Thursday, May 21, 2015

Di Dekat Rumahmu

Aku terperangkap. Ada semacam
ruang gelap memaksaku tinggal
dan meninggalkan perasaan:
akulah penguasa tunggal.


Berapa lama disekap? Tak banyak permisalan
bisa menjawab. Kau ingin selamanya, aku tersengal.
Aku ingin sementara, tapi kau memaksakan:
Di antara laluan waktu, di dalam lembaran kisah, yang gazal

hanya diriku sendiri. Kata-kata jadi musiman.
Ini kamus bahasa yang terkembang. Banyak hal
dituliskan dengan cara baru. Disandikan
dalam beragam susunan. Seperti candi, di atas bukit terjal

dia berdiri. Puisi yang menyusun tubuhnya
menjadikanku digusur perlahan. Di dekat rumahmu,
kenangan jadi raja. Berhari, berbulan, bertahun lamanya.
Sedang aku hitam abu. Dihidangkan huruf & angka gagu.

2015

Menunggu

Jika kau perhatikan benar, seluruh tubuhku adalah
jalinan kata-kata. Mereka terpilih untuk terpilin jadi
kulit dan serabut daging. Pembungkus pembuluh darah
dan organ-organ dalam. Semacam perasaan yang kini


begitu diabaikan daripada diabadikan. Dibicarakan
tetapi dicabarkan sampai dingin bahkan seluruhnya
lepas sebagai angin. Jika kau berhati-hati pada kebenaran
yang terjadi adalah kau tak percaya hanya kata-kata

yang bisa menuntunmu pada makna. Ada rekatan dan
retakan yang membuat kau merasa – ada yang lebih
dari sekadar suara dan suasana. Ada yang menawarkan
sesuatu di dalam sana. Di dalam rongga tubuhku, di didih

darah di tubuhmu, di ruang-ruang tak tersentuh dan
di raungan bergemuruh yang tak didengar tapi sampai
juga getarnya di dalam jiwamu. Jika kau pertahankan
kebenaran dari kata-kata dalam tubuhku, yang kau gapai

hanya gambaran-gambaran semu.
Seperti pada suatu pantai kau menunggu;
selain ombak, pasir, karang dan pecahan kerang,
perahu-perahu nelayan seperti ucapan selamat jalan

seorang kekasih yang bersetia untuk menanti.

2015
Google