Monday, March 02, 2015

Kemenangan Tupai

Kemenanganku bukan melompat dari satu
dahan ke dahan lain dengan sekali gerakan,
bukan pula karena sampai di sebuah paku
setelah melewati benang terentang.

Kemenanganku lebih memukau dari betapa
diam paruh burung setelah dia mematuk
beberapa butir buah merah. Aku menduga
mereka bahkan iri pada apa yang kupeluk

dengan kedua tangan mungilku ini. Kemenangan
yang aku raih melebihi waktu meniti sisi dunia,
bahkan lebih dari betapa mudah siput melenggang
di atas benang dan papan. Segala yang ada

bagiku tak ada guna. Sebab ada sesuatu
yang manis bakal kuhisap sendiri. Yang kulitnya
kukoyak dengan geligiku, tetapi dagingnya begitu
segar terasa di lidah. Kemenanganku adalah

menenangkan apa yang bergejolak dalam diri.
Rasa jerih dari kekalahan telak. dari lapar ini.

2015

Monday, February 23, 2015

Upacara Ayam Jantan

Dia tak pernah tertarik pada hal-hal yang diikat
waktu. Benang merah di mana siput beringsut itu.
Dia juga tak ingin mengamati apakah kuning langsat
atau biru pucat warna mahkota bunga itu. Lebih dulu


dia menarik batas dari paku ke paku. Di tengah
dunianya. Di tengah bidang gelap yang menyekap
keberadaannya. Dia sendiri. Mencoba mencegah
berita-berita perang dan kekerasan. Api dan asap

yang menghilangkan sebuah peta. Seperti berdoa
dia tegakkan jengger dan taji. Paruhnya juga. Dimerahkan
muka dan punggungnya. Dipucatkan warna delima
oleh tatapan matanya. Di hadapannya -- jambangan

sehijau batu berlumut. Lalu dirapalnya semacam bacaan
qunut. Tanpa rasa takut, dia katakan begini kepadaku:
Suaraku adalah janjiku kepadamu. Setiap kau dengarkan,
kau akan terus teringat akan aku.

2015
Google