Posts

Showing posts from January, 2009

Aku Ingin Ke Puncak Sepi

Sepatu baru kembali. Keringatnya deras sekali.
"Perjalanan ini tiada henti!" Protesnya kudengar
lirih. Aku, lebih baik tidak peduli karena malam,
ini kali, kurasakan teramat sedih.

Sepatu ingin berhenti. Antara kanan dan kiri
saling berganti menjegal langkah sendiri.
"Aku akan terus berlari!" Aku yang protes
kali ini sebab hampir menetas benih pagi.

"Duhai Penyair, ke mana engkau ingin pergi?"

Aku ingin ke puncak sepi. Di mana tak pernah
lagi kudengar riuh ibukota, keluh ibu kata, dan
rengek sajak-sajak yang ingin beranjak dewasa.

2008

Jika Aku Menulis Surat Untukmu

1/
Jika aku menulis surat untukmu, pada bagian awal,
akan aku cantumkan panggilan sayangku untukmu.
Sebab, sudah pasti, surat ini kutujukan hanya padamu.

Selebihnya, kau bisa tebak, bukan? Aku lebih banyak
bercerita tentang diriku yang merasa rindu, kehilanganmu,
dan bagaimana aku bertahan tanpa dirimu di sisiku.

Ya. Tak ada kamu. Karena memang akan selalu begitu.

2/
Aku hanya akan mencatatkan kenangan pada bagian pesan.

PS : Kau masih ingat pohon kamboja di samping rumah?
Wangi bunganya selalu mengingatkan aku saat kepergianmu tiba.

Karena di batang kamboja, kita saling menuliskan nama
dengan tanda hati di antaranya. Dan sebuah kalimat yang kita
sepakati bersama; "Sampai kematian memisahkan kita."

3/
Aku selalu ragu untuk mengakhiri. Karena akhir
sangat bisa menjadi mula sesuatu yang lain.

Kububuhkan namaku saja. Nama yang mungkin
bisa mengingatkanmu pada seseorang yang pernah
kaukenal dahulu, atau nanti. Atau mungkin baru
pertama kali kau dengar.

Ingin sekali kutambahkan kata cinta.
Cinta, saja.…

Bagaimana

Bagaimana semestinya
kita mengucap cinta?
Jika telah terbiasa
mengecup kuncup luka.

Bagaimana bisa kita
merasakan rindu selalu?
Jika arah sepatu
tak sepenuhnya menuju.

Bagaimana kita akan
temukan yang sejati?
Jika ragu, segunung batu,
selalu memenuhi hati.

2009

Sajak untuk Addiction

Pakde Totot, seorang penggiat di dunia advertising dan juga sastra sedang mengupayakan lahirnya kembali majalah periklanan ADdiction, yang diberi nama ADdiction 2.0. Lewat facebook, saya mendapat undangan untuk mengirimkan sebuah sajak pendek yang rencananya akan dimuat di ADdiction 2.0. Sajak itu disyaratkan sebagai sajak terakhir yang dibuat seolah-olah sedang berhadapan dengan Malaikat Maut. Sajak terakhir dalam hidup seseorang, tentunya. Saya kembali teringat pada sajak-sajak dengan idiom sepatu. Sajak-sajak yang menurut beberapa teman menjadikan mereka menyebut saya dengan istilah "tukang sepatu".Bagi saya, sepatu adalah kedagingan, artifisial life, atau sesuatu yang sifatnya secondary. Tetapi dia juga bisa punya fungsi yang sangat ber-prinsip. Maka lahirlah sajak ini. Sajak yang saya beri judul Sepatu 2.0, sebagai kaitan dengan ADdiction 2.0 juga ...Tidak muluk-muluk, harapannya agar sajak ini bisa dimuat saja ...hahahaHal yang terbersit dari kata kematian, sebenarnya …

Sajak Perdana di Tahun Baru

Entah mengapa saya tiba-tiba suka dengan kubur batu. Sebuah sarkofagus. Padahal ini tahun baru. Hari di mana seharusnya orang suka dengan hal-hal baru. Bukan bagian dari sejarah atau masa silam. Tapi saya merasa ada yang belum selesai di tahun lalu. Dan saya merasa seperti seorang arkeolog. Ingin meneliti apa dan kenapa di tahun lalu. Jadilah sajak ini. Sajak yang menurut seorang teman : kelam.

SarcophagusKau buka juga luka,
pintu yang sesungguhnya
tak pernah menganga.Dan sajak-sajak singgah
seperti bocah-bocah
merayakan Halloween.Ah, kau telah tahu,
betapa rindu aku pada
ketukan-ketukan itu,
sebagaimana darah
yang mengalir pelan,
mengingin jadi sejarah
untuk kautuliskan.Kau balutkan juga sepi,
keranda yang tak pernah
kau usung kembali
ke dalam rumah.Padahal di atas pintu,
telah kutoreh tanda
dan bendera: Ada
yang sedang terkubur
di sini. Seorang saja.2009 Bagaimana menurut Anda?