Thursday, February 16, 2017

Shigeru




“Aku hendak menjangkau surga,” katamu.

Dan ia mendengar langkah-langkah,
guman doa, dan isak di antara pujian
seperti gelombang yang belai-membelai
dan mengirim pucuk ombak di pantai.

“Kau mau mendengar kisahku?” Kau bertanya.

Ia hanya melihat altar yang penat,
lilin berpendar tapi dingin suasana.
Tanda salib dibuat dengan sentuhan
di dahi, pundak, dan dada. Ia tak melihat
matamu basah.

“Katakan! Katakan kalau kau mencintaiku,”

Teriakmu teredam seluruh dinding sunyi.
Dan ia tak mengerti,
tak akan pernah mengerti,
mengapa perpisahan
bisa terasa megah?

2017

Agnus Dei


Tak ada yang berubah
meski bom telah tercurah.
Kotamu tegak. Kubah-kubah
bangunannya putih perak.


Asap hitam yang tadi naik
telah turun bersama pekik
mereka yang gugur.

Di tembok-tembok
terpampang peringatan –
hidup adalah keberanian
untuk berjuang!

Selamat jalan.
Selamat berperang.
Sepasang orang tua
melepas pelukan anak-anak mereka.

Demi negeri ini, segala senapan diisi.
Demi Tuhan yang tak pernah mati.

Tak ada yang berubah
meski bom telah tercurah.
Karena kita telah lama jadi domba
yang dilepas ke padang serigala.

2017
Google