Google
 

Tuesday, July 14, 2009

Telah Terbit Novelku


NOVEL "DAN SEGALANYA MENGHILANG"

Karya Dedy Tri Riyadi

"Sejujurnya aku belum merencanakan apapun selain menghilangkan diri dari kehidupan ini. Lalu aku terkenang pada sesuatu yang ingin aku lakukan sepanjang hidupku. Bertahun-tahun aku menyukai puisi. Menjadi pembaca yang baik dari puisi-puisi orang lain. Mungkin inilah saatnya aku mencoba menuliskan puisi." – Arya Dananjaya, wartawan.

"Aku dan Danan adalah sepasang kekasih yang tidak akan pernah bisa bersatu."- Miranti, mahasiswi Kyoto University.

Sinopsis

Sebuah peristiwa pembunuhan artis penyanyi yang sedang merintis karir menjadi diva di Indonesia membuat Danan merasa ada yang salah dalam hidupnya. Pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar kriminal membuatnya terseret dalam lingkaran pembunuhan berantai yang juga mengancam keselamatannya. Dia juga harus berjuang untuk meluruskan hidupnya yang dianggapnya salah cetak dan salah letak. Termasuk kisah cintanya dengan seorang penderita trauma kekerasan domestik bernama Miranti.

Berikut pendapat yang sudah membacanya;

"Sebuah Anagram kehidupan!" – Hasan Aspahani, Penyair.

"Pertama-tama, bayangkanlah sebuah novel detektif khas Sir Arthur Conan Doyle atau Agatha Christie. Kemudian bayangkan kisah semacam itu diramu dengan gaya bertutur yang cenderung puitik-melankolik yang biasa Anda temui dalam novel-novel drama romantik khas Freya North, itulah keunggulan novel ini. Dedy tidak hanya bicara ihwal pemecahan kasus kejahatan, lewat novel ini, dia memberi tahu kita bahwa terkadang hidup merupakan kelindan peristiwa yang kompleks dan penuh makna—yang harus kita temukan signifikansinya bagi kehidupan masing-masing kita." - Fahd Djibran, Penulis, Pemimpin Redaksi Eduka.

"Dari halaman ke halaman, sebenarnya penulis mengisahkan perjalanan puisi dengan bahasa puisinya sendiri. Lewat tokoh-tokohnya, penulis menyajikan sebuah cermin. Dan saat selesai membacanya, ternyata wajah kita juga ada di situ." – Johannes Sugianto, Penyair.

"Cerita ini penuh suspense. Dibuka dengan cara semacam Beverly Barton dalam Killing Me Softly, permainan dan interaksi karakter yang kuat serta perpindahan sudut pandang yang terjaga di jalannya cerita." - Pringadi AS, Peraih HOKI Literary Award 2008 kategori Cerpen.

Monday, June 29, 2009

Sekerat Roti di TanganMu

Sekerat Roti
di TanganMu

1/
Jangan Kau jerat laparku
dengan sekerat roti di tanganMu

2/
Aku pasti menunggu

walau seribu kepak merpati
dan suara kur-kur-kur di telinga
taman ini selalu seperti berjanji;

ada sepotong frankfurter
dan segelas milkshake
berukuran medium,
spesial untukmu!


lalu senyumMu mengambang
di bangkai sungai di bawah
jembatan kayu merah marun
beraroma aneh itu

dan kutemukan lagi remah roti
yang tak termakan gerombolan
merpati itu, di atas busa air sungai
yang semakin keruh

menghitamkan penantianku

3/
Ada harapan yang utuh - bahkan lebih jelas
dari gelas milkshake dan lebih pedas dari
saus frankfuter di tanganku ini – saat Kau
hendak memecah-mecah roti itu

3/
Akhirnya, aku tak bisa memaksaMu kembali
setelah habis semua remah roti
di paruh seribu merpati, dan sebagian
lagi dibasuh busa sungai yang perlahan
membuat kotaku mati

2009

Seusai Badai

Seusai Badai

Yang lantak hanya kelak
sebab aku tak bisa mengelak

Tak bisa aku menduga kau
seperti tak bisa menakar curah hujan
dengan genggam tangan

dan yang kelak terserak hanya
doa-doa tak terucap

Seperti pernah kudengar kau,
dari lambung perahu, menghalau
kumpulan awan

Ah, seusai badai ada banyak
yang bisa kita kumpulkan

diam-diam

2009

Sunday, June 28, 2009

Dari Sebuah Kursi di Ruang Mahkamah

Dari Sebuah Kursi
di Ruang Mahkamah

1/
Aku duduk di sini,
tapi – ”Siapa sedang
bertamu?”

2/
Kau kisahkan kembali Bao, Sang Hakim,
Meski ada yang aku tak bisa mengerti;
benarkah keadilan itu datang dari langit?

3/
Aku sakit, aku menjerit!
Ruang mahkamah maha sempit ini
tak sanggup lagi mengurung jiwaku,
tak bisa lagi memberi jawaban
segala yang rumit

4/
Ya. Tak ada yang peduli pada pleidoi
setebal debu di kakimu. Aku hanya
ingin duduk di sini. Seorang diri.

Walau tak akan kujumpai
para tetamu

5/
O Sulaiman, raja bijak mana yang
datang mencuri pedangmu?

Begitu banyak bayi mati di kali,
di tempat sampah, di restoran,
di perempatan, di gendongan pengemis,
tanpa ada yang membelahnya jadi dua!

Tanpa ada tangis Ibunda

6/
Akan kuceritakan lagi padamu
Khrisna yang Agung - dia yang hanya
dua kali bertiwikrama – hanya untuk
bersilang sengketa

karena kau bertahan, begitu pejam
- dan juga kejam! - seperti tidur
Sang Baladewa!

Ah, Ruang mahkamah!
Betapa cepat perubahan terjadi
layaknya kincir angin di langit-langitmu

7/
Mataku tak pernah terpicing
di pangkuan kursiMu

Itu pedang berayun-ayun
dalam genggaman
selalu siap menidurkanku

setelah Ibunda selesai berkisah
tentang para raja, para hakim,
dan seorang satria tanpa mata,
tanpa suara yang menikam
bayi-bayi mimpiku

2009

Friday, June 26, 2009

Sepasang Sepatu di Kompas.com


Ditulis oleh Cunong N. Suraja

Dari ketiganya telah tercatat sepatu sebagai tema besar. Tengok saja sajak Maulana Achmad: Kwatrin Sepatu di Luar Mesjid (15) dan sajak Dedy T Riyadi: Pesta Sepatu (88), Sepatu Adam dan Hawa (93), Pertanyaan untuk Iklan Sepatu (98), danSepasang Sepatu yang Tertinggal di Via Dolorosa (99), sedangkan Inez Dikara tidak menyebutkan sepatu dengan lugas tetapi banyak sajaknya berisikan tentang jejak atau perjalanan yang tentunya tidak akan luput dari mengenakan sepasang sepatu selama perjalanannya (apalagi pengembaraannya di negeri Paman Sam yang bermusim empat!)

Di Pasar Malam sebuah ajang pertemuan para penggemar sastra malam reboan saya menerima sebuah buku kumpulan puisi (dari salah satu penyairnya: Maulana Achmad!) dengan kulit buku yang menawan dengan jelas menyarankan isi buku dengan gambar sepasang sepatu sepasang kuas dengan latar belakang pemandangan yang mengesankan dalam warna dominan hitam putih.

Tiga kumpulan sajak mengingatkan pada buku puisi zaman normal (kalau tidak mau menyebut zaman penjajahan) “Tiga Menguak Takdir” yang ditulis sastrawan Chairil Anwar, Asrul Sani dan Rivai Apin yang menyarankan usaha membongkar sikap budaya Sutan Takdir Alisyahbana. Menguak di sini dimaksudkan untuk mengkritisi.

Pola judul yang menyaran demikian juga dipakai Nirwan Dewanto pada bukunya “Kepala Lebah Ratu”. Dan kumpulan ketiga penyajak ini dengan judul yang mengelupas seperti foto sepatunya di kulit buku dengan judul “Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” yang merupakan sebagian besar tema ketiga penyair yang dibuka oleh dua penulis puisi TS Pinang dan Hasan Aspahani (penyair yang muncul dengan penuh kekentalan kekerabatan dalam dunia internet. Walau keduanya muncul juga di lembaran sastra koran Kompas Minggu).

Tidak mengejutkan kalau kedua pengantar itu tidak bicara banyak tentang sajak-sajak ketiga penyair yang susah payah mengumpulkan masing-masing 35 puisi. Mereka berdua malah asyik membicarakan tentang orang lain semisal SCB. Mereka berdua menghindar untuk menyatakan kekuatan dan kelemahan sajak yang terkumpul 35 setiap penyair. Membaca 105 sajak tak selesai dalam semalam tapi mungkin juga terselesaikan sepanjang kita naik kereta api listri Jakarta-Bogor di tengah-tengah desakan para penumpang pekerja penglaju menuju atau kembali dari kota Metropolitan Jakarta. (Saya lebih dari tiga hari membaca 105 sajak secara selayang pandang dan loncat sana loncat sini mencoba menghubungan kesamaan tema)

Baca lebih lanjut di www.kompas.com

Facebook in Google