Sedikit terbuka dia pada bagian dada hingga tak sedikit mata menaruh harap darinya agar segera dibebaskannya kata-kata dari mereka yang meniup-niup kepala, meletup-letupkan isi dada dan mencari makna cuaca yang tak tercatat oleh jam tua. Banyak yang ingin bersandar di pangkuannya, kembali menjadi anak-anak, kembali memahami setiap kabar dengan bijak agar ketika ada yang melaju, menuju akhir perjalanan, seakan ada yang harus dikekalkannya; rambut ikal yang urung diudar, juga hal-hal yang batal diujar, seperti sebuah sapaan. Sederhana saja. 2008
Jika kau ibaratkan kesulitan dalam hidupmu seperti sekumpulan hyena yang datang menyerang saat kau sendirian, percayalah, hidup tidak semengerikan itu. Aku pernah melihat video tentang seekor singa muda yang gegabah mengembara lalu ia masuk ke dalam kawasan yang dihuni oleh segerombolan hyena. Singa, dalam keadaan itu, tetaplah seekor binatang yang ganas. Ia beberapa kali menyerang satu per satu hyena yang menyerbu dirinya. Para hyena itu tidak surut lantaran mereka tahu, singa itu hanya sendiri. Jika diserbu dari berbagai penjuru, ia akan kewalahan. Dan benar saja, singa muda itu mulai kelelahan dan beberapa ekor heyna sempat menggigit dirinya. Dalam keadaan terluka, singa muda itu semakin terdesak. Untunglah, dalam video yang aku lihat, datang seekor singa muda lainnya. Ia menolong singa muda yang terdesak itu dengan menggigit dan mencakar heyna-heyna yang tadi merasa sudah di atas angin. Melihat adanya bantuan, singa muda yang tadi terdesak pun mulai menunjukkan keberaniannya lagi u...
Esai Khudori Husnan Dedy Tri Riyadi dan Sekeranjang Sajak-Sajaknya Rabu kemarin (24/09) setelah cukup lama absen, saya kembali menginjakkan kaki di Warung Apresiasi Bulungan Blok M Jakarta Selatan menghadiri acara Sastra Reboan. Malam itu Sastra Reboan meluncurkan dua buku sekaligus pertama buku kumpulan puisi karya Dedy Tri Riyadi “Liburan Penyair” dan kedua buku “Misteri Borobudur (Candi Borobudur Bukan Peninggalan Nabi Sulaiman).” Dari kedua buku tersebut hanya buku karya Dedy Tri Riyadi yang sempat saya baca itupun dalam bentuk naskah embrional dan bukan wujud asli seperti yang kini beredar di pasaran. Bagi saya kumpulan puisi Dedy Tri Riyadi (selanjutnya DTR) menarik dinikmati lantaran buku tersebut cukup mencerminkan sikap, posisi, dan pemahaman DTR pada apa yang disebutnya sebagai sajak atau puisi. “Liburan Penyair” dapat dibaca sebagai ikhtiar DTR menempatkan dirinya dalam khasanah perpuisian Indonesia mutakhir yang sebelumn...
Comments