Posts

Showing posts from 2017

Sepotong Rindu

: untuk Padre Hiro

Ia inginkan hari selesai
dengan tangan terlipat
di depan paha kitab
yang terbuka -- tepat

di bagian Kidung Agung
: Apakah kelebihan kekasihmu
daripada kekasih yang lain,
sehingga kausumpahi kami
begini?*


Lilin di altar luruh
dalam rindu. Ruang
kapel wangi gaharu,
tapi kau tak ada di situ.

Ia ingin menarik diri sesegera
mungkin dari sergapan angin,
tapi diingatnya seorang samaria
telah menggapai jubahnya dengan
iman -- aku percaya pada ketulusan

tapi Tuhan lebih suka pada jerit
putus asa,

juga derit yang rumpang
di bilik pengakuan dosa.

Ia ingin menutup kitab
dan merapikan hal-hal
yang mungkin lingsir
sebelum perjamuan terakhir.

Namun malam belum penat,
secangkir espreso belum kelar
juga mengendapkan kelir sepi.

2017


* Petikan dari Kidung Agung Pasal 5 ayat 9 bagian b.

Jika Kau Taruh Sajak

Jika kautaruh sajak
dalam hatiku, ia akan
jadi pohon rindang
dan teduh. Buahan
tersedia matang dan
penuh. Burung-burung
nyanyi riang lagi merdu.

Jika kautaruh sajak
dalam hidupku, ia jadi
pokok tegak dan kukuh.
Di lindungannya kekasih
bersimpuh, dan tertidur.
Setelah puas bermazmur
dan bersyukur.

2017

Jangan Buru-buru

Jangan buru-buru kaucabut
kesedihan dari dadaku --

Aku belum berselesa pada bisa
yang diam-diam larut di darahku.

Belum juga sempat mengamati
lancip, tajam, dan kilau segala
sudutnya yang tak surut-surut
menyerut urat dan dagingku

Aku belum puas pada lemas
yang kerap meloloskan diri
dari cegat tegap tulang-tulangku.

Jangan kau lekas tarik
kemurungan yang
menyelubung hari-hariku --

Sungguh, aku tak rela
dan tak berlega jiwa
jika kau melakukannya.

Sebagai manusia
aku harus lengkap
dan melengkapi kesedihan darimu
dengan kesetiaanku;

agar doa dapat terucap,
agar harapan baru tertancap

dan bahagia perlahan
menetes, membasahi, dan mengalir
pada keseluruhan lanskap.

2017

Kramat Batu, 07.07

Di persimpangan, selalu ada
yang luput dari tergenggam.
Mengapa hidup harus seturut
keadaan? Selain lurus, kita
bisa jalan ke kiri atau ke kanan.

Di kejauhan, dari hal-hal yang
berhubungan dengan Tuhan, kita
hanya suara mengimbau, merayu,
mengingin dan mendamba arahan;
Sudikah berlepas dari sekadar cinta?

2017

Batong, 06.40

Ia memanjangkan leher
pada pisaumu. Menjenjangkan
kaki pada lekuk lubang itu.
Sungguh, sia-sia perlawanan
jika hidup hanya bangun dan
tertidur kembali. Cinta bukan
sekadar matahari pagi. Ia ingin
masuk dan menemu matanya
yang teramat tajam. Terjerumus
dalam jebakan tubuh yang terus
meluluskan lurus benang harapan
dari lubang jarum itu.

2017

Fatmawati, 07.35

Semua berebut ke jalan kecil,
sebelum menghilang di kelok
terakhir. Maut dan hidup seperti
pancang dan jalur MRT yang
belum diselesaikan di satu
pagi. Masih seperti kesemrawutan
yang tak habis-habis kautekuri.

2017

Bincang Buku Puisi #2 : Bekal Kunjungan Nermi Silaban

Judul buku : Bekal Kunjungan, Sepilihan Puisi Nermi Silaban Penulis : Nermi Silaban Penerbit : Gambang bukubudaya Cetakan I : April 2017 Hal : vii+ 82 halaman …Ia pacu sejauhnya hanya ke tepian senjaBatas yang membuat dirinya bertanya-tanya:Bunda, kenapa kita tidak menempuhnyaBukankah ayah telah berjanji menjaga kita?(Kisah Menggambar) Puisi, sebagai bagian dari seni yang merupakan superstruktur, jelas tidak dipisahkan dari struktur dan infrastuktur pembentuknya yaitu manusia dan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini bukan sekadar rumah dan tempat tinggalnya saja, tetapi juga relasi yang dibentuk oleh manusia itu. Ekologi, menurut teori Darwin, bukan sekadar tempat tinggal individual, tetapi sekaligus di dalamnya ada rantai hidup baik makanan maupun energi. Singkatnya, pembuatan puisi pastinya melibatkan dan mengisyaratkan adanya hubungan antar manusia, manusia dan lingkungan, pengaruh yang didapatkannya dan pandangannya terhadap semua itu. Jika boleh dianalogikan, untuk memahami pu…

Bincang Buku Puisi #1: Malaikat Cacat Sam Haidy

Judul buku : Malaikat Cacat Penulis : Sam Haidy Penerbit : IBC Indie Book Corner Cetakan I : 2017 Hal : 64 halaman Ada 51 puisi di dalam buku tipis ini. Uniknya, penulis menggunakan dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris dalam menyusun puisi-puisi itu. Setidaknya, ada 17 judul puisi ditulis oleh Sam Haidy dalam bahasa Inggris dalam buku ini. Rata-rata 51 puisi yang ada dalam buku ini adalah puisi berukuran pendek. Bahkan ada puisi yang jika dilakukan paraphrase sebenarnya adalah satu kalimat saja. Seperti puisi berjudul Expansion berikut; ExpansionMasterOfUnimportantIssue Memahami puisi pendek tentulah sebenarnya sesuatu yang pelik, mengingat puisi pendek ditulis atau dibuat karena penulis harus benar-benar menyadari bahwa kata-kata yang jumlahnya sedikit itu adalah sesuatu yang punya daya ledak hebat di dalam pikiran pembacanya kelak. Bukan hanya itu, sintaksis (hubungan antar kata) dalam puisi pendek biasanya juga mengejutkan. Ambillah contoh puisi dari Philip Larkin berjudul Librar…

Kuburan Panjang

Walau semacam lubang, ia tak gentar melepas gemarnya pada lekuk tubuhmu, pada rasa takut di hatimu. Ia tak mengintai,
justru terlihat begitu santai, sebagai lubang yang damai. Orang-orang suka sekali duduk dengan khusyuk merapal doa, atau berbisik
menyoal -- siapa yang seharusnya masuk lebih dulu ke lubang itu. Sebetulnya, maut itu ramah dan sopan, hanya tubuhmu sedang
terguncang dalam sembahyang dan waktu adalah ia yang tak hendak bersabar. Ia telah siap menguruk tubuhmu jika terjengkang
dan jatuh ke dalam lubang yang terus memanjangkan badan sejak kau lepaskan diri dari buaian. Jangan takut, ia lubang
yang aman. Di dalamnya, kau akan terlindung dari kesakitanmu sendiri dan kau bukan lagi seorang pesakitan di dunia ini.
2017

Doa Pagi

Terima kasih kau masih mau jadi kekasih.

Anak bungsu yang bengal dan berulangkali
memperturutkan nafsu tadi malam pulang
dalam demam rindu.

Batu karang yang pernah bimbang sudah tinggi
menjulang. Hampir ia jadi suar, meski cahayanya
kadang gemetar.

Terima kasih. 
Bersama matahari, janjimu hadir kembali.

Agar bakung dan azalea mekar dalam debar
di bawah jendela. Supaya kanak ternak menyusu
dengan lahap pada induknya.

Terima kasih kembali, katanya, karena kau
masih mau berdoa; berdiri di atas unggun duka,
dan memberkati semua luka.


2017

Malam Tak Selamat

Senja telah lama hilang di alismu.
Bulan yang ingin melihat semburat merahnya
mengintip malu-malu. Seperti rumpun putri malu
disentuh jemarimu. Seekor elang pulang ke sarang
setelah menemu cinta yang hilang -- pada tali dan
tiang kapal di pelabuhan kecil itu.

Kau ragu-ragu; ingin pulang dari mimpi atau
malah datang menjemput tidurmu.

Malam yang baru menggelandang
di atas kotamu, kini menggelinding
ke arah ranjangmu. "Sembunyikan aku
dari para peronda yang gemar membunyikan
tiang-tiang listrik di sepanjang jalan dan gang
di tubuhku!"

Melongok ke bawah ranjang, kau justru
seperti menengok masa lalu. Kau tak menyangka
malam adalah tubuh kecilmu yang dulu
suka telanjang memainkan layang-layang
di tanah lapang.

"Dasar penyair, bukannya menolong
malah melolong seperti melihat hantu."

Malam itu, kau tak bisa
menyelamatkan malam
dari cengkeraman rindu.

2017

Memasuki Kotamu

Dengan keledai muda, ia masuk dari gerbang utara
kotamu. Kotamu adalah ketakutan yang menyala-nyala
dalam diri, sebelum dihapus semua mimpi.

Kau masih tidur, masih belum tamat membaca mazmur.

Sambil melambaikan tangan, ia singkirkan ketakutannya
sendiri. Kotamu adalah kekuatan baru bagi nyali seorang
pemimpi.

Ia tahu, tubuhnya akan ditidurkan di atas ranjangmu.

2017

Sajak Biru

Maut tak kuasa memuat sengatnya
Ia hanya lagu sedih, yang kalis nada tangis
Kubur tanpa bungaran bergeser batunya
Dan sebuah tanya, " Siapa yang kaucari, Gadis?"

Sebentang malam di Emaus, terbuka kitab kudus
Pada jejas paku dan seligi, ragu pun tempus
Dua belas pelita makin terang nyalanya,
perjamuan bagi kasih karunianya.

Kekasih dan pengantinmu, rimbun pokok terbantin
Semurni haus dan rindu rusa
pada air telaga jernih dan dingin
Ia cukupkan kuncup kuncup luka.

2017

Setelah Berlibur

Setelah berlibur, tubuhnya tampak
lebih gelap, dan makin berlemak.

Bagaimana tidak? Setiap pagi,
mimpinya lari. Sedang ia hanya
sarapan roti lalu tidur lagi.

Menjelang senja, mimpinya pamit
sambil mengamit kenangan untuk
jalan-jalan ke tubuhnya yang makin
malam.

Di tepi pantai, tubuhnya pandai
berandai-andai, "Pada sebuah pantai,
tiga atau sepuluh depa di depannya,
tak ada yang mencari cinta pada tiang
dan tali kapal,.."

Ia memang berlatih mengamati
tubuh-tubuh baru walau sedikit buru-buru.
Maklum, senja makin alum dan ia harus segera
kembali ke rumah sebelum dirinya bangun.

Sesampai di rumah, dilihat dirinya
masih tidur. Lelap sekali. Seperti
habis lari dari kenyataan berhari-hari.

Ia lekatkan lagi mimpi ke keningnya.
Ia rapikan ujung-ujung tubuhnya yang kusut.
Dicium dirinya dekat ubun-ubun, sambil berkata,

"Jangan bangun dulu, liburan masih tiba
dan belum ke mana-mana."

2017

Chant of Lotus

Image
Karena kau cahaya,
ia merupa warna dari putih
sampai nila.

Lewat kolam kelam dan
lebar lembar kesadaran
ia panggul panggilanmu --

Bangun, kau api unggun!

Bagi ia sebunga,
kau lingkar mekar mandala.

Sejak matamu berpijar,
dunia duduk gemetar,
menahan tabah tahunan --

Sulur syukur sari lumpur.

2017

Imago

Wajah siapa sungguh hendak kaucari?
Di sini, ia mengada pada sesama.
Ke manapun kau hendak pergi,
ia terlihat dalam aneka rupa & warna.

Di pasar, ia baru saja meletakkan
sekantung besar barang belanja.
Dekat jembatan, ia berbincang --
buah-buahan tinggal pisang. Ia

berkacamata, mengenakan tudung
putih. Di warung, ia muncul dengan
rambut digelung. Di bawah payung,
ia nenek pedagang sayur, tawarkan

: cabai, tomat, bahan salad. Kalau
kau telah mengerti, wajahnya selalu
bisa kautemukan di mana saja, walau
tak seperti wajahnya pada masa lalu

atau nanti, pada suatu
perjumpaan paling pribadi
hanya denganmu.

2017

Menjelang ke Gili

Hidup selalu perkara pergi
atau kembali -- meski senantiasa
kepadanya kau diberi dua pilihan:
perahu cepat atau yang lambat.

Seperti menjelang ke Gili, kau
pun tak jenak menanti. Seperti
ombak yang membawa pecahan
karang ke tepi, berkali-kali.

Di atas perahu, kau bisa memandang:
hidup adalah soal ketenangan dalam
menghadapi gelombang. Seorang anak
muntah, dan yang lain pura-pura tak melihat.

Namun waktu adalah soal meninggalkan
atau menuju -- yang pada keduanya,
kau selalu mencari sebuah arti.
Meski hanya soal melihat ikan-ikan kecil
diberi roti.

2017

Silencio

Dalam diam, ia mendengar
surga bergemuruh.

Malaikat jatuh menghunjam
sebilah tuduh. "Neraka," katanya,
"terletak di antara bimbang dan
curiga." Maka dibawanya api
suci ke relung tergelap dari dada.

Ia mengungsikan diri, lebih
jauh dari tubir tangis dan sumir
percakapan lima gadis di depan
pintu tanpa minyak lampu.

"Penyesalan," katanya, "semisal
epitaf. Segazal amsal leher zarafah
-- apakah tinggi tajuk, ataukah wangi
pucuk, membuat leher itu sulit ditekuk?"

Dalam diam, ia mendengar pintu
maaf diketuk.

Seseorang, serupa bunda, ingin
masuk. Hendak menjenguk.

Sakit apakah gerangan? Selain
yang sulit diterjemahkan dalam
catatan tabib yang tekun. Dalam
racauan mantra Sang Dukun.

Ia ingin sekali membuka dada.
Untuk menerima sepi hanya
sebagai suasana.

Dan menggantinya dengan
percakapan paling akrab dari
dukana.

2017

Shigeru

Agnus Dei

Tak ada yang berubah
meski bom telah tercurah.
Kotamu tegak. Kubah-kubah
bangunannya putih perak.

Asap hitam yang tadi naik
telah turun bersama pekik
mereka yang gugur.

Di tembok-tembok
terpampang peringatan –
hidup adalah keberanian
untuk berjuang!

Selamat jalan.
Selamat berperang.
Sepasang orang tua
melepas pelukan anak-anak mereka.

Demi negeri ini, segala senapan diisi.
Demi Tuhan yang tak pernah mati.

Tak ada yang berubah
meski bom telah tercurah.
Karena kita telah lama jadi domba
yang dilepas ke padang serigala.

2017

Enigma

Buah telah terpetik dan tak akan
pernah bisa kembali ke carangnya.

Dan cinta akan merupa doa sepanjang
perjalanan, tak akan kembali, sebelum
kau pergi dan datang lagi.

Kau pasti akan menunggu, seperti tanah
menanti benih, seperti masa panen
di ingatan para petani itu.

Sedangkan cinta adalah bentuk gerabah
yang sempurna jika putarannya telah
berhenti, sebelum pergi ke tungku bakaran.

Ia bukan ciuman di hari pernikahan.
Bukan juga jejas ombak di pasir pantai.

Cinta adalah tetes tangisan ke atas nisan.

2017

Kota

Ia akan datang dan mengetuk pintu rumahmu
seperti seseorang tersesat yang di Sodom
dan menyalahkan nasib -- hidup yang berkutat
dari kutuk ke kutuk.

Sebentar, api sudah terlihat di langit.
Sementara kau bingung menyuguhkan:
kopi atau teh pahit?

Ia terlihat tenang ketika duduk, sedikit
mengantuk tapi mengingat -- ada yang harus
jatuh dengan keras. Entah sedikit rasa gugup
atau sesaat mimpi buruk.

Aduh, orang-orang mengepung jalan
dan berkerumun di gang-gang sempit.
Mengapa kau tetap bertahan bahkan
bertanya: Sudah lewatkah masa sulit?

Ia belum mau mengajakmu ke luar dan
mendesakmu beranjak. "Jangan lihat!"
katanya, "Sebentar lagi akan ditegakkan
tiang-tiang garam."

Sebentar lagi. Sebelum datang malam.
Dan kotamu akan penuh seperti dada perempuan.

2017

Dalam Taman Mawar

: untuk Ale

Kau bangkitkan lagi kekaguman
seperti pagar. Ia yang putih dan tak
ingin letih. Kabut akan menyekanya
dengan sejarah perih.

Dalam taman mawar, kau tak
bicara sorga -- tapi duri. Ia yang
serupa rindu seorang ibu. Siapa
tertusuk dan mengaduh pilu?

Dengan bahasa daun dan rumput
lembut, kakimu melangkah ke rumpun
paling tengah. Lihatlah! Yang mekar
dan merah. Mayat serdadu

yang tadi harumnya kaucium
pada kitab-kitab hukum.

2017

Memasak Rajungan

Kau tak perlu kepura-puraan
atau ketamakan untuk bisa mencium
wangi lautan pada duri-duri sepanjang
kakinya yang tak kunjung alum.

Ia seperti paderi yang berdoa
ketika menyaksikan peristiwa injili
tiga kota jauhnya dari Thebes, Yunani.

Hanya satu dari tujuh atau tujuh puluh
dari mereka terpilih untuk menuliskan
berapa siung bawang merah dan putih
diiris dan ditumis.

Dan hanya ia yang patuh pada hidup selibat
mampu meneruskan nikmat mana kau pilih --
bertemu Tuhan atau bertamu di lidah tuan
yang mencecap dan menjilati sisa kari.

Jika kau merasa ini kota jauh
dari pelabuhan, maka ingatlah --
dari Kirene, seorang berjalan jauh
hanya untuk ikut memanggul salib.

2017

Tuhan

Sebelum pergi tidur, Ia periksa lagi segala yang tadi pagi
dibangunkan matahari. Apakah tadi yang kuncup sudah mekar?
Apakah Si Sakit sudah bisa bangkit dan melucu di depan cucu?
Apakah ibu yang menangis pilu karena kematian anaknya itu sudah bisa
menangis karena rindu?

Setelah puas memeriksa semua dengan saksama,
Ia membuka kitab yang hampir setua pikirannya.
Dibacanya kalimat pertama dan dikenang apa yang telah Ia lakukan dulu.
Ia tak akan pernah lupa pada rayu malaikat -- jangan Kaucipta dia!
Ia ingat ada yang bersumpah setia tapi memilih pergi.
Ia juga ingat, betapa pintar ciptaannya menghafal aneka nama binatang
dan tanaman sebelum bingung bagaimana nanti dia bisa bertambah banyak
untuk menguasai bumi.

Baru sampai Ia mengingat kapan tepatnya
dua ciptaannya itu diusir dari taman,
matahari sudah terbit lagi.


Ah, mungkin sudah takdirnya tak bisa tidur!

Ia bergegas ke balik kabut di kaki bukit itu.
Menyapa burung-burung dengan kasihnya yang begitu anggun.

2017

Di Mata Musi

: untuk Arco

Di mata Musi,
kesedihan mengapung
pada jeritan burung.

Di bawah Ampera,
ada duka yang tak kunjung
larung.

Dan percakapan kita
seolah buih dan batang kayu
dipermainkan gelombang

di tepian sampan.
Siapa bertabah gelorakan
madah untuk sebuah gundah?

Di mata Musi,
terlihat betapa berat
penyair menuliskan isyarat
perpisahan.

2017

Gong Xi Fa Cai, 2017