Posts

Showing posts from 2009

update tentang novelku

Sungguh berbangga hati karena National Library of Australia telah mencatatkan novel "dan segalanya menghilang" pada katalognya. Recordnya bisa dilihat di http://catalogue.nla.gov.au/Record/4691605

Seorang pembaca juga telah mereviewnya di goodreads.

Makin penasaran untuk membacanya? Untuk di Jakarta bisa didapatkan di Gramedia Matraman dan TM (Toga Mas?) Bookstore di Poins Square Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Mafela

Dia hendak mendekapmu. Dan kumohon
biarkanlah begitu. Agar tak kudengar suara
batuk karena masuk angin, atau bangkis yang
mengejutkan kesepian ini.

Dia mendekapmu lembut, bukan? Dan akan
kubiarkan demikian. Walau tak bisa lagi
kulihat urat-urat kebiruan di bawah dagumu,
yang seakan menunjuk ke mana arah sisa
cokelat hangat itu seusai pertemuan ini.

Lalu angin seakan maklum pada salam
perpisahan, dikibarkannya helai-helai
benang itu sebentar. Semacam detik-detik
perpanjangan waktu yang dihitung oleh
langkahnya. Oleh cahaya senja. Oleh
air mata.

Lalu aku mulai takut akan kesendirian,
bersama kibar benang mafela di dekat
dadanya, di pangkal lehernya, kusertakan
sesuatu yang gaib. Yang begitu karib.

2010

Di Ruang Tamu

seperti ikan dalam akuarium,
berpalingkah ia pada cahaya di jendela?

seperti gelembung sampai ke permukaan,
bertahankah ia pada hembus angin itu?

hanya pendar lampu neon di atas akuarium itu
seakan jadi pertanda; di ruang tamu ini ada
kehidupan lain yang lebih kecil dari perkiraanmu,
tapi lebih besar dari segala resah yang bergulir.

seperti secangkir teh hangat di hadapanmu,
tersinggungkah ia akan senyum manisnya?

seperti majalah wanita edisi bulan kemarin,
menantikah ia pada tatap matamu?

lalu percakapan tiba-tiba menyergap seluruh
ruang; hingga di ruang tamu ini muncul mimpi
yang tak kau bangun ketika tidur dan kau harus
selalu terjaga agar tidak terseret masuk ke dalamnya.

2009

Peristiwa Desember

Airmataku sudah jadi petir yang menyambar
ujung Desember hingga semua angka menghitam,
dan tak bisa kubedakan Senin atau Minggu, hari Besar
atau hari Libur Nasional.

Api semakin besar. Di dalam dada. Di atas kepala.
Oksigen adalah kesabaran yang semakin langka.
Semua jadi ingin muntah. Sesak nafas dan pusing.

Lalu, hari-hari adalah hujan. Semua jadi rindu
matahari besar. Kita di sini terlelap dalam
kedinginan, tenggelam bersama sepi dan jemu,
semakin gusar oleh segala hal.

Sementara, sajak-sajak semakin menggoda saja.
Lebih dari sebuah nama hari, atau sebuah angka.
Penaku bertambah betah. Seperti peluru kian berdesing!

2009

Wacana : Tetap Berhati-hati di Kendaraan Umum

Saya menjadi korban tindakan kriminal berupa perampasan telepon genggam di kendaraan umum yang biasa saya tumpangi dari rumah - kantor pp. Dari peristiwa yang saya alami, saya melihat ada dua trik yang dilakukan komplotan tersebut. Saya mengatakan komplotan karena pada trik yang pertama ada seorang yang jelas-jelas membantu seorang yang lain. Inilah trik yang dijalankan oleh mereka - semoga teman-teman (khususnya yang di Jakarta) waspada terhadap trik-trik semacam ini.

1. Seseorang dari mereka akan mengingatkan kepada kita "Hati-hati, Mas/Mbak. Handphonenya disimpan saja!" Ini rupanya kode buat komplotan itu beraksi. Jika kita diperingatkan seperti itu, artinya kita sudah diincar oleh mereka. Tanpa pikir panjang, apalagi mikir ongkos, mendingan kita segera turun dari kendaraan tersebut. 2. Menyebarkan pamflet Pengobatan Rematik / Arthristis ala Cina. Tepatnya pijat tradisional. Salah seorang dari mereka akan mempraktekkan pijatan tersebut kepada seseorang yang duduk tepat di …

Merpati yang Dilepas dari Bilik Perahu

1.
dari dadaku, dari bilik perahu, kulepas engkau.
biar pada cabang hijau zaitun, kaupegang ketabahan
yang menahun.

laiknya bandang yang menggunung, terbanglah
engkau! terbang mengatasi banjir yang tak surut,
kerinduan dan sepi yang tak bisa larut. tak akan
pernah bisa.

aku tak akan pernah jadi nuh, sampai kau tempuh
penerbangan perdanamu setelah hujan panjang ini.

2.
dengan cintaku, di lunas perahu, kau kutunggu.
sampai kaubawa pulang sehelai daun. sehelai saja!

larik-larik hujan sudah hilang. cepat pulanglah kau!
bawa berita tentang dermaga sederhana, huma
terbuka dan rindang kamboja untuk nisanku.

hingga namaku dan namamu dapat kutulis
sebagai pesan. Sebagai kiasan akan kebahagiaan.

2009

Beliung

patahkan akar kesetiaan, Teman
karena angin lebih sering mengguncang
atap rumah.

galilah lebih dalam kesabaran
meski hujan dan daun-daun menutupi tanah.

kami berpegang padamu, Teman
pada lahan terbuka dan alang-alang.

agar kami dapat belajar dengan benar
pada batu, lumpur, dan akar tunjang.

2009

Refreshment

Image
Novel saya ini sudah terbit bulan Juli lalu, tetapi belum sekalipun dilaunching.
Bulan ini saya mau memperkenalkan kembali novel saya ini di acara Reboan.
Bagi yang belum menemukan, bisa dilacak di Toga Mas terdekat, sedangkan
di Jakarta sementara baru ada di Gramedia Matraman dan TM Bookstore -
Poins Square Lebak Bulus.

Semoga menyenangkan ... Buat penggemar puisi Bang Hasan Aspahani,
di novel ini bertebaran petikan-petikan puisi beliau ..

Maktab

1.
di luar kita - katamu - sudah terlalu banyak perahu
disesatkan suar, terlalu sesak pejalan kaki ditipu
trotoar, dan ada banyak malam tidur telanjang tanpa bulan.

sebab itu, kau tulis ulang isi kitab pada jendela,
di mana pucat pantai beradu temaram cahaya kota
hingga pias wajah bulan terbelah dua.

lalu kau selipkan sesudu rindu di muka pintu, mungkin
masih ada sadak jejak sepatu - serupa kenangan yang
timpang dan terguncang sepanjang jalan.

"agar mereka tak pernah lupa jalan pulang", katamu.

2.
lalu kau hapus nama-nama di kitabmu; nama pahlawan,
nama pejuang, dan nama mereka yang terbunuh
dalam diam.

namun kau tak pernah menghapus namanya, pelancong yang
datang di suatu malam bertahun silam. "harus ada yang
mesti disalahkan dari hari-hariyang lelah berlari", katamu.

dan kenangan, tetaplah pembunuh ulung! setelah kau bubuhkan
tanda tangan-di halaman kitab paling belakang- kau menghilang.

tinggal pendar bulan…

Caping

kepalamu yang petani, kerap menggarap ladang matahari.
menjalinnya agar ia serupa jala maya daun kelapa,
atau runcing jejarum bayang cemara yang menusuk mata.

di antara pematang, kepalamu bergoyang-goyang.
hingga lusuh kain selendang berhendak mengekalkan.

ah, aku ini meraga angin. iri pada rasa kebahagiaan yang lain.

kepalamu begitu rajin mencuri mataku dari bukit-bukit itu
hingga di tepi laut, di mana seharusnya sudah kularung
perahu, kayuh, dan selubung senja yang menua.

ya. aku sudah merasa yakin. meraba segala yang mungkin.

tapi kepalamu petani yang rajin. dijelujurnya sepanjang
pandang ini dengan segala benih. seperti tak kenal letih.

dan sepertinya aku yang angin tak akan pernah betah
meningkah di akar anak rambutmu.

2009

Aku dan Pantai

Aku dan Pantai

: bernard batubara

Jika ku temukan pantai, menjelmalah kau.
jadi karang.
jadi pasir.
jadi burung.
jadi awan.
jadi kau.

agar bisa aku menarikan
tarian ombak.
tarian angin.
tarian langit.
tarian senja.
tarian cinta.

dan di sebelah dermaga kayu, kapal-kapal nelayan
menghimpun lagi temali sepi dan nyeri yang telah lama
direnggut jauh dari tiang-tiang layar,
jatuh dari bulan yang samar.

Jika kutinggalkan pantai ini, pergilah kau!
jadi angin.
jadi langit.
jadi senja.
jadi cinta.

agar pada setiap karang, rindu ini terus berbilang,
seperti bulir pasir yang kaubilang tak pernah berkurang,
seperti kelepak burung yang kau dengar begitu murung,
lalu lenyap jadi senyap di halau lengan awan,

agar setiap kut…

Lilin 2

Kaukah yang membakar sepi di sini?
Aku hanya gelisah yang menanti.

Lewat pijarmu, ada hal-hal yang selalu
tampak terang dan samar. Seperti malam
dalam mimpi-mimpiku. Seperti kelam
yang semakin menjangkau aku.

Dan kaukah juga itu? Yang kukira mengada
di antara bayang dan gelap ruang. Karena
aku mulai lelah, dilelehkan bara waktu.

Sementara kau tepis hembus dingin,
tubuhku semakin hangus.

2009

Sajak untuk Sang Penari

1.
Raga siapa yang setiap geraknya
adalah lebam dentam kendang
dan piuh temali kecapi?

Selubung kain panjang, riap rambut,
dan gerai selendang menggerakkan
sesuatu yang lain daripadaku.

Hanya jika setetes keringat melunturkan pupur
di kedua pipi, wajahku terlahir kembali di situ.

2.
Siapakah dia yang memutar
pusaran waktu seperti luwes
kibas kipas di tangannya?

Jemarinya seperti tangkai hujan menyapu
pelataran candi, sedang pinggulnya lontar sepi
yang ditulis kembali oleh bayang-bayang.

Akulah yang tak berpayung,
menggigil oleh basah angin sunyi.

3.
Kerling siapa yang menikamkan
kembali karat khianat pada malam
yang sarat menanggung bulan?

Adalah sepasang mata - tak sedang mengamati
aku yang menanti datangnya Sang Mati - merayu
jiwaku untuk terus bersemadi di sini.

Agar kutemukan kembali bilah berkilau
dari Engkau yang selama ini kucari.

2009

Kuterka Bunga di Tanganmu

kubaca lagi isyarat bunga di jari-jarimu
seperti mengurai jerat pemikat lebah madumeski cahaya hanya ungu, pandangku menyeligi
kuntum mahkota, pucuk putik, dan benangsarisampai kujumpa sakar nektar di rahim ovari,
dalam kenangan yang tak sudah sepanjang harihingga kubaca lagi, dan lagi, getar jemarimu
saat kautabur bunga-bunga itu atas nisanku.2009

Kepada Penjual Bunga Tabur

Sampai aku dipertemukan denganmu,
ada yang selalu ragu bahkan hanya untuk
sekedar bertanya, "Berapa kuntum mawar
yang pantas dalam satu kantung melati untuk
kutebarkan di atas kuburku?"

Dan ketika tanganmu menakar bunga,
kubayangkan tangan maut mengapai-gapai
di atas kepala, di dalam dada, hingga
kukatakan padamu, " Tak perlu kenanga,
atau cempaka. Cukup mawar dan melati saja."

Aku - sebagaimana maut - melangkah tergegas.
Ah, seperti juga engkau, bukan? Yang membuat
kenangan bertunas, berkembang, dan akhirnya
di musim seperti ini, berguguran dedaunannya.

Sebentar lagi sampai ke pintu makam, di mana
lengkung tangan maut telah selesai memagut,
dan selepasnya akan kutemukan sejumlah nama
yang sering disirami dan ditebari bunga-bunga
kesedihan, kerinduan, dan kerelaan.

Dan di sana, sebelum kutaburkan sekantung
bunga ini, akan kuingat kembali tanganmu
: tangan yang kerap membelai tepi waktu.

2009

Membacamu, Puisi

1/
ada yang tertabur serupa bunga di atas nisan,
di sela isak tangis dan peluk tak bermakna lain
kecuali "relakanlah, relakanlah, relakan..."

lalu kau menulis ulang kisah yang tak pernah
hadir di mimpimu sendiri. kisah yang selalu
menjelmakan seorang kekasih, pencinta yang
namanya tertulis pada epitaf

dengan sebaris kata lainnya.

2/
aku adalah orang yang terakhir pulang dari
pemakaman. berpayung hitam, dan merasakan

begitu murung musim. betapa dingin kepak burung.

sedang kau angin yang menderu.
memanggil pulang ke rumah ibu.

3/
yang tak pernah terbaca olehku - dan mungkin
terlewatkan juga olehmu - hanya rangkaian bunga
yang mulai lepas satu per satu kelopaknya.

seakan mereka yang tadi berkata;
"relakanlah, relakanlah, relakan ..."

2009

Sharon Weimer

Sharon Weimer adalah salah seorang dari 50 penyair terbaik di situs www.poetrysoup.com.
Dia berasal dari Amerika Serikat. Pada kontes puisi di situs tersebut terdahulu, puisinya
yang berjudul "The Weight of Nothing" mendapatkan posisi pertama. Saya tidak akan me-
nerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, tetapi biarlah pembaca blog ini bisa merasakan
sendiri emosi yang ada dalam puisi ini dalam bahasa aslinya.

Sharon Weimer
The Weight of Nothing

the looming vastness
of distance (strong and aching)
between the me
I am struggling to remember
and the you (omniscient in theory)
…your own
collide with slivers of wood
paint thinner, and a barrage of gun-like tools

this
fills me up to
the whiskey on your breath
the smell of God’s burden of gifts
a tonic I inhale
in wafts of your sighs
praying for thirty seconds
of understanding relief

when you purposely forget
without purpose
the love we made moment
you might as well
watch me drift away
in an eerie speed of light
I am gone (regretfully)

why should I linger
alone

Percobaan Kedua

Setelah "Berbahagialah Hagai" saya coba terjemahkan dalam bahasa Inggris
dan saya sertakan dalam kontes puisi empat bulanan di www.poetrysoup.com,
sekarang saya mencoba menerjemahkan "Bibirku Cawan Anggurmu" untuk
saya sertakan dalam sebuah kontes bebas puisi berbahasa Inggris.

My Lips is Your Wine Grail

because you are so sweet.
too sweet.
more than all of words I’ve said,
more than all of tastes I’ve tasted.
like you’ve been harvested
from the finest farm,
along the side of fertile river,
and stocked until your golden age.

your color is interesting red.
who can resist to the shining sight?
which very glow on the lips of the grail,
bright and warm so obviously seen.
therefore my lips as a very thirsty thirst.
a joy that need to be fulfilled!

I am the faith. waiting to the all being poured,
throw away, and all continues deed, until the last drop
to carouse. but ones will remember it from the latest late,
an existing tinny mindful between all of madness,
that’s a joy that never last.

even …

Bibirku Cawan Anggurmu

karena kau begitu manis. teramat manis.
lebih dari kata yang kuucap, lebih dari rasa
yang kucecap. seakan kau dipetik dari ladang
terbaik, di tepian sungai yang subur, lalu
diperam hingga benar-benar cukup umur.

ronamu merah memikat. siapa yang tahan
pada kilau berkilat itu? yang teramat cerlang
di bibir gelas, terang dan hangat tergambar
begitu jelas. bibirku adalah kehausan yang
sungguh, kegembiraan yang menghendaki penuh.

akulah kesetiaan, menunggu segalanya tertuang,
terbuang, dan terulang. hingga habis sesap manis,
tapi ada yang akan mengingatnya dari sisa-sisa
malam, sisa-sisa kemabukan, sisa-sisa kegembiraan.

meski saat itu kau, anggurku,
telah lepas dari cawan bibirku.

gawal dari takdirku.

Jakarta, 30 Agustus 2009

Sajak-Sajak dari Pasar (2)

Pasar Gondang, Nganjuk

sepi tak meringkik, tak pula mengembik
meski pasar begitu berisik di hari pasarannya

adalah mimpi yang berkelindan di antara
los penjual buah dan makanan

menggelisahkan engkau yang sedari malam
tak kunjung bisa diam
karena di pinggir jalan sebuah panggung hiburan
tengah didirikan

adalah engkau yang seksama
mengamatiku dari puluhan ekor kambing,
tiga dokar, dan sebuah pedati sarat kayu jati

Pasar Kandangan, Kediri

aku tak lagi muda, dari puluhan karung
yang kuangkut dari bak truk
hingga los pasar,
aku beroleh panjang usia

tulang-tulangku seperti
lilin ulangtahun yang membara
setiap kali truk itu berhenti
di depan pasar, ada yang kurasakan
begitu berkobar

aku tak pernah lagi menebak
siapa yang akan datang,
lebih baik aku bertepuk tangan
karena di sini setiap hari adalah hari jadi

Pasar Pon Baru, Trenggalek

sebagai petani, aku mengenali dengan baik
tunasnya benih sabar

karena dari petak sawah yang beralih fungsi
jadi pasar, tumbuh pula belukar gusar

yang setiap hari kucabut,
tapi mereka muncul ke…

Sajak-sajak dari Pasar

Pasar Larangan, Sidoarjo

hanya sebuah becak melintasi kesepian
di antara panggung dan emper toko
saat seorang biduan dangdut melempar senyum
untukmu

tapi kulihat tak ada yang bisa kautangkap
sebab pada deretan dokar dan becak,
seorang janda tua terlalu letih berjualan sate
sejak malam tadi

; dia yang tengah membakar senyumnya sendiri

sama seperti sepi
yang terpanggang
panasnya sendiri

Pasar Pucang, Surabaya

tak dapat lagi kutunggu
si pelancong malam yang terakhir
meninggalkan kerumunan tikus
di sepanjang los penjual ayam

karena sebelum pukul empat pagi
telah kuhabiskan kopi
pada cangkir yang ke dua

dan sepi segera
menyergapku kembali

Pasar Balongsari, Surabaya

kesedihan telah menjadi kegembiraan sesungguhnya,
saat ada yang mengadu ketangkasan
pada sempit halaman parkirmu

sementara di pintu masuk lorong pasar,
ada wanita-wanita tua yang mengadu tangisan
dengan harapan pada luasan dadaku

Pasar Dampit, Malang

kunikmati dingin anginMu
di tubuh musim yang mulai kering
di bawah bulan yang setengah padam

kutikami lagi ingin …

Malaikat di Ujung Jalan

Ini pengembaraan yang bahagia
kita akan selalu bersama-sama,
kaki dan sepatu
tak pernah lagi peduli pada batu
atau pada langit yang setengah menangis,
setengah tertawa.

Ini juga penggembalaan yang bersahaja,
tak perlu lagi peduli pada hujan dan senja
yang saling memainkan daun dan jendela itu.

Kita berdua saja berjalan.
Dan seperti telah saling tahu
kapan akan berhenti, menepi, istirahat,
atau berlari kembali, kita tak akan banyak bicara.

Kau tentu tahu, bagaimana aku telah lama
mempersiapkan sepasang sepatu
sebagaimana engkau tak berhenti
yakin dan berdoa; ada sepasang kaki
yang kuat, lalu mengikatmu erat
pada perjalanan seakan tanpa penat ini.

Maka kita tak akan lagi peduli
pada hal-hal selain perjalanan ini.

Pernah sekali kita sepakat
untuk berhenti, saat kulihat
ada malaikat di ujung jalan
memainkan sebilah belati.

Aku kuatir kau akan terluka dan mati,
engkau takut aku tak akan pernah sanggup lagi berlari.

2009

Telah Terbit Novelku

Image
NOVEL "DAN SEGALANYA MENGHILANG"Karya Dedy Tri Riyadi
"Sejujurnya aku belum merencanakan apapun selain menghilangkan diri dari kehidupan ini. Lalu aku terkenang pada sesuatu yang ingin aku lakukan sepanjang hidupku. Bertahun-tahun aku menyukai puisi. Menjadi pembaca yang baik dari puisi-puisi orang lain. Mungkin inilah saatnya aku mencoba menuliskan puisi." – Arya Dananjaya, wartawan."Aku dan Danan adalah sepasang kekasih yang tidak akan pernah bisa bersatu."- Miranti, mahasiswi Kyoto University.SinopsisSebuah peristiwa pembunuhan artis penyanyi yang sedang merintis karir menjadi diva di Indonesia membuat Danan merasa ada yang salah dalam hidupnya. Pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar kriminal membuatnya terseret dalam lingkaran pembunuhan berantai yang juga mengancam keselamatannya. Dia juga harus berjuang untuk meluruskan hidupnya yang dianggapnya salah cetak dan salah letak. Termasuk kisah cintanya dengan seorang penderita trauma kekerasan domestik…

Sekerat Roti di TanganMu

Sekerat Roti
di TanganMu

1/
Jangan Kau jerat laparku
dengan sekerat roti di tanganMu

2/
Aku pasti menunggu

walau seribu kepak merpati
dan suara kur-kur-kur di telinga
taman ini selalu seperti berjanji;

ada sepotong frankfurter
dan segelas milkshake
berukuran medium,
spesial untukmu!


lalu senyumMu mengambang
di bangkai sungai di bawah
jembatan kayu merah marun
beraroma aneh itu

dan kutemukan lagi remah roti
yang tak termakan gerombolan
merpati itu, di atas busa air sungai
yang semakin keruh

menghitamkan penantianku

3/
Ada harapan yang utuh - bahkan lebih jelas
dari gelas milkshake dan lebih pedas dari
saus frankfuter di tanganku ini – saat Kau
hendak memecah-mecah roti itu

3/
Akhirnya, aku tak bisa memaksaMu kembali
setelah habis semua remah roti
di paruh seribu merpati, dan sebagian
lagi dibasuh busa sungai yang perlahan
membuat kotaku mati

2009

Seusai Badai

Seusai Badai

Yang lantak hanya kelak
sebab aku tak bisa mengelak

Tak bisa aku menduga kau
seperti tak bisa menakar curah hujan
dengan genggam tangan

dan yang kelak terserak hanya
doa-doa tak terucap

Seperti pernah kudengar kau,
dari lambung perahu, menghalau
kumpulan awan

Ah, seusai badai ada banyak
yang bisa kita kumpulkan

diam-diam

2009

Dari Sebuah Kursi di Ruang Mahkamah

Dari Sebuah Kursi
di Ruang Mahkamah

1/
Aku duduk di sini,
tapi – ”Siapa sedang
bertamu?”

2/
Kau kisahkan kembali Bao, Sang Hakim,
Meski ada yang aku tak bisa mengerti;
benarkah keadilan itu datang dari langit?

3/
Aku sakit, aku menjerit!
Ruang mahkamah maha sempit ini
tak sanggup lagi mengurung jiwaku,
tak bisa lagi memberi jawaban
segala yang rumit

4/
Ya. Tak ada yang peduli pada pleidoi
setebal debu di kakimu. Aku hanya
ingin duduk di sini. Seorang diri.

Walau tak akan kujumpai
para tetamu

5/
O Sulaiman, raja bijak mana yang
datang mencuri pedangmu?

Begitu banyak bayi mati di kali,
di tempat sampah, di restoran,
di perempatan, di gendongan pengemis,
tanpa ada yang membelahnya jadi dua!

Tanpa ada tangis Ibunda

6/
Akan kuceritakan lagi padamu
Khrisna yang Agung - dia yang hanya
dua kali bertiwikrama – hanya untuk
bersilang sengketa

karena kau bertahan, begitu pejam
- dan juga kejam! - seperti tidur
Sang Baladewa!

Ah, Ruang mahkamah!
Betapa cepat perubahan terjadi
layaknya kincir angin di langit-langitmu

7/
Mataku tak pernah …

Sepasang Sepatu di Kompas.com

Ditulis oleh Cunong N. Suraja

Dari ketiganya telah tercatat sepatu sebagai tema besar. Tengok saja sajak Maulana Achmad: Kwatrin Sepatu di Luar Mesjid (15) dan sajak Dedy T Riyadi: Pesta Sepatu (88), Sepatu Adam dan Hawa (93), Pertanyaan untuk Iklan Sepatu (98), danSepasang Sepatu yang Tertinggal di Via Dolorosa (99), sedangkan Inez Dikara tidak menyebutkan sepatu dengan lugas tetapi banyak sajaknya berisikan tentang jejak atau perjalanan yang tentunya tidak akan luput dari mengenakan sepasang sepatu selama perjalanannya (apalagi pengembaraannya di negeri Paman Sam yang bermusim empat!)

Di Pasar Malam sebuah ajang pertemuan para penggemar sastra malam reboan saya menerima sebuah buku kumpulan puisi (dari salah satu penyairnya: Maulana Achmad!) dengan kulit buku yang menawan dengan jelas menyarankan isi buku dengan gambar sepasang sepatu sepasang kuas dengan latar belakang pemandangan yang mengesankan dalam warna dominan hitam putih.Tiga kumpulan sajak mengingatkan pada buku puisi zaman…

Harmonia di Mata Jendela

Harmonia
di Mata
Jendela

1/
Di mata jendela, kaulah;
- setianya tempias hujan
- langkah kilat yang tergesa
- gemetar guruh yang merambat
- kerumunan massa setelah kecelakaan lalin
- riang raung ambulans

2/
Seperti seorang pendongeng,
beginilah kuceritakan suatu sore
di mata jendela;

Hujan, yang tempiasnya seperti tangisku,
sedang berjalan-jalan ketika tiba-tiba kilat
menabraknya. Mereka bergulingan di jalan,
sehingga guruh yang melihatnya sangat ketakutan.
Segera saja, orang berkerumun. Bahkan sebuah
ambulans menawarkan bantuan mengantarkan
hujan dan kilat ke rumah sakit terdekat.

Ah, semoga kau suka mendengarnya

4/

Seperti aku yang terus menerus menahan
keharuan – Ya. Ya, sebenarnya kesedihan –
melihat kau terbaring di ruang isolasi
dari punggung jendela, tanpa tahu berapa
lama lagi kau akan sehat lagi atau mati.

2009

Loro Blonyo

Loro Blonyo

1/
Seperti inikah ramai pesta?

Orang-orang melempar tawa dari sela-sela
mulut yang sibuk merasakan rendang dan telur pindang

Saat pahatan huruf di batu es itu diam-diam
mencairkan tubuhnya ke hangat udara

2/
Seperti sepasang pengantin itu, yang di antara bokor
dan kembang mayang juga aroma ratus,terus-menerus
menyapa tetamu, kami disanding

Tapi tak ada sesiapa memberi salam pada kami

Hanya tiga fotografer sewaan sesekali
mengarahkan kilat lampu di atas
hitam kuluk dan legam konde

3/
Maafkanlah kami, Sobat
Tetangan kami telah dipahat
begitu erat di atas paha

hanya bisa menduga suasana,
tak bisa menjabat dingin
di tanganmu

2009

Foto yang Hilang

Foto yang Hilang

Pernah di sebuah langkan, hanya kita berdua
memandang ke tubuh sungai, ke rubuh sangsai.

Di mana mulut-mulut lumut, seperti serombongan
liliput tanpa sepatu; memainkan jejak-jejak
sajak yang tak pernah bisa sampai dalam perjalanan
melesapkan luka.

Ah, iya. Kau potret juga pemandangan itu.
Sepotong lahar yang tergesa turun gunung,
mengurung pertemuan kita itu.

Foto itu memang telah hilang, sisakan kosong
di mata pigura bermotif bunga. Persis seperti
ranjang tanpa kita.

2009


Note : Ini sebuah permainan arisan kata. Dilakukan dengan
www.kampung-puisi.blogspot.com yang menyumbang kata-kata:
Ranjang, Pigura, Bunga, Sungai dan Sepatu. Sedangkan saya
menyumbangkan: Langkan, Lesap, Lumut, Liliput, danLahar.

Beberapa Eufimisma

Image
Beberapa Eufimisma


Zen

Di mata telaga,
aku hanya bayang
ranting kamboja

Meditasi

Di teduh akasia,
pori pori tubuh
tumbuhkan luka

Tasbih
Ada yang terhidu
begitu berbeda
dari wangi cendana

Teratai

Telapak tangan-Mu
menyulur hingga
ke dasar

Kolam

Yang tak terjawab
angin dan daun
hanya mulut ikan

2009

Cepol

Cepol

Kau himpun sebentuk ketakutanku
sedikit lebih tinggi dari tengkuk
hingga segala yang kuhidu bagai
bau angin laut

Tapi - Ah! - sungguh lencir lembut
lecut maut itu, tegak sempurna
seperti lancip lecup mawar

dan hatiku tak pernah lagi
bisa tetap tawar!

2009

Gambus

Gambus

1/
Ya, Rebana! Kau gundah yang membahana
Telikung tabah telinga hingga pecah batu bisu

Ini dendang begitu berantam
tak bisa lagi degam ini kuredam

2/
Ya, Rebana! Rentak aku bergerak mengikutiMu
Lantak aku punya tubuh dan waktu

Aku dipenjarakan ruang bunyi
dibuang-jauhkan dari sunyi

3/
Ya, Rebana! Kau yang sontak bangunkan aku
dari degup-detak yang kian kuncup, kian redup

Hingga pada temali nada
aku bayangkan sulur-sulur bunga

2009

Erratum

Erratum

1/
Sebutir telur seperti mimpi
Kulitnya hijau percaya
Tidur Dia di beranda.

Hingga ada yang mendekati
sepenuh hati

dari bilik nir cahaya.

2/
Sejak dimulakan
tidur-Mu dijagai ruang-ruang antara

Dari mata ke kata
dari kata ke makna

3/
Kulitmu sehijau telur
Sebutir demi sebutir, mimpi lungkah
ketika Kau melangkah

Dari beranda, cuaca tak dapat lagi tercandra
Di ruang tengah, kamar tidur, dan dapur,
bayang-bayang semakin kabur
Semakin lamur

Akulah Si Buta
yang belum bisa
Kau celikkan!

4/
Aku meraba dan merasa
Mengindera suasana belaka
Hanya bergantung pada percaya;
Ini kerinduan sangat menyengat jangat!

Tanpa tongkat putih, anjing penuntun, dan kaca
mata hitam, aku melangkah. Mengarahkan tubuh
pada kuncup-kuncup kata

Agar tak terlangkup hidup
Tak diruntuhi serpih-serpih diri
Tak dirutuki yang mengingin abadi

5/
Tanpa merah yang sangsi
Kau tegaskan lagi tanda-tanda
yang harus kuhindari

2009

Dia Kini Berjubah

: de

1/
Dia ingin berubah. Tak sekadar mengganti
gambar avatar pada halaman profile, atau
juga mengganti alamat email. Dia bahkan
ingin segera menutup akun facebook!

2/
"Aku ingin mencari sesosok paderi dalam
diri," katanya dengan mata seredup senja
di sebuah kartu pos bertuliskan Pulau Dewata.

Aku menduga; dia akan berkelana. Jauh
ke tempat-tempat yang tak terjangkau
sesiapa bahkan oleh jagad elektronika.

3/
Blognya sudah lama tidak diupdate.
Tak berbalas beratus email, note's tag
dan chat.

4/
Dia kini berjubah. Jenggotnya lebat seperti
akar kecambah. Berdiri dekat rumah ibadah.

"Aku sudah pasrah. Tak kutemukan juga
yang kucari. Tapi aku merasa lebih baik
begini," katanya sambil senyum-senyum
sendiri, waktu kutanya apakah sang paderi
sudah dia temukan.

"Kulihat kau juga sedang gelisah," katanya
tiba-tiba. Ya, begitu tiba-tiba. Hingga tak
kudengar senja tengah mengetuk jendela.

2009

Kepada Patung Kuda di Jalan Fatmawati

Kepada Patung Kuda
di Jalan Fatmawati


Dekat kedai gipsum,
kakimu terangkat ke udara.
Siapa yang akan kau sapa?

Duhai, Kaki membatu,
hentakkan saja sepi mu
ke dadaku! Ya, ke dadaku!

Agar runtuh segala ragu,
lepas setiap yang repas.

Dan yang termangu
- tetangan terbelenggu -
silakan saja berlalu!
Melintas dari hadapmu.

2009

Bugenvil

Bugenvil

/1/

Dari bahu jalan tol, tangan-tangan itu
memanjangkan mataku

Tangan yang juga melintaskan kembali
kota yang telah mati berulang kali

hingga mata ini seakan tubuh sungai
yang penuh bangkai

/2/

Apa tersisa di situ?

Selain berkas bunga
kertas yang tinggal sesaknya

dan seorang diri, ia
mengenang panjang leher hujan
dengan cupang merah malu

/3/

Ah, kenangan!
Betapa lekas bunga itu lepas
dari tubuhku

Tubuh sungai
yang terus menghempas
bangkaimu

2009

Nautilus

Nautilus

1/
Di telingaku, Kau simpan laut
sedekat ujung maut

2/
O, Tubuh yang melengkung
lekaslah Kau bangun!

Ombak telah menggunung,
dan bahtera ini limbung

3/
Dari luar cangkang, telah
kubuang sejumlah bimbang

kusisakan sedikit sirip
dan himpun teritip di perut

perahu, di carut wajahku
Karena hanya bisa kurang,

dan tak mungkin hilang.

4/
O, Mulut yang Siput. Ini badai begitu
ribut, sedang pelayaran berpantang surut!

O, Mata yang Melata. Kau sebut apa
yang menyambar tiang bendera dan layar?

5/
Di tubuhmu, kuputar lagi
sepenggal sepi

6/
Yang meringkuk seperti kelomang
membentuk gelombang

dari
deru
dermaga

2009

Tobong

Tobong

1/
Tak ada seekor kera
dalam bubungan bara

sebab ini bukan tangis
seorang Shinta, Sayang.

2/
Tuhan lebih dulu menyapa
wajah merah gerabah

sebelum ditata tanganmu,
sebelum dibaca bibirmu, Api.

3/
Telah dibariskan – dan digariskan - wajahku
pada lebam sekam, ngeri jerami, dan tirus

ranting turi, agar setiap api – setiap kali
- menyirami mataku.

4/
Seperti Hanuman, yang di jarinya
tersemat amanat seorang raja,

hendak kuujarkan - kupijarkan
lagi - redup rahasia cahaya.

5/
Hingga yang dulu mengais
- menangis - tak lagi berduka

sebab Tuhan turut mengaduk
tanah, membuatku tak lagi buta.

2009

Hidangan

1/
Setiap malam, di meja makan,
kulihat kau menggeliat setiap
tajam pisau mengerat tubuhmu

dan setiap keratan itu
menjerat tubuhku.

2/
Dengan dada gemetar
(yang bukan tersebab lapar)
kuterima tubuhmu
jadi tubuhku

Inilah tubuh yang kusentuh
dulu. Tujuh lubang peluru
telah lama tumbuh di situ.

Dan dari lubang-lubang itu,
kutemukan kembali lukaku.

3/
Aku makin tersesat di
tubuhmu, tersangkut
dalam lubang luka
bermata nyalang.

Ada yang mendesak-desak,
seperti kerongkongan tersedak,
seperti suara isak
hanya lebih lirih;
Keluarlah! Keluarlah!

Tapi tubuhmu
makin erat,
dan tubuhku
makin berat
meninggalkan
lubang lukamu.

Menanggalkanmu!

4/
O, kuingat lagi;
Kau menggeliat di tajam pisau,
keringat dan darah jadi atau,
dan suka cita adalah duka cita
yang terlampau risau.

Kulihat lagi di meja makan,
setiap malam, tubuhku
mengerat tubuhmu, dan
tubuhmu melumat tubuhku.

Setiap malam.
Setiap makan.

2009

Kuda Putih

Larilah! Semua dada telah tikai,
segalanya, ya segalanya, pun surai
kita bukan lagi satu tubuh
seperti gema dalam gemuruh

yang membentur sebelum perlahan
menghilang. Kau dengar itu bukan?
Seakan ada yang terus berseru
kepadaku atau juga kepadamu

seperti panggilan pulang, panggilan
sayang - satu nama kecil di lidah ibu,
dan alamat-alamat dalam kenangmu

yang belum bisa hilang, yang belum tuntas
kausambangi; sebuah padang demikian luas
bagi kaki-kaki yang kehilangan sepatu.

2009

Lelayu

Musim merupa sepanjang surai di tengkukmu
tiga pokok akasia dan gunung pucat di sebelah sana
menggulung kabut, menyentakkan debu
kaki-kaki tanpa ladam, melejanglah ke arah mata

Butiran yang turun perlahan, tak bisa kautahan
sebab gigil telah sepakat menjerat sepenuh kabar
tinggal debar serupa langkah-langkah pelan
sebelum semuanya tiba-tiba menghingar

Inikah musim berduka? Tiga pokok akasia
dan gunung pucat terdiam sementara
matahari seperti ibu memanggil anak-anaknya

Atau masihkah datang petualang baru
dengan kuda yang lebih gagah, sepertimu
yang menghilang di antara kepulan debu?

2009

Menjerit, Hetfield!

Image
Yang kau percaya; keadilan telah
selesai dituliskan, usai pula diceritakan.

Hingga kanak-kanak itu selalu berdoa,
sebelum tertidur dengan sebelah mata
tak sepenuh pejam.

Dan dengan leluasa ada yang berjalan,
bergandengan tangan. Memeluk
segala bentuk, merentang segala
yang tertekuk, menentang hal-hal
yang begitu teruk!

Yang kau percaya; keadilan akan
ditegakkan oleh sesosok mahluk
yang dibentuk dari pasir, dari
angin yang berdesir, dan bukan
dari gerak bibir.


Mahluk yang datang ketika malam,
saat semua mata hendak memejam!

Menjeritlah! Berteriaklah yang
paling jerit! Sebab di sempit waktu,
kita hanya bisa memutar kepala
dan membayangkan semuanya
menghitam. Menghitam!

2009

Mari Menari, Marley!

Image
Mari Menari, Marley!

Seperti pagi di mata tiga ekor burung,
dunia ini tak sepenuhnya murung.

Ditinggal kekasih, dibawapaksa
ke negeri asing, dilanun ombak raksasa,
bahkan terdampar di pulau tak berpeta,
bukan suatu hal yang luar biasa.

Seperti sesesap terakhir pada
selinting ganja yang hampir
puntung, kau mulai bersenandung;

"Mari menari, melupakan
pedih perih di hati."

Tapi - Hei! - air apa mengalir
di kedua pipi?

2009


image courtesy of www.itsablackthang.com

Berbahagialah, Hagai

Meski dari Babel kami tercerai,
ke rumahmu, ke atas bukit itu,
kami akan sampai.

O Zerubabel, betapa kami tak ingin
berjumpa musim-musim tak sejuk,
tak dingin; saat ladang gandum,
pucuk zaitun, dan bulir-bulir anggur
tak sempat lagi kujumput, tak dapat
lagi kaupungut.

Dan kau, Yosua, betapa kami rindu
bersua wajah-wajah ramah, tanah
yang rumputnya selalu basah; karena
segala ternak, rusa dan kanak-kanak
kami senantiasa ingin berkelana,

mengembara ke atas bukit itu,
ke dalam rumahmu. Hingga dari
Babel, dengan segala puing dan
reruntuhan, kami akan bangkit!

2009

===============================

Be Happy, Haggai

Even from Babel we've been separated,
into Thou house, up to the hill, we will embark.

O Zerubbabel, how we don’t want to feel
a dry seasons, a hot weather; times when
our barley field, olive trees, and vineyard
give me an empty wagon, none in your hand.

And you, Joshua, it’s happened because we
want to see happy faces, a fertile land
with herds of cattle, a deer, and our children
are running around, climb…

Dua Sajak Saya di Koran Tempo, 05/04/09

Dua sajak saya, Taman Hujan dan Hikayat Mistar,
dimuat mendampingi 3 sajak TS Pinang di Koran Tempo
edisi Minggu, 05/04/09.

Taman Hujan

Kini kau pandai menanam hujan.

Di tanganmu, hujan bersulur panjang. Daunnya tunas dan hijau terang.
Matahari begitu cemburu, sebab setiap pagi dia ingin paling hijau sendiri.
Bersiasat dengan awan dan kilat, matahari mengirim hujan yang lain.
Hujan dengan tubuh yang sangat cokelat.

Kau petik juga dedaunan hujan.

Keranjangmu begitu pemalu. Setiap habis bertemu hujan, ditulisnya
sebuah catatan. Sesuatu yang - padahal - sangat ingin dia ucapkan.
Seperti yang satu ini; "Hari ini hujan tampak kelabu. Dia lupa menyemir
sepatu."

Kau pulang berkalung hujan.

Rumahmu sudah penuh hujan. Sebut saja satu per satu; kursi hujan,
meja hujan, almari hujan, bahkan kasur hujan pun ada. Tapi kau masih
merasa kehilangan sesuatu; sepatu hujan. Sebab dengan mengenakannya
kau akan bisa bertemu seorang Ibu. Ibu hujan.

2009

Hikayat Mistar

Alahai, Tuan. Kau jarakkan kami dari pohon. Dari …

Perasaan, Peristiwa, dan Puisi

Dedy Tri Riyadi
PERASAAN, PERISTIWA, DAN PUISI

Semacam Komentar Panjang Setelah Membaca Kumpulan Sajak
Gunawan Maryanto; Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri
Petualangannya.

Pertama kali selesai membaca sajak-sajak Gunawan Maryanto yang akrab
dipanggil Cindhil ini, yang terpikirkan oleh saya adalah betapa pandai
dia menarik ulur perasaannya terhadap setiap peristiwa. Peristiwa atau
kenyataan hidup sehari-hari, dalam ranah semangat puitika, menurut Saku-
taro adalah hal-hal yang harus berada di bawah puisi itu sendiri – dalam
esensi puisi romantis – atau dikritisi oleh puisi itu – dalam esensi pe-
dagogis. Namun yang saya amati dalam puisi-puisi Gunawan Maryanto ini,
ada semacam sifat untuk menerima kenyataan tetapi juga tidak begitu saja
prosesnya sekaligus tidak juga menafikannya.

kita telah melintasinya
mereka telah melintasi kita
tak ada beda : mereka telah tak ada
cinta jadi sia-sia

(Kolam Ikan dan Beranda Kosong)

Tapi benarkah segala yang terjadi itu sia-sia? Bukankah dalam semangat pui-
tika ad…

Kau Selalu Punya Cara Untuk Mengatakan Kita Masih Berbahagia (2)

Cara #2. Kau Tidak Sedang Sekarat
dan Dirawat di Sebuah
Rumah Sakit Darurat
Di Selatan Gaza
Seperti keledai pada sebuah lubang,
aku selalu terperangkap dalam satu kenang;Matamu bicara luka, selalu luka.
Dan kapan berakhir dengan kematian -
aku tak bisa mendugaBetapa luas matamu, kataku
Lebih tegas dari kematian? Tanyamu
Hingga hanya kesedihan tak pernah lekas
tak pernah bekasSetelah dengan api kau bicara cinta,
dengan apa lagi aku akan bicara luka?Airmata - katamu - seperti hidup itu sendiri
mereka lah mataair sesungguhnya
yang akan terus menghidupkan aku,
engkau, dan anak-anak kita;mereka yang selalu bicara
tentang seekor keledai
yang ditambat dekat tembok kota
sehari sebelum kematianmu.2009

Litani Pagi Hari

1/
Sejak dari Gilgal, bahkan jauh sebelumnya,
lenganmu lurus panjang.
Sehunus pedang.
Menembusi bidang
dinding tebal,
hati yang banal,
mata yang gagal
menangkap;
dari mana jatuh bulir-bulir manna,
dari mana asal burung-burung puyuh di tenda,
dari siapa suara yang begitu riuh

hingga runtuh menara-menara yang angkuh,
hingga terampas kota-kota terjauh,
kota di mana nyaris tak bisa
kujangkau engkau.

Duhai, lengan yang anggun mengayun,
Segerakanlah dia bangun!

2/
Dia serupa bingkai jendela,
dan aku bagai penari belia.

Dan seperti pada sebuah taman,
aku dan dia akan mulai berbagi peran,
dalam sebentuk permainan;
membentuk bayang-bayang.

Dalam sajak ini, tak hendak
aku beranjak. Hanya duduk
dan mereguk semriwing
suwung di tubuhnya. Hal-
hal yang – kutahu – begitu
sederhana. Begitu tanpa makna.

Sampai dia menciptakan
teman yang lain,
teman yang bisu,
hanya saja selalu

Jika Cinta Dikatakan Dengan Benar

Semacam Komentar atas “cinta yang marah” – serangkaian sajak M. Aan Mansyur

Satu Bentuk Penghiburan
Dalam kitab suci, kasih diibaratkan sebagai Tuhan itu sendiri; Sang Sumber Kebenaran sejati. Dengan demikian, jika memang cinta kasih yang diungkapkan, tentunya tidak akan pernah menimbulkan satu pun perselisihan, atau satu bentuk kemarahan. Melainkan hanya kedamaian, atau satu bentuk rasa yang sangat mencerahkan dan dirindukan.

Adalah sebuah ironi bahwasanya M. Aan Mansyur mengumpulkan 21 Sajak Berjudul Panjang untuk kemudian disebut sebagai Cinta yang Marah. Tetapi lantas hal itu menjadi semakin rumit, ketika membaca sajak-sajak di dalamnya yang memunculkan bahasa yang lembut, bahasa sepasang kekasih yang ngelanut, dalam semacam perenungan antara Aku dan Kau yang demikian erat.

Tentunya tidak main-main – bahkan hal ini sangat serius untuk disikapi – bahwa untuk menyatakan kesedihan dengan susunan kata-kata yang demikian indah dan menenangkan. Toh, jika kita – para pembaca, dalam skup keci…

Bejana

: Bisakah kita saling meminjam catatan?

Di lehermu, kupautkan kuncup-kuncup
air mata, sesuatu yang kini berdegup-
degup dan membahana

di dasar tubuhku,
di sekitar kulitmu
yang rapuh,
yang nyaris tak tersentuh.

Seperti luka-luka jaman,
yang koyak hanyalah
liku-liku perjalanan
sebelum suara-suara itu
terpendam dalam.

Di bibirmu, kusaksikan hilangnya
nyanyian, kata-kata yang angslup
diam-diam, seseorang sangat
ingin slulup, menyelam

di rongga hatimu,
di gua-gua yang bisu,
pada catatan yang berdebu
: waktu.

2009

Kembali Ke Desa

Kembali mengubur sisa-sisa usia pada berbatang-batang
asam jawa dan pematang-pematang sawah, pada lincah
bocah-bocah yang tak peduli dengan tubuh kurusnya
atau sungai yang deras arusnya, pada layang-layang
dan panjang benang yang pada tubuhnya ada jemari
yang luka dan kaki-kaki yang pincang, pada panggilan-
panggilan sayang dan permainan di halaman belakang,
pada pelepah dan batang pisang, pada saat deklamasi
atau (bisa kausebut) berpuisi di hadapan papan hitam
dan kotak kapur tulis, pada rima dan irama yang diaturnya
dalam dada sebelum diledakkannya suaranya yang pertama,
pada mata, telinga, dan kaca-kaca jendela di mana pertama kali
memandang dia; hal yang untuk pertama kali mengingatkan
pada satu kata: "kota".

2009

Jendela Bus Kota

Sedikit terbuka dia pada bagian dada
hingga tak sedikit mata menaruh harap darinya

agar segera dibebaskannya kata-kata dari mereka
yang meniup-niup kepala, meletup-letupkan isi dada
dan mencari makna cuaca yang tak tercatat oleh jam tua.

Banyak yang ingin bersandar di pangkuannya,
kembali menjadi anak-anak, kembali memahami
setiap kabar dengan bijak

agar ketika ada yang melaju, menuju akhir perjalanan,
seakan ada yang harus dikekalkannya; rambut ikal
yang urung diudar, juga hal-hal yang batal diujar,

seperti sebuah sapaan. Sederhana saja.

2008

Melankolia Mata

: menerjemahkan alun-alun kota tua karya Claudia Velasco

Kolam itu seperti seorang penggembara yang begitu haus.
Begitu rakusnya akan air yang tak henti mengalir dari ceruk
batu besar abu-abu di tengah-tengah kolam. Sebagai balasan,
dia pantulkan langit biru terang dan sedikit putih awan.
Sepotong pesona siang yang mungkin hanya bisa kau temui
di sebuah musim semi yang asing.

Di antara lompatan kakikaki tiga ekor angsa cokelat muda,
digubahnya serangkaian titinada yang bergema
di tembok-tembok bangunan tua.

Kurasa rinciknya akan sampai kepadamu,
sebab di sini terlalu lengang.

Tak ada sesiapa tercermin di kaca-kaca jendela
di sepanjang deretan kafe dan toko-toko
yang dilamun kenangan.

Tak kujumpai dia yang melangkah cepat
hingga tiga ekor angsa itu meloncat,
atau ucap terkejut seseorang dengan kulit pucat
yang mengintip dari tirai gerai roti
yang setengah tertutup – mengira
kau,
aku,
atau
seorang penggembara lainnya singgah

Vladimir Mayakovsy - Lewat Jam Satu

Vladimir Mayakovsky
Lewat Jam Satu

Lewat jam satu. Kau harus tidur.
Galaksi bima sakti mengalirkan perak ke
dalam malam. Aku tak tergesa; dengan
telegram-telegram yang tibatiba
aku tak punya alasan apaapa untuk
membangunkan atau membuatmu
gundah. Dan, seperti yang mereka kata,
kejadian ini teramat dekat. Bahtera cinta
telah remuk tertumbuk kekelaman seharihari.
Sekarang kau dan aku sama terdiam. Untuk
apa berpayah selaraskan kesedihan-kesedihan,
kepedihan-kepedihan, dan luka-luka kita.
Lihatlah betapa kesunyian diam di bumi.
Malam membungkus langit seperti
persembahan dari gemintang.
Pada jam-jam begini, seseorang bangkit
mengalamatkan usia, sejarah dan segala
ciptaan.


1930

Engkaukah Jendela Itu?

1/
Saat tetangan hangat ayah matahari memeluk erat sembab bantal,
selimut tebal,dan rambutnya yang ikal. Memainkan cahaya pada
deretan foto keluarga di samping ranjang, mengecupnya di antara
kelopak mata yang setengah pejam;

karena terlampau lelah ia mencari wajah bunda bulan di dada malam,
dari antara larik-larik sajak cinta yang pernah ia tuliskan, pada
takik pepohonan dan perdu, pada pekik pungguk perindu.

2/
Ketika tekun dibacanya sajak seorang penyair buta - yang mudah-mudahan
aku tak salah mengutipnya - “sekarang semua orang yang selamat, mereka
yang terhindar dari kematian, telah berada aman di dalam rumah, jauh dari
hingar perang dan garang gelombang, hanya ada seseorang …”

Dan dia merasa - pada saat itu – dirinyalah
yang dimaksud dalam sajak itu;

karena sayap-sayap sepi
akan segera menghantarnya pergi

dari kepungan matamu

3/
Pada waktu seorang senja datang
mengulur tangan, dan membekalinya
benih pagi; benih yang selalu tumbuh
di atas batu.

Batu waktu.


2009

Sebelum Pergi

Dipatut-patutkan tubuhnyadengan sepasang sepatu.2009

Sehabis Mandi

Dia mengira tubuhnya hanyutbersama sisa syampu, bekassabun, dan air keruh itu.2009

Saat Menunggu

Kau hitung juga bulir cemasku,seperti dia yang berzikir pada butir pasirdalam bejana waktu. Diterjemahkannyakitab-kitab perasaan dengan bahasa angindan hujan, hingga tubuh ini menjelma sungai,ambangkan bangkai.Seakan ada yang bertanya“Siapa hendak segera mati?”Tapi suara-suara itu terlalu tulidengan dirinya sendiri.Di sini hanya ada meja-meja kosongdan seseorang, secara perlahan, ditelanbalon percakapan tanpa isi. BahkanYusuf pun menolak hadir di sini, sebabini memang bukan dunia mimpi.Aku meraih bulir cemas dari tanganmu.Antara hendak meremas dan menghempaskannyake sudut ruang atau menyeludupkannyake jangkauan saku celana.Aih, betapa cemas adalahlangkah-langkahku sendiri.Bersiasat dengan sepatu,dia menuju pada sebuah pintu.2009

Taman Hujan

Kini kau pandai menanam hujan.

Di tanganmu, hujan bersulur panjang. Daunnya tunas dan hijau terang.
Matahari begitu cemburu, sebab setiap pagi dia ingin paling hijau sendiri.
Bersiasat dengan awan dan kilat, matahari mengirim hujan yang lain.
Hujan dengan tubuh yang sangat cokelat.

Kau petik juga dedaunan hujan.

Keranjangmu begitu pemalu. Setiap habis bertemu hujan, ditulisnya
sebuah catatan. Sesuatu yang - padahal - sangat ingin dia ucapkan.
Seperti yang satu ini; "Hari ini hujan tampak kelabu. Dia lupa menyemir
sepatu."

Kau pulang berkalung hujan.

Rumahmu sudah penuh hujan. Sebut saja satu per satu; kursi hujan,
meja hujan, almari hujan, bahkan kasur hujan pun ada. Tapi kau masih
merasa kehilangan sesuatu; sepatu hujan. Sebab dengan mengenakannya
kau akan bisa bertemu seorang Ibu. Ibu hujan.

2009

Hikayat Mistar

Alahai, Tuan. Kau jarakkan kami dari pohon. Dari tepi taman.
Sementara kami tak pernah memohon, tak juga menginginkan.

Maka datanglah ular. Sedepa lebih panjangnya. Kami merentang
tangan. Mendekap tidak, hanya agar tak terpegang.

Dibisikinya perempuan-perempuan kami akan sebuah niscaya,
yang sungguh-sungguh tak akan bisa kami percaya.

Tapi, beginilah yang terjadi. Kami ini lelaki. Seperti bumi.
Lubang-lubang di dada kami selalu minta ditanami.

Dan perempuan-perempuan kami adalah petani
yang sejati. Di tangannya selalu saja ada benih.

Ular itu, Tuan. Sedepa lebih panjangnya. Melintas
di depan kami. Merapatkan kami, laki-bini, hingga dia puas.

Dan tak kulihat Engkau, Tuan. Sebab kini
ada jarak mencegat kami. DariMu, dari taman ini.

2009

Percakapan Pengantin di Sepanjang Batanghari

/1/Katamu, dahulu duniasebesar telur angsadan kita menjadi kehangatanyang sangat didambaAku, AdammuEngkau, HawakuKita bersatudalam perahuDari rahimmu,Dan hangat pelukkuLahir dunia baru/2/Ini kisah cintayang tak biasa,Dan aku merasasangat mengenalinyaHingga pada akhirnya,ada satu bahtera berlayardengan arahan sepasang angsaTapi, jangan pernah kautanyakansuatu tujuan, sebab pelayaranbaru bermula/3/Tapi kita bukanlah kaum Nuh, SayangLangit teduh dan tak ada gelombangHanya angsa-angsa pemberianTemenggung Merah Mato,di buritan Kajang Lakopendukung segala isyarat arahke mana kita turun mendaratMaka demikianlah kukatakan,Alahai Sayangku, Mayang Menguraiini dunia, kita yang punyaUntuk selamanya/4/Dan pada tubuhmu, Batangharikujelmakan misteriKunci abadi Negeri Jambi; sebuah cinta suciSebab di hilir nanti, ada yang menepi: kita yang abadi2007

Aku Ingin Ke Puncak Sepi

Sepatu baru kembali. Keringatnya deras sekali.
"Perjalanan ini tiada henti!" Protesnya kudengar
lirih. Aku, lebih baik tidak peduli karena malam,
ini kali, kurasakan teramat sedih.

Sepatu ingin berhenti. Antara kanan dan kiri
saling berganti menjegal langkah sendiri.
"Aku akan terus berlari!" Aku yang protes
kali ini sebab hampir menetas benih pagi.

"Duhai Penyair, ke mana engkau ingin pergi?"

Aku ingin ke puncak sepi. Di mana tak pernah
lagi kudengar riuh ibukota, keluh ibu kata, dan
rengek sajak-sajak yang ingin beranjak dewasa.

2008

Jika Aku Menulis Surat Untukmu

1/
Jika aku menulis surat untukmu, pada bagian awal,
akan aku cantumkan panggilan sayangku untukmu.
Sebab, sudah pasti, surat ini kutujukan hanya padamu.

Selebihnya, kau bisa tebak, bukan? Aku lebih banyak
bercerita tentang diriku yang merasa rindu, kehilanganmu,
dan bagaimana aku bertahan tanpa dirimu di sisiku.

Ya. Tak ada kamu. Karena memang akan selalu begitu.

2/
Aku hanya akan mencatatkan kenangan pada bagian pesan.

PS : Kau masih ingat pohon kamboja di samping rumah?
Wangi bunganya selalu mengingatkan aku saat kepergianmu tiba.

Karena di batang kamboja, kita saling menuliskan nama
dengan tanda hati di antaranya. Dan sebuah kalimat yang kita
sepakati bersama; "Sampai kematian memisahkan kita."

3/
Aku selalu ragu untuk mengakhiri. Karena akhir
sangat bisa menjadi mula sesuatu yang lain.

Kububuhkan namaku saja. Nama yang mungkin
bisa mengingatkanmu pada seseorang yang pernah
kaukenal dahulu, atau nanti. Atau mungkin baru
pertama kali kau dengar.

Ingin sekali kutambahkan kata cinta.
Cinta, saja.…

Bagaimana

Bagaimana semestinya
kita mengucap cinta?
Jika telah terbiasa
mengecup kuncup luka.

Bagaimana bisa kita
merasakan rindu selalu?
Jika arah sepatu
tak sepenuhnya menuju.

Bagaimana kita akan
temukan yang sejati?
Jika ragu, segunung batu,
selalu memenuhi hati.

2009

Sajak untuk Addiction

Pakde Totot, seorang penggiat di dunia advertising dan juga sastra sedang mengupayakan lahirnya kembali majalah periklanan ADdiction, yang diberi nama ADdiction 2.0. Lewat facebook, saya mendapat undangan untuk mengirimkan sebuah sajak pendek yang rencananya akan dimuat di ADdiction 2.0. Sajak itu disyaratkan sebagai sajak terakhir yang dibuat seolah-olah sedang berhadapan dengan Malaikat Maut. Sajak terakhir dalam hidup seseorang, tentunya. Saya kembali teringat pada sajak-sajak dengan idiom sepatu. Sajak-sajak yang menurut beberapa teman menjadikan mereka menyebut saya dengan istilah "tukang sepatu".Bagi saya, sepatu adalah kedagingan, artifisial life, atau sesuatu yang sifatnya secondary. Tetapi dia juga bisa punya fungsi yang sangat ber-prinsip. Maka lahirlah sajak ini. Sajak yang saya beri judul Sepatu 2.0, sebagai kaitan dengan ADdiction 2.0 juga ...Tidak muluk-muluk, harapannya agar sajak ini bisa dimuat saja ...hahahaHal yang terbersit dari kata kematian, sebenarnya …