Thursday, June 23, 2016

Pada Satu Titik


Pada satu titik, hanya ada musik,
dan perasaan yang terbangun
begitu mendengarnya.

Ia mengantarmu mengembara,
tapi ia tetap di situ, tak ke mana.

Pada satu titik, kau akan pergi.
Meninggalkan satu alunan tak terhenti.
Alunan yang sampai padaku kini.

2016

Sesaat Sebelum Chorus


Ia merasa di stasiun kereta.

Tidak.

Ia merasa duduk di dalam kereta.

Tidak.

Ia merasa duduk dalam kereta roller coaster.

Ya.

Ia merasa sebentar lagi kereta roller coaster itu bergerak.

Ya.

Bergerak

menukik.

Ya.

Menukik

dengan

sangat

kencang.

Ia lupa menyiapkan perasaan.
Sejumput takut.
Sebenang tenang.

Ia merasa jadi umpan di ujung kail.
Dan terlalu kuatir ikan itu akan membuka mulut dan menelannya utuh.

Ia bersyukur untuk tidak berpikir.
Sebab ia tahu tak ada gunanya menyesal.
Ia merasa sudah terlanjur dan tak bisa mundur.
Ia tunggu suara yang akan menuntunnya.

Ada yang menunggunya bertindak.
Seperti mereka yang menangis dan melambaikan tangan
melihat kereta bergerak meninggalkan stasiun.
Mulut-mulut yang cuma menganga dengan tawa atau takjub
melihat gerak roller coaster ini.
Tatapan penuh harap dari Sang Nelayan
yang tak lain dirinya sendiri.

Bersama sebuah nada, ia tahu,
ini waktunya meluncur ke arah yang semakin tinggi,
juga semakin turun,
dan ini semakin mengguncang perasaannya.

Bersama sebuah nada, ia tahu,
harus dipikirkannya segala sesuatu dari semula.
Seperti sebelum suara-suara itu diciptakan.

2016
Google