Satu

Pikiranku, kota tua hampir ambruk.
Masa silam sebuah peluru.
Lubang menganga yang nyaris tak ada,
hanya ladang-ladang subur
dan sungai dengan air beralur.

Peristiwa-peristiwa seperti bendera
di atas menara. Berkibar senantiasa.
Hanya dengan mata terpejam,
dinding batu yang dingin dan diam,
aku bisa merasa tenang,
meski angin menyapu awan
dan menyisakan garis tipis bulan.

Jikalau aku risau, hanya karena engkau.
Pejalan yang tak sudi menjenguk.
Kebisuan puncak menara
di tengah luasan ladang.

Mungkin kau takut berita perang.
Mungkin juga kau tak sudi mendaki
dingin dinding batu. Mungkin juga
kau tak datang, karena sibuk menjadi
petani. Memilih benih, mendugal ladang,
mengalirkan air sungai, dan menunggu
buah-buahan matang.

Puisi bagi duniamu sendiri.

2013

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya