Posts

Showing posts from May, 2011

Tersesat di Negeri Boneka - 1

Image
: Teddy






Dari negeri jauh, kucium bau kulit melepuh. Coklat hitam warnanya
seperti bulu-bulumu, yang mengingatkanku pada sebentang padang gersang,
sisa-sisa perang, dan musim kemarau panjang. Tapi kau begitu lembut.
Serupa kuncup maut yang halus memagut. Melupakan tatap derita
dan menggantinya dengan cerita anak, cerita yang begitu pelan mengajak
ke pangkuan bunda sajak.


Sebentar saja, aku ingin berbaring di dadamu. Dada yang tenang
dan lapang melebihi dada kekasih. Dan kubayangkan sebuah
telaga jernih. Di dalamnya, kubasuh luka dan perih.
Luka sewarna bulumu itu. Seperti habis dibaptis, aku lahir kembali.
Menjadi anak-anak.


Kurasakan, tangan bunda sajak mulai mengelus kepalaku.
Dan pada sentuhan pertamanya, kulihat di matamu
sesuatu menghitam cemburu. Sementara waktu dan maut
tampak kusut di tubuhmu. Tubuh berwarna coklat hitam
tapi terasa lembut.


2011

Antares

"Dari sekian sengat, Cinta, inilah yang akan
membuatku tamat. Bengkak merah ini
terlalu besar dibanding sejumlah titik di
kelam tubuhku. Di malam dan di subuhku,
di mana kuingat engkau."

Aku hanya menyusun segugus tanda rindu.
Melantun sejumlah lagu pilu. Agar tetap
di langit gelap, ku dapat merupa wajahmu.

Wajah yang merah dadu.
Wajah yang selalu ragu.

"Duhai. Betapa kita adalah angkasa raya,
Cinta. Adalah luasan di luar segala yang
bisa dikira. Betapa pun engkau sembunyi
di balik kabut itu, ada yang selalu berlari
menjemputmu. Karena kita, Cinta, sekumpulan
tanda bagi para pencari."

Aku nelayan. Di laut berombak maut. Berperahu
kebimbangan dalam hidup. Layar dan jangkar
seumpama ketakutan yang terlalu menjalar.

Di langit. Di kelam sesuatu yang terasa pahit.
Aku menemu madu. Setetes besar berwarna
merah itu. Seperti jangat terkena sengat.
Seperti ingin yang tak hendak tamat.

Kau: rindu paling kesumat.

2011

Ofiukus

Mula-mula, aku tak bisa percaya
bahwa cinta itu semacam cahaya.

Setiap malam, di antara kelam
selimut langit, kulihat beribu cahaya.

Aku umpamakan kau di sana,
satu planet tanpa cahaya.

Ku nisbatkan diriku orbitnya,
jalan gelap hampa cahaya.

Pada satu bintang besar di sana,
kita berharap satu cahaya.

Ya, satu saja. Yang lain hanya
87 gugus nama, bukan sebenar cahaya.

Ku sadari betapa cinta itu
adalah satu lingkar penuh cahaya.

Kau dan aku terjebak
di dalamnya. Bertahun-tahun cahaya.

2011

Kematian itu Cahaya Bulan

Apa lagi yang dapat kusimpan karena saat ini
aku dan keheningan saling mengungkap rahasia
kematian, yang tak ubahnya bagai seberkas
cahaya bulan.

Setiap malam dia datang, dan esok pagi
kau akan mengejar matahari. Tapi
tak lagi bertanya,"Bagaimana tenang maut
menjemput nyawa orang?"

Lantas, apa lagi yang perlu kukenang
selain lamat-lamat malam merambat
dan lengang tanah lapang
seperti tangan-tangan para penari
di puncak sunyi. Dan lihat! Betapa mereka
lebih memikat hati daripada berpikir
tentang mati.

2011

Astronomologia

Setelah kau mati dan dikebumikan,
aku melanglang angkasa luas.

Kuturuti Ofiukus, Sang Penjaga Ular itu,
sebab katanya,"Buatlah bangunan
di atas cakrawala, dan dia yang kau rindu
akan masuk dan bertahta."

Maka lewat benda-benda yang biasa
kulihat dari tingkap, dari kanta-kartika,
kudirikan segugus candi,
yang membuatmu semakin abadi.

2011

Jika Bumi itu Pluto

Duhai, betapa jauh dan dingin engkau.
Di sini, aku patuh pada inginku menjangkau.

Lalu kubayangkan, jika Bumi itu Pluto,
maka kita sama-sama merana, terbuang
dari galaksi yang sekian ratus tahun
mengarang rangkaian cerita.

Tapi kita selalu berbahagia.
Seperti Dara Venetia dan
Tuan Tombaugh yang setia
dengan dongeng Romawi tua.

Duhai, biarlah aku diberi tanda saja,
tak mengapa. Di sekitar hal yang
berpendar sia-sia, kau saja: tatasurya.

2011

Dulu Aku Komet

Bertahun cahaya darimu,
aku dingin dan hampa yang membatu.

Mengarungi cakrawalamu adalah
melarung sebagian diriku pada pijar gemintang.

Dan sepanjang lintasan lonjong ini,
saksikanlah!
Betapa langit hanya gelap dan kosong
seperti saat Tuhan berkehendak,
dan bintang besar itu meledak.

Dan yang berpendar di tubuh ini,
adalah kata yang berdebar sebagai doamu

saat kau lihat
ada yang serupa bintang jatuh,
saat kau sungguh-sungguh bersimpuh.

2011

Perihal Pedang

Matanya teramat tajam, begitu lurus dan tulus.
Memupus kenangan yang mangkus mengurung
hari-hariku dalam ruang lengang murung.

Tangannya. Ah! Tangan yang itu. Pembentang perih.
Seperti antara kau dan aku. Di hari-hari letih.
Hari menanggung pedih tunggu.
Jauhkan dia, Tuan. Jarakkanlah...
dari dada busung rindu, dari leher tercekik haru
oleh sayatan ayat-ayat sangsi dan ragu.
Biar pedih, biar sedih.
Akan kurasakan putusnya waktu
saat kita bertemu.
2011

Perihal Duri

Mirip paku, kau menusukku tepat di kalbu
tapi kau punya mawar, punya tangkai yang sabar
memegang kembang, menyungkun guguran daun.

Kau mencabikku sungguh,
sekukuh kuku-kuku itu,

di dada dan di punggung,
segala bebanMu
kuhitung, kutanggung.

Sebagai lencir getir, kau lempangkan liang nyeri
supaya ku tuju laluan kelu, ku sibak rimbun isak.

Dan aku tahu:
kau teramat sengat.
teramat kesumat.

Lalu setiap penderitaan,
hanya serpih kembang seruni
tak sanggup bersanding,
apalagi menanding.

2011