Peristiwa Desember

Airmataku sudah jadi petir yang menyambar
ujung Desember hingga semua angka menghitam,
dan tak bisa kubedakan Senin atau Minggu, hari Besar
atau hari Libur Nasional.

Api semakin besar. Di dalam dada. Di atas kepala.
Oksigen adalah kesabaran yang semakin langka.
Semua jadi ingin muntah. Sesak nafas dan pusing.

Lalu, hari-hari adalah hujan. Semua jadi rindu
matahari besar. Kita di sini terlelap dalam
kedinginan, tenggelam bersama sepi dan jemu,
semakin gusar oleh segala hal.

Sementara, sajak-sajak semakin menggoda saja.
Lebih dari sebuah nama hari, atau sebuah angka.
Penaku bertambah betah. Seperti peluru kian berdesing!

2009

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Joko Pinurbo: Seperti Bermain Bola, Hidup itu Bertekun dan Riang