(1)
Kalau aku terjatuh, bukan karena
kau rapuh, atau tak tabah pada
hal-hal yang membuatmu melepaskan aku.
Kau tetaplah pokok yang teguh
dan kurasa begitu teduh, daun-daunmu
lebih dulu mengantarku pada kejatuhan ini.
Aku setia pada yang ranum, juga yang alum,
seperti sepasang kekasih yang sama-sama maklum
pada sebuah perpisahan.
(2)
Aku tak pernah berjanji, selain memberi bebiji.
Kubiarkan dagingku hancur dan berjamur,
hingga selalu ada perdu yang bersemi.
Perdu yang berulangkali diceritakan di ambang
tidur kanak, yang digemari oleh ternak, dan
pada sebuah taman, dijagai beludak.
(3)
Kalau aku terjatuh,
anggaplah sebagai bagian
dari mimpimu saja.
Dan kau hanya akan
mengingat sebuah kisah
yang mengekalkan
tidurmu tadi malam.
2013
Sunday, June 16, 2013
Wednesday, June 12, 2013
Tak Ada Kapal Berlayar di Langit
- Ahmad Yulden Erwin
Di tangan Kush, kapal berlayar
Di tangan Kush, kapal berlayar
di tengah meja. Taplak putih,
tak berbuih. Kayu keras datar.
Di mata Paz, dermaga adalah tubuh,
melengkung dalam diri. Kau,
penyeberang yang bimbang. Sungguh.
Tapi, tak ada kapal berlayar di
langit. Hanya burung-burung hitam
dalam sangkar mirip kepala seseorang
tengah membaca puisi. Dunia sepi.
Penyair dan pelukis sama-sama diam.
Di kepala mereka, malam berenang.
Ombak adalah tangan terentang,
dan ikan-ikan seperti burung balam,
duduk meratapi seseorang yang mati.
Yang wajahnya tercetak pada uang
kertas, di atas meja loket, di mana
seseorang seperti engkau mengantri
saat keberangkatan.
2013
Subscribe to:
Posts (Atom)
