Posts

Showing posts from August, 2011

Rindu Dalam Kemasan Lagu Rock

O, Dahaga! Betapa kau: cawan kosong itu.

Di punggung bukit, ladang disisihkan langkah
ternak. Disingkur parang dan pangkur.
Musim-musim tidur di carang gelugur.

Di semak-semak, burung-burung
semakin sembunyi
dan bertelur. Tak ada nyanyi itu!

Betapa sumur: Rindu tak berdasar ini.

Kering dedaunan seiring hujan jatuh
di negeri-negeri asing. Masing-masing
lelah dalam ketabahan, untuk tak bisa
dikatakan kalah.

Pada tingkap, debu teramat yakin
akan sebuah niscaya: Mulut angin tertutup rapat.
Tak akan kaudengar suaranya!

Lantas kita menerka wadi: sungai rahasia.
Asal kau minum di sana, bertambahlah usia -

untuk menanggung segala rasa percaya
pada awan-awan gelap, pada sukma-sukma
yang tak pernah lelap,

atau sekedar menunggu kertap di jendela,
pesan untuk menggali -

mendalami betapa sebentar
hal-hal yang telah jadikanmu gentar.

2011

Kepada Pemetik Kecapi

Matanya: nyalang nyala.
Lincah unggas di tenang telaga.

Jadi gairah yang dilukar, dibakar,
dan diunggunkan
di tengah-tengah buncah bungah.

Terarah sungguh pada nyanyi
para pemuji. Dari tadi, tepat sesaat
jari-jarinya: kepak sayap di antara
riak dan rimbun teratai itu.

Ada api yang berderak, meluluhlantak,
dan mengabukan
seluruh pilu dan sepuluh nyeri ngilu.

Sesudahnya, telinga kita: mendaras lagu,
melaras nahu. Semacam taklimat dari
beragam kalimat penuh hikmat.

Hingga di tepi sebuah danau,
hal-hal yang dulu hanya serupa racau
seluruhnya terjangkau: Engkau.

2011

Semacam Syair Balada Tentang Masa Remaja

Masa remaja itu, bunga rumput itu,
di antara ilalang dan kembang,
angin memagut, mencium lembut.

Melepaskan kelopaknya. Membebaskannya
ke udara. Seperti kelepak itu, di langit itu.

Kita memandang dari lembah ke luas padang,
sambil bergumam,'begitu bebas, begitu lepas, begitu lekas.'

Masa remaja itu, pijar matahari di pepohonan,
gelap sekilas membayang, di antara tajuk dan daun.

Disinarinya: kelinci dan tupai yang berloncatan,
seperti irama lagu itu, di telingamu.

Di danau, di hampar yang berkilau,
seorang pemancing menarik senar,
seekor ikan menggelepar.

Kita menahan nafas. Sebentar saja. Hanya selintas.

2011

Gelembung

Kenangan nampak seakan kanak
yang bermain tiup gelembung.

Kita selalu dibuat kagum:
tubuh bening, pukau kilau pelangi,
dan yang tinggi membubung.

Kita juga dibuat maklum:
ketika meletup saat ditiup,
pecah dia di udara, dan di lantai
tinggal selingkar tanda.

Kenangan seperti anak itu,
senyampang hari terang,
terus menghembus.

2011

Dubia

Mendungkah yang menyurungkan hujan hingga ia jatuh ke tanah,
ataukah Kita yang tak sanggup menahan kepedihan, hingga harus
membagikan basah kepada semua?

Langitkah yang menyalakan warna-warni pelangi ataukah Kita merasa
berbahagia hingga kepergian mendung dan hujan kita rayakan dengan
lambaian pita-pita di udara?

Jalan basah dan berlumpur itu, diakah yang menghalangi perjalanan
atau Kita yang masih ingin berkesah dan menekuri apa yang tak dapat
diraih dari hari ini?

Di pantai, ombak yang berdebur-debur, keluhnyakah yang Kita dengar
setiap kali merasa rindu? Atau hanya deretan perahu yang tubuhnya
dikosongkan dari layar dan jangkar?

Mobil-mobil yang lalu lalang, pelajar dan pedagang yang diangkut
dan diturunkan, apakah dari antara mereka Kita belajar tenang? Apa
luasan laut yang menghanyutkan sebutir kelapa membuat Kita tetap
waspada dan berjaga?

Himpunan pokok nyiur, pantai yang tampak pucat itu, apakah mereka
mengajarkan pada Kita untuk setia? Mungkinkah memang pekik camar
dan ringki…

Apel

Jika kelak aku terjatuh, jauh dari rengkuh
dan tiba pada ribaan lara, kau akan kukenang
sebagai dahan, cekatan meluruh selembar daun.

Juga tepat sebelum lalat buah sempat singgah
dan menitipkan puluhan telur yang renik itu,
kau embun, pembasah dan pembasuh sulit sakitku.

Meski pernah terlintas, di getasnya waktu, kau
adalah dia yang begitu tertarik pada pelik daya tarik
dan aku hanyalah apel yang tiba-tiba jatuh.

2011