Posts

Showing posts from July, 2017

Puisi-Puisi Berlatar Imlek

Cahaya dan Warna

Cinta itu gelap, katamu,
karenanya aku meraba,
mencari, dan bertanya;
"Apakah Kau cahaya dan
semata cahaya?"

Cinta itu nir warna, katamu,
setelah bergelap, berterus
terang, menemu yang padat,
seterui yang mekar, dan me-
mahami yang berguguran.

"Apakah ia yang serupa bening
prisma, dan segala warna dari
cahaya diteruskan dari sana?"

Ia meyakinkan diri. Meyakini
bahwa cinta juga rupa-rupa
warna yang menyebar. Yang
tak dapat ia hitung dengan
sabar, dengan jemarinya
yang bergetar.

2017

Yusuf Meludahi Lututnya

Ia menggulung celana dan meludahi lututnya
seperti menanggung cedera dan ingin menyudahi perihnya.

Ini terjadi setelah sebuah pesta musik bubar,
setelah anak-anak muda saling memberi kabar --
dunia harus dipersatukan dalam satu ikatan.

Ini bermula ketika Yusuf hendak berwisata
ke sebelah utara, dan yang ia sangka sebagai saudara
ternyata dibenci oleh kerabat Yusuf paling dekat.

Yusuf jatuh dengan kecewa.
Lalu hiburnya pada lutut, pada kakinya;
"Sekali-kali, adalah Yakub yang terluka di lututnya.
Setelah bergulat dengan malaikat.
Setelah itu, Allah-nya memberikan nikmat."

2017

Yusuf dan Kubur untuk Yeshua

Ia berangkatkan duka
seperti membebat tubuh Yeshua
dengan kain lenan pilihan.

Ia berangkat dari Rama,
dari kubur perjanjian Samwil
dan Daud, untuk menghibur
mereka yang tak terampil
untuk menyebut Yeshua
sebagai guru.

Ia membuka kubur baru,
"Biarlah, semua kekejaman ini
buyar sebelum hari Paskah.

Jagalah juga dengan seregu pasukan,
sementara kuberi juga waktu meramu
rempah-rempah dan balsam, sebagai
bagian dari upacara pemakaman.

Setelah itu, biarkan aku
hanya bagian akhir
dari suatu pemberian."


Ia jadi semacam kesimpulan --
hidup seseorang kadang
cukup dikenangkan
karena satu perbuatan."

2017