Saturday, January 30, 2016

Wirataparwa

Sarindhri

"Akulah Alfa dan Omega,
Firman Tuhan Allah, yang ada
dan yang sudah ada dan
yang akan datang, Yang Mahakuasa."

                                                             (Wahyu 1:8)

Sampai semua cahaya di langit direbut,
cinta tetap akan hiasan wajah semata.
Karena itulah, aku ada.

Dan aku tak peduli, dia Kencaka
atau Dursasana, mereka yang tak
mengerti, pasti binasa.

Sampai semua raja mengerti dharma,
dan semua satria memahami peperangan
tidak hanya terjadi di medan laga, aku
tetap akan ada.

Aku ada, supaya yang lima (kejujuran,
keberanian, kasih, kesetiaan, dan
tenggang-rasa) tetap terjaga.

Dan selepas bait ke lima, aku lesap,
Menghilang di Himalaya, di antara
nama awatara dan sejumlah peristiwa,

Kanka

"Berbahagialah kamu, jika karena Aku
  kamu dicela dan dianiaya, dan kepadamu
  difitnahkan segala yang jahat."

                                            (Matius 5:11)

Biar. Biarkan dengan sanyasin,
dia membuatmu yakin, Matsyapati,
bahwa hidup adalah perjudian
bagi harga diri.

Biarkan juga dia, Wirata, bercerita
yang gemulai juga bisa memegang
pedang seperti Utara.

Biarkan dia membuatmu gundah,
seperti kau biarkan sebuah pukulan
mendera kepalanya, di ujung cerita.

Sampai kau menyesal dan merapal
mantra -- bersetia padanya.

Abilawa

"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang
untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang
bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."

                                                             (Matius 10:34)

Kau sembunyikan dosa berjudi
pada setumpuk daging dan pisau pasi.

Pisau yang bilahnya telah membelah
tiga nama: Rajamala, Rupakenca, dan
Kencakarupa -- pengacau Wirata.

Pisau yang ikhlas menuliskan -- Wilakas
dan sarapan pagi para putri.

Pisau yang iri pada kukumu
lalu diam-diam ingin mengiris
tahun ke dua belas
rambutmu.

Dan karena kau daging,
tetap saja tak bisa kau berpaling
pada kilau sepi -- sekali lagi.

Wrehanala

"Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya,
  yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan
  mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan
  melihat dan melihat, namun tidak menanggap."

                                            (Matius 13:14)

Bersembunyi dia dalam gerak dan irama
Bersembunyi dia antara lelaki dan perempuan
Bersembunyi dia sebagai satria dan sida-sida
Bersembunyi sampai genap tahun Wirata
Bersembunyi sampai kau mengira Indra
mengirim cahaya di antara dengus kuda.

Darmagranti

“Kita mengenakan kekang pada mulut kuda,
  sehingga ia menuruti kehendak kita,
  dengan jalan demikian kita dapat juga
   mengendalikan seluruh tubuhnya.”
  
                                         (Yakobus 3:3)

Dia lebih mengerti luasan padang
daripada seratus ekor kuda, sebab
telah ditulisnya Aswasastra dengan
pedang dan wajahnya.

Wajah yang kelak membuatmu mengenang
jazirah Mesir hingga Benggala -- gurun,
gunung, padang dan belantara.

Wajah yang membuatmu tak yakin;
bayang siapa memantul di air kolam.

Wajah yang terpancar dari sebilah pedang,
dan membuatmu merasa -- sebelum moksa

ada sakit tak tertahankan. Seperti tubuh
diinjak seratus ekor kuda. Seketika.


Tantripala

“Ada lagi padaKu domba-domba lain,
  yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu
  harus Kutuntun juga dan mereka akan mendenga
  suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan
  dengan satu gembala."
 
                                         (Yohannes 10:16)

Sebentang rerumput dan kembang disentuh
demi sapi-sapimu yang lintuh. Bentang alam,
semak dan pepucuk delima dirambah
bagi tidur ternak yang tenteram.

Setiap yang buatmu terkejut dan bimbang
dibunuh, agar bulan di malammu penuh.
Dan entah mambang, kuntilanak, atau denawa
dicegah agar tak masuk ke mimpimu dalam-dalam.

Karena, sebaik-baiknya ternak adalah yang tidur.
tidak ribut atau mendengkur. Dan sebagai gembala,
dia berjaga dari serangan serigala, pencuri itu.

Dia berjaga sekaligus mencari, barangkali
ada ternak tertinggal tertambat di pinggir kali.
Dia ingin kau benar-benar merasa – di sini,
di padang penggembalaan, cahaya benderang

bukan hanya datang dari bintang
dalam sebuah saga.


2016

Friday, January 29, 2016

Beberapa Cerita Pendek Dinasti Han

Orang Tua Pemindah Gunung

Yang kaulakukan tak pernah sia-sia
Sebagai Yugong, kau hanya tua.
Tetapi Zishou justru tak tahu.

Yang kaulakukan bukan upaya, tapi cita-cita.
Bahkan Jingcheng mengirimkan Sang Putra.
Kuifu hanya kerikil dan debu.

Sepatutnya, Tat Xing dan Wang Wu
tersingkir di sisi laut Bo, di utara Yintu
Dan terbukalah jalan dari Yuzhou
sampai tepi sungai Han bagi langkah kakimu.

Lelaki di balik Balok Kayu

Chen Shi hanya mengikat sabuknya
dan berkata bagi anak-anaknya -- jadi
lelaki harus berani.

Dan dia yang tadi melompati jendela
lalu bersembunyi -- muncul, menjura tiga kali.

Chen Shi hanya menepuk pundaknya
dan berkata bagi dia - si pencuri - jadi
lelaki harus menanggung hidupnya.

Sepatu Gambar Macan

Kebenaran selalu tegak, meski kelak
dia hanya berupa gambar pada sepasang
sepatu.

Tapi, dia seorang ibu.
Dan kau tetap anaknya -- penuh rindu.

Meski di rumah pejabat, kebenaran
bisa menang telak. Seperti taring macan
yang mengoyak.

Dan dia adalah ibu
bagi anak-anaknya -- selalu begitu.

Tiga Lubang Kelinci

Kau harus pergi. Meski untuk menolak Wei
dan mendapatkan simpati Qi. Lumbungmu
aman di tangan Feng Xuan.

Kau harus pergi. Hanya menemui Qi sekali
lagi. Memintanya mendirikan kuil suci.
Para petani memberi padi berbulan-bulan.

Dan kau tetaplah di sini, Meng Changjun.
Menjadi kelinci pada tiga lubang abadi.

Jeruk Pak Menteri

Dia tetaplah jeruk
Tidak ada Huainan atau Huaibei
Tak ada juga manusia yang buruk
Meski tahanan atau pencuri.

Dia tetaplah jeruk.
Dihidangkan oleh Raja Chu hari ini.
Dengan kondisi lahan makin teruk
Bagaimana tumbuh budi di hati?

Kisah Sedih Le Yang Tsi

Tenunan itu terlanjur digunting, Le Yang Tsi,
seperti koin emas yang kau lemparkan kembali
saat mencuci.

Pengajaran belum lengkap kau sunting, Le Yang Tsi,
karena kau cemas pada debaran di hati
untuk Sang Istri.

Ketabahan Yao

Tenunlah lagi, Yao, kain Cap Go Meh
masih ada tujuh keranjang kapas
dan bulan belum pias.

Tenunlah lagi, Yao, jangan berhenti
meski dewa-dewa meminta kau
tidur dengan memadamkan bulan.

Tenunlah lagi, kesabaranmu, Yao,
sampai seluruh keluarga Yang memandang
kaulah emas yang paling gemilang.

Bulan untuk Huo Jia

Tertawalah, Huo Jia, untuk bulan
yang ada di angkasa. Karena hidup
memang untuk menertawakan
kegetirannya sendiri.

Tertawalah, Huo Jia, bayangan bulan
tidak mengapung di dalam sana. Yang
menyangkut mata kail itu hanya
batu kali.

Menangislah, Huo Jia, jika kau anggap
gagal sebagai lelaki yang hampir menangkap
sebongkah bulan. Tak mengapa. Barangkali.

Jenderal-Jenderal Penjaga Pintu

Kau harusnya bahagia, Qin dan Yuchi,
diabadikan sepenuh badan menjaga mimpi.

Seperti pintu -- membatasi ruang diri,
melingkupkan pertahanan bagi Raja Li.

Kau layak untuk dihormati, Qin dan Yuchi,
dijadikan lambang pertahanan sejati.

Dengan begitu -- dia yang ingin tidur sendiri
bisa merasa, esok pagi, ada yang menyambutnya

dari mati.

2016
Google