Friday, April 11, 2014

Cinta di Tanah Lapang

Seperti permainan kanak, cinta mudah pecah
oleh gelak tawa dan tangis yang tiba-tiba, katamu.
Tapi malam turun ke bukit itu lengkap
dengan cuacanya yang pengap.
Laut mingkup, menyimpan kilaunya.
Menyisakan mata yang terbuka.

Tadi, seorang pelaut membuka kitab,

menderulah tujuh samudra dan kisah kibas sisik todak.
Kau bilang padanya - jangan tergesa!
Awan belum bertelur bulan,
dan lampu di teras mengeraskan makna penantian.

Seperti lagu yang pernah kudengar sebelum remaja,

kita adalah tanah lapang yang siap digeruduk
langkah-langkah bocah. Ditingkahi rasa penasaran
tentang kisah-kisah tua.

Yang setua cinta?
Yang setahu mata, kataku,

sebelum dia menutup di sebuah pulau.
Dirayu engkau.

2014

Friday, April 04, 2014

Osternacht

Bagaimana aku akan lupakan tangismu itu?
Tangis yang memanggil para pemanggul salib,
penduduk negeri yang rumahnya terbuat dari batu.

Waktu itu, kami semua seolah diliput ragu,
dililit sesuatu yang abu-abu. Sewarna tali pusar
bayi sewaktu lahir. Dan mata kami

seolah buta. Tapi telingaku menangkap tangismu
seperti bunyi air yang terus memancar
di sela batu. Barangkali ini memang misteri

yang jawabannya tak bisa kutemu
meski telah tegak salib dan rumah-rumah raib,
dan penduduk negeri itu sembunyi di balik waktu.

2014
Google