Thursday, April 07, 2016

Naturaleza Muerta


Dia mendapati bekas jarimu pada pinggang
vas bunga itu. Mencium bau ladang dan jejak
panjang matahari yang menguning begitu penting
pada lembar mahkota yang hampir gugur.
Pada lipit taplak meja itu, dia menangkap gugup
lenganmu, barangkali saat kau memasangnya
dia yang kau tunggu telah mengetuk pintu.
Dia mengerti, tak seharusnya kau letakkan
pisau makan di meja itu, tapi dia maklum.
Mungkin setelah mengoles margarin, kau
mendengar telepon berdering, dan
buru-buru kau pergi ke kebun,
memotong bunga,
meletakkan dalam vas,
mengambil taplak buru-buru,
dan menghias meja di ruang tamu itu
sebelum kau dengar ketukan
dan sebuah sapaan: sepada!
2016

Batu Penjuru


Dia ditolak dari bangunannya.
Dipalingkan dari pengharapanmu.
Padahal dia tahu - kau hendak
membangun tempat yang layak.
Bahkan lebih dari sekadar layak.
Tanpa kau tahu
Tanpa tukang batu
dia bayangkan garis panjang,
bidang dan lengkungan,
pintu juga jendela,
dan sebuah taman.
Dia bangun rumahnya
dari impian.
Dari remah-remah
kesahmu semalaman.
Semacam perumpamaan
bagi sepi yang tak kunjung
kau taklukkan.
Yang selalu membuatmu
merasa sebagai petualang.
Dan selalu ingin pulang.
2016
Google