Posts

Showing posts from November, 2009

Wacana : Tetap Berhati-hati di Kendaraan Umum

Saya menjadi korban tindakan kriminal berupa perampasan telepon genggam di kendaraan umum yang biasa saya tumpangi dari rumah - kantor pp. Dari peristiwa yang saya alami, saya melihat ada dua trik yang dilakukan komplotan tersebut. Saya mengatakan komplotan karena pada trik yang pertama ada seorang yang jelas-jelas membantu seorang yang lain. Inilah trik yang dijalankan oleh mereka - semoga teman-teman (khususnya yang di Jakarta) waspada terhadap trik-trik semacam ini.

1. Seseorang dari mereka akan mengingatkan kepada kita "Hati-hati, Mas/Mbak. Handphonenya disimpan saja!" Ini rupanya kode buat komplotan itu beraksi. Jika kita diperingatkan seperti itu, artinya kita sudah diincar oleh mereka. Tanpa pikir panjang, apalagi mikir ongkos, mendingan kita segera turun dari kendaraan tersebut. 2. Menyebarkan pamflet Pengobatan Rematik / Arthristis ala Cina. Tepatnya pijat tradisional. Salah seorang dari mereka akan mempraktekkan pijatan tersebut kepada seseorang yang duduk tepat di …

Merpati yang Dilepas dari Bilik Perahu

1.
dari dadaku, dari bilik perahu, kulepas engkau.
biar pada cabang hijau zaitun, kaupegang ketabahan
yang menahun.

laiknya bandang yang menggunung, terbanglah
engkau! terbang mengatasi banjir yang tak surut,
kerinduan dan sepi yang tak bisa larut. tak akan
pernah bisa.

aku tak akan pernah jadi nuh, sampai kau tempuh
penerbangan perdanamu setelah hujan panjang ini.

2.
dengan cintaku, di lunas perahu, kau kutunggu.
sampai kaubawa pulang sehelai daun. sehelai saja!

larik-larik hujan sudah hilang. cepat pulanglah kau!
bawa berita tentang dermaga sederhana, huma
terbuka dan rindang kamboja untuk nisanku.

hingga namaku dan namamu dapat kutulis
sebagai pesan. Sebagai kiasan akan kebahagiaan.

2009

Beliung

patahkan akar kesetiaan, Teman
karena angin lebih sering mengguncang
atap rumah.

galilah lebih dalam kesabaran
meski hujan dan daun-daun menutupi tanah.

kami berpegang padamu, Teman
pada lahan terbuka dan alang-alang.

agar kami dapat belajar dengan benar
pada batu, lumpur, dan akar tunjang.

2009

Refreshment

Image
Novel saya ini sudah terbit bulan Juli lalu, tetapi belum sekalipun dilaunching.
Bulan ini saya mau memperkenalkan kembali novel saya ini di acara Reboan.
Bagi yang belum menemukan, bisa dilacak di Toga Mas terdekat, sedangkan
di Jakarta sementara baru ada di Gramedia Matraman dan TM Bookstore -
Poins Square Lebak Bulus.

Semoga menyenangkan ... Buat penggemar puisi Bang Hasan Aspahani,
di novel ini bertebaran petikan-petikan puisi beliau ..

Maktab

1.
di luar kita - katamu - sudah terlalu banyak perahu
disesatkan suar, terlalu sesak pejalan kaki ditipu
trotoar, dan ada banyak malam tidur telanjang tanpa bulan.

sebab itu, kau tulis ulang isi kitab pada jendela,
di mana pucat pantai beradu temaram cahaya kota
hingga pias wajah bulan terbelah dua.

lalu kau selipkan sesudu rindu di muka pintu, mungkin
masih ada sadak jejak sepatu - serupa kenangan yang
timpang dan terguncang sepanjang jalan.

"agar mereka tak pernah lupa jalan pulang", katamu.

2.
lalu kau hapus nama-nama di kitabmu; nama pahlawan,
nama pejuang, dan nama mereka yang terbunuh
dalam diam.

namun kau tak pernah menghapus namanya, pelancong yang
datang di suatu malam bertahun silam. "harus ada yang
mesti disalahkan dari hari-hariyang lelah berlari", katamu.

dan kenangan, tetaplah pembunuh ulung! setelah kau bubuhkan
tanda tangan-di halaman kitab paling belakang- kau menghilang.

tinggal pendar bulan…

Caping

kepalamu yang petani, kerap menggarap ladang matahari.
menjalinnya agar ia serupa jala maya daun kelapa,
atau runcing jejarum bayang cemara yang menusuk mata.

di antara pematang, kepalamu bergoyang-goyang.
hingga lusuh kain selendang berhendak mengekalkan.

ah, aku ini meraga angin. iri pada rasa kebahagiaan yang lain.

kepalamu begitu rajin mencuri mataku dari bukit-bukit itu
hingga di tepi laut, di mana seharusnya sudah kularung
perahu, kayuh, dan selubung senja yang menua.

ya. aku sudah merasa yakin. meraba segala yang mungkin.

tapi kepalamu petani yang rajin. dijelujurnya sepanjang
pandang ini dengan segala benih. seperti tak kenal letih.

dan sepertinya aku yang angin tak akan pernah betah
meningkah di akar anak rambutmu.

2009

Aku dan Pantai

Aku dan Pantai

: bernard batubara

Jika ku temukan pantai, menjelmalah kau.
jadi karang.
jadi pasir.
jadi burung.
jadi awan.
jadi kau.

agar bisa aku menarikan
tarian ombak.
tarian angin.
tarian langit.
tarian senja.
tarian cinta.

dan di sebelah dermaga kayu, kapal-kapal nelayan
menghimpun lagi temali sepi dan nyeri yang telah lama
direnggut jauh dari tiang-tiang layar,
jatuh dari bulan yang samar.

Jika kutinggalkan pantai ini, pergilah kau!
jadi angin.
jadi langit.
jadi senja.
jadi cinta.

agar pada setiap karang, rindu ini terus berbilang,
seperti bulir pasir yang kaubilang tak pernah berkurang,
seperti kelepak burung yang kau dengar begitu murung,
lalu lenyap jadi senyap di halau lengan awan,

agar setiap kut…

Lilin 2

Kaukah yang membakar sepi di sini?
Aku hanya gelisah yang menanti.

Lewat pijarmu, ada hal-hal yang selalu
tampak terang dan samar. Seperti malam
dalam mimpi-mimpiku. Seperti kelam
yang semakin menjangkau aku.

Dan kaukah juga itu? Yang kukira mengada
di antara bayang dan gelap ruang. Karena
aku mulai lelah, dilelehkan bara waktu.

Sementara kau tepis hembus dingin,
tubuhku semakin hangus.

2009

Sajak untuk Sang Penari

1.
Raga siapa yang setiap geraknya
adalah lebam dentam kendang
dan piuh temali kecapi?

Selubung kain panjang, riap rambut,
dan gerai selendang menggerakkan
sesuatu yang lain daripadaku.

Hanya jika setetes keringat melunturkan pupur
di kedua pipi, wajahku terlahir kembali di situ.

2.
Siapakah dia yang memutar
pusaran waktu seperti luwes
kibas kipas di tangannya?

Jemarinya seperti tangkai hujan menyapu
pelataran candi, sedang pinggulnya lontar sepi
yang ditulis kembali oleh bayang-bayang.

Akulah yang tak berpayung,
menggigil oleh basah angin sunyi.

3.
Kerling siapa yang menikamkan
kembali karat khianat pada malam
yang sarat menanggung bulan?

Adalah sepasang mata - tak sedang mengamati
aku yang menanti datangnya Sang Mati - merayu
jiwaku untuk terus bersemadi di sini.

Agar kutemukan kembali bilah berkilau
dari Engkau yang selama ini kucari.

2009