Posts

Showing posts from 2006

catatan akhir tahun

jika tanah masih berhumus
kukira engkau yang begitu tandus
menyemai embun dengan kenangan
tanah merah pekuburan
tempat ibu memetik bunga kamboja

jika hujan masih basah
tak hanya aku yang begitu resah
nikmati luka luka penuh nanah
bumbu hidup bertabur garam
di sana engkau banyak temukan diam

hanya angin pengembara
teman lelaki pengelana
di sebuah negeri tanpa nama
mereka bisa tertawa bersama

aku dan kamu, entah siapa
dan mereka masih berduka

setidaknya

setidaknya, biarlah kepedihan
tertancap di punggung kami walau sejenak
biar dada ini tak selalu tegak

setidaknya, hentikan sebentar
lari kami yang hilang arah
sebab kadang kata terendap
di sela sela batu dan tanah

setidaknya sejenak
biarkan kami berbaring
bersama bumi
di bawah matahari yang sama

mahaduka

1/
luka mendedah air mata
ada kenangan terbuka
saat kita tak menginginkannya

2/
duka serupa langit di hari petang
sebentar lagi malam akan mengekalkan warna hitamnya

3/
air mata kembali meruah
banjir tak berkata sudah
sungai alirkan resah
hujan nyanyikan warna darah

di sini, kami menghitung tubuh kami sendiri
dalam gigil yang tak kunjung musykil

[Pernyataan] Cak Bono dan Asosiasi

Asosiasi dan hasil proses asosiasi berawal dari persepsi -"esse est percippi". Sebuah persoalan persepsi tentang bagaimana kita melihat suatu realitas. Misalnya saat bersama-sama berkumpul di Stasiun Gambir sambil melihat langit sore yang merah dan juga Tugu Monas yang tegak berdiri di sana maka akan banyak persepsi yang tidak akan sama antara satu orang dengan orang yang lain. Dari satu peristiwa di atas, akan ada banyak kalimat-kalimat puisi yang tercipta, misal :
"Senja yang menepi dijemput malam" - Johannes Sugianto
"Sore itu perih sekali" - Cak Bono
"Kerlip binar matamu : airlaut yang menggerus lunas perahu" - Dino F. Umahuk
"Langit sore menari gemulai" - Anto Bugtronic
"Jingga melarut pada malam" - Fitri

Menurut Cak Bono, salah satu ciri orang yang berbakat puisi itu ekspresit, melatih berkata-kata setiap saat, sedikit demi sedikit. Sebab puisi adalah kata yang dilatih.

Pada setiap persepsi, ada lautan bawah sadar. Yang j…

dari sebuah kalender

1/
lautan airmata
angka di kalender
menghitung jumlah luka

2/
angin seolah tak ingin ribut
hujan telah terdiam di kolam lumpur
menanti suara terompet dinyaringkan

kaki ini kami tarik ke atas
hindari tanah yang bergerak basah
sambil mengisak dalam diam

angka kembali menjadi juri
suara siapa yang paling lantang

3/
tahun ini hujan penuh
isak kami juga jenuh
mungkin lewat malam
ada seseorang tertawa riang

desember di hatimu sungguh hangat

dekat perapian dan pohon terang
semisal lilin di atas meja
bertatap mesra anggur dalam cawan
sepasang anak dara
bersayap tipis salju

dalam kaos kaki tebal
dan rimbunan kotak berpita
semisal lonceng yang bergema
ditingkahi terompet sukacita
rusa rusa berlari
menanti bintang fajar

kelambu

: anb

selalu saja ada gangguan
setiap malam sebelum terpejam
sebuah doa yang belum terucapkan
bahkan seekor nyamuk yang cari makan

lalu aku masuk ke dalam kelambu
satu-satunya teman tidur yang tenang
ia redakan gangguan malam

tapi aku malah tak bisa tidur
berpikir kelambu ini begitu nakal
dipenjarakan aku dalam ruang
dengan alasan menahan nafsu jalang
milik nyamuk-nyamuk kelaparan

aku ucapkan sepotong doa
"biarkan kelambu itu tidur, Tuhan"
sebab malam masih teramat panjang

[Sajak Emily Dickinson] Life part IX

THE HEART asks pleasure first,
And then, excuse from pain;
And then, those little anodynes
That deaden suffering;

And then, to go to sleep;
And then, if it should be
The will of its Inquisitor,
The liberty to die.

===

hati ini lebih dahulu meminta bahagia,
dan di sana ada maaf dari duka,
dan di sana pula ketenangan sementara
yang merana meredam lara

lalu untuk bisa tidur;
seperti yang seharusnya
wasiat dari Sang Penanya,
kebebasan untuk mati


[Sajak Emily Dickinson] XXIII

XXIII

I REASON, earth is short,
And anguish absolute.
And many hurt;
But what of that?

I reason, we could die:
The best vitality
Cannot excel decay;
But what of that?

I reason that in heaven
Somehow, it will be even,
Some new equation given;
But what of that?

===

kusadari, hidup begitu singkat,
dan kesedihan mendalam yang nyata.
dan banyak luka;
tetapi apakah itu?

kusadari, kita akan mati:
daya hidup paling luar biasa
takkan bisa melampaui kehancuran
tetapi apakah itu?

dan kusadari nanti dalam surga
yang entah, tapi pasti terjadi,
ada kesetaraan baru yang diberi;
tetapi apakah itu?

[Sajak Emily Dickinson] Life II

II

bagian kita dari malam adalah menahan,
bagian kita dari pagi,
kekosongan kita dalam bahagia adalah mengisi,
kekosongan kita dalam hinaan.

bintang di sini, dan bintang di sana,
kadang hilang arah.
embun di sini, dan embun di sana,
esok hari!

punggung ibu

seruling gembala tak bisa lagukan sepi
sebagaimana lembu dan domba memamah pucuk pucuk muda dengan gembira
"hutan semakin menua nak, pungutlah kayu bakar dari semak saja"
di tepi padang aku dan ibu duduk memandang gunung
di sebelah sana langit tampak murung
mungkin dia iri pada keceriaan gembala dan ternaknya
atau pada ibu dan aku?

hari menjemput hujan saat kami melangkah pulang
ibu dan aku berjalan beriringan menyunggi kayu bakar
kulihat punggungnya makin runduk
sementara hujan makin peluk
tapi ibu berjalan cepat, ada yang harus dia kejar
"ayo, nak! ibu belum masak untuk makan malam!"

sayup-sayup kudengar gembala berdendang melayu
menggiring ternaknya ke rerimbunan bambu

aku belum bisa menulis rindu untukmu ibu

1/
aku belum bisa menulis rindu untukmu ibu
seperti hujan yang menyapu bumi
rinainya rintik di tengah telisik waktu

dan daun pun luruh
tak sanggup memeluk rengkuh
tak ada lagi yang tumbuh
setelah dia jatuh

2/
angin telah berlalu
musim menggigil pilu
kesetiaanmu bagaikan batu
menilam sunyi yang bertalu

3/
aku belum bisa menulis rindu
kepulanganku terbalut ragu
di antara kaki, tangan, dada dan rambutmu
aku tersesat tanpa malu

maafkan aku

tangis ibu

ketika hujan, ibu tak segera memanggil matahari
dibiarkan sejenak aku kuyup dan rinduku begitu gugup

tak berani aku bertanya tentang kehangatan
sebab sudah lama aku tak mencatat kenangan

ibu hanya diam kala air mulai menggenang
"cobalah untuk berenang"katanya tenang
aku tak berani membantah
"sebentar lagi hari cerah", pikirku

ketika matahari datang
kulihat ibu tersenyum senang
dielusnya kepalaku
"kau sudah belajar tentang cuaca" katanya

ada yang samar di balik mata ibu yang berbinar
"kenapa aku tak sempat mencatatnya?"

sepatu untuk ibu

ibu menebar benih di awal musim
maka pada setiap jengkal tanah ladang yang ditugal, kaki telanjangnya simpan sebuah rahasia
"kau akan mengetahuinya nanti setelah berbuah"

dan dimintanya aku tenang karena hujan mulai kerap datang

menjelang panen, bapak mengundang tukang ijon
rahasia kami pun bertukar dengan angka
padahal aku sangat ingin tahu bagaimana rasanya buah hasil semaian ibu

"kau tak perlu sedih, nanti kau bisa buat kebun sendiri"
aku pun mulai membayangkan diriku bisa bercocok tanam

tapi ibu kemudian bercerita tentang luka patukan ular di kakinya
"kau juga harus siap bertarung dengannya di kebunmu sendiri"

tiba-tiba aku ingin mengadu kepada bapak
meminta sebagian hasil penjualan untuk membeli dua pasang sepatu : satu untukku dan satu untuk ibu

Tak Ada Saran dari Pablo Neruda untuk Para Penyair Muda

Ketika diminta untuk memberikan saran kepada penyair-penyair muda, Neruda sepertinya enggan. Katanya tak ada saran yang dia bisa berikan kepada penyair-penyair muda. Sebab menurutnya, para penyair muda harus mencari jalannya sendiri, dan harus menemukan kendala saat ingin mengemukakan perasaannya dan harus mengalahkan kendala tersebut. Apa yang tidak akan pernah disarankan kepada penyair muda oleh Neruda adalah memulai dengan puisi politik. Puisi politik punya emosi yang sangat pelik dibanding dengan yang lain - setidaknya seperti kebanyakan puisi cinta - dan tidak dapat dipaksakan karena ia akan menjadi vulgar dan tidak dapat diterima. Sangat perlu melalui banyak jenis puisi sebelum mendalami puisi politik. Penyair politik harus mempersiapkan diri menerima kecaman yang ditujukan kepadanya - penyair yang berkhianat, atau karya sastra yang berkhianat. Kemudian juga, penyair politik harus mempersenjatai dirinya dengan kekayaan isi, substansi, intelektualitas, serta emosional yang…

ibu itu

ibu itu perempuan berdada lembah
di mana burung-burung singgah
dan anak domba bermain lincah

rambutnya cakrawala yang senja
aku sering tidur di sana
memainkan mimpi di ujung-ujung malam
dan bernyanyi lagu "bubuy bulan"

sebelum kudengar dia berkesah
ke dunia tanpa makna, aku berpindah

ibu kerap memainkan harpa
senar senar begitu getar
rumah ini penuh hingar
walau pun bapak tak pernah punya kabar.

ibu tak pernah pakai sepatu

kaki ibu adalah jalan yang kulalui
ketika pergi ke sekolah
aku seringkali terjatuh
dan terantuk bebatuan di sana

"kau harus hati-hati melangkah.
sepatumu itu hasil keringat bapak.
peliharalah sampai lulus nanti"

sejak itu, aku lebih sering jalan telanjang kaki

sepatu pelari

dia punya sepatu pelari
tapi lebih suka lari telanjang kaki

dia memang sedang tak ingin berkeluh
tentang kerikil di jalanan yang mendaki

dia ingin sepatu itu punya cerita
di sepanjang pelariannya sendiri

barangkali tajamnya kerikil itu nyata
dan perjalanan memang begitu mendaki

pada sepertiga malam

1/
sebab jemari ingin begitu gundah
hingga setiap pori menjadi api

lalu memadam usia malam di sepertiga
puncak kenikmatan

tepat sebelum kaubuka seluar
di mana embun berkibar
juga musim seruakkan wangi tubuh

2/
di simpuh kakimu yang terlipat
kuletakkan sudut kening
supaya lebih dekat kucumbu
aroma surga

tapi ah, kenapa selendang itu begitu
halangi pandang?

3/
sungguh, sudah ada yang terkulai
sebelum jalar desah nafas berkibar
di seluruh dinding kamar

pada cawat malam yang hampir terlukar
aku terbakar ingin yang tak kelar

kepada seorang penyanyi rock

di balik panggung aku pikir ada malaikat berjubah hitam bertanya padanya rasa seteguk anggur
: "kau sering mencecapnya, bukan?"

dengan suara serak, kau bicara tentang semangat
dan ribuan orang mengamuk lantaran tidak punya tiket masuk

tapi sepertinya, ini malam sangat biasa
hanya ada embun sebelum hujan turun

di atas panggung, sesuatu telah terkurung
mungkin sebutir anggur yang turun dari surga

kepada seorang penyanyi dangdut

sepertinya Tuhan tiupkan ruhmu dari kelopak tangan
hingga tak sanggup lagi irama melawan indahnya tarian

lalu tabla jadi hentakan kaki
tak lupa seruling liukkan pinggul

semenjak panggung didirikan
ada yang hilang dari tatapanku
mungkin tersesat di rumah seseorang

sajak sebuah selimut

dari balik selimut tua
tiba-tiba sajak itu tersingkap
selepas tidur, sebelum bangun

dia telah setia menyelimutiku
hindarkan tubuh dari dingin subuh
tapi aku masih penuh gigil

entah karena usianya yang menahun
atau punggungnya tak lagi utuh
tak cekatan lagi dia tangkap dingin
bahkan sering gagal tangkup kehangatan

tapi kata kata akan tanpa makna
jika sajak pergi begitu saja
segera kurapikan tidur juga melipat mimpi
dan akan kuselimuti sajak itu

kutemukan sepi saat musim berbunga

oh, musim berbunga
di mana kan kutemui sepi?
sedang di sini lebah dan kumbang
belalang dan kupu kupu
riuh beterbangan

di gersang ladang, telah kutinggal sebuah sajak
tunas semanggi berdaun empat
katamu : "ah, itu keberuntungan semata"

lalu kau terbang
entah bersama lebah, kumbang
belalang atau kupu kupu
pikirku : "dan bunga tak lagi bersenandung"

di ladang ini, kutemani tunas semanggi
dan seperti kau pernah berjanji
"keberuntungan tak datang setiap kali"

sajak di ladang

1/
seperti juga rindumu, pucuk pucuk bernafas angin
sedang sepatuku masih bertemali ragu
jika cintamu begitu, daun pun melayang ke bumi
tapi arti perjalanan ini belum kutemui

2/
maka di langit janji kutabur rupa
benih yang disemai di ladang kita
dan jika pada suatu musim terpetik berita
aku akan pulang untuk menjemputnya

kembang kertas

Image
duh, kembang kertas
rindu siapa t'lah meretas?
esok seperti hari yang lari
di mana sunyi lahir sendiri

bunga bakung

Image
sesederhana bunga bakung
aku memelukmu dalam rindu
di bawah langit mendung
biar hanya kita yang menjadi debu

lily casablanca

Image
1/
lelaki bermata basah
perempuan berwangi resah
mendekap hari yang paling lelah

2/
oh, di dada ini ada yang meletup!
sebab wangimu melesak begitu dalam
dan paru paruku begitu kuncup
di dekatmu, aku serupa bayang kelam

3/
gaun perempuan itu masih putih
sedang wangi tubuhnya resah
di sebelahnya, mata lelaki itu basah
pandangnya menghujam ke bumi

bunga ilalang

1/
ah, andai sajakku terdampar di sisi lembah
akan kukenali kau, bunga ilalang
sebab dalam perjalanan panjang
selalu ada kata singgah

2/
anganmu terlalu ingin taklukkan angin
hingga arah berdesah pasrah
dan sajak ini mungkin terlalu lemah
tuk hangatkanmu di hari dingin

3/
di sisi lembah yang sunyi
cuaca dingin paksaku bernyanyi
lagu tentang bunga ilalang
yang lama t'lah menghilang
: di manakah dia singgah ?

kamboja

1/
tak pernah musim begitu mendung
ketika sajak luruhkan murung
jatuh ia sebagai gerimis
kuburkan sisa sisa tangis

2/
di pekuburan tanpa nama
di kuncupmu sajak berbunga
di dada ini masih ada kata

3/
kamboja di ujung senja
siapa terkubur sia sia?
sebab malam nanti
sajakku akan terkubur di sini

Penyair Bulan Desember : Emily Dickinson

Berikut ini adalah biografi Emily Dickinson yang saya temukan di sebuah situs online-literature. Emily Dickinson saya pilih sebagai penyair bulan Desember karena dia lahir di bulan Desember. Di samping itu, banyak penyair Indonesia yang mengakui terpengaruh oleh kepenyairannya.

Dia dianggap sebagai penyair Amerika yang paling berpengaruh pada abad ke-19. Dia banyak menggunakan baris tak berima. Menggunakan tanda penghubung yang tak umum. Juga huruf-huruf kapital yang menurut orang banyak tidak pada tempatnya. Tetapi dia sangat kreatif dalam hal penggunaan metafora dan gayanya sangat inovatif.

Dia wanita yang sangat sensitif. Mengeksplor secara kejiwaan spiritualitasnya. Bahkan puisinya terasa sangat personal. Dia kagum dengan karya John Keats dan Elizabeth Barrett Browning, tetapi menghindari gaya berbunga-bunga dan romantis. Selama hidupnya dia menciptakan puisi yang murni dan mengandung imaji-imaji, bersamaan itu dia menggunakan kata dengan sangat cerdas dan mengandung ironi.

dan malam pun sempurna

ular melacak panas di udara
sebelum didapatnya mangsa

ini saat lelaki merintih
tersebab luka yang perih
perempuannya lebih ingin
mendekap malam yang dingin

dan malam pun sempurna
seperti ular menelan mangsa
seorang lelaki tanpa nama
merupa hampa di rongga dada

ah, itu perempuan mendesis!

pedas di ujung lidah

seperti sudah diduga, air mata perempuan itu jatuh ke pasir bukit
sejak semalam telah disandangnya rasa sakit

di seberang gunung, lelaki yang sangat dikenalnya gelisah
seekor ular mendesis di sebelahnya seperti ada pedas di ujung lidah

pesta buah berlangsung di saat yang salah
mereka tercerai mencari penawar tulah

dendam ular

mata itu selalu terbuka
meski di dalam liang tanah

sehabis berburu tikus
seekor ular merapal mantra

ada yang tak akan dikatakan
sebelum empat puluh hari lamanya

dia ingin lanjutkan tidurnya
di dunia yang lebih hitam daripada dendam

kamus seekor ular

dia begitu setia mencatat celah ketaksetiaan
guratan guratan ingkar api di pohon itu

"suatu saat, pintu ini takkan tertutup rapat"
gumamnya memandang ranumnya buah

lelaki itu pergi ke ladang
menanam pisang, mengusir babi hutan
perempuan tidur memeluk selimut kesepian

lalu entah dari mana asalnya rasa haus itu
ke arah yang sama mereka menuju

"mungkin ini saat membuka diri"
ular bergumam, sebutir buah ranum sudah mereka genggam

api melingkar lingkar di pintu tak tertuju
ular itu entah kemana berlalu

embun ini tak lagi sunyi

1/
embun ini tak lagi sunyi
ada ratapan di tiap helai daun
tersisa di kabut senja
hari ini, angin merana

2/
bisu pun tuntas membeku
angin telah berhenti menyapa
sesuatu luruh sebelum musim berganti

3/
inilah musim tanpa angin
di mana lelaki pergi dan wanita menanti
pohon pohon lagukan sunyi
embun pagi membeku sendiri

peri mimpi

setiap malam, peri mimpi datang di balik selimut
mengajakku pergi ke negeri negeri jauh
dikenalkannya padaku senyum senyum manis
dan mengulang celoteh terakhir yang paling berkesan sebelum tidur

tetapi kadang dia jahat juga
diajaknya monster monster menyeramkan
untuk main kejar kejaran juga smack down
aku pun ketakutan dan jadi ingin pipis

untunglah ibu sangat baik
biasanya sebelum tidur aku diminta pipis terlebih dahulu
dan juga berdoa agar peri mimpi tidak terlalu usil

nama yang diam

(kolaborasi puisi dedy tri riyadi dan pakcik ahmad)

ada tiga ratus enam puluh makna diam di sekeliling nama itu
empat kali langit berputar bertukar sunyi di antara aksaranya
lalu simpuhku menjadi debu
dan angin menerbangkannya ke lempung berbentuk bejana

dengan yakin yang sungguh, aku mendengar keluh "Siapa yang tak patuh?"
bibirku jatuh menuai derak yang terdengar bernada rapi
satu satu bulurindu menjelma dalam wujud malaikat tanpa sayap
daya sebesar buana pun melontarkannya mengawang

jiwa kelana tak ingin singgah, tapi ada yang membuatku harus pasrah
kukutip satu persatu tanggalan masa pada bulu bunga ilalang
sepertinya ketetapan sudah menjadi jerat bagi hasrat yang hilang
o diam, o bungkam, kelukan aku

hikayat seorang lelaki

dia seorang wanita yang menanti
karena sepi dipukulnya ranting pohon itu
pohon yang dijanjikan untuk tidak dijamah

seekor ular mendesah pelan
"kenapa kau bangunkan tidur panjangku?"
dia butuh seorang teman yang bisa diajak bercakap-cakap tentang keindahan

ular lalu bercerita hikayat seseorang yang sangat dikenalnya
tapi wanita itu teramat bosan
tak sengaja tangannya menyentuh sebentuk buah
ular memekik "apakah itu hatimu?"

pada seseorang yang tak dicarinya
wanita itu membuka telapak
"kamu mau?"

dewi malam

tak pernah lengkap catatanku tentang dewi malam
yang kuingat adalah kecupan ibu, dongeng yang tak kunjung tuntas,
dan teriakan "goool" milik bapak.

dari mulut penjaga sekolah yang terkantuk
yang kudengar tentangnya hanyalah suara kodok, derik jangkrik,
dan ratapan musang kekenyangan.

jika nanti aku bertemu dewi bulan
akan kudongengkan kisah penjaga sekolah
tapi yang pasti aku akan berteriak sekeras-kerasnya melebihi teriakan bapak.

Tuan Matahari

:HAH

Tuan Matahari, demikian kusebut teman bermainku
setiap pulang sekolah diajaknya aku membuat bayangan

Namun Ibu selalu mengingatkanku untuk segera tidur siang
dia tidak ingin kulit anaknya menjadi hitam

Aku jadi ingin bertanya pada Tuan Matahari
adakah seseorang yang bersembunyi di balik punggungnya
dan bersiap dengan cat hitam di tangan untuk melumuri kulitku

bersandar

tak usah saja ada jendela terpasang di dinding gerbong
sebab tak seorang pun dari kami ingin melukis pemandangan

juga bangku bangku itu tidak perlu,
toh duduk dan tidur kami selalu beralaskan koran bekas
di sepanjang lorong gerbong

kami akui dalam perjalanan ini
ada yang sibuk sorongkan karcis untuk dilubangi atau
bahkan banyak yang menghindar dari kondektur

tak ada yang sempat nikmati warna langit dan hembus udara
sebab lelah ini lekat benar di punggung kami
dan tak pernah bisa bersandar

beristirahatlah (dalam) damai

1/
sebelum pesan itu sampai
ada nada yang tabah menunggu
tidakkah kau terganggu?

2/
jika damai beristirahat
maka kita harus kerja keras
untuk membangunkannya

3/
istirahat tak sama dengan menunggu
padahal sama dalam artian jeda waktu

4/
kata damai sudah lama
terpahat di batu batu
nisan tempat bermain
petak umpet saat kami
masih kecil

saat melihatnya, aku
berpikir mungkin dia
juga sedang bermain
petak umpet bersama
kami

tapi mungkin dia
sebenarnya tersesat
atau bahkan tak mau
kami temukan

di bibir ini ada nama

1/
nama itu serupa hujan
basah dan dingin
maka bibir ini tak pernah nyaman
selalu luapkan banjir kata
hanya untuk lebih sering
basahkan hati

2/
mengeja setiap huruf
dalam nama itu
memecah setitik beku
dalah hati ini

3/
tiba-tiba saja
bibir melahirkan kata
dan kemudian
kita beri dia nama

4/
di bibir ini ada nama
meski hanya sebuah kata
namun selalu punya makna
begitu dalam di palung hati

rindu dalam kwatrina

1/
haus ini telah kering bibir
kemarau panggang gelisah usang
hujan di langit tak jua hadir
berjuta harap jadi ilalang

2/
bulan pucat pasi
malam tanpa isi
angin mendadak pergi
dengan siapa aku di sini?

3/
bulan di langit kemarau
pucuk ilalang tegak kaku
suara rindu telah parau
mengusir sepi di sebelahku

Membaca Darwin

1/
ada yang purba dalam kepala
darwin pun menerka sejarah
dan tiba-tiba seekor kera
muncul pada halaman tengah

2/
begitu purba begitu lemah
begitu juga sejarah
ada dua bayang di buku tua
darwin dan sesuatu entah apa

3/
aku terlalu sibuk
membaca darwin
tapi tak ada kera
di halaman selanjutnya

porong merongrong

ada pemberontakan. aku pikir itu laut. lengkap dengan ombak.
bergemuruh. orang-orang bersenjata. aku kira itu bukan cuma
senjata. tetapi itu laut. sengaja menyorongkan senjata. seperti
tombak. aku yakin itu pemberontakan. bukan cuma laut. angkatan
yang bergelora. orang-orang mencari suaka. berlarian ke arah
laut. itu bukan kejadian biasa. bukan senjata biasa. itu tombak.
memberontak di dada. darah bergelora. ada lautan darah. aku
kira itu lautan orang. berenang dengan satu tujuan. mencari
senjata.

misteri secangkir kopi

hirupanku tak lagi tuntas
pada secangkir kopi pagi
ada yang menjadi ampas
ketika tersibak satu misteri

seorang gadis pembuat kopi
memasak biji kopi pilihan
ekskresi musang bulan
ditambah segenggam jagung kering

oh, tak sanggup lagi aku minum
kopi ini terlalu penuh rahasia
meskipun gadis itu tersenyum
di cangkir itu terbungkam kata

cinta dalam kwatrina

1/
serupa musim geliatkan mentari
begitu ingin gairah hariku
menderai angin lagukan rindu
demi gugurnya tanda yang menanti

2/
seiring layu bunga mimpi
nyalang benar mata inginku
cinta ini tetap kucari
meski nyata masih lah jauh

Sesaat Sebelum Kereta Masuk Terowongan

1/
jendela merekam cahaya
yang paling berbinar
lalu dititipkannya di pelupuk mata
"diam, jangan beranjak dari sajak"

2/
aku mendekap dadaku sendiri
kurasa gemuruh yang lebih deru
dari kereta yang melaju

ada getar menghentak
di setiap sambungan rel
terowongan tawarkan malam
di hari yang siang

ah, aku tak siap untuk pulang!

3/
dalam gelap
kudengar suara ratap
dada ini terpaksa erat kudekap
"puisi, puisi, kenapa kau pergi?"

4/
di pelupuk mata
cahaya berpendar sebentar
lalu entah siapa yang berpuisi
tentang matahari yang sama
menunggu di seberang sana

5/
sambungan rel di atas jembatan
melagukan rindu yang sama
berderap ke kota yang sama
di mana kenangan lama terbaring
di bawah matahari musim kering

6/
di dada ada degup
sebuah rindu meletup
tapi tak kulihat gugup
meskipun cahaya kian redup

(Obrolan) Dari Siang sampai Malam bersama Joko Pinurbo

Siang itu, di teras sebuah kamar audiovisual milik Johannes "Gie" Sugianto, saya berbincang sedikit dengan Joko Pinurbo. Mengganggu waktu istirahatnya. Ada kesan gelisah yang saya temukan pada wajahnya. Entah apa. Mungkin dia sedang berpuisi di dalam hati. Maka saya pun mulai bertanya yang ringan-ringan saja.

+ Apa yang menjadi inspirasi anda dalam mencipta?
- Apa saja. Semua hal di dalam kehidupan adalah inspirasi.
+ Apa makna celana dalam puisi anda. Saya menerkanya itu seperti hidup dan kehidupan.
- Ya bisa dibilang seperti itu. Di dalam hidup ini kan ada yang bersifat essensial dan ada yang artifisial. Ada kan orang yang hidup tapi mati secara kehidupannya?
+ Saya sangat tertarik dengan sajak Ranjang Ibu.
- Wah, sajak itu banyak sekali yang bilang paling menarik. Itu memang ranjang yang berderit-derit seperti punggung ibu.
+ Saya pertama membaca sajak itu, saya pikir anda tidak bisa tidur lantaran ibu sedang sakit. Tapi kemudian saya baca lagi wah ..dalam sekali makn…

Ketika Musim Berbunga

ketika musim berbunga
angin salah menerka arah
sunyiku pun tak lagi indah
taman berpagar gundah

nada lagu rock

satu nada tinggi
dari lagu rock tentang pagi
kucuri dalam sepi
nanti jika engkau pergi
kan kupakai
'tuk bisikkan namamu

Sepatu Budi

Budi pergi ke sekolah tanpa sepatu
ketika guru memintanya menulis cita-cita
dia tuliskan kata dengan huruf kapital
"Aku bersekolah supaya pintar.
Setelah lulus nanti, aku akan bekerja.
dan gaji pertamaku nanti akan kubelikan
sebuah sepatu baru."

selembar sajak di kelopak mawar

mawar yang indah
merahnya menidurkan malam
yang penjarakan bulan
di pelupuk mata

hingga titik titik embun
hanyalah sisa peluh
tak tamat ditulis

pada setiap kelopak
kutemukan selembar sajak
tidur di tengah gigil
kerinduan malam

mawar yang indah
dan aku yang lelah
merangkai panorama
langit tanpa bintang

Kita pun Bertukar Sebelah Sepatu

Sajak Hasan Aspahani
: Dedy TR

KITA dulu bertemu ketika kita masih belajar berjalan.
Masih sama telanjang kaki. Kau membanggakan
parut di telapak dan lutut. Aku bercerita soal sakit
ketika rambut yang mulai tumbuh di kaki harus dicabut

KITA pernah terpincang-pincang. Nyaris saja jatuh. Dan
mengira gunung yang hendak ditaklukkan terlalu tinggi
untuk kaki kita yang masih juga telanjang. "Kita tak
boleh
letih," katamu. Kita mengenang Sepatu di puncak itu.

KITA bertemu lagi setelah punya sepasang sepatu. "Tapi
aku tak sempat lagi kemana-mana," katamu. "Ah, mungkin
sepatu barumu perlu dibawa jauh dari toko yang
menjualnya dulu," ujarku. Dan kita bertukar sebelah sepatu.
Sepatu palsu.

dimana sepatumu?

aku menuju Ibu
dengan berlari

di jalanan siang ini
orang ramai berorasi
lalulintas semrawut
polantas kalangkabut

sebentar lagi kubasuh muka
dalam teduh air mata

sempat kudengar
pistol menggelegar
ramai orang gempar
mencari siapa yang menggelepar

perjalanan ini makin terik
siang dibakar dengan sempurna

dari arah yang berbeda
roda roda baja memasang badan
rantai manusia kendur perlahan
perlawanan itu reda?

dahaga kurasa begitu meraja
di tiap tetes air mata ibu
akan kututup duka

tapi masih terdengar teori penyerbuan
di jalanan yang bukan pasar
sepatu sepatu berserakan
tak ada yang mau menawar

hanya di pangkuan ibu
sapaku mungkin akan berakhir

ada darah berarti ada luka
lantas jerit itu untuk siapa?
jalanan lebih manjakan angin dan debu
sekadar pengingat muasal manusia

wajah ibu berseri seri
sebelum bertanya padaku
: dimana sepatumu?

Matinya TV Kami

Matinya TV kami

"Wajah pembunuh itu menakutkan!"
Ibu menutupkan bantal
di wajahnya sendiri

Bapak menyalakan sebatang rokok
dalam bayang asap wajahnya berbinar
siaran sepak bola sebentar lagi

Di buku gambar, remote tv pecah
dua buah batu baterai berloncatan

Sepatu yang Kehilangan Kaki

di musim sepi
kaki relakan sepatu
temui dingin yang menunggu

sedang di pelukan selimut
gairahnya telah direnggut

perjalanan tak lagi punya makna
demi sesaat rasa : kehilangan

Sepatu yang Pertama Mencium Bulan

: pradnya paramita

1/
dicarinya pandang bulan
pada jalanan penuh debu
sebelum berkata lirih
betapa ingin ia menciumnya

2/
mungkin ia terlalu khusyuk
bergelut dengan temali kusut
hingga lupa ada yang melompat
sebelum akhirnya mengumpat

3/
meski terhempas
kenangan itu
tak pernah bisa lepas

bersamaku
ia tidur
sepanjang waktu

Sepatu di atap Kereta

1/
sepatu di atap kereta
tak mau turun di stasiun

ia dengar Musa bicara pada cahaya
ditebaknya pijar kawat baja
menuju ke manakah jiwa?

2/
di antara deru kereta laju
ia dengar bahasa rindu
seperti sapa Isa pada bayu
"tenanglah!"

3/
di atap kereta
ia menghitung mundur
kematian sang waktu

saat dimana
ia pergi
tanpa perlu
dinanti kembali

Sepatu Cinderela

: inez dikara

1/
siapa telah tinggalkan duka?
sedang aku terlalu ragu
untuk memunggutnya

2/
pengharapan apa yang pantas
dibingkai di kaca kaca yang getas?

retaknya jelas terpantul
dari mata sang bulan
yang terlambat muncul

Berlindung di Bawah Sepatu

aku adalah debu
di bawah telapak sepatu
berlindung dari tatapmu

Sepatu Bertumit Tinggi

:kelana

dia mematut diri
di depan jernih besi
pintu lift

"pagi ini
adakah yang belum
kupandang rendah?"

ketika pintu lift terbuka
dia masih cemas
menunggu kapan hari tertutup

Pengkhianatan Sepatu

Di negeri ini, sepatu berkhianat
menginjak kaki kaki kami

sebelum kausebut itu kiamat
aku telanjang kaki di negeri sendiri

Sepatu Sang Kekasih

Lama ditatap paras kekasihnya tanpa kedip
lalu pandang meladang hingga ke mata kaki

"Sudah hampir pagi dan bulan di matamu
ingin segera pergi tuliskan rindu
di petak petak mimpi
"

Maka kuajak dia kembali susuri jalan pulang
sebab tak hendak menahannya dalam gelojak
saat kuikatkan cinta di setiap helai tali sepatunya

Seperti yang aku inginkan :
mulai hari ini tubuhmu kutelusuri

Sepatu Pelacur

sebelum rebahkan badan
dikecupnya ujung sepatu
dengan ciuman paling nafsu

supaya dalam taman tidur
dia bisa berlari
dan menangkap kupu kupu

namun badai jejali telinganya
dengan mimpi tentang letih
yang berbunga di sepanjang badan

hingga yang terdengar
hanya suara di jelujur kasur
"hidup ini terlalu sukar. terlalu sukar..."

dengan sepatu berhias gambar kupu kupu
dia redakan badai di taman mimpi
sebab hidupnya terlalu sukar diceritakan

Sepatu Yang Terlambat Pulang

pada malam yang hampir pagi
bintang bintang seakan luruh
dalam dirinya

dihitungnya dengan teliti
butiran pasir yang mendekap erat
sebagai rangkuman perjalanan pulang

ketika pintu rumah terbuka nanti
dia sudah punya alasan tepat
"aku bukan lah bintang namun sebutir pasir
yang selalu kalah oleh injakan sang waktu
"

Lomba Menyanyi

setiap tahun sekali
diadakan lomba menyanyi
pesertanya bisa siapa saja
sebab tak dicantumkan
jenis kelamin dan batas usia

kali ini Ibu ingin jadi peserta
dipilihnya sebuah lagu wajib
bernada dasar minor
bertema cinta yang penuh kesedihan
dia yakin sekali bisa jadi juara
sebab liriknya sudah dihafalkan
sejak dia menikahi Bapak

yang tak kusangka
Bapak juga ikut serta
dia akan menyanyikan lagu perjuangan
dengan irama kekerasan
yang dilantunkannya setiap hari
di rumah kami

daripada dipaksa memilih jadi pendukung siapa
aku putuskan untuk ikut juga
bahkan dengan lagu ciptaan sendiri
yang kukarang sewaktu menulis nama di daftar peserta judulnya :
Keluarga Bahagia Yang Paling Kudamba

Belum pernah dengar bukan?

Kereta yang pergi sendiri

alih-alih selalu dihina
kereta yang dicap sering telat
tak hadir di stasiun pemberangkatan

maka gemparlah seluruh kota
beribu-ribu orang terlambat pergi kerja,
terlambat masuk sekolah, atau batal berbelanja
maklum saja hanya kereta itu
yang mau menampung manusia kelas ekonomi
yang kulitnya kebal sengatan listrik, terpaan angin, dan segala jenis bau-bauan tajam

segerombolan penjahat pun datang ke kantor polisi
tak mau dituduh sabotase sarana transportasi kota
harap dipahami bahwa di dalam gerbong-gerbong kereta mereka mengais rejeki

Jawatan Kementerian Transportasi menurunkan para ahli
melacak keberadaan kereta yang dianggap tidak tahu diri
"lantaran dikatai sering telat saja sampai putus asa?"
begitu lah Kepala Jawatan menilai aksi menghilangkan diri si kereta api

di tempat persembunyiannya
Dia bertemu dengan beberapa orang yang ingin cepat pulang
sebab bertahun-tahun keluarganya telah menanti
dan tak sepotong kabar pun diterima oleh mereka
"Maukah kau mengantar kami pulang?", tanya o…

Pinangan

dengan mahar kata kata
kupinang halaman kosong
membangun mahligai puisi

Terbang

: mega vristian

Ada yang terkungkung
di dalam horizon
yang melengkung

Sangkar itu begitu kuat
serupa jerat erat merengkuh
bulubulu rindu
sayap ini tak kuasa
kepakkan sajak

Berapa banyak
bagian peta yang terbuang
lupakah dia hangatnya sarang?

Hujan telah lama pergi
tinggalkan pohon terakhir
yang mengajar sebuah kata
: terbang

Sajak Empat Musim

/musim semi/
Katamu
manusia bukanlah bagian
dari kerajaan binatang

Jadi menurutmu
untuk siapa istilah cinta monyet
diciptakan?

/musim panas/
Serangkai bunga edelweis
takkan pernah pantas
disandingkan dengan
kuntum-kuntum mawar

/musim gugur/
Dengan wajah penuh debu
kulihat tulisan di belakang truk yang melaju
"Kutunggu jandamu"

/musim dingin/
Jika kau pergi liburan
ke puncak gunung
maka kuputuskan
untuk jalan-jalan
ke kebun binatang

Kisah Kemarau

Kemarau ingin pulang ke kampung halaman
negeri yang selalu hujan saat dia menghilang
diambilnya jatah cuti tahunan yang masih sisa berbulan-bulan

Dipesannya tiket pesawat kelas eksekutif
supaya bisa berbincang dengan penumpang bersuara petani
yang kerap melancong ke luar negeri, demikian dia beralasan
"Tak mengapa walau cuma sebentar", katanya malu-malu
takut dianggap terlalu ingin tahu
urusan orang lain

Sebenarnya, dia ingin mengorek keterangan resmi
sebagai upaya beroleh kebenaran
dari kabar yang tersiar
bahwa jika dia kerja lembur,
para petani tak kan pernah hidup makmur

Padahal tugas yang diembannya sangat jelas
menjaga keseimbangan cuaca di negeri hujan
bahkan untuk para petani,
dia sudah berikan bonus
berupa matinya jamur dan fungus

Dalam hati dia sangat yakin
jika para petani telah menghitung
segala kemungkinan dengan pasti
Toh, dia kerja bukan baru kemarin?

Tapi penumpang yang ditunggu berkomentar
tak pernah selesai berkelakar
bahkan terus bercerita
tentang negeri-negeri bermusim empat
yang ak…

Puisi yang tak pernah usai

Bapak tak pernah minta kepada matahari
mengajarinya membuat api
tapi dititipkannya di hati
semangat yang menyala
dan tak kunjung mati

Ibu tak pernah minta kepada bumi
mengajarinya untuk sediakan makanan
diwariskan sebidang dada lapang
untuk kami tanami kata

Sebab hidup ini adalah ladang
untuk puisi yang tak pernah usai

Jakarta, November 2006

Saat Langit Menulis Sajak

/1/

Apakah kaupikir
aku mampu
menghitung setiap tetes gerimis
sebelum hembusan nafas
kekal di buramnya kaca jendela?

Jika kau mau aku menunggu
coba lukiskan
meriahnya pelangi
sebagai tirai
sebelum kilat yang pertama
membias di langit itu

/2/

Di kaca jendela ini
tak ingin lagi kudekap
bayangan lembab
yang begitu akrab
Hingga kukira itu mendung
saat langit menulis sajak
: kau kira itu kah hujan?

/3/

Jika di langit itu
ada kuasa untuk menggurat
jejak sang waktu

Aku bersyukur pada bumi
yang telah begitu tabah
menghitung setiap jejak langkah

Sebab katamu
Ada yang telah ditahbiskan
menjadi ruang penantian
yang teramat panjang

/4/

Saat langit membuka pintu kemarau
kunikmati perjalanan ini
dari debu ke debu

Jika nanti hujan tiba
di dinding yang basah
kusandarkan segala lelah

Jakarta, November 2006

Doa Ibu

"Renyah kerupuk itu?"
Ibu tanya soal teman nasi yang kucicipi

"Begitu lah", jawabku hambar
Karena nasi di piring masih banyak
kucomot sebuah kerupuk lagi
dari kaleng bertuliskan "Doa Ibu"

Di Pelataran Gedung Pengadilan

"Hari ini kunjungan ditiadakan!"
Petugas keamanan menutup pagar
sisakan ruang antara jalan
dan Gedung Pengadilan
: sebuah pelataran kosong

Seperti mata Bapak
hadapi tuduhan
saat pulang malam

Ibu pernah bercerita tentang
hakim berjubah longgar
lengkap dengan toga
yang diatur supaya tetap miring

Seperti tungkai Ibu
tertekuk lelah
saat malam datang

Bapak sering mengeluhkan
derita pelaku kriminal
diarak hanya dengan
sebuah celana dalam

Ah, baju seragam saja
tak timbulkan iba petugas
bahkan untuk sekedar bertanya

Hari ini, tak bisa selesai
tugas mengarang dari sekolah
tentang isi Gedung Pengadilan

Lowongan

Pulang dari interview
Bapak terlihat lesu
Ibu pun bertanya ragu
"Bagaimana hasilnya?"
Bapak dengan tenang tersenyum
"Selama masih ada lowongan di hati Ibu,
kerja apapun akan dijalani"

Di Televisi

Di televisi
Ibu melihat wajah Bapak
sebentar lagi dia pulang
demikian kabar yang tersiar

Mungkin karena bosan
hidupnya jadi tontonan
Bapak ingin tenang
satu-satunya jalan adalah pulang

Di depan televisi
Ibu menulis surat berisi alamat
ditujukan untuk sebuah rumah produksi
dengan harapan Bapak bisa dengar
sebab hanya dari televisi
mereka saling bertukar kabar

Mengantar Ibu

Berakrab dengan Bapak
menjadi peristiwa langka
yang hanya bisa terjadi
jika Ibu hendak pergiAku dan Bapak
Rapatkan jarak
setiap Ibu meniti tapakBerakrab dengan Bapak
hal yang sangat dinanti
tapi Ibu harus pergi
meski cuma satu hari

Tidak Merokok Lagi

"Kita tidak lagi perlu asap"
kata Ibu kepada Bapak
memintanya untuk
tidak merokok lagi

Jendela

Bapak menjadi bingkai
kristalkan imaji Ibu
di setiap butir kwarsa
untuk mencipta cahaya
di ruang hati

Di jendela
ada bayang termangu
"Apakah itu milikku?"

Serambi

Serambi kami penuh lumpur
kata Bapak asalnya dari arah timur
tempat Ibu tengah menjemur
kesedihan yang semakin menjamur

Pintu

Bapak selalu menunjuk
keluar sebagai alasan
untuk pulang malam
"Di balik pintu ada banyak hiburan"

Ibu hanya punya kunci
yang terbuat dari kata setia
tetapi Bapak sangat
sering menjatuhkannya

Setiap malam
Bapak meminta
Ibu membuka
pintu

Lebaran kemarin
Kulihat mereka berpelukan
tak ada lagi pintu itu

Kartu Pos

Sebuah kartu pos
bergambar wajah Bapak
merutuk di depan pintu
"Biarkanlah aku masuk
sudah lelah pintumu kuketuk"

Ada bagian yang terlupa
si pengirim tak tuliskan nama
pada kotak di bagian alamat

Rupanya Ibu sangat jeli
hingga hatinya tetap terkunci

Batu di Sungai

: teguh setiawan pinang

Batu itu
menggurat kata
supaya ada alir
di sungai puisi

Sedang di muara
Ada yang lebih diam
meredam bebunyian
mengolah sajak
di samudera raya

Igau di Rantau

: maulana ahmadDi rantau
keasingan mengigau
Lelaki itu melinting tembakau

Asap melukis matahari
tumbuh di tengah pematang
asyik jelujurkan jemari
di petak-petak dahi

Di dangau
kesepian pun kacau
Dia bergegas menanam pukau

Bukan jalan untuk pulang

: Yohannes SugiantoDia yang menyeruak tiba-tiba
dalam rimbun rimba kata
bermandi peluh
mendekap keluh

Yang bisa kubilang
jejak di padang
bukan jalan untuk pulang

Di balik belukar
terdengar dia berkelakar
"Tak perlu tunggu fajar"
Rimba ini kan tersibak
kata-kata pun berbiak

Sajak di Liuk Nyiur

: hasan aspahani

"Sedemikian dekatkah
kata-kata dari laut?"

di liuk nyiur
aku tafakur
tentang kedalaman
yang tak terukur

Penyulam

: inez dikara

Ada yang menyapa dari balik bilik
"Aku temukan sesuatu yang asyik"

Bak seorang penyulam
dirangkai sulur-sulur benang
diulurnya sampai awan

"Lihat, itu sebuah pelangi!"
Aku berteriak sendiri
di bawah langit yang ikut menari

Doa Sajadah Usang

Ibu menggelar sajadah
kalau Bapak marah

Sajadah itu sudah usang
Namun doanya tak lekang
"Kapan nafsu dikekang?"

Besok Lebaran

"Hari ini masih terasa sempit ya?"
Ibu bertanya pada Bapak
yang begitu bimbang
sehari sebelum lebaran

Makan Malam di atas Makam

Dengan sebatang lilin
malam ini tertelan
begitu sempurna

Ibu menyusut anggur
di bening kristal air mata

Bapak sibuk mengiris hati
selapis demi selapis

Duka menjadi bunga
penghias taplak meja

Terbentang sajian lengkap
di atas semua kenangan
yang dipendam dalam-dalam

Sarapan Pagi

Bapak baru menyeduh emosi
gelegaknya terasa di hati

Lalu Ibu mendadar sabar
bulat besar benar

Sarapan pagi ini
kurasa nikmat sekali

Kalung Ibu

"ini warisan paling berharga,
untuk menjalani hidup"Tangan Ibu kalungkan
seuntai kesabaran
di hati kami

Sajak Dalam Kopi

Mungkin ini pahit yang terakhir
kupungut sajak dalam kopi
sebab Ibu tak pernah menyimpan gula
dan gaji Bapak tak manis lagi

Letih

Batang padi tak lagi runduk, Ibu
keringnya angin telah membawa mereka
pergi ke pusat-pusat perbelanjaan
lalu pulang dengan tentengan
berisi hafalan nama-nama asing
untuk petak sawah kita

Ternak penghela bajak pun naik pesawat
kacaukan asap kopi dan tembakau
hingga Bapak tak puas lagi
memandang ranumnya puting gunung
yang kau simpulkan di sudut matamu, Ibu

Dan kemarin
hujan belum sempat kucatatkan
di saku kodok yang kerap mengamen
di jendela gubuk ini

Sebab aku terlalu letih
dan Kau terlalu tatih

Air Mata

debu yang mengganjal
saat aku terpingkal

Selamat Jalan

Dan ombak bertubi-tubi merayu nyiur sang penari pantai.Camar tenggelamkan diri pada pencariaannya sendiri.Pasir pantai doakan keselamatan matahari.Langit senja sama merahnya ketika fajar.

Anak gadis itu pergi ke pangkuan ibu. Bapak kembali dari medan perang berbentuk kotak berisi angka-angka berdebu.Kerikil-kerikil di halaman rumah basah.Kota masih mengaduk-aduk kesibukan.

Lalu, ombak menyapa kota.Anak gadis itu pulang.Bapak tak pernah datang.Ibu menari di pantai.Sendirian.Tidak!Ada matahari dan langit fajar.Tapi mereka berperang di atas kerikil, kerikil jadi pasir.Pasir tuliskan angka.Angka sebutkan jumlah ikan dalam paruh camar.

Daun teh dalam cangkir mengapung dalam diam

Ucapan Selamat Tinggal

Bagaimana ucapkan perpisahan?
Paruh burung basah dengan nyanyian dahan berselimut embun dan berkas kata di kisi-kisi jendela tak kunjung berdebu.

Di depan pintu, sepatu termangu

Ibu dan Bir

Ibu duduk dekat pintu
di sebelah gelas tanpa isi

Bapak tidak pulang lagi
Ibu menuang bir dengan ragu

Bagi bapak
ibu dan bir
sama memabukkan

Tak heran
bapak selalu lupa
jalan rumah kami

Sapu Tangan Bapak

Sapu tangan bapak
dalam saku ibu
ada yang teriak
bekas-bekas gincu

Sajak Yang Paling Tidak Laku

ini ada
kata bisu
bisa laku?

Nyanyian Cinta

gemetar di leher gitar
tak kuasa memetik kata
yang akan guncang ragu
di dawai-dawai hatimu

Pagi ini mendung

di atas meja
setumpuk surat
terluka

di beranda
lantai
meredam duka

angin berhembus
perlahan saja

aku
mengeja kalam
di langit kelam

Rajah Malam

Bulan tuliskan kalam
di titik - titik semu

Jendela bingkai malam
di kisi - kisi bisu

Dinding kamar kusam
coba tenggelamkan rindu

Di padang rumput liar
jiwa meronta kuat

Biarkan tubuh dilukar
inginkan lambang tersemat

Malam merajah
meruapkan gelisah

Dia yang menanam bayang-bayang

Dia yang menanam bayang-bayang
telah pergi di rembang malam

Ada janji tertulis
pada hati teriris

Terbaring di ladang kering
kenangan hitam bersemi

Panen terlambat datang
ruang kamar terpejam

Langgam Langgar

"Sebulan ini, kerja keras kami kejar"
demikian langgam yang terdengar
dari suatu langgar

Catatan kecil ditukar tajil
beredar ba'da ashar
penutup perut-perut lapar
menjadi upacara besar

Dan saat malam tiba
pun masih ditabuh puluhan nada
tuk dihimpun seribu bulan lamanya

Di dini hari pun ada yang berlari
beradu cepat dengan matahari
tak ubahnya niat Dewi Sumbi
hindari niat anaknya sendiri

"Sebulan ini, kerja keras kami kejar
karena dalam 999 bulan ke depan
kami akan asing terdengar"

Hati dalam Peti

Ada hati dalam peti
kupegang masih basah
warnanya tak hitam
juga tak merah

"Siapa tinggalkan dia di sini
ibu yang ingin aborsi
atau bapak yang mau korupsi?"

Biarlah
kan kubawa pulang
sebagai cadangan
jika hatiku pun hilang

Di Warung Made Jiwaku Tergadai

Di warung Made
jiwa telah tergadai
sebab cinta
tak lagi memadai

Lukisan Sang Rama
yang sesali Shinta
merayu Rahwana
beraroma vodka

"Kita menyanyi
bersama, lagu permainan
sepakbola"
Para denawa berseru
dalam irama tanpa malu

Ada yang diam dalam lukisan
di sudut yang temaram
nikmati kosong sisa nirwana

Ke Besakih, Kekasih

Ke Besakih, Kekasih
katamu pintaku menepi
'tuk susutkan sungai di pipi

Di Besakih, Kekasih
karang yang tinggi
tak lekang digempur perbani

Sebab di Besakih, Kekasih
berdiri amsal hati yang bersih
dimana air mata pun tersapih

Dongeng Bukit Kintamani

Sebuah bukit
berselimut kabut
memungut rasa sakitBidadari yang diam di sini
diculik Sang Kala malam tadiBukit Kintamani
ajak aku habiskan hari
tuk mencari Sang Bidadari

Sepanjang Pantai Kuta - Legian

Deret-deret cafe lukiskan malam
memacu keringat di tiap dentam

Irama reggae luruh dalam gelas
sisakan bulan di sudut bias

Botol-botol kosong dilanda haus
"Pantai ini telah tercerabut dari firdaus!"

Sepanjang pantai Kuta-Legian
tetapak kaki terhapus perlahan

Dan Jodoh...

pintu ingin terbuka
kala birahi anak kunci
lepas dari saku celana

jodoh serupa genggaman
tangan menyatu
dengan tuas pintu
bergerak dengan nyaman

dengan kaki kanan
kita 'kan melangkah
bukan ke pelaminan
apa lagi cuma peraduan

sudah jauh hati kita tanam
dekat pokok buah terlarang
di taman itu
sebelum ada pintu

Sajak Stasiun

/1/Di stasiun kereta
rindu terjalin
rangkaian mimpi
penarik nafas jiwa resah
jauh sebelum sebuah perjalanan
yang tak pernah diamselalu saja begitu/2/Rindu dan mimpi
terangkai jadi cerita
di tiap gerbong kehidupanPada akhir perjalanan
semua disapukan
di kening malamDi atas selembar koran
Kita mulai mencari
dimana kata yang tak pernah tetap
selalu saja hinggap
di tiap dekap/3/Di sini, tumpukan resah
selalu lambaikan tangan
pada jiwa kembara
Ada harap yang penuh
pada satu arah tatap
saat kereta memasuki stasiun"Diakah yang dinanti?"

Sajak Peluit

Dan terdengar lah lengkingan
penyeru di tengah kebisingan
"Kita harus bersiap senantiasa"

Seperti Yesus di Getsemani
memohon di tengah sepi
"maut adalah pencuri"

Dari peluit yang menjerit
alunan nada menyapa kita
"Tuhan tidak buta"

Tuhan hilang

Daun jatuh dari pohon
tepat di hidung anjing hitam
"Tuhan hilang!"
demikian dia menggeram

Hujan Malam

Malam hitam
Hujan datang
Hati bimbang

Kontra Kontrasepsi