Posts

Tentang Sakit

* Bagaimana demammu?
Di termometer, yang ia catat: dingin atau panasnya?
Bisakah ia berjalan tanpa gemetar?
Nama siapa dirintihkannya dalam pelukmu? ** Bagaimana batukmu?
Sudah lancarkah ia bersuara parau?
Jenakkah ia dalam sesak dadamu?
Berapa kali dalam semenit ia berdehem padamu?

***
Dalam cair candu maut,
ia menggapai guyah tubuhmu.
Seseorang datang dan pergi --
menepuk-nepuk lengan
seperti malaikat turun di Getsemani.

2019

Suaraku

Suaraku Mekar bunga dalam jambangan di trotoar, segera ditelan deru sepeda motor yang melintas -- Ia tak berseru apa-apa selain menawar sebuah pucat warna; kering kecoklatan rumputan di tepian tol pinggir kota. Tak dihirau ribuan kendaraan yang terburu entah ke mana --

Ia tak berteriak pada sesiapa
hanya menunjuk pada waktu

di mana kita harus pasrah
menerima kenyataan.

2019

Kamis

Kamis
Aku piatu mengetuk pintu --  berseru & menunggu seorang memadamkan nyala dari masa lalu.
Aku mekar payung hitam itu -- bersedia dari hujan yang tak lagi merahasiakan apa- apa selain
sejumlah nama tumbuh tanpa tanda kehidupan. Aku kata dengan seluruh hurufnya kapital -- karena
belum ada yang punya hati untuk benar-benar memperhatikan; seberapa lama kesabaran membesar
dan rasa takut itu lambat laun susut.
2019

Unholy Trinity

Unholy Trinity Si Maut, yang suaranya menggelegar di balik kabut, naik ke pembuluh mataku. Si Nafsu, dengan pandang rakus dan mulutnya yang selalu berliur itu, menggelar dunia di bawah kakiku. Dan ketika aku menunggu-nunggu kapan Si Dusta muncul, waktu telah mengelabuiku.

2019

Ikan dalam Akuarium

Ikan dalam Akuarium

Ia melihat terang yang luas
dengan pandang terbatas.

Ia berenang hanya mengukur
ketakberdayaan -- seperti aku

yang merasa hidup hanya
sebesar upaya mengira;

licin daun ganggang, letup
gelembung di menit ke berapa,
seungu apa sirip arwana, dan
seberapa rakus seekor sapu-sapu
melahap lumut di bebatuan?

Ia - seperti aku - melihat dari
balik kekakuan dinding kaca --
betapa dingin waktu mengalir
begitu saja.

2019

Bahu

...we have translated each other into lightand into love go streaming.Brian Patten
Kelelahan dan pegal adalah bekal
paling banal dalam menempuhi cinta;
selama hidup adalah kompetisi panjang
untuk membuktikan siapa paling setia
dan unggul dalam ketulusan.

Meski cinta tak perlu bukti apa-apa
selain diri yang makin peduli hari lepas hari.

Terbuka atau tidak terbuka, aku perlu
sejenak bersandar pada bahumu --

Melupakan kekejian dan kebencian
yang sempat diudar karena merasa
dunia adalah tempat imam dan rahib
menafsir ulang cinta dengan kedunguan
mereka belaka.

Aku tak perlu apa-apa selain keheningan
dan lembut empuk bahumu agar lepas segala
hibuk, meluput aku dari menyesal dan mengutuk.

Bukankah hari diciptakan baru setiap pagi
asal kita percaya -- tak ada tambalan kain
dari baju baru untuk lubang di kemeja lama.

Bahumu yang lembut empuk adalah tempat
melabuh sementara isi kepala. Bersandar
di bahumu, aku merasa dunia hanya penat
sementara.
2019

Potret Penyair sebagai Aswatama

Barangkali, ia akan temui makna mati hanya dalam tenda bayi Wisanggeni.
Ia menyimpan kuda dan gajah dalam pikirannya seperti ia simpan bara dendam bagi dunia.
Kuda yang menuntunnya pada seluas kembara, di mana ia tahu -- tak ada batas jelas cakrawala. Dunia tak memisahkan kebaikan dan kejahatan melainkan mencoba memberinya beragam alasan.
Gajah yang menggiringnya pada pemikiran; hidup haruslah penuh penegasan bahwa penugasan manusia berpuncak pada ia tak sekadar nama, tetapi juga namanya harus mencapai makna.
Ia memperjalankan kuda dan gajah dalam pikirannya sebagaimana Dorna memberi kuasa dari namanya.
Aswatama; ahli senjata dan aneka gladi wyuha yang suaranya meledak-ledak di padang belantara.
Namun sejarah - yang lebih banyak memuat cerita kekalahan dan banjir darah - memberinya panggung sederhana -- bahwa manusia harus hidup dari segenap upaya belaka, tak ada janji dari surga, tak ada restu
melebihi doa orang tua. Karena itu dengan pikirannya, ia terjang medan laga dengan satu tujuan -- melepas sumpa…