Tuesday, August 25, 2015

Potret Diri

1.
Berkali-kali aku memandang ke masa depan,
seperti menantang perang pada seluruh pasukan
dari kenangan masa lalu. Hadapi aku! Jangan
menggerutu begitu.

2.
Kau selalu mempersoalkan kertas usang
dan berdebu. Membualkan kejayaan kadal raksasa
dan benalu yang menginvasi planet berwarna jingga.
Seolah bintang merah itu telah supernova.

3.
Ada guratan seperti angka. Retak keramik tua
dan pigura penuh tanda. Seperti kesepian jadi
kesiapan yang dibubarkan paksa pagi tadi.
Tak ada yang dipenjara, padahal, tapi tak ada

juga yang dibebaskan dari pandanganmu.
Di situ hanya ada aku -- pendakwa sekaligus
terdakwa -- dalam kehidupan semu.
Telah didakwahkan fatwa-fatwa bagus

supaya aku berjalan lurus, atau setidaknya,
memasang postur seperti Santo Petrus -- dalam
lukisan Guercino -- yang menangis di depan Maria.

4.
Garis-garis tajam kebiruan
telah lebih dulu menjadi perangkap
atas apa yang seharusnya kau tatap
dan diresapkan dari larik-larik yang
melewati segala macam bentukan fisik;

garis-garis pada kertas, retak keramik,
kosong pigura, deret angka, degil tanda,
bahkan keganjilan-keganjilan dari cara
memandang belaka.

5.
Kau menggerutu seolah masa lalu
tak bisa lagi dibentuk dari remuk
harapan akan masa depan.

6.
Aku seluruh pasukan yang siap
menyesapi segala sepi yang terpancar
dari caramu menatapku.

2015

Kubiarkan Waktu


Dia memeluk kelelahannya sendiri,
seperti menekuk kedua lengannya
seusai menaklukkan dunia.

Tak berpikir bahwa ada yang salah
dari orang-orang saleh, yaitu mereka
yang merasa selesai sebelum di sebelah
mereka melesatkan sesal dan pada

sebelas atau dua belas abad kemudian
mulai saling menyalahkan dengan
menyembelih mereka yang lelah
oleh hukum kekekalan kekalahan.

Kubiarkan waktu mendaur kembali
kelahiran anak-anaknya, yang jika
sampai cukup umur mereka akan bisa
membedakan -- apakah pelukan ini

bisa menyadarkan diri sendiri?

2015
Google