Friday, September 23, 2016

Mencintai Audry


1/

Di Jatiluwih, mereka masih percaya -- suatu ketika
ada naga yang menangis melihat Jawa yang kecil.
"Sungguh, Dewata tak adil! Pulau sekecil ini disesaki
selusin gunung. Bagaimana rakyatnya bisa bahagia?"


Lalu airmata yang jatuh,
tumbuh jadi Dewi Sri.
Ibu bulir padi.

Ia tak pernah percaya adanya naga,
tapi ia terlalu percaya -- di luar hal-hal
yang biasa didengar, bisa dijadikan dasar,
cinta bisa dimulai dari cerita yang ganjil.

2/

Setiap malam, ada suara yang berjalan.
Suara yang begitu mirip logam digesekkan -- pelan, kencang.
Ia masih terjaga ketika suara itu mengada.
Ia mengira -- di luar dirinya dunia dibentuk dari serentang pagar.
Dan seseorang ingin masuk -- tapi tak menemu pintu.

Padahal ia merasa sangat kesepian.
Padahal ia memang butuh teman.

Setiap malam, ia mengikuti suara itu.
Berjalan mencari pintu pagar.

Agar dirinya tak jemu.
Agar dua dunia yang sepi itu
bisa bertemu.

3/

Ia mengira dirinya seluasan sawah.
Dengan bulir padi yang bernas.
Dan terbayanglah -- yang putih, yang pulen.

Tapi -- tak ada satupun pipit,
wereng, dan tikus, juga belalang
membuat dirinya ribut.

Ia jadi menyangka dunianya hanya
lempung sarang yuyu. Dengan buih putih
dan ancaman ujung buluh kanak-kanak
yang ingin memancingnya keluar.

4/

Apakah mencintai selalu serumit ini?
Mengukur badan pada bayang dan suara,
menghitung beban setiap malam --

di luar, dunia hanya pagar dan jalan
lengang, dengan maut mengincar dan siap
menerkam.

5/

Seperti seorang petani pergi ke sawah
setiap pagi, ia pun bersiap -- memberikan diri,

memberanikan diri pada pekerjaan berulang
dari membajak, mengairi, membera, mendangir.

Bukankah Tuhan memang menciptakan
rotasi agar tercipta yang disebut hari-hari?

2016

Wednesday, September 21, 2016

Mendengarkan Nasida Ria


Tak seperti rindu pada suara laut dan siluet
di depan matahari yang hendak terbenam;
sore masih redam, dan benang-benang hujan
berubah jadi pertanyaan -- maukah engkau
berjalan bersamaku? Ia bagai bocah dengan
keranjang berisi lima roti dan dua ikan melangkah
tanpa ragu pada Si Pengkotbah. Jalanan adalah
suara-suara yang disatukan, dan dipantulkan --
Amin. Aman. Makin. Makan. Santer. Santri.
Ia berjalan sambil mencari: doa yang kerap alpa,
diri yang makin abai pada apa yang seharusnya
dan tak seharusnya dia makan, suara-suara
yang kerap dan makin akrab mengajaknya kembali
membuka kitab suci. Ini jelas tak seperti rindu
pada suara laut dan siluet itu. Diri makin peram,
dan benang-benang hujan berubah jadi pertanyaan
yang kian panjang -- masih mampukah engkau
berjalan bersamaku?


2016
Google