Monday, February 27, 2017

Silencio


Dalam diam, ia mendengar
surga bergemuruh.

Malaikat jatuh menghunjam
sebilah tuduh. "Neraka," katanya,
"terletak di antara bimbang dan
curiga." Maka dibawanya api
suci ke relung tergelap dari dada.

Ia mengungsikan diri, lebih
jauh dari tubir tangis dan sumir
percakapan lima gadis di depan
pintu tanpa minyak lampu.

"Penyesalan," katanya, "semisal
epitaf. Segazal amsal leher zarafah
-- apakah tinggi tajuk, ataukah wangi
pucuk, membuat leher itu sulit ditekuk?"

Dalam diam, ia mendengar pintu
maaf diketuk.

Seseorang, serupa bunda, ingin
masuk. Hendak menjenguk.

Sakit apakah gerangan? Selain
yang sulit diterjemahkan dalam
catatan tabib yang tekun. Dalam
racauan mantra Sang Dukun.

Ia ingin sekali membuka dada.
Untuk menerima sepi hanya
sebagai suasana.

Dan menggantinya dengan
percakapan paling akrab dari
dukana.

2017

Thursday, February 16, 2017

Shigeru




“Aku hendak menjangkau surga,” katamu.

Dan ia mendengar langkah-langkah,
guman doa, dan isak di antara pujian
seperti gelombang yang belai-membelai
dan mengirim pucuk ombak di pantai.

“Kau mau mendengar kisahku?” Kau bertanya.

Ia hanya melihat altar yang penat,
lilin berpendar tapi dingin suasana.
Tanda salib dibuat dengan sentuhan
di dahi, pundak, dan dada. Ia tak melihat
matamu basah.

“Katakan! Katakan kalau kau mencintaiku,”

Teriakmu teredam seluruh dinding sunyi.
Dan ia tak mengerti,
tak akan pernah mengerti,
mengapa perpisahan
bisa terasa megah?

2017
Google