Sajak untuk Addiction

Pakde Totot, seorang penggiat di dunia advertising dan juga sastra sedang mengupayakan lahirnya kembali majalah periklanan ADdiction, yang diberi nama ADdiction 2.0. Lewat facebook, saya mendapat undangan untuk mengirimkan sebuah sajak pendek yang rencananya akan dimuat di ADdiction 2.0. Sajak itu disyaratkan sebagai sajak terakhir yang dibuat seolah-olah sedang berhadapan dengan Malaikat Maut. Sajak terakhir dalam hidup seseorang, tentunya. Saya kembali teringat pada sajak-sajak dengan idiom sepatu. Sajak-sajak yang menurut beberapa teman menjadikan mereka menyebut saya dengan istilah "tukang sepatu".

Bagi saya, sepatu adalah kedagingan, artifisial life, atau sesuatu yang sifatnya secondary. Tetapi dia juga bisa punya fungsi yang sangat ber-prinsip. Maka lahirlah sajak ini. Sajak yang saya beri judul Sepatu 2.0, sebagai kaitan dengan ADdiction 2.0 juga ...Tidak muluk-muluk, harapannya agar sajak ini bisa dimuat saja ...hahaha

Hal yang terbersit dari kata kematian, sebenarnya adalah pintu. Tapi saya lantas memilih kata "debu" karena orang mati itu menutup mata. Menutup mata lazim bila kena debu. Jadi dalam sajak ini, saya menggunakan kata debu saja untuk menyebut kematian.

Sepatu 2.0

Ini debu, dari langkahmu?
Aku tetap sepatu. Turut selalu.

2009

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya