agung Pasal 5 ayat 9 bagian b.

Jika Kau Taruh Sajak

Jika kautaruh sajak dalam hatiku, ia akan jadi pohon rindang dan teduh. Buahan tersedia matang dan penuh. Burung-burung nyanyi riang lagi merdu. Jika kautaruh sajak dalam hidupku, ia jadi pokok tegak dan kukuh. Di lindungannya kekasih bersimpuh, dan tertidur. Setelah puas bermazmur dan bersyukur. 2017