Posts

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya
Indonesia didirikan dengan kesadaran bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh karena itu maka segala bentuk penjajahan di dunia harus dihapuskan. Kalimat “segala bentuk penjajahan” termasuk di dalamnya adalah dominasi satu pihak atas pihak lainnya, dan juga adanya upaya pemusnahan. Atas dasar itulah, kami para sastrawan dan pegiat sastra yang tergabung dalam Ruang Sastra menggagas pentingnya untuk bersuara atas kekerasan yang bahkan telah mengarah pada genosida pada entitas suku Rohingya tengah terjadi di wilayah Arakan, Rakhine, Myanmar.
Terlepas dari apakah ini persoalan politik, atau sektarian, agama, yang menjadi perhatian kami adalah nasib ribuan orang baik tua maupun muda, sampai pada anak-anak dan bayi yang menderita karena kekerasan yang terjadi di sana. Siapapun, baik apapun suku dan agamanya, tidak boleh dibiarkan menderita, dipersekusi, dan dianiaya, akibat kekerasan yang dipicu dan dilakukan oleh siapapun juga.
Beran…

Puisi-Puisi Berlatar Imlek

Cahaya dan Warna

Cinta itu gelap, katamu,
karenanya aku meraba,
mencari, dan bertanya;
"Apakah Kau cahaya dan
semata cahaya?"

Cinta itu nir warna, katamu,
setelah bergelap, berterus
terang, menemu yang padat,
seterui yang mekar, dan me-
mahami yang berguguran.

"Apakah ia yang serupa bening
prisma, dan segala warna dari
cahaya diteruskan dari sana?"

Ia meyakinkan diri. Meyakini
bahwa cinta juga rupa-rupa
warna yang menyebar. Yang
tak dapat ia hitung dengan
sabar, dengan jemarinya
yang bergetar.

2017

Yusuf Meludahi Lututnya

Ia menggulung celana dan meludahi lututnya
seperti menanggung cedera dan ingin menyudahi perihnya.

Ini terjadi setelah sebuah pesta musik bubar,
setelah anak-anak muda saling memberi kabar --
dunia harus dipersatukan dalam satu ikatan.

Ini bermula ketika Yusuf hendak berwisata
ke sebelah utara, dan yang ia sangka sebagai saudara
ternyata dibenci oleh kerabat Yusuf paling dekat.

Yusuf jatuh dengan kecewa.
Lalu hiburnya pada lutut, pada kakinya;
"Sekali-kali, adalah Yakub yang terluka di lututnya.
Setelah bergulat dengan malaikat.
Setelah itu, Allah-nya memberikan nikmat."

2017

Yusuf dan Kubur untuk Yeshua

Ia berangkatkan duka
seperti membebat tubuh Yeshua
dengan kain lenan pilihan.

Ia berangkat dari Rama,
dari kubur perjanjian Samwil
dan Daud, untuk menghibur
mereka yang tak terampil
untuk menyebut Yeshua
sebagai guru.

Ia membuka kubur baru,
"Biarlah, semua kekejaman ini
buyar sebelum hari Paskah.

Jagalah juga dengan seregu pasukan,
sementara kuberi juga waktu meramu
rempah-rempah dan balsam, sebagai
bagian dari upacara pemakaman.

Setelah itu, biarkan aku
hanya bagian akhir
dari suatu pemberian."


Ia jadi semacam kesimpulan --
hidup seseorang kadang
cukup dikenangkan
karena satu perbuatan."

2017

Sepotong Rindu

: untuk Padre Hiro

Ia inginkan hari selesai
dengan tangan terlipat
di depan paha kitab
yang terbuka -- tepat

di bagian Kidung Agung
: Apakah kelebihan kekasihmu
daripada kekasih yang lain,
sehingga kausumpahi kami
begini?*


Lilin di altar luruh
dalam rindu. Ruang
kapel wangi gaharu,
tapi kau tak ada di situ.

Ia ingin menarik diri sesegera
mungkin dari sergapan angin,
tapi diingatnya seorang samaria
telah menggapai jubahnya dengan
iman -- aku percaya pada ketulusan

tapi Tuhan lebih suka pada jerit
putus asa,

juga derit yang rumpang
di bilik pengakuan dosa.

Ia ingin menutup kitab
dan merapikan hal-hal
yang mungkin lingsir
sebelum perjamuan terakhir.

Namun malam belum penat,
secangkir espreso belum kelar
juga mengendapkan kelir sepi.

2017


* Petikan dari Kidung Agung Pasal 5 ayat 9 bagian b.

Jika Kau Taruh Sajak

Jika kautaruh sajak
dalam hatiku, ia akan
jadi pohon rindang
dan teduh. Buahan
tersedia matang dan
penuh. Burung-burung
nyanyi riang lagi merdu.

Jika kautaruh sajak
dalam hidupku, ia jadi
pokok tegak dan kukuh.
Di lindungannya kekasih
bersimpuh, dan tertidur.
Setelah puas bermazmur
dan bersyukur.

2017