Posts

Showing posts from 2019

Sajak Sate Klathak

Sebagai daging, aku penurut lagi lembut.
Meski kau bawa juga aku ke meja bakaran.
Setelah sebelumnya, dengan pengkhianatan
panjang, kau seligi aku penuh kegembiraan.

Sebagai sajak, aku harum dan matang. Membangkitkan kenangan buruk akan lapar sebagai badai. Tak ada yang puasa jika aku telah dibangkitkan. Tak ada yang rindu pada hujan dan kabut sore itu.

Pada tanganmu, aku serahkan hidupku. Daging gurih berlemak, dan penuh lada dan garam saja. Di atas piring, berserak, bergelimang, kau pandang penuh nafsu. Jika boleh berseru -- "Ampuni mereka yang belum tahu."

Seperti Sita di pembakaran Rama, aku menanti kelahiran baru. Wangi laparmu dalam balut bara rindu. 2019

Sajak Ayam Pop

Hampir saja aku percaya -- dunia terbagi: hitam & putih lalu kutemukan bungkah dadamu lunak bagai dadih dan kudengar merdu lembut suara ratih purwasih dan sepotong memori -- harusnya, ratapan patah semangat berselera rendah* tak diperdengarkan lagi.
Hampir saja aku percaya -- jika ada yang kecewa maka ada yang tertawa tapi sambal jingga itu tak sederhana; ia paduan antara pedas dan gurih tapi tanpa aroma seperti sebuah muka jendela dengan huruf-huruf tegak aneka warna tapi dipenuhi berpiring-piring sajian boga sementara di televisi seorang pembawa berita mengabarkan perang dagang amerika dan cina.
Dan pada mulut yang terbuka, revolusi bisa dimulai kapan saja. Pagi bisa, sore bisa!
2019

Kucing

Kucing

Keluarkan aku dari dalam karungmu!

Agar tak permah terjadi perniagaan
pura-pura antara yang culas dan
ia yang tak merasa curiga pada dunia
yang lebih belukar daripada selasar
pasar ikan dan lengang sebuah gang.

Juga supaya Si Payah punya kesempatan
bangkit seperti Si Sakit sudah pulih
dari tujuh malam demam berdarah,
dan lebih dari itu ia kini lebih berdaya
seperti punya sembilan nyawa.

Cabut aku dari kumismu!

Biar ada rasa kecewa tak bisa masuk
pada lubang sebatas tengkuk. Biar
tumbuh satu kesempatan melegakan
dari nyeri tak tertahankan di pinggang.

Sudahi aku dari rasa malu padamu!

Karena dengan begitu -- bebas aku
meniti malam dan mengeraskan suara
semesra asmara-asmara kita.


2019

Panggilan

Panggilan

Mengapa di mulutmu terselip namaku?
Mengapa aku harus menoleh dari rumput ke sayap kupu-kupu yang gemetar itu? Betapa malang nasib angin pada helai yang terkulai. Ia membangkitkan putus asa belaka. Sia-sia mendorong batu lalu menggulirkannya kembali.
Tak akan jadi bisik – “Siapa bilang begitu, bahkan dengan memakan buah pohon ini, kalian justru bisa menjadi Tuhan."
Baik akan kuperhatikan yang bergelora dalam cahaya. Helai-helai suara penuh warna. Supaya tak tertipu untuk kali kedua.
Cukup sudah seribu babi dirasuk arwah lalu terjun dari tubir seakan berebut butir mutiara. Cukup sudah dari atas bukit dua belah batu bertulis dipecah karena segala
doa disebut untuk sebentuk lembu. Mengapa telingaku bagai biri-biri mengenali suara gembala yang lari mencari seekor yang terhilang dari kumpulannya? Mengapa merasa
sudah dipilih dari selaksa yang bakal rebah di sisi kanan? Merasa sebagai seorang ibu dari Gerika yang tak lagi malu dihardik bagai anjing hendak menjarah remah-remah roti di bawah meja. Biarlah…

Atap

Atap


Ingatkan lagi dan lagi aku tentang
keruntuhan, keyakinan yang guyah,
dan cinta yang tak menyerah. Meski
selalu ada pertanyaan -- "Mengapa
harus ada yang merasa kalah?"

Salju tak turun di bulan Juni, dan penghujan
belum tentu jatuh jadi musim di akhir tahun.

Karenanya, ingatkan lagi aku
soal bertahan, bersetia pada perubahan,
dan rindu yang mudah ditangguhkan.
Agar harapan jadi sebuah tangga --
meski tak mengarah ke surga -- sedia

dan berguna saat datang badai
dan setelahnya.

Genting melorot, kayu lapuk,
anak kucing dalam ruang plafon,
tumpukan serasah menutup lubang
di talang air, hanya masalah kecil
yang membuatku terpanggil -- Jangan
cepat terusik pada hal-hal yang bocor
dan berisik.

Meninggilah sejenak.

Dan memperbaiki bubungan
pasti mengingatkanmu
pada hal-hal yang mudah
tergelincir lalu jatuh.

2019