Wednesday, August 24, 2016

Ketika Pavarotti Menyanyi Pieta




“Ada yang lebih pedih
daripada luka,” katamu,
semisal menuliskan puisi
tentang kasih.

“Karena kasih itu sempurna?”
Lelaki yang tampak lelah bertanya.

“Karena kasih itu seperti seorang ibu.”
Dia berbisik. Suaranya timbul tenggelam
di antara isak. Dia memondong jasad
anaknya.

“Ada yang lebih tak pasti
dari masa depan,” katamu,
semisal mengira bagaimana
puisi tentang kasih itu akan
dibacakan.

“Seperti saat ini?
Ketika Pavarotti menyanyi Pietà?”
Seorang perempuan,
kukira ia – kekasih lelaki itu,
ikut menimpali.

“Seperti masa lalu,” katanya sambil
terus menangis. Airmatanya seakan
tak pernah habis.

Tak kulihat lagi
jasad anak
yang sedari tadi
dibawanya.

Mungkin dia telah menguburkannya.
(Atau waktu yang telah menguburkannya?)

2016

Monday, August 22, 2016

Dalam Kamandaka

: kepada penyair dharmadi

Aku ke timur. Seperti busur
memburu anak panahku, aku
meluncur. Menata kembali
yang hancur, yang nyaris lebur.

Kenangan seperti bayang-bayang
di jendela Kamandaka, Sayang.
Mengada, membuatku mengaduh,
lalu hilang dalam kecepatan tinggi.
Tak sempat aku nikmati lagi.

Kutinggalkan barat. Seperti gelap
di langit yang nyaris padat. Perlahan
kutanggalkan semua beban di garis
penat. Aku merdeka, Sayang, dari
masa lalu dan kesah yang dulu.

2016
Google