Tuesday, January 17, 2017

Dalam Pesawat

Hanya harapan yang
akan membuatmu
bertahan bahkan meninggi
melampaui kesedihan.


Tak apa menangis.

Tak apa menyeka sisa gerimis
di jendela, atau memandang
jauh ke bawah, ke hijau lembah,
ke kota yang perlahan jadi titik-titik
kecil, mengingat percakapan degil

bahwa tanpa Tuhan, rencana
dalam hidupmu seperti isi papan
keberangkatan yang dipenuhi
kata terlambat.

Silakan tersenyum atau mulai
berpikir -- bagaimana cara minta
minum pada pramugari dalam
bahasa arab atau itali, sebab tadi

disebut, "Kita akan transit di Abu
Dhabi, sebelum lanjut ke Itali."


Ah, lebih baik kau tertawa.

Sebab hidup adalah panggung
kegembiraan semata. Kesedihan
hanya bagi mereka yang belum
bisa memaknai derita.

Putarlah musik atau tontonlah
saluran komedi, sebab berjam-
jam lagi, kau akan segera dilanda
bosan, atau kenangan, hal-hal kecil

yang mengingatkanmu akan dia,
akan cepat mengada --

dan membuatmu
merasa rindu, tiba-tiba.

2017

Bandar Udara

Seperti cuaca, sepenggal sajak
akan terasa banal jika menyoal
perasaan.

Meski kau tak merasa ada masalah
ia menganggap sama -- antara pergi
dan pulang, antara menanti dan me-
ngantar, bersedih dan bersabar.

Seperti mati, ada orang yang bilang:
Ia telah pergi. Sedang yang tabah me-
ngatakan: Dalam damai, ia berpulang.

Memang tak sama -- antara menjerit
dan melambaikan tangan, sepasang
kekasih berdekapan, bergumam lirih,
sebelum merenggangkan pelukan.

Namun kau tahu -- beginilah hidup
dibangun sebagai bandar udara,
terminal, atau stasiun. Dengan se-
lembar tiket di tangan, yang kau
lakukan hanya bertahan, sebelum

kau dengar sebuah panggilan.
Namamu. Ya. Namamu itu.

2017
Google