1.
dari dadaku, dari bilik perahu, kulepas engkau.
biar pada cabang hijau zaitun, kaupegang ketabahan
yang menahun.
laiknya bandang yang menggunung, terbanglah
engkau! terbang mengatasi banjir yang tak surut,
kerinduan dan sepi yang tak bisa larut. tak akan
pernah bisa.
aku tak akan pernah jadi nuh, sampai kau tempuh
penerbangan perdanamu setelah hujan panjang ini.
2.
dengan cintaku, di lunas perahu, kau kutunggu.
sampai kaubawa pulang sehelai daun. sehelai saja!
larik-larik hujan sudah hilang. cepat pulanglah kau!
bawa berita tentang dermaga sederhana, huma
terbuka dan rindang kamboja untuk nisanku.
hingga namaku dan namamu dapat kutulis
sebagai pesan. Sebagai kiasan akan kebahagiaan.
2009
Wednesday, November 18, 2009
Tuesday, November 17, 2009
Beliung
patahkan akar kesetiaan, Teman
karena angin lebih sering mengguncang
atap rumah.
galilah lebih dalam kesabaran
meski hujan dan daun-daun menutupi tanah.
kami berpegang padamu, Teman
pada lahan terbuka dan alang-alang.
agar kami dapat belajar dengan benar
pada batu, lumpur, dan akar tunjang.
2009
karena angin lebih sering mengguncang
atap rumah.
galilah lebih dalam kesabaran
meski hujan dan daun-daun menutupi tanah.
kami berpegang padamu, Teman
pada lahan terbuka dan alang-alang.
agar kami dapat belajar dengan benar
pada batu, lumpur, dan akar tunjang.
2009
Refreshment
Novel saya ini sudah terbit bulan Juli lalu, tetapi belum sekalipun dilaunching.
Bulan ini saya mau memperkenalkan kembali novel saya ini di acara Reboan.
Bagi yang belum menemukan, bisa dilacak di Toga Mas terdekat, sedangkan
di Jakarta sementara baru ada di Gramedia Matraman dan TM Bookstore -
Poins Square Lebak Bulus.
Semoga menyenangkan ... Buat penggemar puisi Bang Hasan Aspahani,
di novel ini bertebaran petikan-petikan puisi beliau ..
Bulan ini saya mau memperkenalkan kembali novel saya ini di acara Reboan.
Bagi yang belum menemukan, bisa dilacak di Toga Mas terdekat, sedangkan
di Jakarta sementara baru ada di Gramedia Matraman dan TM Bookstore -
Poins Square Lebak Bulus.
Semoga menyenangkan ... Buat penggemar puisi Bang Hasan Aspahani,di novel ini bertebaran petikan-petikan puisi beliau ..
Sunday, November 15, 2009
Maktab
1.
di luar kita - katamu - sudah terlalu banyak perahu
disesatkan suar, terlalu sesak pejalan kaki ditipu
trotoar, dan ada banyak malam tidur telanjang tanpa bulan.
sebab itu, kau tulis ulang isi kitab pada jendela,
di mana pucat pantai beradu temaram cahaya kota
hingga pias wajah bulan terbelah dua.
lalu kau selipkan sesudu rindu di muka pintu, mungkin
masih ada sadak jejak sepatu - serupa kenangan yang
timpang dan terguncang sepanjang jalan.
"agar mereka tak pernah lupa jalan pulang", katamu.
2.
lalu kau hapus nama-nama di kitabmu; nama pahlawan,
nama pejuang, dan nama mereka yang terbunuh
dalam diam.
namun kau tak pernah menghapus namanya, pelancong yang
datang di suatu malam bertahun silam. "harus ada yang
mesti disalahkan dari hari-hari yang lelah berlari", katamu.
dan kenangan, tetaplah pembunuh ulung! setelah kau bubuhkan
tanda tangan-di halaman kitab paling belakang- kau menghilang.
tinggal pendar bulan mengiris-iris dinding kamar.
2009
di luar kita - katamu - sudah terlalu banyak perahu
disesatkan suar, terlalu sesak pejalan kaki ditipu
trotoar, dan ada banyak malam tidur telanjang tanpa bulan.
sebab itu, kau tulis ulang isi kitab pada jendela,
di mana pucat pantai beradu temaram cahaya kota
hingga pias wajah bulan terbelah dua.
lalu kau selipkan sesudu rindu di muka pintu, mungkin
masih ada sadak jejak sepatu - serupa kenangan yang
timpang dan terguncang sepanjang jalan.
"agar mereka tak pernah lupa jalan pulang", katamu.
2.
lalu kau hapus nama-nama di kitabmu; nama pahlawan,
nama pejuang, dan nama mereka yang terbunuh
dalam diam.
namun kau tak pernah menghapus namanya, pelancong yang
datang di suatu malam bertahun silam. "harus ada yang
mesti disalahkan dari hari-hari yang lelah berlari", katamu.
dan kenangan, tetaplah pembunuh ulung! setelah kau bubuhkan
tanda tangan-di halaman kitab paling belakang- kau menghilang.
tinggal pendar bulan mengiris-iris dinding kamar.
2009
Friday, November 13, 2009
Caping
kepalamu yang petani, kerap menggarap ladang matahari.
menjalinnya agar ia serupa jala maya daun kelapa,
atau runcing jejarum bayang cemara yang menusuk mata.
di antara pematang, kepalamu bergoyang-goyang.
hingga lusuh kain selendang berhendak mengekalkan.
ah, aku ini meraga angin. iri pada rasa kebahagiaan yang lain.
kepalamu begitu rajin mencuri mataku dari bukit-bukit itu
hingga di tepi laut, di mana seharusnya sudah kularung
perahu, kayuh, dan selubung senja yang menua.
ya. aku sudah merasa yakin. meraba segala yang mungkin.
tapi kepalamu petani yang rajin. dijelujurnya sepanjang
pandang ini dengan segala benih. seperti tak kenal letih.
dan sepertinya aku yang angin tak akan pernah betah
meningkah di akar anak rambutmu.
2009
menjalinnya agar ia serupa jala maya daun kelapa,
atau runcing jejarum bayang cemara yang menusuk mata.
di antara pematang, kepalamu bergoyang-goyang.
hingga lusuh kain selendang berhendak mengekalkan.
ah, aku ini meraga angin. iri pada rasa kebahagiaan yang lain.
kepalamu begitu rajin mencuri mataku dari bukit-bukit itu
hingga di tepi laut, di mana seharusnya sudah kularung
perahu, kayuh, dan selubung senja yang menua.
ya. aku sudah merasa yakin. meraba segala yang mungkin.
tapi kepalamu petani yang rajin. dijelujurnya sepanjang
pandang ini dengan segala benih. seperti tak kenal letih.
dan sepertinya aku yang angin tak akan pernah betah
meningkah di akar anak rambutmu.
2009
Subscribe to:
Posts (Atom)





