Posts

Showing posts from 2016

Ini Bagaimana Ia Mengucap Selamat Tinggal pada Langit Biru

 Ia akan mengucapkannya seperti mengajarkan ucapan itu pada bayi. Berulangkali. Meski sayap gelap telah direntang, dan kematian adalah ladang dengan cukup benih dan buah untuk ditabur dan dipanen dan banyak sekali orang datang kepadanya. Ia mengucapnya seperti merpati yang membersihkan bulu-bulunya tanpa sadar seekor kucing mengintainya. Meski ia tahu, lorong kehidupan makin sempit, dan tiap detiknya menjelma pesawat udara yang menjatuhkan peringatan. Pada akhirnya, ia paham -- diri adalah hantu bagi masa lalumu, dan suaranya hanya sebuah derau di kibar bendera. 2016

Dylan yang Tak Pernah Berniat jadi Penyair

Di tahun 1963, Bob Dylan berusia sekitar 22 tahun. Indonesia saat itu baru saja melakukan rekonsiliasi hubungan diplomatik dengan Belanda setelah perebutan wilayah di Papua. Paus Yohanes ke-13 yang dalam tahun itu tengah menyerukan agar dunia berdamai pada aspek kejujuran, keadilan, kebaikan, dan pembebasan, wafat di tahun yang sama. Martin Luther King Jr. menyuarakan impiannya tentang kesetaraan bagi kaum afro-amerika   sementara Nelson Mandela mulai diadili dan dipenjara. Dan barangkali hal yang paling fenomenal bagi orang Amerika seperti Dylan, pada tahun itu adalah pembunuhan JFK. Pada tahun itu, di usia ke 22, Bob Dylan menuliskan sebuah lagu berjudul “It’s a Hard Rain’s a-Gonna Fall” dengan pengulangan pada sebutan di awal bait lagu, “my blue-eyed son”, dan “my darling young one”, serta sebuah keadaan yang dia gambarkan seperti hujan lebat yang akan turun mengguyur kota. Yang begitu lebatnya atau derasnya, dia gambarkan dengan pengulangan kalimat   “And it’s a hard, an

Roadtrip Songs

The distance is going back to Cali. Take it easy, keep the car running. Jack & Diane are running on empty but two of us are going up to country. Don't stop believin' just runnin' down a dream. Where the streets have no name, this ramblin' man on the road again. Let me ride mustang sally. Have love will travel, Mr. Blue Sky? Let the fast car hit the road jack. Roadrunner was born to be wild. On the road again, I drove all night. The golden age of green onions. Truckin' Graceland, I've been everywhere. I gonna be 500 miles from Interstate love song. 2016

Golgota

Kau akan punya puncak bukitmu sendiri. Tempat kau teriakkan sakitmu itu. Perjalanan mendaki ini, telah dimulai sejak kau dilahirkan. Meski tak ada kisah penyerbuan di taman. Tak ada Ike Mese menyerangmu dari barat. Tak juga Kau Hsing di timur, atau Shih Pi yang mencegatmu dari sungai. Di punggungmu, hanya ada panggung bagi cambuk waktu. Tak ada tentara Wijaya mengintai di antara kecamuk pesta Canggu dan Daha. Di punggungmu, kayu gandar dan kuk ringan dari harum cendana. Kau berjalan sendiri saja ke puncak bukit ini. Tiga ribu pasukan yang kalah telah kembali ke kapal dan menjalani hukuman selama-lamanya -- sebagai orang jahat pada kebangkitan kedua. Kau akan punya puncak bukitmu sendiri dan meneriakkan sakit ditinggikan. Sakit yang berasal dari cita-cita, yang ingin kaujangkau -- dengan suara parau, saat berseru; "Sudah selesai." 2016

Apa yang Dibiarkan Tak Dikatakan

Siapa peduli pada serangkaian peristiwa yang terjadi -- tadi, kemarin, beberapa minggu lalu, sebulan dulu, bertahun dalam hidupmu, selain kau mengenangnya kembali. Setiap hari memperkatakan keuntungan dan kerugiannya sendiri. Ia timbangan juga pasar bagi pikiran dan perasaanmu. Ia tak menawarkan apa-apa selain ketergesaan, atau sedikit kepanikan. Pada akhirnya, setiap hari selalu menyelipkan kekecewaan. Sesuatu yang luput engkau perhatikan sebelum tertidur. Hari berikutnya, kau pasrah -- meski menuliskan aneka pesan, tapi tak ada telepon masuk untuk memastikan: Kau baik-baik saja? Matica masih mengolah roti. Zakaria berjaga di depan pintu. Lalu di hari Sabat, masih ada anak-anak Kehat. Ya. Semua baik-baik saja. Sebelum kau sadar -- Setiap hari adalah peperangan dalam diri. Hari ini Yonatan, besok Abinadab, dan lusa Malkisua yang mati, dan setiap malam, kau jadi Saul -- yang menusukkan pedang ke perutmu sendiri. Siapa peduli pada serangkaian peristiw

Ode untuk Intan Olivia

Ia telah mendengarkan panggilannya. Karena itu, di beranda gereja, ia bercanda. Ia tahu, Tuhan begitu menyayanginya, sebab ia terlanjur percaya -- itu inti dari kitab suci. Yang ia tak tahu, bagaimana cara Tuhan mempertemukan ia dengannya -- O, surga yang dirindukan dengan cara jahanam. O, surga yang jalan ke arahnya penuh kebencian. Betapa curam dan dalam jalan-jalan menujumu itu! Ia tahu Tuhan tak bercanda dengan cintanya. Karenanya, di beranda gereja, ia terluka.  Ia paham, Tuhan tak pernah punya dendam. Sebab itu ia terbujur, berangkat meninggalkan kita di sini. Yang ia tak tahu, bagaimana cara Tuhan mengingatkan kita yang ditinggalkannya -- O, surga macam apa yang berada di benak mereka. O, surga yang bagaimana yang hendak diisi dengan para pembenci itu? Betapa kelam dan seram jalan untuk menujunya! Ia telah mendengarkan panggilannya -- agar kita memanggul yang lebih besar dari sekadar ujaran tentang kebenaran. 2016

Untuk Yo

Hidup memang semestinya koyak. Cangkang telur harus pecah. Kepompong terbelah. Katanya, "Langit tak selalu putih. Laut tak selalu biru. Hidup adalah kelindan beberapa hal. Selalu seperti itu." Hidup memang sebuah jarak. Daun bergagang pada carang. Bunga disangga kelopak. Katanya, "Ada yang gampang terkena noda. Ada yang bersiap untuk kusut. Hidup berangkat dari rasa takut. Seperti tangis pertama itu." 2016

Seberapa Panjang Malammu

~ setelah Chopin, Nocturne op. 9 No.2 Seberapa panjang malammu? Ia berjaga seperti menara kota -- sampai kabar pengungsi terakhir dan tak terdengar lagi tangis bayi lahir. Ia akan senantiasa pekat dan biru -- sampai habis pijar kandil di balik jendela. Ia terus menyangga yang disebut rindu -- sampai dikutuk mereka yang pulang dan lari dari perang. Ia tak terukur -- waktu telah habis sebelum sempat menakar dan menalar hal-hal yang hilang dari sisimu. 2016

Memberi Ketenangan pada Awan

~ setelah mendengar mereka bernyanyi Haleluyah Gurun menahan panasnya, dalam                    getar, dalam gambar. Orang-orang samar. Rekah pada tanah. Garis tipis                    debu. Sebentang cakrawala. Bayang-bayang pendar. Waktu perlahan merah. Dengung                    terjebak. Doa dan ucapan syukur. Memberi ketenangan pada awan. Mereka telah putih. Telah pulih setelah                     perkara sulit. Semburat di langit.  2016

Drama

"Hentikan! Aku tak mau mendengar ucapanmu!" "Kau jahat!"  "Teruslah berpura-pura." "Ini saatnya pembalasan!" "Apa mungkin mereka sudah merasa, ya?" "Biar dia tahu rasa dan merasakan sakit seperti yang aku rasakan." "Tunggu..Aku..." "Kau juga cinta padaku?" "Apa perlu aku buka semuanya?" "Jangan. Jangan. Aku sudah tidak tahan." "Aku muak melihatnya." "Harusnya kamu 'ngerti dong..." "Kenapa lo gak bilang?" "Heh! B@&$* 'ngapain kemari?" "Sabar dulu, Sayang. Aku bisa jelaskan." "Ini gak seperti yang lo kira..." "Bayangkan kalau mereka jadian." "Hei. Kamu mau dengar 'gak?" "Ya..Jelas lah aku kecewa." 2016

National Geographic

Kau sebaiknya melihat bagaimana paus, hiu dan lumbalumba berlomba memangsa ikan sarden di selatan Afrika -- dan berdoa "Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami." Lima atau sebelas tahun mendatang, kau harus bersiap amuk gelombang dan banjir bandang -- es Antartika akan meleleh sempurna, jika kau tetap bergeming dan berpangku tangan untuk urusan penggunaan energi terbarukan. Namun, dunia telah mencatat cacat nubuat -- dari Cavaignac, Churchill, Roosevelt, apalagi setiap orang telah jadi pengarang yang buruk, bermimpi yang muluk-muluk tapi mudah sekali mabuk oleh perangai teman satu klub. Dan pada halaman persona, kau bisa merasakan betapa dekat pejabat dengan anjing peliharaannya -- bagaimana mereka memberi nama, mengajaknya berwisata, atau di mana tidurnya di istana. Saat itu, kau berharap tak ada yang buru-buru mengucap doksologi -- menutup doa. 2016

Yang Ia Bicarakan Hanya Kesia-siaan

Yang ia bicarakan hanya kesia-siaan. Selebihnya, debam pintu dibanting, bunyi tut-tut-tut panjang di telepon setelah nada sambung yang tak kunjung berganti -- halo? Yang ia dengar semacam kesah yang segera berubah -- entah jadi apa. Ia lebih percaya pada suara di dalam kepalanya. Semacam gema merambati dinding gua. Kepak kelelawar saat senja. Geletar di muka air saat selembar daun jatuh. Ia lebih percaya -- pada diam batu, dan kesiur angin pada kulitnya. 2016

Jembatan

Mereka yang berangkat dengan harapan dan yang pulang dengan kenangan akan disambutnya dengan tangan terbentang. Mereka yang resah akibat kesepian dan yang basah oleh kerinduan akan dihantarkan pada gerbang pengharapan yang lengkungnya kerap membuatmu bingung dan menerka -- fajar atau senja yang semburatkan rona jingga di langit itu? Di atas sungai, hidup yang arusnya tak kunjung santai, ia menjadi ketenangan yang direntang dari keinginan dan kecukupan. Seperti keheningan setelah sebuah kecupan. 2016

Kota

Ia memiliki segalanya, meski berupa kesempatan. Ia memiliki waktu untuk menggambar kesibukan, juga memelihara sepi. Ada banyak jalur rindu di sekujur tubuhnya, dan aneka tanda cemburu. Ada taman untuk setiap kenangan, beragam mimpi untuk ditanami masa depan. Ia memiliki banyak gedung menjulang, yang dinamakannya -- jangan! Dibangun pula tembok besar tempat meratap. Ia kumpulkan banyak teman makan, teman minum, dan teman yang hanya bisa dihubungkan dengan nada tunggu. Mereka bisa berada di taverna, kafetaria, atau bilik suara. Mereka yang bisa dibilang -- penipu. Ia tumbuh dari kekosongan, dan akan luruh dari kerongkongan. Sebelum subuh, ia memanggilmu. Ia semacam ruh yang mengancam kenyamananmu. 2016

Ia Dengar Nyanyianmu

Ia dengar nyanyianmu, pujian bagi kebebasan itu. Ia merasa diajak berharap dan berjaga di setiap jengkal nusa. Ia merasa beserta mereka yang siap mati dan merdeka. Ia dengar nyanyianmu, perjanjian bagi tanah itu. Ia merasa ikut duduk dan meratap dalam misa -- peringatan secara nasional -- para pejuang dan mereka yang telah mati dan merasa nyanyianmu itu adalah darah yang mengalir dalam nadi, dan terus menghidupi negeri. 2016

Ia Telah Melihatmu

~ setelah lagu Natalia M. King Tidak. Kisah ini tak akan berakhir. Meski telah lerai peperangan itu. Telah usai masa dipenjarakan waktu. Ini jalan baru dibuka. Selembar peta dan bintang di langit utara akan menuntunmu kepadanya. Belum. Rasa lapar dan haus itu belum saatnya dipuaskan. Kedai 24 jam baru membuka pintu dan jendela. Sebuah sumur dan air mancur di tengah taman hanya semacam pembuka permainan. Kau harus mencoba komidi putar atau bersepeda ria. Kembali pada masa kanak atau remaja. Ya. Ini bukan soal dibutakan usia dan kebutuhan mengisi jeda di antara menangis dan bersuka. Ia telah melihatmu sekian lama, memperhatikanmu dengan saksama. Dan kini, ia perlihatkan bagaimana ia akan membawamu pada kisah- kisah penggembaraan penuh kegembiraan. Agar kau tak hanya duduk dan berkata -- Betapa sia-sia anak manusia. Betapa sia-sia hidup di dunia. Betapa hidup begitu sementara. 2016

Joko Pinurbo: Seperti Bermain Bola, Hidup itu Bertekun dan Riang

Saya biasa menulis puisi, bahkan sebelum saya mengenal Coleen. ~ Wayne Rooney (Gelandang Manchester United)   SEPAKBOLA itu cerminan sebuah bangsa, begitu kata Joko Pinurbo, penyair dari Yogyakarta yang kerap disebut Jokpin, bicara setelah mengungkapkan kegusarannya lantaran di hotel tempatnya menginap selama berlangsungnya acara Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) 2016 mengacak siaran pertandingan liga Champion Eropa karena mereka menggunakan penyedia tayangan tv yang tidak mendapatkan izin penyiaran pertandingan tersebut. Menurutnya, bangsa Indonesia masih belum siap untuk bermain sepakbola. Hal ini dikarenakan bangsa Indonesia masih sulit untuk saling memaafkan di samping bekerjasama. Lihat saja setiap pertandingan sepakbola di Indonesia hampir selalu ada keributan. Bahkan di dalam kalangan sastrawan masih ada yang sulit berdamai menyinggung insiden antara Taufiq Ismail dengan Remy Silado dalam

Lebih Dekat Dari yang Kau Tahu

Ia lengkap. Paket kertas coklat dengan alamat dan penghantaran cepat. Seorang kurir mahir mendiamkan anjing penjaga rumah. Dentang genta dan suara langkah. Adakah yang kau tunggu? Ia keriangan. Sepeda dengan boncengan kotak pendingin berisi limun dengan denting botol beling. Bunyi kring-kring ada sepeda dan lagu balonku ada lima. Minggu yang bergerak dari satu ke lain gang di mata kepingin seorang bocah. Apakah kau tunggu itu? Ia kehangatan. Guyuran hujan dan teriak ibu mengangkat jemuran. Decak lidah ayah setelah menyeruput kopi tanda ia nikmati. Kruk-kruk-kruk induk ayam memanggil anak-anaknya di pekarangan. Tawa yang pecah di ujung gang, saat anak-anak sekolah berlomba pulang. Mengapa kau terus menunggu? Di pintu, di mana segala kenangan pulang dan berlalu, di tempat kau menunggu sesuatu, ada yang tak perlu kau cari. Ia lebih dekat dari yang kau tahu, bahkan lebih cepat dari waktu. Ia yang membuka diri, ketika kau sibuk mencari-cari – meminta kau seg

Orang-Orang Nyanyi di Atas Bukit

Mereka melepas susah dan sakit, mengepas dan mengemas senyum yang tak sedikit. Lima atau sepuluh ribu, aku tak tahu -- kata bocah beraroma ikan -- kalau kau mau turut, ambil tempat di penjuru. Mereka melompat seolah sembuh dari lumpuh. Memekik seperti telah terbebas dari cekik. Mari menari -- sambut seorang pemuda yang berkali bersiul, menjentikkan jari dan menggoyangkan pinggul -- Mau dansa apa? Ardha, boogie-woogie, flamenco, atau zumba? Saya ahlinya! Dilihatnya; ada gadis-gadis berhias lengkap, ada juga yang matanya sembap. Dari kaki bukit, terus diulur -- air sumur segar, berkirbat anggur, buah-buahan yang manis dan cukup umur -- sedang di ladang, di padang benih terus ditabur. Mereka bertemu Tuhan? Tanya seorang yang berjalan lamban. Tidak. Mereka kini lebih bisa tahan. Seseorang yang jangat wajah dan janggutnya sangat basah menyahut. Ia menduga orang itu baru tiba, tapi ucapannya terasa begitu lama mengendap dalam dada. 2016

Antonim

Burung tidak berkicau,                                      langit yang bernyanyi. Angin tak bergerak,                                  peristiwa berlari. Pohon tak butuh teduh,                                       laut tetirah di karang itu. Awan melesap dalam risau,                                             tak kutulis yang benar terjadi. 2016

Pelayaran di Waktu Malam

: Antonio Bueno Ia kira, begitu melewati kanal, dan menuju laut lepas – percakapan akan terasa bebal dan panas; sepantas menyoal ombak yang begitu biru oleh sinar lampu, atau layar yang mirip pemabuk itu. Tanjung masih terlihat dan bulan begitu bulat, dan kau kutip sajak lama -- yang lantak hanya kelak, karena kita tak bisa mengelak -- yang ia tambahkan: hidup beroleh bimbang dari geladak dan gelombang. Ia pikir – deru mesin dan baling-baling akan jadi gangguan selain mabuk laut dan kepala pening. Dan kenangan adalah hal paling terakhir setelah amis rebusan udang dan uap dingin anggur putih yang cepat hilang. Mari, katanya, kita bersulang! Mengambil bagian dari merasa kepahitan. Menambal kehilangan dari masa-masa keterasingan. 2016

Puisi-Puisi yang diilhami Permainan Kuartet Yusef Lateef

Yusuf Latif Membuka Pagi Yang lebih gugup dari kuncup waktu muntup semakin cepat. Dengan irama semenjana -- langkah-langkah pendansa. Ia muncul tiba-tiba, dengan kerak warna matahari tua. Disapukannya suara pada segala yang masih mengantuk. Dibelai sekali lagi bagian yang terkulai -- Bangun, dan bergeraklah! Goyangkan kecemasan. Lenturkan ketakutan. Hidup harus dibangun dengan sepenuh kesadaran. Ini bukan soal tari dan nyanyi -- sebab ia hanya meniupkan ruh pemberani. Lalu pergi. Dan meninggalkan ketukan-ketukan itu di dadamu begitu saja. Sampai kau merasa ini dunia tumbuh tak seperti biasa. 2016 Ketika Yusuf Latif Bersedih Hati Ada ular dalam keranjang! serunya. Ia mengancam kewarasan. Mengirimkan seribu satu upas di udara malam. Ini ular tak sembarang, bisiknya. Ia menjelma semacam demam. Menggigilkan dirinya di dalam kamar. Peganglah yang bergetar ini, pintanya. Seluruh hidup dan keinginannya tinggal debar -- dinding kamar, pot mawar, panorama d

Ia Menggambar Bunga

Ia menggambar bunga dari cerita dan cahaya -- yang berpendar di rumah-rumah itu, semacam percik pertengkaran dan gerutu. Ia menggambar bunga dengan kelopak rekah, daun nyaris layu, juga warna sesayu perjalanan melupakan: nama mantan, lembut & liar kecupan, tempat biliar, kafe, jembatan, juga cuaca. Ia menggambar bunga, lalu meninggalkannya tepat di saat kau merasa begitu berat sekuntum kesedihan mekar dan memperkarakan sejumlah peristiwa yang baru terjadi. 2016

Interpretasi dari Klip-video House of Cards

Suatu saat, kau hanya bit-bit data dan suara. Sementara ia kerlip warna, pengindera belaka. Suatu masa, pohon di depan rumahmu tak beda dengan suara burung dan runtuhnya gedung. Sebuah tangis sekian desibel dan percakapan murung -- Inikah kutuk yang harus ditanggung? Kau bisa saja berjalan, menaiki mobil, atau mengintip hasil rekaman drone -- kota masih cetakan kata, retakan wacana, dan perekatan semacam cerita. Tak ada perubahan pada semesta. Tak ada perubahan sebagaimana mestinya. Kau berharap rindu tak bisa ditampung kabel data, lebar pita atau cakram optik. Ia lebih baik berupa -- warna penuh kedalaman gaya barok, lencir garis renaisans, atau rangka lebar ala gotik. Kau meratap; sebuah rumah harusnya tetap sebuah rumah. Di mana ada peran tak tergantikan dan percakapan yang memerikan: di masa lalu, ada semacam perkumpulan rahasia. Orang-orang bergantian membagikan sedih dan kelu. Membahagiakan liyan -- di luar kau dan aku. 2016

Variasi Lain dari Daydreaming

Ia berjalan cepat. Membuka pintu & sekat: Rumah sakit, dapur, penatu, toko busana, tempat parkir, kolom dan balkon semenjana. Dilarung ia oleh cahaya pekat. Yang memancar- memadat melalui beragam interval tanpa istirahat. Karenanya, ia terlihat lelah. Terlihat seperti orang habis madat. Ia berjalan cepat ke arah pantai dan puncak gunung. Menuruni dan mendaki beragam peristiwa yang disusun bagai anak tangga. Tak gontai, juga tak santai, ia berjalan. Menyuruk dalam sebentuk ceruk -- mimpi yang menyala dan menjilati kedua bola matanya. Tiba-tiba ia merasa begitu mengantuk. Seperti seluruh tenaganya habis dikeruk. 2016

Doaku

Doaku dulu bulu ringan burung angan, sayap asap nyeri sepi. Membubung, melangit. Mengujung kursi arsyi. Aku berjalan berat ke barat. Berjalan dari ibadat ke ibadat. Tualang aku antara daging dan tulang. Doaku rintih rantau. Rasa terbilang meraba yang terhilang. Aku memandang raut timur, dan wajah-wajah yang diijabah. Merasa sayang pada segala yang direnggut, merasakan malang jika ada yang tercabut. Tapi -- doaku kini kupukupu mati pagi, sisa kopi malam tadi, dan sebuah puisi yang ia tuliskan begini; Tak diikat temali, hati ini bertaut erat, seperti syahadat. Tak hanya di bumi, sampai nanti di Jannatul Adn, kau bagiku: Ya & Amin. 2016

Mencintai Audry

1/ Di Jatiluwih, mereka masih percaya -- suatu ketika ada naga yang menangis melihat Jawa yang kecil. "Sungguh, Dewata tak adil! Pulau sekecil ini disesaki selusin gunung. Bagaimana rakyatnya bisa bahagia?" Lalu airmata yang jatuh, tumbuh jadi Dewi Sri. Ibu bulir padi. Ia tak pernah percaya adanya naga, tapi ia terlalu percaya -- di luar hal-hal yang biasa didengar, bisa dijadikan dasar, cinta bisa dimulai dari cerita yang ganjil. 2/ Setiap malam, ada suara yang berjalan. Suara yang begitu mirip logam digesekkan -- pelan, kencang. Ia masih terjaga ketika suara itu mengada. Ia mengira -- di luar dirinya dunia dibentuk dari serentang pagar. Dan seseorang ingin masuk -- tapi tak menemu pintu. Padahal ia merasa sangat kesepian. Padahal ia memang butuh teman. Setiap malam, ia mengikuti suara itu. Berjalan mencari pintu pagar. Agar dirinya tak jemu. Agar dua dunia yang sepi itu bisa bertemu. 3/ Ia mengira dirinya seluasan sawah. Dengan bulir padi

Mendengarkan Nasida Ria

Tak seperti rindu pada suara laut dan siluet di depan matahari yang hendak terbenam; sore masih redam, dan benang-benang hujan berubah jadi pertanyaan -- maukah engkau berjalan bersamaku? Ia bagai bocah dengan keranjang berisi lima roti dan dua ikan melangkah tanpa ragu pada Si Pengkotbah. Jalanan adalah suara-suara yang disatukan, dan dipantulkan -- Amin. Aman. Makin. Makan. Santer. Santri. Ia berjalan sambil mencari: doa yang kerap alpa, diri yang makin abai pada apa yang seharusnya dan tak seharusnya dia makan, suara-suara yang kerap dan makin akrab mengajaknya kembali membuka kitab suci. Ini jelas tak seperti rindu pada suara laut dan siluet itu. Diri makin peram, dan benang-benang hujan berubah jadi pertanyaan yang kian panjang -- masih mampukah engkau berjalan bersamaku? 2016

Dico Autem Vobis

Tak ada semesta, hanya -- ranting matahari menyangga denyut sunya sedemikian rupa. Ia ringkih semata. Kalau kau mencari, ia bulir bening di dalam pasu. Sebentar bergulir dan bersuara nyaring. Seperti waktu. Di sana tak ada rindu. Ia pintu di mana kau masuk dan lalu. Mesin bagi para pemabuk dan perayu. Baiklah, kukatakan begini padamu: Ini antara kau dan aku -- tak ada guna batu. Yang berpusat di dadamu itu. Angin di sekeliling telah bergerak jadi limbubu. Kini aku terserak. Aku berserah -- antara hendak jatuh atau lebih dulu mengaduh. 2016

Anno Quaestiones

Kebencian ini pelan-pelan ditanam sejak tahun sembilan puluh sembilan (Ia tak pernah menyadari, tersesat bahkan) -- antara lirik Ágætis Byrjun dan larik-larik Selected Poem-nya Günter Grass. Ia bisa bermula dari tangis yang menyeberang Sungai Tigris, membahana hingga ke Perancis, dan belum akan kalis. Ia seperti pertanyaan, butuh jawaban setiap orang -- sampai kapan? Lalu hidup tumbuh jadi kesempatan antara mengungsi, mati, atau kesia-siaan. Dan pertanyaan ini tak kunjung berhenti dari tahun sembilan puluh sembilan (sampai sekarang, ia masih memikirkan) -- apa yang disebut Ágætis Byrjun dan kebahagiaan seperti dalam puisi Günter Grass. 2016

Wirangrong

Ia tulus buat janji, sebulat jeruk pomelo. Setiap ada duka menyentuh, ia buka hati – Bersantaplah di sana. Sesap-habiskan manisnya! 2016