Posts

Showing posts from June, 2020

Sarapan Sari Roti (Seri Puisi dari Omelan Istri)

Sarapan Sari Roti Aku mengunyah dua lembar sari roti, melihat pada istri yang berkata tanpa ekspresi mengomentari rahasia Mayangsari yang merayakan 11 tahun bersuami Bambang Tri, "Ah, paling bukan semata karena ia pintar masak." Segera kutelan selembar roti terakhir, dan menenggak habis satu mug besar lo han kuo, dan membalas komentarnya, “Aku pun menikahimu bukan semata karena kamu pintar masak.” Cinta agaknya memampukan seseorang untuk selalu bisa membahagiakan  pasangannya. Dengan cara apa saja.  Dan tak perlu juga dipertanyakan sebabnya. Tugas kita hanya bertahan. Selama masih mampu. 2020

Nonton Televisi Pagi Hari (Seri Puisi dari Omelan Istri)

Nonton Televisi Pagi Hari Saat pemberitaan car free day dan orang-orang yang tak bermasker, istriku sambil main coin master mengomel, "Kalau bekerja dengan orang tionghoa, haruslah pandai bersiasat pula." Ia tambahkan, "Ini bukan soal rasisme, tapi kebanyakan mereka itu licik." Padahal, kami sama-sama seperempat tionghoa dari nenek-nenek kami. Dan kadang, kami mengaku "huana" pada mereka. Nyatanya, dunia memang dipisahkan antara orang asing satu dan lainnya. Dan berbaur selalu jadi soalan setiap harinya. Seperti dalam berita itu, orang-orang berkumpul tak peduli virus corona masih mengintai hidupnya. 2 020

Tentang Mapogo

Pada tahun 2006 sampai dengan 2012, terjadi kematian singa jantan baik besar atau kecil lebih dari 100 ekor di Afrika Selatan. Hal ini terjadi bukan karena maraknya perburuan liar ataupun kelaparan, melainkan karena aksi brutal dan sadis yang dilakukan oleh satu kelompok singa jantan yang disebut Mapogo. Kelompok yang hidup pada daerah bernama Sabi Sand di taman suaka margasatwa Kruger ini terdiri dari 5 ekor singa jantan yang berasal dari satu kelompok yang disebut Sparta, yang karena kalah saing dengan jantan alfa kemudian membentuk kelompok sendiri. Mereka terdiri dari Si Ekor Bengkok (disebut demikian karena ekornya mempunyai lekukan di ujung), Mr. T (karena rambut surai di kepalanya sedikit botak di kanan dan kiri, dan juga disebut sebagai Setan karena ia paling sadis ketika membunuh singa yang lain, termasuk melahap anak-anak singa), Si Ganteng (karena ia memang tampak lebih anggun dari yang lain), Rasta (karena ada sedikit rambutnya yang gimbal), dan Si Gimbal (karen

Terjemahan Charles Bukowski "days like razors, nights full of rats"

Charles Bukowski Siangnya seperti Pisau Cukur, Malamnya Penuh Tikus sebagai seorang anak muda kubagi dua sama besar waktuku antara kedai minum dan perpustakaan; bagaimana aku mengatur cara memenuhi keperluanku yang lain ya itu lain soalan; pastinya aku tak terlalu ambil peduli -- kalau ada buku atau minuman aku tak pusing amat pada hal lain -- hanya orang bodoh yang ingin punya surga dunia. dalam kedai-kedai minum, aku pikir akulah jagoan, aku bisa hancurkan barang-barang, berkelahi, dan lainnya, kalau dalam perpustakaan lain hal tentu; aku pendiam, menjelajah satu ke lain ruangan, tidak terlalu suka menghabiskan seluruh isi buku-buku yang masuk dalam; kedokteran, geologi, sastra dan filsafat. psikologi, matematika, sejarah, hal-hal lainnya, jauhkan aku darinya. lain dengan musik aku lebih tertarik dengan musik dan dalam kehidupan pribadi para komposer alih-alih aspek tehnik... namun, dengan para filsuf itu aku merasa begitu akrab; Schopenhauer dan Nietzsc

Beberapa Puisi Terjemahan

Charles Bukowski Seribu Dolar seluruh kepandaianku tentang pacuan kuda mengatakan bahwa ini taruhan yang pasti. Aku bertaruh seribu dolar untuk menang. kuda di posisi satu pada pacuan sepanjang 1,2 km. lonceng berbunyi dan kuda-kuda itu keluar dari pintunya. kudaku berbelok ke kiri berlari sepanjang pagar jatuh ia lalu mati di sana pada 7/5. saat kisah ini kuceritakan pada orang-orang mereka tak berkata apapun. kadang memang tak perlu berkata apa-apa tentang kematian. Diterjemahkan dengan bebas dari puisi "one thousand dollars" karya Charles Bukowski. Charles Bukowski Calon Anggota Dewan Di toilet laki-laki pada pacuan kuda anak ini kira-kira umur 7 atau 8 datang ke kios bersama seorang lelaki yang menunggui dia (sepertinya ia itu ayahnya) bertanya, "Kau ke manakan jadwal pacuan? Tadi kuberikan padamu untuk disimpan." "Tak," kata anak itu, "Aku tak melihatnya! Aku tak memegangnya!"