Posts

Showing posts from June, 2015

Tirani Hujan dan Basa Basi Sepi

Angkutlah akut sedihmu hingga jukut terikut pada sikut dan lutut,
angkutlah sampai tubir di mana tak ada lagi bibir mendesir kata-kata.
Di sini, hujan begitu edan sampai-sampai tak bisa lagi dibedakan:
mana genangan, mana kenangan. Ialah kabut sengit merebut binar mata.
Ia pula sepi mengentak-entak di ujung gang, sepi yang pekak dan
suka berteriak dan menempelkan stiker-stiker di pantat bajaj, angkot,
kopaja. Di pohon-pohon, ia berulah. Berubah jadi logam dan bau garam.
Dia akan datang ke kotamu. Karena itu, angkutlah akut sedihmu sampai
tak dikenali lagi cahaya matahari dan habluran warna pelangi di jembatan.
Atau pada sebuah pantai di dalam lagu milik seseorang yang mirip Mozart.

2015

Upaya Berjalan di Atas Perut

Aku lupakan lagi Babilonia. Kembali ke Tursina.
Peradaban tidak hanya Mesopotamia dan Mesir Kuna.
Aku jauhi lagi tangkai petir emas dan lautan anyir cemas.
Kusudahi saja memikirkan jalan sufi yang sepi. Para penyintas
merasa di jalan itu sudah penuh dengan pencuri api.
Setiap kali muncul puisi, puncak-puncak piramida jadi
gemetar. Langit biru pudar. Dan kesetiaan hanya debar.
Aku bersabar. Melangkah pelan ke dalam kemah tua di Maar.
Dan meminum kembali air pahit itu dengan tidak menjerit
atau meronta. Menikmatinya seperti mengamati cangkang amonit
melingkar. Aku tak lagi mengingat Eden. Tak kuingat juga
ular tua dan sumpah Hawa. Kupastikan bahwa segala
yang kudengar dariNya adalah upaya berjalan
di atas perut, membereskan segala sengkarut.

2015