Posts

Dua Bulan di Puncak Gunung -- Gunung Akan Mengisahkan Air Mataku

Gunung Akan Mengisahkan Air Mataku
Sebagai sebatang sungai menuju lembah mengairi ladang dan sawah, dan seorang gembala membawa ternaknya untuk mandi dan minum setelah lelah bermain dan kau hitung dalam malam menjelang tidurmu.
Gunung akan mengisahkan air mataku seperti laut dengan gelombang ganas hendak membolak-balikkan perahu di mana seorang nelayan berusaha tetap tenang dan tertidur dalam kenangan dan harapan untuk segera berjumpa denganmu.
Namun gunung tak ingin membuka rahasia bahwa air mataku hanya embun bergulir sebentar pada daun selembar sebelum dibakar matahari pagi yang membuatmu bangun dan merasa --
ada yang hilang pada dadamu, dan seorang penghibur dijanjikan bangkit untuk menemanimu.
2018

Dua Bulan di Puncak Gunung - Elegi bagi Gadis Tak Bernama

Elegi bagi Gadis Tak Bernama
I will be king
and you will be queen
through nothing will drive them away
(David Bowie, Heroes)
Wajah maut adalah sisi hidup dengan kilau sebilah pisau. Ia adalah bagian dari kegembiraan yang kau tak perlu risau. Sajikan saja roti gandum, jelai madu, dan anggur peraman bermusim lalu. Siapkan pula telinga bagi manis musik merayu jiwa.
Duduklah, Gadis, di tampuk kencana. Duduklah, seperti mereka yang penuh rencana akan hidup berbahagia. Jangan tunduk dalam muram, bertelekung nasib malang. Angkatlah dagumu penuh gaya menggoda. Ini dunia, pandanglah, sampai berlinangan airmata sukacita.
Biarlah, Gadis, terhapus seluruh kenangan remaja. Bukankah, hampir selalu, angin hanya bawa panas padang sabana, juga jerebu dan debu dari kaki-kaki kuda?
Lupakan, Gadis, seluruh duka. Biarkan saja dunia memeluknya sekuat ia punya daya.
Marilah menari. Bahkan sebelum maut bernyanyi.

2018

Dua Bulan di Puncak Gunung -- Lamentasi

Lamentasi

Menangislah! Menangislah! Menangislah!

Menangislah tembok-tembok Emesa,
Menangislah batu-batu benteng Bhangarh,
Menangislah tiang-tiang menara Babel,
Menangislah gerbang San Gervasio,
Menangislah pelataran Jerash,
Menangislah selokan-selokan Song,
Menangislah bayang teduh batang tarbantin,
sebab hari-hariku tak bersamamu lagi.

Aku akan menangis denganmu...
Tidak, aku tak akan menangis denganmu!
Aku akan menangisi keadaanku sendiri.

Aku menangisi Kerinci
Aku menangisi Arjosari
Aku menangisi Pajamben
Aku menangisi Sada Kaler dan Ciawitali
Aku menangisi Rawa Singkil
Aku menangisi Talise
Aku menangisi Brantas dan Ciliwung
Aku menangisi laut utara di Teluk Jakarta
Aku menangisi hutan-hutan di Kalimantan dan Papua

Aku menangisi diri yang makin tak berdaya.
Namun tak kutangisi sesuatu yang kelak tiada.

Menangislah! Menangislah! Menangislah!

Menangislah untuk sesuatu yang engkau ingini.
Menangislah untuk dirimu sendiri.
Dan aku akan menangis bersamamu.

Dalam tangisan, kita selalu be…

Cinta untuk Adaninggar

Jika hidupku murni kutukan, Jayengrana,
ke mana lagi kau kuseret dan kupenjarakan
selain ke dalam gua.

Gugusan paling gelap
dalam hidupku ini.

Lalu dengan cambuk, dengan amarah paling kecamuk,
kuberikan kesedihan sekaligus kepedihan ke tubuhmu,
Jayengrana.

Biar kau tahu, betapa hidup tak hanya bercinta,
tapi juga memekik dan menggerutu.

Jika benar, hidupku adalah kutukan, Jayengrana.
Katakan, ke mana seharusnya cintaku berlabuh?

Selain pada suara mengaduh itu?

2018

Pergi Sendiri

Ke sebalik puisi
Ke rimbun semak kata
Ia pergi sendiri
Tak dibawanya anjing yang selalu setia
menunggu di pintu gua
Tak dibawanya kapak satu-satunya senjata
yang ia punya
Ia benar-benar sendiri dalam arti tak bersama siapa-siapa
tak membawa apa-apa
Ke puncak Tursina? Tidak. Ke perut naga penjaga tirta? Tidak juga.
Ke sebalik puisi Ke lebat rimba kata
Ia berlatih memanah cahaya

2018

Entah Benda Apa Itu

Aku telah menyebutnya: Kesedihan.
Segumpal beban di dalam dada,
berulangkali kurenggut, ia makin
menyusup. Meski sudah di tangan,
tak bisa kulemparkan. Sekalinya
terlempar, ia mendarat lagi di tengkuk
dan di punggung, lalu masuk sekali
lagi ke dalam dada.

Aku ingin menyebutnya: Cinta.
Selekat apapun ia, bisa lepas begitu
saja dari saku celana. Meski kukepal
tangan, kusuruk-surukkan, ia malah
terlempar ke luar, lalu jatuh begitu saja
di jalanan. Namun, saat kulupakan, ia
datang kembali. Begitu berulangkali.

Kau mudah menyebutnya sebagai:
Kutukan. Benda tanpa wujud dan padaku
ia dijatuhkan, dilekatkan. Yang membuatku
seakan diletakkan sebagai obyek penderita
dalam kalimat majemuk bertingkat
yang menjemukan untuk dibicarakan.

Dan karenanya, kau berusaha
menghindari diri dari percakapan
semacam ini. Seolah ingin aku
temukan dirimu hanya pada satu
kesempatan dalam waktu yang begitu
sempit ini. Hidupku.


2018