Posts

Showing posts from 2016

Ini Bagaimana Ia Mengucap Selamat Tinggal pada Langit Biru

Ia akan mengucapkannya
seperti mengajarkan ucapan itu
pada bayi. Berulangkali.

Meski sayap gelap telah direntang,
dan kematian adalah ladang dengan
cukup benih dan buah untuk ditabur
dan dipanen dan banyak sekali orang
datang kepadanya.

Ia mengucapnya seperti merpati
yang membersihkan bulu-bulunya
tanpa sadar seekor kucing mengintainya.

Meski ia tahu, lorong kehidupan
makin sempit, dan tiap detiknya menjelma
pesawat udara yang menjatuhkan peringatan.

Pada akhirnya, ia paham -- diri adalah
hantu bagi masa lalumu, dan suaranya
hanya sebuah derau di kibar bendera.

2016

Dylan yang Tak Pernah Berniat jadi Penyair

Roadtrip Songs

The distance is going back to Cali.
Take it easy, keep the car running.
Jack & Diane are running on empty
but two of us are going up to country.

Don't stop believin' just runnin' down a dream.
Where the streets have no name,
this ramblin' man on the road again.

Let me ride mustang sally.
Have love will travel, Mr. Blue Sky?
Let the fast car hit the road jack.
Roadrunner was born to be wild.

On the road again, I drove all night.
The golden age of green onions.
Truckin' Graceland, I've been everywhere.
I gonna be 500 miles from Interstate love song.

2016

Golgota

Kau akan punya puncak bukitmu sendiri.
Tempat kau teriakkan sakitmu itu.

Perjalanan mendaki ini, telah dimulai
sejak kau dilahirkan. Meski tak ada
kisah penyerbuan di taman.

Tak ada Ike Mese menyerangmu dari barat.
Tak juga Kau Hsing di timur,
atau Shih Pi yang mencegatmu dari sungai.

Di punggungmu, hanya ada panggung bagi
cambuk waktu. Tak ada tentara Wijaya
mengintai di antara kecamuk pesta Canggu
dan Daha. Di punggungmu, kayu gandar
dan kuk ringan dari harum cendana.

Kau berjalan sendiri saja ke puncak bukit ini.
Tiga ribu pasukan yang kalah telah kembali
ke kapal dan menjalani hukuman selama-lamanya --

sebagai orang jahat pada kebangkitan kedua.

Kau akan punya puncak bukitmu sendiri
dan meneriakkan sakit ditinggikan.

Sakit yang berasal dari cita-cita,
yang ingin kaujangkau --

dengan suara parau, saat berseru;
"Sudah selesai."

2016

Apa yang Dibiarkan Tak Dikatakan

Siapa peduli pada serangkaian peristiwa
yang terjadi -- tadi, kemarin, beberapa minggu
lalu, sebulan dulu, bertahun dalam hidupmu,
selain kau mengenangnya kembali.

Setiap hari memperkatakan keuntungan
dan kerugiannya sendiri. Ia timbangan juga
pasar bagi pikiran dan perasaanmu. Ia tak
menawarkan apa-apa selain ketergesaan,
atau sedikit kepanikan.

Pada akhirnya, setiap hari selalu menyelipkan
kekecewaan. Sesuatu yang luput engkau
perhatikan sebelum tertidur. Hari berikutnya,
kau pasrah -- meski menuliskan aneka pesan,
tapi tak ada telepon masuk untuk memastikan:

Kau baik-baik saja?

Matica masih mengolah roti.
Zakaria berjaga di depan pintu.
Lalu di hari Sabat, masih ada anak-anak Kehat.

Ya. Semua baik-baik saja. Sebelum kau sadar --
Setiap hari adalah peperangan dalam diri.

Hari ini Yonatan,
besok Abinadab,
dan lusa Malkisua
yang mati,

dan setiap malam, kau jadi Saul --
yang menusukkan pedang ke perutmu sendiri.

Siapa peduli pada serangkaian peristiwa
yang kau kenang kembali? Pada ak…

Ode untuk Intan Olivia

Ia telah mendengarkan panggilannya.
Karena itu, di beranda gereja, ia bercanda.

Ia tahu, Tuhan begitu menyayanginya,
sebab ia terlanjur percaya -- itu inti dari kitab suci.

Yang ia tak tahu, bagaimana cara Tuhan
mempertemukan ia dengannya --

O, surga yang dirindukan dengan cara
jahanam. O, surga yang jalan ke arahnya
penuh kebencian. Betapa curam dan dalam
jalan-jalan menujumu itu!

Ia tahu Tuhan tak bercanda dengan cintanya.
Karenanya, di beranda gereja, ia terluka.

 Ia paham, Tuhan tak pernah punya dendam.
Sebab itu ia terbujur, berangkat meninggalkan kita di sini.

Yang ia tak tahu, bagaimana cara Tuhan
mengingatkan kita yang ditinggalkannya --

O, surga macam apa yang berada di benak
mereka. O, surga yang bagaimana yang hendak
diisi dengan para pembenci itu? Betapa kelam
dan seram jalan untuk menujunya!

Ia telah mendengarkan panggilannya --
agar kita memanggul yang lebih besar

dari sekadar ujaran tentang kebenaran.

2016

Untuk Yo

Hidup memang semestinya koyak.
Cangkang telur harus pecah.
Kepompong terbelah.

Katanya, "Langit tak selalu putih.
Laut tak selalu biru. Hidup adalah
kelindan beberapa hal. Selalu
seperti itu."

Hidup memang sebuah jarak.
Daun bergagang pada carang.
Bunga disangga kelopak.

Katanya, "Ada yang gampang
terkena noda. Ada yang bersiap
untuk kusut. Hidup berangkat dari
rasa takut. Seperti tangis pertama
itu."

2016

Seberapa Panjang Malammu

~ setelah Chopin, Nocturne op. 9 No.2

Seberapa panjang
malammu? Ia berjaga
seperti menara kota --

sampai kabar pengungsi
terakhir dan tak terdengar
lagi tangis bayi lahir.

Ia akan senantiasa
pekat dan biru --

sampai habis pijar kandil
di balik jendela.

Ia terus menyangga
yang disebut rindu --

sampai dikutuk mereka
yang pulang dan lari
dari perang.

Ia tak terukur --

waktu telah habis
sebelum sempat
menakar dan menalar

hal-hal yang hilang
dari sisimu.

2016

Memberi Ketenangan pada Awan

~ setelah mendengar mereka bernyanyi Haleluyah

Gurun menahan panasnya, dalam
                   getar, dalam gambar. Orang-orang samar.

Rekah pada tanah. Garis tipis
                   debu. Sebentang cakrawala. Bayang-bayang pendar.

Waktu perlahan merah. Dengung
                   terjebak. Doa dan ucapan syukur. Memberi ketenangan

pada awan. Mereka telah putih. Telah pulih setelah
                    perkara sulit. Semburat di langit.



 2016

Drama

"Hentikan! Aku tak mau mendengar ucapanmu!"
"Kau jahat!"
 "Teruslah berpura-pura."
"Ini saatnya pembalasan!"
"Apa mungkin mereka sudah merasa, ya?"
"Biar dia tahu rasa dan merasakan sakit seperti
yang aku rasakan."
"Tunggu..Aku..."
"Kau juga cinta padaku?"
"Apa perlu aku buka semuanya?"
"Jangan. Jangan. Aku sudah tidak tahan."
"Aku muak melihatnya."
"Harusnya kamu 'ngerti dong..."
"Kenapa lo gak bilang?"
"Heh! B@&$* 'ngapain kemari?"
"Sabar dulu, Sayang. Aku bisa jelaskan."
"Ini gak seperti yang lo kira..."
"Bayangkan kalau mereka jadian."
"Hei. Kamu mau dengar 'gak?"
"Ya..Jelas lah aku kecewa."

2016

National Geographic

Kau sebaiknya melihat bagaimana
paus, hiu dan lumbalumba berlomba
memangsa ikan sarden di selatan Afrika --
dan berdoa "Berilah kami rezeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami."

Lima atau sebelas tahun mendatang,
kau harus bersiap amuk gelombang dan
banjir bandang -- es Antartika akan
meleleh sempurna, jika kau tetap bergeming
dan berpangku tangan untuk urusan
penggunaan energi terbarukan.

Namun, dunia telah mencatat cacat nubuat --
dari Cavaignac, Churchill, Roosevelt, apalagi
setiap orang telah jadi pengarang yang buruk,
bermimpi yang muluk-muluk tapi mudah sekali
mabuk oleh perangai teman satu klub.

Dan pada halaman persona, kau bisa
merasakan betapa dekat pejabat dengan
anjing peliharaannya -- bagaimana mereka
memberi nama, mengajaknya berwisata,
atau di mana tidurnya di istana. Saat itu,
kau berharap tak ada yang buru-buru
mengucap doksologi -- menutup doa.

2016

Yang Ia Bicarakan Hanya Kesia-siaan

Yang ia bicarakan hanya kesia-siaan.
Selebihnya, debam pintu dibanting,
bunyi tut-tut-tut panjang di telepon
setelah nada sambung yang tak
kunjung berganti -- halo?

Yang ia dengar semacam kesah
yang segera berubah -- entah jadi apa.

Ia lebih percaya pada suara
di dalam kepalanya. Semacam gema
merambati dinding gua. Kepak kelelawar
saat senja. Geletar di muka air saat selembar
daun jatuh. Ia lebih percaya --

pada diam batu, dan kesiur
angin pada kulitnya.

2016

Jembatan

Mereka yang berangkat dengan
harapan dan yang pulang dengan
kenangan akan disambutnya dengan
tangan terbentang.

Mereka yang resah akibat kesepian
dan yang basah oleh kerinduan
akan dihantarkan pada gerbang
pengharapan yang lengkungnya

kerap membuatmu bingung
dan menerka -- fajar atau senja
yang semburatkan rona jingga
di langit itu?

Di atas sungai, hidup yang arusnya
tak kunjung santai, ia menjadi
ketenangan yang direntang
dari keinginan dan kecukupan.

Seperti keheningan setelah
sebuah kecupan.

2016

Kota

Ia memiliki segalanya,
meski berupa kesempatan.
Ia memiliki waktu untuk
menggambar kesibukan,
juga memelihara sepi.

Ada banyak jalur rindu
di sekujur tubuhnya, dan
aneka tanda cemburu.

Ada taman untuk setiap
kenangan, beragam mimpi
untuk ditanami masa depan.

Ia memiliki banyak gedung
menjulang, yang dinamakannya
-- jangan! Dibangun pula
tembok besar tempat meratap.

Ia kumpulkan banyak teman makan,
teman minum, dan teman yang hanya
bisa dihubungkan dengan nada tunggu.
Mereka bisa berada di taverna, kafetaria,
atau bilik suara. Mereka yang bisa dibilang
-- penipu.

Ia tumbuh dari kekosongan,
dan akan luruh dari kerongkongan.

Sebelum subuh, ia memanggilmu.
Ia semacam ruh
yang mengancam kenyamananmu.

2016

Ia Dengar Nyanyianmu

Ia dengar nyanyianmu,
pujian bagi kebebasan itu.
Ia merasa diajak berharap
dan berjaga di setiap jengkal
nusa. Ia merasa beserta mereka
yang siap mati dan merdeka.

Ia dengar nyanyianmu,
perjanjian bagi tanah itu.
Ia merasa ikut duduk dan meratap
dalam misa -- peringatan secara nasional
-- para pejuang dan mereka
yang telah mati dan merasa

nyanyianmu itu adalah darah
yang mengalir dalam nadi,
dan terus menghidupi negeri.

2016

Ia Telah Melihatmu

~ setelah lagu Natalia M. King

Tidak. Kisah ini tak akan berakhir.
Meski telah lerai peperangan itu.
Telah usai masa dipenjarakan waktu.

Ini jalan baru dibuka. Selembar
peta dan bintang di langit utara
akan menuntunmu kepadanya.

Belum. Rasa lapar dan haus itu
belum saatnya dipuaskan. Kedai
24 jam baru membuka pintu dan

jendela. Sebuah sumur dan air
mancur di tengah taman hanya
semacam pembuka permainan.

Kau harus mencoba komidi putar
atau bersepeda ria. Kembali pada
masa kanak atau remaja. Ya. Ini

bukan soal dibutakan usia dan
kebutuhan mengisi jeda di antara
menangis dan bersuka. Ia telah

melihatmu sekian lama,
memperhatikanmu dengan saksama.
Dan kini, ia perlihatkan bagaimana

ia akan membawamu pada kisah-
kisah penggembaraan penuh
kegembiraan. Agar kau tak hanya

duduk dan berkata -- Betapa
sia-sia anak manusia. Betapa
sia-sia hidup di dunia. Betapa

hidup begitu sementara.

2016

Joko Pinurbo: Seperti Bermain Bola, Hidup itu Bertekun dan Riang

Saya biasa menulis puisi, bahkan sebelum saya mengenal Coleen. ~ Wayne Rooney (Gelandang Manchester United) SEPAKBOLA itu cerminan sebuah bangsa, begitu kata Joko Pinurbo, penyair dari Yogyakarta yang kerap disebut Jokpin, bicara setelah mengungkapkan kegusarannya lantaran di hotel tempatnya menginap selama berlangsungnya acara Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) 2016 mengacak siaran pertandingan liga Champion Eropa karena mereka menggunakan penyedia tayangan tv yang tidak mendapatkan izin penyiaran pertandingan tersebut. Menurutnya, bangsa Indonesia masih belum siap untuk bermain sepakbola. Hal ini dikarenakan bangsa Indonesia masih sulit untuk saling memaafkan di samping bekerjasama. Lihat saja setiap pertandingan sepakbola di Indonesia hampir selalu ada keributan. Bahkan di dalam kalangan sastrawan masih ada yang sulit berdamai menyinggung insiden antara Taufiq Ismail dengan Remy Silado dalam event MUNSI 2016 di hari pertama. Di samping itu, sepakbola …

Lebih Dekat Dari yang Kau Tahu

Ia lengkap. Paket kertas coklat dengan
alamat dan penghantaran cepat. Seorang
kurir mahir mendiamkan anjing penjaga
rumah. Dentang genta dan suara langkah.
Adakah yang kau tunggu?

Ia keriangan. Sepeda dengan boncengan
kotak pendingin berisi limun dengan denting
botol beling. Bunyi kring-kring ada sepeda
dan lagu balonku ada lima. Minggu yang
bergerak dari satu ke lain gang di mata
kepingin seorang bocah. Apakah kau tunggu itu?

Ia kehangatan. Guyuran hujan dan teriak
ibu mengangkat jemuran. Decak lidah ayah
setelah menyeruput kopi tanda ia nikmati.
Kruk-kruk-kruk induk ayam memanggil
anak-anaknya di pekarangan. Tawa yang
pecah di ujung gang, saat anak-anak sekolah
berlomba pulang. Mengapa kau terus
menunggu?

Di pintu, di mana segala kenangan
pulang dan berlalu, di tempat kau
menunggu sesuatu, ada yang tak perlu
kau cari. Ia lebih dekat dari yang kau
tahu, bahkan lebih cepat dari waktu.

Ia yang membuka diri,
ketika kau sibuk mencari-cari –
meminta kau segera masuk,
menyanyi dan menari,

Orang-Orang Nyanyi di Atas Bukit

Mereka melepas susah dan sakit, mengepas
dan mengemas senyum yang tak sedikit.

Lima atau sepuluh ribu, aku tak tahu -- kata bocah
beraroma ikan -- kalau kau mau turut, ambil tempat
di penjuru.

Mereka melompat seolah sembuh dari lumpuh.
Memekik seperti telah terbebas dari cekik.

Mari menari -- sambut seorang pemuda yang berkali
bersiul, menjentikkan jari dan menggoyangkan pinggul
-- Mau dansa apa? Ardha, boogie-woogie, flamenco,
atau zumba? Saya ahlinya!

Dilihatnya; ada gadis-gadis berhias lengkap,
ada juga yang matanya sembap.

Dari kaki bukit, terus diulur -- air sumur segar,
berkirbat anggur, buah-buahan yang manis
dan cukup umur -- sedang di ladang, di padang
benih terus ditabur.

Mereka bertemu Tuhan? Tanya seorang yang
berjalan lamban. Tidak. Mereka kini lebih bisa tahan.

Seseorang yang jangat wajah dan janggutnya sangat
basah menyahut. Ia menduga orang itu baru tiba,
tapi ucapannya terasa begitu lama mengendap dalam dada.

2016

Antonim

Burung tidak berkicau,
                                     langit yang bernyanyi.

Angin tak bergerak,
                                 peristiwa berlari.

Pohon tak butuh teduh,
                                      laut tetirah di karang itu.

Awan melesap dalam risau,
                                            tak kutulis yang benar terjadi.


2016

Pelayaran di Waktu Malam

: Antonio Bueno

Ia kira, begitu melewati kanal,
dan menuju laut lepas – percakapan
akan terasa bebal dan panas;
sepantas menyoal ombak yang begitu biru
oleh sinar lampu, atau layar yang mirip
pemabuk itu.

Tanjung masih terlihat dan bulan begitu bulat,
dan kau kutip sajak lama -- yang lantak hanya kelak,
karena kita tak bisa mengelak -- yang ia tambahkan:
hidup beroleh bimbang dari geladak dan gelombang.

Ia pikir – deru mesin dan baling-baling
akan jadi gangguan selain mabuk laut
dan kepala pening. Dan kenangan adalah
hal paling terakhir setelah amis rebusan udang
dan uap dingin anggur putih yang cepat hilang.

Mari, katanya, kita bersulang! Mengambil bagian
dari merasa kepahitan. Menambal kehilangan dari
masa-masa keterasingan.

2016

Puisi-Puisi yang diilhami Permainan Kuartet Yusef Lateef

Yusuf Latif Membuka Pagi

Yang lebih gugup dari kuncup waktu
muntup semakin cepat. Dengan irama
semenjana -- langkah-langkah pendansa.

Ia muncul tiba-tiba, dengan kerak warna
matahari tua. Disapukannya suara pada
segala yang masih mengantuk. Dibelai
sekali lagi bagian yang terkulai -- Bangun,

dan bergeraklah! Goyangkan kecemasan.
Lenturkan ketakutan. Hidup harus dibangun
dengan sepenuh kesadaran. Ini bukan
soal tari dan nyanyi -- sebab ia hanya

meniupkan ruh pemberani. Lalu pergi.
Dan meninggalkan ketukan-ketukan itu
di dadamu begitu saja. Sampai kau merasa
ini dunia tumbuh tak seperti biasa.

2016

Ketika Yusuf Latif Bersedih Hati

Ada ular dalam keranjang! serunya.
Ia mengancam kewarasan. Mengirimkan
seribu satu upas di udara malam.

Ini ular tak sembarang, bisiknya.
Ia menjelma semacam demam.
Menggigilkan dirinya di dalam kamar.

Peganglah yang bergetar ini, pintanya.

Seluruh hidup dan keinginannya tinggal
debar -- dinding kamar, pot mawar,
panorama di jendela menawarkan
sebuah warna yang…

Ia Menggambar Bunga

Ia menggambar bunga dari cerita
dan cahaya -- yang berpendar di
rumah-rumah itu, semacam percik
pertengkaran dan gerutu.

Ia menggambar bunga dengan
kelopak rekah, daun nyaris layu,
juga warna sesayu perjalanan
melupakan: nama mantan, lembut & liar
kecupan, tempat biliar, kafe, jembatan,
juga cuaca.

Ia menggambar bunga,
lalu meninggalkannya
tepat di saat kau merasa
begitu berat sekuntum kesedihan

mekar dan memperkarakan
sejumlah peristiwa yang baru terjadi.

2016

Interpretasi dari Klip-video House of Cards

Suatu saat, kau hanya bit-bit data dan suara.
Sementara ia kerlip warna, pengindera belaka.

Suatu masa, pohon di depan rumahmu tak beda
dengan suara burung dan runtuhnya gedung.
Sebuah tangis sekian desibel dan percakapan
murung -- Inikah kutuk yang harus ditanggung?

Kau bisa saja berjalan, menaiki mobil, atau mengintip
hasil rekaman drone -- kota masih cetakan kata,
retakan wacana, dan perekatan semacam cerita.

Tak ada perubahan pada semesta.
Tak ada perubahan sebagaimana mestinya.

Kau berharap rindu tak bisa ditampung kabel data,
lebar pita atau cakram optik. Ia lebih baik berupa --
warna penuh kedalaman gaya barok, lencir garis
renaisans, atau rangka lebar ala gotik.

Kau meratap; sebuah rumah harusnya tetap
sebuah rumah. Di mana ada peran tak tergantikan
dan percakapan yang memerikan: di masa lalu,
ada semacam perkumpulan rahasia. Orang-orang
bergantian membagikan sedih dan kelu.
Membahagiakan liyan -- di luar kau dan aku.

2016

Variasi Lain dari Daydreaming

Ia berjalan cepat. Membuka pintu & sekat:
Rumah sakit, dapur, penatu, toko busana,
tempat parkir, kolom dan balkon semenjana.

Dilarung ia oleh cahaya pekat.
Yang memancar- memadat
melalui beragam interval tanpa istirahat.

Karenanya, ia terlihat lelah.
Terlihat seperti orang habis madat.

Ia berjalan cepat ke arah pantai dan
puncak gunung. Menuruni dan mendaki
beragam peristiwa yang disusun bagai anak tangga.

Tak gontai, juga tak santai, ia berjalan.
Menyuruk dalam sebentuk ceruk -- mimpi
yang menyala dan menjilati kedua bola matanya.

Tiba-tiba ia merasa begitu mengantuk.
Seperti seluruh tenaganya habis dikeruk.

2016

Doaku

Doaku dulu bulu ringan
burung angan, sayap asap
nyeri sepi.

Membubung, melangit.
Mengujung kursi arsyi.

Aku berjalan berat ke barat.
Berjalan dari ibadat ke ibadat.

Tualang aku antara daging
dan tulang. Doaku rintih rantau.
Rasa terbilang meraba
yang terhilang.

Aku memandang raut timur,
dan wajah-wajah yang diijabah.

Merasa sayang pada segala yang
direnggut, merasakan malang jika
ada yang tercabut.

Tapi -- doaku kini kupukupu mati
pagi, sisa kopi malam tadi, dan
sebuah puisi yang ia tuliskan begini;

Tak diikat temali, hati ini
bertaut erat, seperti syahadat.

Tak hanya di bumi, sampai nanti
di Jannatul Adn, kau bagiku: Ya & Amin.

2016

Mencintai Audry

1/

Di Jatiluwih, mereka masih percaya -- suatu ketika
ada naga yang menangis melihat Jawa yang kecil.
"Sungguh, Dewata tak adil! Pulau sekecil ini disesaki
selusin gunung. Bagaimana rakyatnya bisa bahagia?"

Lalu airmata yang jatuh,
tumbuh jadi Dewi Sri.
Ibu bulir padi.

Ia tak pernah percaya adanya naga,
tapi ia terlalu percaya -- di luar hal-hal
yang biasa didengar, bisa dijadikan dasar,
cinta bisa dimulai dari cerita yang ganjil.

2/

Setiap malam, ada suara yang berjalan.
Suara yang begitu mirip logam digesekkan -- pelan, kencang.
Ia masih terjaga ketika suara itu mengada.
Ia mengira -- di luar dirinya dunia dibentuk dari serentang pagar.
Dan seseorang ingin masuk -- tapi tak menemu pintu.

Padahal ia merasa sangat kesepian.
Padahal ia memang butuh teman.

Setiap malam, ia mengikuti suara itu.
Berjalan mencari pintu pagar.

Agar dirinya tak jemu.
Agar dua dunia yang sepi itu
bisa bertemu.

3/

Ia mengira dirinya seluasan sawah.
Dengan bulir padi yang bernas.
Dan terbayanglah --…

Mendengarkan Nasida Ria

Tak seperti rindu pada suara laut dan siluet
di depan matahari yang hendak terbenam;
sore masih redam, dan benang-benang hujan
berubah jadi pertanyaan -- maukah engkau
berjalan bersamaku? Ia bagai bocah dengan
keranjang berisi lima roti dan dua ikan melangkah
tanpa ragu pada Si Pengkotbah. Jalanan adalah
suara-suara yang disatukan, dan dipantulkan --
Amin. Aman. Makin. Makan. Santer. Santri.
Ia berjalan sambil mencari: doa yang kerap alpa,
diri yang makin abai pada apa yang seharusnya
dan tak seharusnya dia makan, suara-suara
yang kerap dan makin akrab mengajaknya kembali
membuka kitab suci. Ini jelas tak seperti rindu
pada suara laut dan siluet itu. Diri makin peram,
dan benang-benang hujan berubah jadi pertanyaan
yang kian panjang -- masih mampukah engkau
berjalan bersamaku?

2016

Dico Autem Vobis

Tak ada semesta, hanya -- ranting
matahari menyangga denyut sunya
sedemikian rupa. Ia ringkih semata.

Kalau kau mencari, ia bulir bening
di dalam pasu. Sebentar bergulir
dan bersuara nyaring. Seperti waktu.

Di sana tak ada rindu. Ia pintu
di mana kau masuk dan lalu. Mesin
bagi para pemabuk dan perayu.

Baiklah, kukatakan begini padamu:
Ini antara kau dan aku -- tak ada
guna batu. Yang berpusat di dadamu
itu. Angin di sekeliling telah bergerak
jadi limbubu.

Kini aku terserak.
Aku berserah -- antara
hendak jatuh
atau lebih dulu mengaduh.

2016

Anno Quaestiones

Kebencian ini pelan-pelan ditanam
sejak tahun sembilan puluh sembilan
(Ia tak pernah menyadari, tersesat bahkan) --
antara lirik Ágætis Byrjun dan
larik-larik Selected Poem-nya Günter Grass.

Ia bisa bermula dari tangis
yang menyeberang Sungai Tigris,
membahana hingga ke Perancis,
dan belum akan kalis.

Ia seperti pertanyaan, butuh jawaban
setiap orang -- sampai kapan?
Lalu hidup tumbuh jadi kesempatan
antara mengungsi, mati, atau kesia-siaan.

Dan pertanyaan ini tak kunjung berhenti
dari tahun sembilan puluh sembilan
(sampai sekarang, ia masih memikirkan) --
apa yang disebut Ágætis Byrjun dan
kebahagiaan seperti dalam puisi Günter Grass.

2016

Wirangrong