Posts

Showing posts from 2013

Anggur

Kau petik juga
bulir buah yang cantik

Yang pada hijau kulitnya, matahari
kehilangan pukau, dan langit seolah
mendekat dan terjangkau

Buah yang segar berair manis,
getar di dahagamu yang tragis.
Lalu di dadamu, di igamu
yang kelam, kesepian jadi jemu,
jadi lengkap sebuah lebam.
Luka rindu

Kau bayangkan
serupa sulur panjang

Yang di tubuhnya daun rimbun,
lintuh embun. Seolah jawaban
dari doa pelan-pelan turun

Sulur yang merangkai bulir,
menyangkali takdir, agar buah
yang ranum kekal tak terpetik.
Dan jemarimu seperti dendam
yang menari-nari, di antara
hela napas, dari dan ke dalam
dadamu, ke sela igamu,
"Bersabar. Bersabarlah."

Bertabah
seumpama
bebulir
buah
yang
menggantung.

2013

Untuk Negeriku

Jauh sebelum pohon-pohon itu
menyerukan namamu, aku tak ada di situ

Juga ketika daun-daunnya menguning
dan gugur, atau embun jatuh seperti tangisanmu,
aku tak ada di situ.

Hanya saat hujan, saat angin jadi gelap
dan dingin, diam-diam doaku mengalir
di ujung akar-akar yang jauh.

2013

Perkiraan Tentang Setia

: Ahasyweros

Katamu, kita telah dikutuk
untuk menggelandang,
sampai remuk bentuk
lalu menghilang.

Tapi, hidup tak semata
menerka dan memperkatakan
perkara-perkara,
mencari kesimpulan sementara,
atau mengundi kemungkinan
yang terjadi nanti.

Aku bersikukuh
bahwa apa yang kubawa
dalam doa dan puasa
adalah hal sederhana,
semacam perkiraan
tentang bersetia
pada hidup sebenarnya.

Hidup yang membentuk
kita utuh dan berbilang,
meski hanya di ceruk
atau palung paling dalam.

2013

Seri Penulis : Guntur Alam "Hidup seperti sebuah Permainan Menuju Titik Akhir"

Bagaimana cara Anda memandang hidup Anda saat ini?

Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya memandang hidup saya ini. Saya menjalaninya saja, saya sedikit ambisius tetapi juga pasrah pada hasil. Selayaknya game kali ya. Selalu ada rintangan dan saya harus bersiap dengan taktik dan trik. Tapi pada titik-titik tertentu, saya mengikuti saja iramanya. Seperti terjebak di pasir isap, jika berusaha sekuat mungkin, kita justru semakin diisap, jadi saya akan diam, dan bila waktunya sudah pas, saya akan memulai.


Intinya saya seseorang yang menganggap hidup adalah sebuah perjalanan (game) menuju titik akhir. Sepanjang jalan, akan ada rintangan dan saya harus bersiap jika ingin sampai ke titik akhir dengan predikat pemenang. Jawaban saya makin ngawur.

Sejauh mana Anda memandang cinta dalam hidup Anda?

Cinta? Haruskah saya menjawab pertanyaan ini. Cinta itu terlalu luas dan saya tak tahu harus memandang pada titik mana saja. Oh, Tuhan.... Saya selalu terjebak dan mendadak bodoh bila ad…

Seri Penulis : Tranformasi Cinta Ilham Q Moehiddin dalam Hidup

Bagaimana cara Anda memandang hidup Anda saat ini?

Dinamis. Hidup saya dinamis. Saya telah melewati beberapa kesukaran hidup dan sedang bersiap menghadapi kesukaran hidup lainnya jika ia datang. Saya percaya bahwa kita tak bisa hidup sendiri. Selalu ada orang lain, atau cara lain/berbeda yang bisa sangat memengaruhi sehingga kita bisa menghargai hidup. Seringkali, saya memandang hidup secara dimensional, berusaha mengerti seperti apa sekat sosial yang masih berlaku di tengah masyarakat kita, lalu saya gunakan sebagai penyeimbang.

Saya menyenangi perkawanan, memelihara persahabatan saya dengan beberapa orang dari masa kecil, dan dengan sebagian besar yang saya kenal di pergaulan sehari-hari. Saya selalu menganggap semua orang itu baik, yang dengan anggapan itu menjadi pintu bagi saya untuk mendekati mereka. Bagaimana pun saya perlu memelajari karakter setiap orang (apa yang ia tak sukai dan apa yang ia sukai, pandangannya, pilihannya dan seperti apa mereka menggunakan ins…

Seri Penulis : Pandangan Kurnia Effendi Tentang Hidup, Cinta dan Karya

Bagaimana cara Anda memandang hidup Anda saat ini?

Hidup ini anugerah, jadi mesti disyukuri. Meskipun secara kualitas jauh dari memadai, saya selalu berpikir bahwa Tuhan Maha Kasih dan terlalu sayang kepada saya.

Hidup ini seperti air, jadi mengalir saja. Saya tidak ingin berlama-lama memikirkan problematic hidup yang kemudian memunculkan problem baru. Jadi dihadapi, dihayati, dan dinikmati.

Hidup ini blue print Tuhan, jadi sekalipun memercayai bahwa usaha memungkinkan mengubah takdir, setiap hal yang saya terima dari hidup saya anggap sebagai ketentuan dari kasih-sayang-Nya

Sejauh mana Anda memandang cinta dalam hidup Anda?

Cinta itu warisan Tuhan yang ditiupkan kepada setiap insan, jadi merupakan fitrah manusia. Saya berusaha mencintai orang lain tanpa pamrih, namun selalu ada hasrat manusiawi yang menyertainya, sehingga menyimpulkan sendiri bahwa cinta pada dasarnya keberpihakan saya pada keindahan.

Cinta tidak habis dibagi, sehingga saya tidak pernah membatasi perasaan…

Ciuman

Bagai bunga es mencair di awal musim semi,
ada yang meleleh melihat kita berjumpa kata.

Tak ada yang pulang atau berpaling
dari baris-baris sepi yang begitu tipis menyayat hati
selain ciuman yang berulang. Kau kecupi nyeri,
aku melumat makna mati.

Kita disakiti sekat-sekat kata,
dan bahasa membuaskan kita
sesudah susah kita keluar dari sana.
Dari dirimu dan diriku sendiri.

Bagai daun yang bergoyang terkena angin musim
yang dingin, ada yang begitu hebat berkebat
setelah kata tak bisa lagi diucapkan.

Tapi lidah kita berdecap. Seolah telah habis
hal yang manis, telah tandas apa yang pantas
kutuliskan dan kaubacakan lagi.

Ayat-ayat yang dahsyat membebat pikiran
dan perasaan kita. Getar bibir dan debar dada
yang melahirkan kita ke dunia nyata.

Dunia tak sempurna milikku
dan harapan yang hampir purna darimu.

2013

Sebelas

Aku telah melihat yang retak.
Aku juga telah menyaksikan yang purba.

Waktu jadi samudra.
Aku pelaut, berlayar di tengah kalut.
Ikan-ikan gergasi bergigi tajam
semacam kenangan yang diam-diam
ingin menghabisi.

Di punggungku, kota cita-cita.
Ekor dan leherku menjulur
pada cakrawala yang membujur.

Kau, sekumpulan awan.
Arah perjalanan yang ditimbulkan
di atas penderitaan.

Yang tubuhnya begitu utuh
menyimpan hal-hal yang kuanggap
abadi. Yang belum pernah aku alami.

2013

Sepuluh

Sepuluh

Jika hidup adalah gelombang besar,
akankah kau memilih berjaga di dermaga?

Seperti dia, aku pun tak hendak dirayu
Sebab mengucap seolah mengembus busa sabun
yang mudah pecah di udara.

Lebih baik jadi bintang laut
Dia mati ketika laut surut saja.

Aku tak mau mati sebagai ikan,
lihatlah seekor kucing kuning menunggu.
Tak juga aku hendak mematut diri
dengan pakaian penari.

Tapi aku akan bergembira
seperti jarum jam di atas kamar mandi
Dia tak menghitung berapa lama
kau di dalam sana, dia hanya mencari makna
atas angka-angka yang seperti umur bayi
beranjak remaja.

Jika hidup adalah gelombang besar,
bangunkan aku segera.
Jauhkan aku dari jendela.

Bawalah ke luasan padang.
Ke luasan kata-kata yang dihidang
dari lautan dan ikan-ikan.

2013

Dua

Jangan kira aku berputus asa
Kapal besar ini tak mungkin menjauh
dari rengkuh gemawan badai itu.

Masih tegak benteng dan dinding kota
Tak ada yang retak atau mulai renta.

Sedikit berkelit, jangan dipikir aku tak mau
bertemu yang sulit. Hanya mencari cerah matahari,
menemu lembah dan pohonan untuk tetirah.

Pantang bagi pelaut berlayar ke laut surut
Bagi penjaga tembok kota, setiap hari adalah berjaga.

Jika gemawan dan kabut bergulung jadi badai,
sangkakala kutiup agar seluruh kata bersiaga

dan kau selamat di dalamnya.

2013

Satu

Pikiranku, kota tua hampir ambruk.
Masa silam sebuah peluru.
Lubang menganga yang nyaris tak ada,
hanya ladang-ladang subur
dan sungai dengan air beralur.

Peristiwa-peristiwa seperti bendera
di atas menara. Berkibar senantiasa.
Hanya dengan mata terpejam,
dinding batu yang dingin dan diam,
aku bisa merasa tenang,
meski angin menyapu awan
dan menyisakan garis tipis bulan.

Jikalau aku risau, hanya karena engkau.
Pejalan yang tak sudi menjenguk.
Kebisuan puncak menara
di tengah luasan ladang.

Mungkin kau takut berita perang.
Mungkin juga kau tak sudi mendaki
dingin dinding batu. Mungkin juga
kau tak datang, karena sibuk menjadi
petani. Memilih benih, mendugal ladang,
mengalirkan air sungai, dan menunggu
buah-buahan matang.

Puisi bagi duniamu sendiri.

2013

Tujuh

Bendungan itu retak sudah
Apa yang kurenung seolah cuma rumah kecil
Lemah dan terpencil.

Dan kesepian, ladang-ladang mungil,
dikepung air. Ikan dan ubur-ubur adalah
kenangan terkubur yang susah diusir.

Bendungan itu retak, tapi tak ada banjir.
Apa yang kupikir, sungai-sungai di padang pasir.

Dan kesendirian, langit tak bertepi
di sebuah panorama yang muskil.

Dia tetap sangkil,
seperti sebuah rumah mengambang di atas air.

Pikiran dan perasaan penyair.

2013

Sepasang Patung

Kau boleh menyesal pada kata-kata
yang gagal dalam sajak ini. Batu gompal
bahan sepasang patung.

Mereka berhadapan, seolah menyoal
letusan gunung, atau petir sambung
menyambung. Seperti kita berbincang

tentang burung, juga hal yang mengipasi
sebuah hubungan jadi dingin. Dan kita
dicekam diam, meski berdiri berhadapan.

Kau boleh menggugat kata-kata
yang berloncatan dalam sajak ini. Batu
dan lava dari letusan gunung.

Kita sepasang patung dalam sajak ini,
jika ada petir menyambar atau tahi
burung jatuh, mana boleh kita merasa

menyesal sepanjang kita berdiri
berhadapan.

2013

Vertigo

Kau, para penari, berdiri
dalam kebimbangan seutas tali.

Gajah-gajah itu, seperti aku.
Beradu ekor dengan belalai-belalainya
memegang seutas tali, di tengah sungai.

Pikiran dan perasaan adalah
sekawanan gajah yang menyeberang.

Bagaimana aku berpikir tentang
keseimbangan? Hanya sekumpulan awan.

Berupaya mengatasi imaji
tentang para penari yang meniti
seutas tali di tengah sungai
yang dipegang belalai.

Bisa juga tenang sungai
yang menahan riaknya,
pada sirkus di alam terbuka.

2013

Tetirah dalam Tiga Batang Paku di Dinding

Setelah membayangkan mengarung padang
alang-alang, seekor capung mengambil waktu
berhenti di paku pertama. Sayapnya terbentang
seperti tengah berkata, "Aku tak ingin kau ganggu

meski di bawah paku ke dua, bahumu lanjang
dan matamu yang pejam kau tumpu
pada sepasang lengan. Seolah baru datang
kekasih dan belum sempat melepas sepatu."

Dia juga seolah menantang
pada kelinci di bawah paku ke tiga, "Kau tahu
arti lucu? Dunia yang dipaksa tenang
berhenti dari kejaran waktu!"

Dunia yang tumbuh dari bayang-bayang
penari yang tertidur itu.
Dunia yang dibesarkan lidah panjang
cicak berwarna abu-abu,

yang hendak menerkamku.
Sementara di meja sebidang,
kau - kelinci belang - menatapku
seolah aku ini pembawa kabar dari padang.

Kabar yang ditunggu-tunggu,
oleh penari yang tertidur tenang,
dan akan menggerakkan telinga panjangmu
hingga dia bangun dengan dada terguncang-guncang.


2013

Sedikit Menjauh dari Riuh

Aku tak akan malu-malu
(semisal mengintip dari antara
dua batang pohon cemara)
tapi tak juga akan bergaya
(membentang lengan, menekuk
tungkai, pura-pura hendak menari)
ketika keriuhan itu dimulai.

Bagiku, menyandarkan punggung
ke batang pohon, menyimpan
lengan di balik punggung,
memasang tampang bingung,
lebih baik daripada menerus murung.

Biarkan saja musik mengalun,
kaki-kaki menghentak (kadang
seolah saling menyepak), menyentak
di selingkung telaga (kau tahu,
di sana ada gunung, gerumbul
pepohonan hijau tua- hijau muda,
tanah coklat dengan bayang-bayang
orang lalu lalang, dan air danau
yang beriak pelan seperti dengkur
pemabuk pada gelas ke lima).

Aku tak akan malu-malu menyatakan
(meski bicara lirih soal topi yang lucu,
baju kedodoran, dan kumis yang
bersambung jambang) betapa keliru
menyatukan bunyi getar senar sitar
dengan gitar, dan kegaduhan yang
ditimbulkan para penari yang berdiri
dan diam.

Karena dengan sedikit menjauh
dari riuh, aku mendengar begitu
jernih kecipak di muka…

Satire dalam Dua Puluh Lima Gram Ceri Asam

Mungkin bosan mandi air garam,
seekor camar membawa dua buah ceri
di paruhnya.

Mungkin terkejut atau heran,
terbanglah tiga ekor kolibri
di dekat mata.

Mungkin cuma sampai enam,
di atas selembar tisu, tangkai dan biji
ceri dilekatkan.

Memilih baju kuning tua,
dengan pita merah di dada,
duduk miring tak menghadap meja.

Memikirkan bakal seperti apa
bunga di jambangan, sementara
tak penuh airnya.

Dua puluh lima gram ceri asam,
disebar begitu saja, di atas meja.
Dunia - setidaknya dua jenis burung

dan satu jenis tanaman,
dan kau yang begitu belia -
dirangkum dalam sebuah renung:

dongeng apa yang bisa dimulakan
dari laut dan berakhir pada
sebuah kamar berwarna biru terung.

2013

Di Sungai Itu

: Ahmad Yulden Erwin

Di sungai itu, mereka tidak mencari.
Hanya berziarah sambil mengingat musim panen padi.

Di sungai itu, mereka merasa sepi.
Seperti habis kehilangan pematang di waktu pagi.

Seolah ragu untuk berenang atau tenggelam,
mereka dibasahkan rindu bahasa ikan.

Dan angin lebih dulu menyentuh selembar
daun waru, sebelum hijau senyum disebar

pada sayap seekor burung, pada
sebongkah batu. Mereka mengira

di muara, di suatu senja
ada yang terasa asin dan bercahaya.

Di sungai itu, mereka menunggu
berita yang dihanyutkan bangkai pemburu.

Berita yang terdengar seperti metafora
dari rasa kehilangan yang berarus dari dada.

2013

Menghadiri Misa

Tuhan, cepatlah masuk
dan duduk di sebelahku.

Sebentar lagi, pendeta akan
berkotbah tentang kebaikanMu.

2013

Kalau Aku Menulis Sajak Tentang Ular

1/
Kalau aku menulis sajak tentang ular,
jangan sekali pun kau berpikir - aku ingin jadi pendekar.

Aku hanya ingin tidur melingkar,
menekuk lututku sedekat dada, dan biar

mimpi menelan seluruh pikiran liar
dan membenamkannya sampai ke dasar

sesuatu yang kau sebut naar
di mana sampai hangus dan lebur dia dibakar.

2/

Konon ada sebuah pohon besar di tengah taman,
di sana ular itu tidur dengan nyaman.

Dia bermimpi sepasang insan
datang dan meminta saran

tentang kehidupan.
Dia hanya mendesis pelan.

Si perempuan ingin makan,
Si lelaki itu sedang kasmaran.

Ketika ditunjuk buah di dahan,
Si lelaki segera mengambilkan.

Ular itu terbangun karena suara gesekan,
dia merasa terlambat mengingatkan.

3/

Kalau aku ingin menulis sajak tentang ular,
baiknya kau bacakan lagi kisah orang Tatar.

Di mana diramalkan seratus tahun tidur melingkar,
seekor ular bisa tumbuh sangat besar.

Dan di Bilär, orang-orang Bulgar
ingin membunuh seekor ular besar.

Tapi Tuhan begitu mengasihinya, dua lembar
sayap ditumbuhka…

Perasaan-Perasaan dalam Hujan

Betapa tabah awan menimbun duka laut, danau,
dan sungai di tambun tubuhnya, sebelum angin
begitu perkasa memaksanya turun sebagai hujan.

Betapa gelisah langit menyaksikan tubuh awan
dipecah jadi butiran hujan, hingga dijanjikannya
terbit pelangi, nanti jika hujan reda.

Betapa kuatir petir hingga dipukulnya udara
yang dingin dan basah, dan berkilat-kilatlah
dia.

Dan betapa cemasnya yang menyeberangi hujan,
menyangka kilat akan menyatakan nyala matanya
yang habis menangis, dan hujan tak juga menghapus
jejak tangis di kedua pipinya.

Sampai-sampai, dia tak mau memandang kepadaku,
yang dari tadi dilanda ragu untuk mengembangkan
payung.

2013

Tentang Ketenangan

Ketenangan, bukan peregangan, Sayang.
Bukan benang yang diikat di ekor hewan,
dan ditarik ke udara oleh burung finca.

Ketenangan, bukan permainan kotak dan warna.
Seakan perjalanan yang teramat lamban dari sebidang
ubin ke lainnya, menurut perhitungan kawanan
siput.

Ketenangan, bukan juga upaya mengupas
betapa keras cangkang armadillo, atau
hanya duduk mencakung menunggu engkau.

Ketenangan itu seperti jarak pandang
dua orang balerina dalam sebuah ruang
dansa. Seseorang melakukan peregangan,
dan seseorang melihatnya begitu saja.

Seolah ada yang mereka tunggu untuk
masuk, dan mengajak berdansa dengan
iringan orkestra Rusia, semisal Baba Yaga.

2013

Dalam Pertemuan Kita

Dalam pertemuan kita, waktu seperti seekor tikus pemabukMengira sepotong bulan di langit adalah keju berbau sengitKita, kucing buta. Betah memainkan gulungan benang.Percakapan seolah tak berujung.Dalam pertemuan kita, dibelukar beragam rahasia cuaca.Mendung yang menggantung, badai yang bergulung,menetes dalam segelas teh hangat yang nyaris tandas.Pikiran kita, gedung menjulang.Mengira langit dapat ditembus,dan pada jendelanya, bulan tampak begitu kurus.2013

Nona N

Hujan dan sedikit cahaya matahari yang seperti acuh itu
masih memainkan lagu. Kau mendengarnya sebagai desau,
aku mengira engkau. Cinta serupa jendela, katamu,
setiap perpisahan tak pernah seinci debu. Aku kuntum malu.
Mekar merah dadu. Hujan dan sedikit matahari yang seperti acuh itu
menggoyangkan tangkaiku. Memudarkan warnaku. Barangkali, kau
menganggapnya - kacau. Aku tak mencari penyebabnya, walau
hujan dan sedikit cahaya matahari yang seperti acuh itu
masih memainkan lagu.2013

Kadal

Gelap lengkap. Tombak
disandarkan ke palang kayu itu.

Tak ada lagi petarung.
Di gelanggang, tinggal sepi.

Seekor kadal masuk ke air.
Di mulutnya, sayap lalat

ditelan semua. Bagaimana bisa
memadamkan dendam?

Seseorang entah berkata,
entah mengerang.

Luka masih basah.
Di tanah, ada darah.

Menetes dari sepi.
Menetas jadi api.

Tapi gelap lebih dulu
menyekapnya. Sebelum

tombak siap diayun kembali,
sebelum para petarung

turun ke gelanggang.
Seekor kadal sembunyi.

Di mulutnya, pertarungan
sudah lama selesai. Tak ada

lagi dendam, hanya lidah
menjulur pelan. Seperti

mencibiri matahari.

2013

Obrolan di Kedai Pangkas Rambut

Siang seperti langkah seekor kucing dengan bangkai ikan
di mulutnya. Sedangkan menunggu giliran lebih mirip
seekor burung bangau yang menyesal.

Menyesal? Apakah itu perasaan seseorang yang duduk
dekat jendela? Bisa juga sama seperti seekor anjing
yang habis melahirkan dengan puting-puting susu
yang tampak membesar. Dia kehilangan anak-anaknya?

Setiap kehilangan atau kerinduan bisa dinyanyikan
dengan gembira. Semisal oleh sekumpulan mariachi.
Kau tak akan tahu apa yang disembunyikan
dalam topi sombreronya.

Siapa butuh topi saat kita akan bercukur? Yang tepat,
selama menunggu, kita perlu barista penyeduh kopi.
Tapi, hati-hatilah. Mungkin di cangkir itu akan kautemukan
bulu-bulu kucing. Terakhir kali kulihat, dia berada
di atas papan nama kedai ini.

Tapi yang kubaca itu seperti coretan di dinding.
Aneka kata bahasa asing. Yunani, Jepang, dan Inggris.
Cara membacanya lebih tepat jika digambarkan
dengan dengung lalat di dekat lampu.

Sayap lalat itu obat. Demikian pepatah yang…

Merpati

1/
Remah roti
di paruhmu,
pada siapa
akan kaubagi?

2/
Dulu, seorang memecah roti dan berkata,
”Inilah tubuhku. Jadikanlah peringatan akan aku.”
Tapi di piazza Santo Markus, aku malah teringat
sederetan merpati dalam lukisan Ilya Zomb.
Yang memegang benang dengan paruh,
dan sebuah pir di ujungnya.
Padahal, gadis itu seperti tertidur
seperti tak henti menekur perkara tragis
dalam hidup dan semenit tadi berkata,
”Biarlah. Aku tak akan lagi menangis.”

3/
Lalu langit redup. Pilar, bangunan,
dan tubuh hilang bayang
Di sebelah barat dari fasad basilika,
ada yang mengambil waktu berdoa,
mengulur rosario dan mengucap salam Maria

Lagi, kuingat gadis yang tertidur
dalam lukisan itu. Mungkin, dia telah lelah
memanggil nama Tuhannya.

4/
Seekor merpati hinggap di tugu Santo Theodore
Mengepak sayap sekali lalu terdiam
seperti aku yang diingatkan
sebuah kekuatiran dalam perumpamaan,
”Bukankah engkau lebih bernilai
dari seekor burung?”

Langit makin mendung
Aku memandang ke lepas laguna di seberang pi…

Payung

Kesetiaan itu sederhana, katamu,
Payung yang sedia dikembangkan
ketika gadis itu hendak menyeberang,
di dalam gerimis.

Dan kau tak menangis. Tak perlu
bersedih ketika hujan seumpama
logam yang dijatuhkan begitu pelan
dan teramat tragis.

Sebab kesetiaan itu dunia tak pernah tidur,
malam dan lampu yang saling mengingatkan
barangkali di depan tembok sebuah gang,
seorang gadis

berpisah dengan seorang penyair
setelah berbincang tentang cinta dan negeri
yang penuh basa-basi. Tapi, aku memahami

kesetiaan seperti slogan di papan iklan,
payung yang tak jadi kembang, serta
hujan yang menggigil sendirian

di jalan. Dan gadis itu tak peduli
lagi pada hujan, pada penyair itu,
dan ceritanya yang membual-bual

seperti air di selokan.

2013

Mata Kapak

Kaukah itu
mata kapak yang diapungkan Elia?

Seseorang seperti aku
berseru,"Itu satu-satunya
barang berhargaku!
Itu pun pinjaman."

Hidup memang perkara mencari
dan menemu apa yang tak bisa dimiliki
selamanya

Karena itu aku mencari ketajaman,
kehendak paling kejam
Agar tertebas keinginan lain
dan yang dingin
seperti beku waktu
dan kebodohan mengingin sepenuhmu
Agar roboh juga pokok doa ceroboh,
Doa yang tergesa seperti angin,
dan menderu tubuh-tubuh yang ragu.

Kau kah itu
mata kapak yang diapungkan Elia?

Aku sungai bertebing landai
Harapan akan kesia-siaan dan tak lagi pandai
mencari celah untuk memandang wajahmu
Mungkin, arusku tak cukup deras
mendaraskan kata-katamu.
dan apa yang kuhanyutkan
selalu kembali jadi beban yang bergayut
di hatiku

Maka aku mencarimu
Mata kapak itu
Yang tajam dan berharga.

Jangan majal, mata kapakku
Hidup ini bukit terjal dan berliku
Pendakian pada puncak ragu
Ingin menerabas atau berlalu.

Jangan gompal, mata kapakku
Hidup ini sekeras batu
Gumpalan ingin dan ambigu
Patahkan!
Pecahkan!
Per…

Menerjemahkan secara Bebas Annus Mirabilis

Philip Larkin
Annus Mirabilis


Sexual intercourse began
In nineteen sixty-three
(which was rather late for me) -
Between the end of the Chatterley ban
And the Beatles’ first LP.
Up to then there’d only been
A sort of bargaining,
A wrangle for the ring,
A shame that started at sixteen
And spread to everything.
Then all at once the quarrel sank:
Everyone felt the same,
And every life became
A brilliant breaking of the bank,
A quite unlosable game.
So life was never better than
In nineteen sixty-three
(Though just too late for me) -
Between the end of the Chatterley ban
And the Beatles’ first LP.
Tahun Keajaiban

Di tahun 1963, antara akhir pelarangan
novel DH. Lawrence dan peluncuran perdana
piringan hitam The Beatles, persenggamaan
bebas mulai sering dilakukan (rasanya percuma,
karena bagiku, itu sedikit terlalu lama ).

Di sekitar itu, yang terjadi hanyalah
semacam menawar dan mengalah,
berdebat soal menikah,
menjelang malam, ada pipi bersemu merah,
esok pagi, celananya, bajunya, kutangn…

Membuat Onde-onde Cina

Jika kau suka pedas, buatlah kuah
dengan jahe dan gula merah.
Bisa juga kau tambahkan pandan.
Ini semacam pesan
tentang umur dan kehidupan.
Selebihnya, akal-akalan
tentang letak matahari
di langit utara yang dingin.

Apalagi jika kau suka dengan kemeriahan,
pada adonan tambahkan pewarna makanan.
Lima menit adalah waktu menguleni.
Membulat-bulatkan dengan telaten sekali.
Cukup masukkan dalam air panas.
Sebab hidup seperti memasak,
membuat masalah jadi jenak.
Tenang tanpa riak.
Dan karena akal-akalan,
makanlah sesuai umurmu.
Jangan lupa tambahkan satu lagi.
Semisal menghitung
bahwa hidup masih berlanjut,
dan waktu masih berdenyut.2013

Persiapan Mendaki Gunung

Jangan lupa bawa selalu tas jinjing,
dan jadilah penurut seperti Huang JingBawa serta juga yang merah dan putih,
agar lukamu tak parah, juga cepat pulihIni bukan mantra sihir,
bukan pula nujum mutakhir,
tapi minumlah anggur bunga krisan,
dan mulai lakukan pendakianKarena bahaya dari gunung
tak mungkin terbendung,
hanya melanda orang-orang bingungIni pesan Fei Chang Fang, Tuan
Baiknya aku sampaikan, bukan?
Sebab di hari ke sembilan bulan ke sembilan,
terusirlah roh jahat dan kemalangan2013

Menyaksikan Begitu Merah dan Meriah Daun Mapel di Tepi Hutan di Benxi

Jika di kotamu hanya tumbuh cemburu,
berjalanlah mendaki tepi hutan di Benxi.

Lupakan seseorang yang semalaman tugur,
mengingat sajak Li Bai tentang bayangan diri

yang diciptakan bulan di musim gugur.
Tentu, bukan karena kau seorang penyendiri

yang iseng berpuisi tentang daun mapel itu.
Dan lihat! Betapa parah hati dimeriahkan sepi

seolah di tepian hutan di Benxi di musim gugur
ini, ada yang lebih merah dari daun mapel dan kini

semakin merah seperti pipi peminum anggur
dalam sajak Li Bai itu. Seperti mata yang perih

karena semalaman kurang tidur
menanti satu hari pergi atau mati

di kotamu yang ditumbuhi cemburu,
yang begitu ingin kau lupakan ini,

meski hanya untuk menyaksikan begitu
merah dan meriah daun mapel di tepi hutan di Benxi.

2013

Menjelang Melaut

Perhatikanlah Mazu, ikan-ikan
Dewi para pelaut datang dari Selatan
Semua yang takut telah pergi ke Putian
dan berdoa 23 hari lamanyaPerhatikanlah para nelayan, ikan-ikan
Mereka yang datang ke lautan
Berharap sepenuh keberanian,
bukan lagi kepada Maharaja Kangxi
Bukan juga pada janji-janji keselamatanIni bulan ke tiga,
bakarlah hio-mu,
asapi udaraPerhatikanlah aku, tuan-tuan
Ini bukan janji seorang penakut
Tapi dalam hati, badai ini gemuruh sendiri
Menjelang melaut,
siapa sempat memikirkan maut?2013

Arti Menunggu

Pohon waktu yang bertubuh padamuTumbuh di atas karang bisuDi antara pukul sembilandan sejumlah kursi di tamanMatahari memainkan benang-benang suara,harpa dan bunga yang layu.Kau mendengar seseorang mengerang?Cabang dengan daun-daun dimainkan anginLapang pelukan yang penuh rasa inginmenjangkaumuDi mana aku?Di mana aku?Aku telah jatuhsebelum kunaiki karang ituSebelum matahari bersembunyimencapai nada tertinggiBunga layu di atas kursi taman,tepat pukul sembilanDan kudengar daun-daun ditabuh angindi langit bekuDi anganmu tentang seseorangseperti aku2013

Dari Mong Kok sampai Tseung Kwan O

Tak ada yang bilang, kereta di sini melayani
sampai jam 1 malam. Semua mengingatkan
agar pulang jangan lebih dari jam 12 malam.

Maka jam 11, aku bergegas. Sambil mengingat
nanti di stasiun Tiu Keng Leng, harus berganti
kereta jalur ungu yang menuju Tseung Kwan O.

Ada juga yang harus diingat - tiket kereta - jangan
sampai hilang. Hanya kulihat sepasang remaja
berdiri dekat pintu kereta, berpelukan. Mungkin

juga berciuman, tapi siapa peduli? Jam begini
semua lelah dan mengantuk. Sesekali mengalihkan
pandangan ke papan elektronik tanda stasiun

yang telah dilalui dan di mana lagi kereta akan
berhenti. Tapi perjalanan hidup tentu selalu
berdenyut. Seperti cinta sepasang remaja

yang meletup-letup. Di Diamond Hill, sepasang
kekasih beda bangsa masuk kereta. Yang lelaki
Kaukasian, yang perempuan jelas Cina. Mungkin

baru kencan usai kerja. Tapi di Kwun Tong, mereka
berpisah. Si Kaukasian meninggalkan Si Cina. Dan kudengar
seorang berkata,"Kok tidak diantar sampai rumah, ya?"

Tak tera…

Belajar Anak Naga di Toko Batu Giok

Kalian mengajarkan beda batu giok asli
dengan yang palsu dari denting, warna,
dan cahaya. Aku senang sekali, tapi

kalian juga ajarkan tentang anak naga,
bertubuh kuda, kaki singa, ekor macan
tutul. Aku tak bisa merasa bahagia, karena

mereka sepasang, kanan dan kiri,
laki-bini, dan lapar akan uang, hingga
seorang kaya harus punya sebagai koleksi.

Belum lagi, batu fosfor harus punya juga
supaya segala masalah bisa diredam
dan penyakit tak bisa menyerang, dan jika

ukurannya besar, harganya tinggi,
dan sebaiknya diletakkan pada sebuah meja
di tempat usaha, atau di ruang tamu, jadi

aku bertanya pada kalian semua
apakah bahagia selalu diukur dengan
uang, harta, termasuk batu mulia?

2013

Perusahaan Obat Negara di Shenzhen

"Kami biasa membagi dua
semua bagian badan. Yin dan Yang.
Laki - perempuan. Pemasukan
dan pengeluaran. Dan sakit 
adalah ketidakseimbangan,"
Begitulah seorang tua bergelar
profesor ilmu pengobatan Asia Timur,
bertutur atau menghibur,

sebab di Perusahaan Obat Negara
di Shenzhen ini, ada semacam sulap.
Besi membara disentuhkan tangan.
Tangan dioles salep dan sembuh seketika.

"Kami mencari tumbuhan terbaik
agar fungsi alat tubuh jadi sempurna.
Cina adalah kebijakan alam untuk
menyembuhkan dunia. Barat, mengobati
tapi merusak ginjal dan hati."

Maka aku dibawa masuk ke kamar
untuk diperiksa. Dua atau tiga orang
sekaligus. Seorang gadis manis bertindak
sebagai penerjemah: Bapak lesu dan lemah.
Ibu kurang semangat. Ada lebih kolesterol.

Tak ada stetoskop, hanya dua lembar tangan
diperiksa bergantian. Di akhir pemeriksaan,
mereka menawarkan pengobatan. Cukup tuliskan
nama saja. Sebab latin dan hanzi berbeda.

"Obat yang kami beri, kualitas terbaik. Diambil
dari Pegunungan Tibet. D…

Seusai Badai di Causeway Bay

Setengah jam dari Kowloon East, langit
masih gerimis. "Badai sudah sampai di
Daratan," Begitu tajuk koran, tapi di
Causeway Bay orang tak peduli itu lagi.

Di sebuah pasar dengan deretan kios
penjual suvenir, piyama, dan kaos,
aku menawar tas belanja,"Seratus sepuluh,
lima?" Si penjual memencet kalkulator - 115.

Kadang, cinta tak peduli beda bahasa.
Bahkan tak peduli juga jarak antar negara,
"Ibu saya baru datang dari Jakarta." Seorang
perempuan muda berkata. "Dia kerja
di Konsulat. Sudah lama tak berjumpa."
Sahut Sang Ibu, bangga.

Sekitar pukul tiga, aku masuk gerai Ikea.
Tentu saja, tak akan kubeli selembar meja.
Di rak boneka, kutemukan kata Indonesia
lebih banyak dari Swedia. Bangga? Mungkin saja.

Sebab di seberang jalan, di Taman Victoria
ada lebih banyak orang Indonesia. Di sana,
kami duduk melepas lelah. Bertukar tanya;
"Apa kata keluarga di Pulau Jawa tentang
badai yang kemarin melanda?"

Diam-diam, aku merasa cemas. Sejadi-jadi…

Restoran Jumbo, Aberdeen

"Negeri ini dinamakan dari kampung nelayan,
oleh pelaut yang dungu," Begitu kata pemandu
saat feri kecil menyeberangi teluk. Tapi siapa
ingin percaya? Aku, ombak yang terus bergerak.
Dan sejarah adalah pantai yang dikepung puluhan
kapal pesiar.

"Di sini, nasi disajikan belakangan. Dan sayuran
adalah barang mewah,"katanya lagi, begitu
feri bersandar di restoran di tengah teluk. Ada
sepasang naga besar melingkar di pilar. Kulihat tak
ada bintang, kalah terang daripada sinar bangunan
di sekitar.

Maka kami mengelilingi nasi, ayam hainan,
udang rebus, dan aneka sayuran. "Ayo. Berfoto dulu!
Restoran ini sudah terkenal dari dulu. Rasanya
memang biasa, tapi melewatkan makan di sini tak
semua orang mau." Langit dan laut seperti kompak,
meredupkan diri, pada sejarah yang perlahan
dibangkitkan rasa lapar.

Ah. Sejarah dan kebanggaan memang tak sepadan.
Begitu pula rasa lapar yang dungu, tak malu
untuk memuaskan diri, menumpaskan segala
yang menghalangi keinginan. Seperti …

Suatu Malam di Ladies Market

Aku tak pandai menawar, tapi di sepanjang jalan
ini semua orang berdagang, "Uang. Uang. Uang!"

Di kedai dekat perempatan, aku membeli minuman,
dua puluh lima dolar, tak lebih tak kurang.

Betapa perhitungan adalah menaksir dan
menimbang. Menimbun dan membuang.

Lalu bagaimana menemukan kesenangan dalam
perjalanan? Apakah dengan berbelanja? Seseorang

bergegas ke kios penukaran mata uang, dan
kembali dengan menenteng barang-barang.

"Di sana", katanya, "kaos dan jam tangan
sedang diobral!" Senyumnya mengembang.

Di perempatan, ada pemuda India dan
dua orang nenek Cina berteriak lantang,

"Pijat! Pijat! Pijat kaki dan badan!"
Di pikiranku, ada yang tiba-tiba meruang

: semacam perkiraan, dalam kehidupan
perjuangan adalah hal yang tak boleh berkurang.

2013