Posts

Showing posts from 2008

Beginilah (salah satu cara) Mendapat Uang Tambahan

Image
Salah satu program yang saya ikuti sebagai blogger adalah www.sponsoredreview.com. Kali ini saya mendapat tugas untuk meresensi sebuah situs toko peralatan paintball (bola-cat) dengan bayaran $ 5. Nama toko peralatan paint ball itu adalah adalah Ultimate Paintball atau bisa di klik pada http://www.pntball.com/ yang menyediakan bukan hanya senjatanya (paintball guns) tetapi juga perlengkapan lainnya seperti masker, helm, rompi, dan celana. Liburan Natal ini, mereka membuat penawaran 40% -80% sale off. Satu buah senjata JT TAC 5 Camo diobral hanya $ 89.95 dan perlengkapan bermerk TIPPMANN A-5 A5 dijual lengkap hanya $ 339.95. Brand-brand lain yang mereka jual adalah:Spyder, Kingman, Tippmann, BT Paintball, DYE, Proto, Draxxus, Vforce, Empire, JT USA, Smart Parts, Ariakon, Halo, dan perlengkapan paintball GXG. Tersedia juga perlengkapan lain seperti helm, masker, sarung tangan, bahkan sampai celana! Setiap pembelian lebih dari $99 akan mendapatkan Free FEDEX Shipping! Pembayaran online bisa…

Sajak Desember

Seperti di Getsemani,
ada yang tak ingin pergi Siapa sanggup menghabiskan
sisa pagi? Segelas kopi dan
jejak gerimis saling menyapa
sepi di jendelaTak kutemukan juga bahagia
di antara deret kepala berita,
hanya sepasang sepatu dan
wajah seorang serdadu yang
tertunduk maluDi halaman, rumpun mawar
runduk segar, menakar curah
hujan yang semakin
mengkuatirkanLalu siapa yang berlalu itu?
Hanya bayangannya
sentuh ujung pagar2008

Jalan Pulang

1.
Ini negeri apa? Jalan lengang penuh tanda tanya,
penuh papan iklan tapi tak ada penunjuk arah.
Lalu ini tubuh siapa? Tergeletak penuh luka,
tak ada kartu nama, hanya kertas berlumur darah.

2.
Malam tengah bergegas pergi; “Ini hampir pagi.”
Supir taksi tak mau berhenti; “Cari saja ambulans!”
Tak ada sesiapa di sini, selain aku dan mayat sepi.
Hingga pada langit dinihari, kuminta bayang bulan.

3.
Wajah beku sepi seperti wajahku yang selalu ragu
apakah berjalan dengan sepatu atau telanjang kaki,
sebab aku tak yakin jalan di sini ramah seperti ibu
selalu menyambut aku pulang sepenuh hati.

4.
Ke atas bukit, sendiri kubawa segala sepi.
Sementara kota masih dilanda berjuta mimpi.
Seperti keterkejutan Musa pada semak berapi,
kulihat ada sesuatu antara sepi dan mimpi.

5.
“Itukah puisi?” Dari bukit sunyi, tanyaku bergema
di lorong-lorong kota, di jalan-jalan utama.
Sepi, seperti halnya aku, bertanya hal yang sama,
namun tak ada suara, hanya degup dalam dada.

6.
Lalu menjelmalah cahaya, kausebut itu matahari,
bagiku it…

Bercakap dengan Awalludin

Sebuah kumpulan sajak lahir lagi. Kali ini ditulis oleh seorang bernama Awalludin. Dia ini saya temui pertama kali pada waktu acara saya dan teman-teman Paguyuban Sastra Rabu Malam diundang oleh teman-teman Sastra Universitas Bung Karno yang mengadakan perhelatan Sastra di Mall. Tepatnya di Depok Town Square.

Tanggal 29 Oktober 2008, pada saat Reboan digelar, Awal memberitahukan kepada beberapa teman termasuk saya bahwa dia sudah mengumpulkan sajak-sajaknya dalam sebuah buku berformat ‘fotokopi” dengan ukuran setengah A4. Buku kumpulan sajak itu dinamai Percakapan Malam.

Ada 35 sajak yang dia kumpulkan dalam buku itu. Semuanya berangka tahun 2008. Artinya semuanya sajak yang baru. Melihat hal itu, saya beranggapan Awal adalah penulis puisi yang rajin atau sedang rajin-rajinnya memanen sajak-sajak yang bertebaran dalam hidupnya.

Tema yang diangkat dari ke-35 sajaknya sangat beragam. Mulai dari perkenalan dengan seorang gadis, nasib TKI di tanah perantauan, religi, sampai tanaman padi, bah…

Sesaat Sebelum Melepas Kalender

: kepada ibunda

Kenapa mesti ada gigil
sesaat sebelum melepas kalender?

Desember sedang dilanda demam tinggi
dan hari-hari belakangan telah menjadi
tetangan Burisrawa mencabik selendang
dan kain panjang berderai dari tubuhnya

Seperti Drupadi yang hampir telanjang,
dari balik kalender pucat paras cat
dinding yang lebih terang dibanding
sekelilingnya, hanya bekas rembesan
air hujan dan debu menyamarkan
mereka berdua, "Siapa mengaburkan
kerinduan?"

Di tangannya kalender baru, menunggu
dibimbing, dipakukan ke dinding
Jangan pernah biarkan aku berpaling!

2008

Pesta

Aduh

2008

Night Flight

1/
Aku hendak mengingat warna gaunmu
sebab pertemuan kita selalu singkat

Aku diburu waktu, kau tak mau menunggu

Tak ingin kulupa warna yang begitu padu;
antara merah bendera dan coklat tongkat

Lagi-lagi aku dikurung rindu,
masihkah kau di situ?

2/
Kukenang lagi, di waktu yang sempit,
gesek jemarimu pada bebatang sumpit

Menu makan malam kita; hidangan laut
Ketam laut dalam, udang karang
semuanya dibumbu lada hitam
samar kudengar kau mulai mencelaku
“Kau tak takut sakit perut?”

Pandangku pada meriah lampion,
kau tunduk di arah taplak merah marun

3/
Dari pengeras suara, diumumkan
waktu ketibaan, cuaca di kota tujuan,
dan ucapan terima kasih telah terbang
bersama

Persis seperti gerimis di atas bukit
membuyarkan wisata di alam terbuka,
memaksa kita masuk ke dalam tenda,
dan mulai berdoa untuk keselamatan
bersama

Dari jendela, pelabuhan tua dengan
kapal-kapal bersandar di dadanya,
jadi totem sementara di kotamu.

2008

Antara Dia, Aku, dan Dingin Kamar

Nopember-Desember sedang dingin-dinginnya. Hujan pun kerap singgah. Benz, si http//www.bisikanbusuk.blogspot.com, kembali membuat list 10 kata untuk dijadikan puisi.
Kata-kata itu adalah : kipas, celana, jeruk, kompor, balkon, taman, rusuk, kereta, kaleng, dan kepala. Puisi dia dengan 10 kata itu sudah bisa dinikmati baik di mukabuku (www.facebook.com) dia ataupun di blog dia tadi.

Saya menuliskannya kemudian. Setelah beberapa hari disibukkan urusan 9-5 saya.

Antara Dia, Aku, dan Dingin Kamar

“Dingin yang tak kuinginkan
kini jadi kompor yang menyala.”
Tanganmu mengipas, menepis sepi
aku bergegas, hendak meraih ujung pergi

Inilah sebentuk taman sesal;
setangkai daun jeruk di atas bantal
sejingga senja di mata sekoloni camar
dari balkon menara suar

Dengan segumpal jelaga,
akan kukumpulkan rahasia
dari dalam kepala
juga segala bara
pada tiap keping kenangan,
agar ku bisa berdiang,
mengusir dingin
yang diam-diam
makin erat mendekap
kaleng soda di tangannya

Ada sesak mengembang
dari dalam kurung rusuk
seperti ket…

Bukan - tetapi masih - Mozaik Kata

Puisi ini dibuat dari mozaik kata yang dilemparkan
oleh benz dan steven. Setelah beberapa yang sudah,
tentu saja.

Bukan Semacam Mozaik Kata
Yang Digunting dari Poster
Pendaftaran Siswa Baru

Duduklah, tapi terlebih dahulu, lepaskan topimu.

Di sini, hanya tersedia gunting untuk memangkas
rindu yang tak ingin lekas. Tak ada sepeda untuk
kaukayuh menjangkau kenangan di tempat terjauh,
tak juga ada sampan tertambat, yang dengannya
akan kau susuri sungai, danau, dan selat, mencari
harapan yang luput, hanyut, bahkan nyaris tenggelam.

Di sini, selalu saja, cinta dinyalakan sempurna.

Setelah berkali-kali kotamu jadi abu karena perang,
ini hari, begitu banyak ibu berdaster kembangkembang,
ingin menemanimu, menepuki pundakmu yang
melengkung seperti rak penuh buku usang.

Berbaringlah, jika kau begitu lelah, terlalu tabah,
atau bahkan sudah merasa; “Inilah saatnya untuk
tak lagi pernah merasa resah!”

Duniamu, bukan semacam mozaik kata
yang digunting dari poster pendaftaran siswa
baru, tak pernah hadir kata-kata seperti;…

Reboan # 8 - November 2008

Image

Suara Siapa Mencuri Sepiku?

Steven memberikan ide untuk arisan 10 kata-kata.
Sudah lama memang saya merasa "stagnan" dalam berkreasi.
Saya pun menyambutnya dengan terlebih dahulu menyumbang
5 kata ; lidah, tua, marah, luka, pisau.

Yang kemudian disambut balik oleh Steven dengan melempar
5 kata ; tali, suara, bunga, ransel, dan kartu.

Inilah hasil dari 10 kata itu, mudah-mudahan berkenan.


Suara Siapa Mencuri Sepiku?

Ada suara mencuri sepi siang ini,
seperti amarah seorang lelaki tua
yang kalah bermain kartu di pangkalan
ojek sepeda motor ke arah rumahmu

Suara itu lalu menjelma jadi pintu,
di mana mungkin akan kutemukan
hal-hal yang tak pernah kuduga,
seperti seransel apel, aneka parcel,
atau bahkan sekeranjang anak anjing pudel

Suara-suara itu kuat mengikat telingaku
dengan semacam tali rahasia yang tak
pernah bisa kuraba lembut kasarnya,
tak dapat kujangkau di mana ujungnya

Hingga hanya lidahku yang turut bergerak
seperti hendak berseru kepadamu

Tapi ternyata lidahku ini kuncup
bunga dedalu, bukan bilah pisau sembilu,
tak b…

Sesaat Sebelum Kau Berlalu

Jangan lama-lama kaupikir
apa yang ingin kau ucapkan,
cukup; ‘Selamat tinggal’,
dan itu sudah seperti sebuah
mangkuk pecah di relung telingaku

Aku pun akan segera memutus kabel
telepon, sekedar membunuh penasaran
untuk bertanya di lain hari kepadamu;
Bagaimana kabarmu hari ini?

Penyesalan tak ubahnya air tumpah
di atas lantai, perlu kain pel, sedikit waktu
dan kerja ekstra untuk membersihkannya
Bisa saja sia-sia, tapi mungkin juga berguna

Tapi mohon, jangan lukarkan gelang
pemberianku di tanganmu, bekas gelung
tanganku di pundakmu, dan hal-hal yang telah
membuat kita tertawa hingga bergulingan,
sebab setiap kenangan itu lebih jelas dari
segala tulisan di atas kertas, lebih tebal
dari karpet Iran yang pernah kita pesan

Ambillah jaketmu pelan-pelan, sebab
di dalam kamar, aku sedang ingin bermesraan
dengan selembar tilam. Menghidu jejak
keringatmu agar kutemukan kau yang lain
di dalam mimpiku. Walau aku tahu, hal itu
akan begitu susah layaknya memasukkan
paku ke dalam botol di lomba tujuhbelasan

2008

Jika Kau Ingin Tahu Siapa Aku

Kita, sebagaimana pagi dan kabut,
tak pernah benar-benar terhalang
atau dihalangi apapun. Hanya ada
dingin, yang kadang menusuk tulang
Tak pernah ada sebuah tembok dengan
jendela kecil di antara kita,seperti
dalam sebuah lagu lama

Bagiku, aku bukanlah satu misteri
yang harus kau cari jawabannya.
Seperti seutas tambang pastilah ia
berujung, begitu pula dengan alir
darah dari dan ke jantung. Maka
usahlah resah karena aku, karena
aku juga tak akan pernah diujikan
dalam sebuah mahkamah bahkan
dalam formulir kuisioner penjual
makanan

Tapi jika kau terlalu menggebu
mencari tahu, seperti rombongan
tentara yang datang menyerbu,
aku dapat pastikan kau tak akan
pernah bisa tahu siapa aku. Kau
harus mencarinya bagai mencecap
manis pada gigitan terakhir dari
sepotong semangka, menangkap
tepuk tangan terakhir pada sebuah
pertunjukan sirkus, atau pada jejak
kepiting sebelum dihapuskan ombak

2008

Jalan Malam Ke Kota

Kita telah jadi bayang-bayang
saat lampu bersengitan dengan jalan,
dan malam melayang
dari halte sampai jembatan

Tersuruk langkah kita
seperti dedaunan jeruk pada angin
yang hibuk dengan debu dan pikuk roda
yang meta. Separuh berpeluh, kita
dicambuk waktu

Kau hampir saja melekat di dada
taman, bukan? Saat kukatakan
betapa lengang sepanjang jalan
dan hanya kita, lampu jalan, dan
pedestrian ambil bagian.

Dan kurasa jejak kenangan
hampir tersungkur,
membulatbusur di wajah bulan

2008

Kembali ke Jakarta

: teman-teman esok

Setelah Bungkul, Pucang, dan Waru
kukemas tas punggung, riang dan bisu,
sekumal tiga potong kaos oblong dan
celana jeans yang mulai sobek lututnya

Ini bukan sepi yang telah dihingarkan
oleh film dari kanal HBO dan Cinemax
pada sebuah kamar hotel di pinggir kali
juga bukan lagu-lagu 'jadul' dan bergelas kopi,

Ini lebih seperti petualangan yang tumbuh
dan tak ingin diakhiri, seperti pada jam satu
dini hari kita harus belajar bijak
layaknya seorang juri

Dan hanya pada kuning pintu berjendela kaca
aku merasa duniaku mulai dibentuk
oleh sisa mabuk perjalanan udara

2008

Jakarta - Singapura

: Steven Kurniawan

Aih, di pelabuhanmu, aku lah
Brian Clarke. Di mana hari-hari
sepanjang trotoar Orchad sudah
dilumat selembut embun

Maafkan bila aku tak bisa membayangkan
seorang Adam bertemu Hawa di sini, Tuan,
sebab rindu telah terlalu ngungun
pada kapal-kapal ini

Sayang memang, kau begitu lekas,
mengemas koper dan ransel,
lalu menelpon seseorang di Jakarta
karena pada basah jalan, ia
ingin mengenang malam yang larut
di cangkir kopimu

2008

Pada Sebuah Bangku Taman

Dia duduk seperti Ronald McDonald,
terkesan santai tapi juga kaku
Dari sikapnya itu, pohon mahoni
di belakangnya tahu pasti; ada yang
sedang dinantinya ini hari

Dia memandang sekeliling taman,
seperti sedang hendak mengakrabkan
diri pada derau angin dan desau dedaunan,
juga krik krik suara jangkrik. Cahaya
matahari menepuk-nepuk pundak jaketnya,
seakan paham; dia yang duduk seperti
Ronald McDonald itu tak ingin
kegelisahannya nampak bila
yang ditunggunya tiba

Lalu dengan spidol hitam, jarinya menulis
dua buah nama di bangku taman itu;
nama seseorang dan seseorang lagi
yang rasanya aku telah lama mengenalnya
dan sebuah gambar hati yang tergambar
begitu tergesa

2008

Malam di dalam Pikiranmu

Malam akan menidurkanmu di sarang burung,
di dalam cangkang kau aman terlindung,
ada sepasang sayap hangat dan lembut jadi
selimut yang bulu-bulunya membuatmu
merasa kaulah mahluk yang begitu sempurna

Di tiap mimpi-mimpimu, ada seorang gembala
setia membimbing. Diarahkannya setiap ingin
ke padang hijau dan dingin, hingga terpuaskan
segala kata tanya, dan terhiburkan semua
yang pedih dan nyeri, layaknya domba yang
diberi rumput segar, serupa rusa di dalam telaga.

Kau tetap merasa remaja dari setiap waktu
yang berlalu, halus seperti cangkang telur
yang dijaga sepenuh tulus dari sepasang induknya
Hari-hari panjang hanya menjadi silang-silang
jaring labalaba, yang oleh tetes embun dini hari
ia terputus utas demi utas.

Malam di dalam pikiranmu adalah hutan
hijau dan menyegarkan, di mana sajak
itu tumbuh dan tegak bestari

2008

Dialog Malam

Barangkali sajakmu terlalu sunyi, hingga bulan
dan malam tak lagi hangat kelopaknya. Ada bulir
hujan yang kering dan dedaunan hanya sampah
di halaman. Dan kau, penyairku, ke mana entah

Barangkali tanganmu terlalu mungil, sahutnya,
sebab bulan itu tinggi dan malam adalah sianghari
bagi satpam dan pencuri. Hujan sudah tidak indah,
dan sampah, bukankah ia tanda kehidupan
sesungguhnya? Aku, kata penyair itu malu-malu,
memang sebaiknya sudah mati

2008

Yang Kekal di Antara Kita

Jika kau lalu, aku adalah waktu menunggu, seperti pintu telah terbuka
dan terbuang anak kuncinya, atau bahkan tak bisa ditutup lagi. Pencuri
dan perampok pesta pora menjarah sepiku, anjing dan kucing berak
di ruang mimpi. Aku jadi sarang hantu

Di buram jendela, bisa kaujumpai sederet pesan: Datanglah segera sayang,
sajak-sajak sudah terhidang. Kapankah kau pulang, ini tubuh semakin subuh.
Aku makin dingin, Dinda, tapi kenapa kenangan ini terlalu membara? Aku
adalah ranjang dengan sajak sebagai seseorang yang menanti matahari
esokhari, sila hampiri


Jika kau waktu, yang kekal di antara kita hanyalah sebuah pintu
: tempat sajak itu datang dan berlalu

2008

Matamu Kolam Kenangan

Sajakku mandi cibang-cibung dan minum
sampai kembung airmatamu

Aku memancing di keruh matamu,
berharap sepi ini luruh begitu saja

Seseorang di matamu seperti ikan
menggelepar dihajar kenangan

Saat kau terisak, segala bangun
yang kususun mulai retak

2008

Membonceng Ayah

Bagaimana jika kupeluk pinggangnya,
dan bertanya: “Bagaimana dulu
Ibuku memelukmu? Bagaimana
dapat kenangan menjeratmu?
Dan bagaimana jika aku
tak pernah melepaskanmu?"

Aku tak pernah bisa tahu
perubahan pada rona wajahnya,
waktu itu, hanya dari kayuhan
yang semakin cepat; aku tahu
ada yang tiba-tiba dia ingat

2008

Bersepeda Dalam Hujan

Dia yang mengayuh sepeda merasa butir-butir air yang jatuh
di atas kepalanya adalah pesan untuk selalu berhati-hati,
sedang dia yang duduk di atas boncengan tak bisa membedakan
basah peluh di tubuh mereka, sementara roda yang bergulir
itu memercik-mercikkan air di antara paha dan betis.

2008

Suara Karang yang Didengar Seorang Pelaut

: dino f umahuk

Apatah kapal jika karam, sedang
yang kauhafal nama-nama bulan,

bintang – sebagai penanda arah –
timbul tenggelam di mata awan.

Badai – setelah gumuk yang landai-
adalah rumah keberanian bagimu.

Hidupmu adalah lautan, Tuan.
Tuna dan bawal, hiu dan kerapu
simpang aral yang bertumpu-tumpu.

Adalah harum tanah dan suara burung
penanda musim yang selalu kau kurung

di antara jemari dan kemudi.

2008

Bersepeda Sehabis Hujan

Langit abu-abu kosong, jalanan
juga lapangan bulutangkis rindu
tawa dan tangis kanak-kanak

Tapi dia ingin berkayuh
ke arah ujung pelangi

Dengan akhir tetes gerimis
di rumpun melati, dia bergegas
membuat lingkaran jejak
seperti angka delapan

Langit masih abu-abu
ketika pecah keluhmu
"Aku haus. Bolehkah
singgah ke warung?"

2008

Disney Channel

: marvel serafino

Semoga rahasia kita - semacam rasa
yang kita peram bersama - tersembunyi
dalam putaran komidi hingga mereka
hanya bisa menerka tawa dan airmata
karena sekali-kali kita berlaku seperti
Mickey dan Minnie : kau tertawa geli,
dan aku tersenyum berseri-seri.

Mata kita, selalu berkaca-kaca serupa
batas antara pemirsa dan televisi. Ada
angan-angan dan perasaan bersinggungan
di remang ruang keluarga. Membelai
punggung kekasih atau memijat lelah
di kaki dan sesekali mencomot sekeping
roti. Apakah jeda iklan membuat kita
mampu bertahan selama ini?

Ah, mengapa ketololan digambarkan
bagai Goofy yang berlari? Aku di sini
masih mengeja serapah lidah dan kau
hanya bisa terperangah : bagaimana
bisa kepalsuan demikian indah?

2008

Hadiah Ulang Tahun

Minggu lalu, saya mendapat hadiah ulang tahun berupa puisi dari Johannes Sugianto atau yang lebih dikenal sebagai blue4gie. Kata-kata dalam puisi ini saya kira banyak diambil dari percakapan saya dengan dia pada waktu berlebaran di rumahnya. Tentang obsesi (atau passion ya sebetulnya) untuk bisa melukis kembali. Sesuatu yang sudah lama saya tinggalkan. Saya dulu lebih menyukai lukisan, dan melukis. Dalam hidup saya, setidaknya 2 kali lomba lukis telah berhasil saya juarai dan hadiahnya bisa untuk biaya masuk ke sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di Tegal. Ada sebuah lukisan ukuran kecil yang dibuat dari kanvas karung terigu bekas bergambar Bima yang tengah bergelut dengan naga / Episode Dewa Ruci di ruang tamu rumah saya di Tegal. Di Asrama Mahasiswa IPB dulu saya cuma sempat membuat satu buah potrait ayah dan ibu seorang teman di Bandung, dan sebuah lukisan abstrak yang saya beri judul Malaikat Api. Sebuah celana jeans belel pernah saya lukis sosok ular naga melingkar…

Payung

Jika dia mendung maka aku
adalah cermin di langit cekung

Serupa payung, kukembang
sendiri catatan bayang-bayang

Sisi gelapku adalah cahaya
dan tubuhmu sebagai penanda

Apa jadi jika tak ada matahari?

Jika dia sungai andaikan saja
sebatang perahu, sebatang saja...

Supaya di tubuhnya terjangkau
segala ranting bakau dan pucuk enau

Yang basah hanya lidah
berkecap tiada sudah

Apa jadi jika aku tak bersaksi?

2008

Narsis ...

Image
Seorang Narcisus bisa dikatakan seorang yang tergila-gila pada bayangannya sendiri. Sehingga dia tidak mengindahkan orang lain. Lewat kaca air di sebuah sungai dia menyadari akan "kecantikan" dirinya. Namun, kali ini saya hanya ingin mempromosikan buku saya - tepatnya bertiga bersama Maulana Achmad dan Inez Dikara - yang sudah terbit Mei 2008 lalu (meskipun baru terima bulan Agustus, hingga salah menulis bulan cetak di promo terdahulu).

Buku ini, Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan, mendapat kehormatan untuk bertarung bersama buku-buku lain seperti : Otobiografi - Saut Situmorang (mengundurkan diri), Pandora - Oka Rusmini,Teman-Temanku Dari Atap Bahasa - Afrizal Malna, Atau Ngit Cari Agar - SCB, Aku Hendak Pindah Rumah - M. Aan Mansyur, Demonstran Sexy - Binhad Nurrohmat, Jantung Lebah Ratu - Nirwan Dewanto, Orgasmaya - Hasan Aspahani, dan Sajak-Sajak Menjelang Tidur - Wendoko dalam kancah Khatulistiwa Literary Award 2008.

Sebagai salah satu penulisnya, saya bisa berbangga …

Undangan Reboan ke 7

Image

Sehabis Sakit

Pada genangan air, kusaksikan kelahiranmu
sebagai yang tahir dari sisa-sisa banjir, hanya
petir dabak dan gigir langit retak sebelum
kausangka sepasang laki-bini itu bercerita
seperti seorang nabi;

Dulu, pernah sebatang bahtera hanyut
disesap bumi yang keriput, dan tangan-tangan
kami tengadah meminta sejumlah tanda
yang tak ingin diingkari sepanjang masa

Padahal pada seorang bayi seperti engkau,
diseberangkanlah janji-janji kami. Seperti
kumpulan teritip di bawah lambung kapal,
kami selalu limbung oleh hal-hal yang tak
pernah kami kutip dari kitab-kitab itu

Dan hanya pada genangan air, kami berpikir
ada yang akan selalu hadir. Mengetuk
setiap pintu yang tertutup, menyapa kami
di tiap tingkap dan cungkup. Seperti rasa
lega yang mengada sehabis sakit di bagian
dada

Pada genangan air, kami pun lahir
untuk menjalani kutuk dan takdir

2008

Kencan Pertama

Dengan seikat kembang, nyanyian yang sering terngiang
dari hijau padang, kutunggu kau hingga malam dan bulan
tenang berdiang pada nyala lilin dua batang; satu untukmu,
dan yang satu kusimpan cahayanya dalam dada

Ini meja begitu setia, ada tiga kuntum anggrek ngelangut
membayangkan lebat pepohonan hutan dan sambat hujan,
mereka yang kelak sepertiku menungguimu di puncak sunyi

Oleh keyakinan akan kautepati sebuah janji, aku jadi
diri yang tak sepenuhnya merajai, menimbang kata pertama
untuk menyapa atau mencoba sebuah senyuman yang tampak
meyakinkan, agar kata-kata selanjutnya adalah hari

yang akan diingat seumur hidup kita

2008

Piano

Karena yang paling resah
bagiku, adalah seorang ibu
berlagu; “Anakku, Anakku…”

Maka pada titi pertama,
ke tiga, dan ke lima,
kupatahkan juga segala rungu
di telingamu

Dan jika rahim purba Kuba
mengubur irama Montuno,
biar barang semenit
kau kait jarijari Nick Mamahit

hingga yang pecah di dadaku
tinggal denting yang tertuju
ke pepuncak Salahutu

2008

Nisan

Sepanjang tidurmu, kukalungkan mimpi
serangkai melati. Sejumput dupa
serupa doa dan harapan pada rasa
mengingin abadi

Sedang waktu terus meminta diri,
membujuk segala yang tetap
dan separuh pucat bulan
penuh ratap

Di bujur kenangan, seseorang membasuh
wajah, kaki, dan tangan usai menulis sejelas
pesan; pergilah, menepi

2008

Sekeping Uang Logam (versi baru)

Kau genggam juga
sebuah doa yang bisu
di dadamu

supaya tak ada yang lebih dekat
daripada ceruk kecil di depan katedral

karena kenangan terlalu tersengal
mengejar langkahmu

Kutahu, kita pernah menggelinding
seperti sekeping uang logam
yang jatuh ke dasarnya

hingga ke pikuk pekan raya,
di mana hiruk pukau cahaya

membawa kita pada nestapa
yang kini tak juga reda

2008

Litani Musim Semi

Di padang itu, kau lah pokok jati, sedang
aku gembala dengan seruling di tangan

Pada bius angin, hibur gerimis, dan
derai dedaunan jatuh kau bangun
tubuhmu; kubah-kubah dan menara

Seperti rahim ibu, kau lingkupi aku
hingga tak perlu lagi persemayaman itu

Nun di telaga, sekawanan angsa
adalah tanda betapa kita selalu bahagia

Hanya matahari yang iri pada
bayang-bayang seorang ibu
di atas koloni jamur kayu

2008

Suatu Sore di TIM bersama Jokpin & Eka

Pukul 10 di Jumat (10/10/08) pagi, sebuah sms datang dari Joko Pinurbo. Isinya ajakan ngopi di sore hari. Jokpin datang ke Jakarta dalam rangka undangan dari Goethe Institut untuk tampil dalam "Narrating The Body" bersama penyair India " Tishani Doshi" Sabtu 11 Oktober 2008 pukul 16.00 WIB.

Singkat kata, kami pun bertemu jumat sore itu di warung soto Lamongan di TIM. Rupanya Jokpin tidak sendirian. Dia bersama dengan Eka Kurniawan. Mereka baru selesai makan. Obrolan pun dimulai dengan pertanyaan Jokpin tentang launching buku "Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan" kumpulan puisiku, pakcik Achmad, dan Inez Dikara, yang aku jawab bahwa "yang penting sudah ada di toko buku Gramedia." Lalu kita bertiga sore itu mulai menyoroti award seperti KLA, Pena Kencana, dan Freedom Institute/Bakrie Award, bagi para sastrawan. Intinya, award-award untuk sastrawan itu perlu dan dibutuhkan dengan berbagai format dan kriteria yang berbeda-beda. Bisa saja nanti ada aw…

Potret Diri

Yang kauingin; sekulum senyum itu karar
bagai akar dadap di antara pasir pantai
di mana sepasang gelodok mencuri binar
pagi, lalu menyelam penuh damai.

Dari balik kaca, ada mata ke tiga yang
nampak menjelaga di antara kuning-jingga
cakrawala, yang entah ke mana pandang,
ke sana juga sebuah sajak bisa kaubaca.

Walau seluruhnya telah bisu
seperti sepotong doa dalam dada,
ada yang terkatakan selalu.

Duhai, kita yang beradu dalam ruang
antara, mestinya dingin musim
hanya ada di dinding sebentang.

2008

Terjemahan Inggris Sajakku "Masih"

Seorang teman, Milla menterjemahkan sajakku yang berjudul Masih ke dalam bahasa Inggris.
Sajak "Masih" ini merupakan salah satu dari beberapa sajak yang saya ambil dari imaji-imaji alkitab. Terlebih saya memang menyukai imaji-imaji tersebut untuk membuat sajak cinta. Inilah terjemahan karya Milla

still

because i still remember
hurt, moan, and every second
that shapes the memory of you

you still and will always be
the secret in owl wings
when silence crawling to the city nook

as when garden flowers
and old hill lit by every torch
at the first kiss

you are still gleaming luminously
before the first dew
fall, the earliest sign of broken morning

terimakasih Milla ...


Potret Diri

Image
saya sedang membuat puisi dengan judul "potret diri"


--- to be continued ---


Sambil menunggu, saya ingin mengucapkan

"Selamat Hari Iedul Fitri, dan
mohon di maafkan segala kesalahan
secara lahir dan bathin."

foto di ambil dalam terik cuaca di sebuah
rumah makan tempat bis sinar jaya jurusan
jakarta - tegal - pekalongan & purwokerto
singgah, tanggal 26 september 2008...

Sedang apa saya di sana? Yang jelas bukan mudik ...

Jalan Ke Emaus

Image

Menyelami Keterpaksaan

Image
Tak jarang orang-orang Indonesia mencari peruntungan dengan bekerja di negeri orang. Hidup jauh dari sanak saudara, keluarga, bahkan orang-orang yang paling disayang. Pekerjaan yang didapat pun kebanyakan adalah pekerjaan yang emoh ditangani sendiri oleh penduduk di negara tujuan. Dari sinilah keterpaksaan kedua rekan-rekan Buruh Migran Indonesia didapatkan, yaitu melakukan pekerjaan yang dienggani oleh orang lain.

Keterpaksaan-keterpaksaan lain pun segera dihadapi. Terpaksa dimarahi jika dianggap tidak becus bekerja, terpaksa disiksa jika sang majikan ternyata mengidap penyakit marah akut yang tidak pernah disadarinya, bahkan ada yang terpaksa diperkosa jika sang Tuan kebelet namun tidak mau keluar uang sepeser pun. Lalu keterpaksaan lain biasanya segera menyusul. Terus begitu.

Lantas bagaimana bisa orang lain yang tidak pernah merasakan keterpaksaan itu bisa berempati, bersimpati, bahkan berbagi perasaan dengan mereka? Mungkin inilah sebabnya lima orang yang menjadi bagian dari Buru…

Lapar

Sampailah kita ke titik lapar.
Tanpa minyak, kau terhenyak.
Dengan sedikit garam, kita
hitung setiap denyut dalam
diam.

Baiknya kita piringkan diri,
agar tersaji sebentuk nasi,
sepotong roti, atau kisah
sebongkah batu dalam panci.

Hingga pada hari-hari seperti
saat menunggu berbuka, kita
bersama kuburkan malu, ragu
dan seribu sabar yang tersapu.

2008
Potret Seorang Penjaga Loket
Gedung Bioskop

Yang dipikirkan: selembar tiket telah
terlebih dulu jadi pintu ke ruang pertunjukan,
mengantar tubuh-tubuh itu ke dunia
yang sebelumnya tiada.

Jadi dia selalu ingin memastikan:
yang tadi datang, akan pulang
ke dunia yang sekarang.

Dunia yang mengurungnya
dengan jendela berlubang
dan sebuah meja panjang
bersama penantian.

Walau deretan poster
di ruang tunggu selalu
berusaha menipu.

Yang Dirundung Malam

Ini rumah peristirahatan
dikepung hutan cemara
dilindung cahaya bulan

Hanya kesepian jadi unggun
tempat aku dan sajak ini berdiang,
mencari tahu siapa yang senang
dirundung malam, di antara
pekik burung dan derit pintu
kamar nomor tujuh.

Nun lamat orang berkelakar.
Bum! Aku limbung di atas tikar.

Di rumah peristirahatan
ada yang sibuk menoreh kenangan

2008

Maria

- kepada ibunda

Ini salam kami yang ke tiga
setelah rintih rindu dan doa bisu
bergemuruh di gua-gua tanpa nama

Di rahmat rahimmu,
kami terlalu mimpi
dihimpunkan kembali
dalam senyaman semayam
yang pernah tak ada
di antara gugusan nisan

Setelah terasing dari sarang,
kami tak ubahnya binatang
dengan beribu kepedihan

Hingga hanya dalam diam
kami kembali jadi
anak-anakmu sendiri

2008

Masih

Karena aku masih mengingat
perih, rintih , dan setiap detik
yang membentuk kenangan akan kau

Kau pun masih dan akan selalu jadi
rahasia di sayap burunghantu
waktu senyap merayap di sudut kota

Begitu juga ketika taman bunga
dan bukit tua disulut segala suluh
pada kecupan yang pertama

Kau masih jadi pendar yang berdenyar
sebelum setetes embun mula-mula
sempat turun, tanda terdini pecahnya pagi

2008

Pesan Dari Yunus

Aku sudah mencatat alamatmu
dengan darah ikan paus

Berikut bau ganggang dan asin
yang tak sempat dilanun kapal

pada tiang-tiang badai

Seperti telah kumuntahkan
sebutir labu dan pasir pantai

pada perjalanan yang tak sampai
di Niniwe

Di hari aku mendengar suara

Hari yang Ditentukan

Kukira itu kau
Dengan peluru terakhir, berdiri di atas pasir
Pantai Normandy yang kau rangkai sendiri

Saputanganmu basah
entah karena bah, airmatamu, atau
laut telah mencuci darah

Kauseberangkan juga perahu
seperti menyampaikan pesan dari Ike
menyerbu naik ke selatan Perancis

O Tuan, jangan pernah katakan
pada batas mana kita teguh
dengan segala kenyataan

Sebab ini hari yang ditentukan
seekor kucing dengan nyawa
yang ke sembilan

Tamsil Rumput Teki

Yang memekik di jalan-jalan sulit
adalah kuntum rumput tekiBukan lantaran hujan sudah dihuni
dan ribuan huma telah bernamaPekik rumput teki jangan dianggap leta
karena begitu dekatnya ia dengan kakiDengan kaki telanjang atau bersepatu,
dunia senantiasa melangkah di atasnyaHanya angin menggoyang-goyangkan
serbuksarinya, menaburkan ke lain lahanYang dinanti hanyalah hujannya sendiri
agar tunjanglah akar, tumbuhlah diri2008

Menunggu

Meja dan kursi erat cengkeram pantat
dan pundak. "Pasrahkanlah kepalamu,
dunia masih jauh dari kiamat.
Dan kami terlalu lama menunggu."

Padahal aku sedang menulis sajak
tentang kamar dengan bau parfum
dan seekor kucing yang jinak,
dan seseorang yang sedang merenung.

Dari kamar ini, aku mengajak meja,
kursi dan seseorang yang ada
di kepalaku, istirahat di kamar itu.
Menunggumu.

2008

Sebuah Petang di Pematang Puisi

Ini hari tak ada sawah,
hanya selembar sajadah
dan matahari
yang tak lagi pongah

Selembar awan
seperti kecupan
di antara rukuk dan sujud
berbatang padi

Ayah berjalan di depan
menuju lambaian tangan
sedang aku tersuruk-suruk
dengan luka di lengan

Seorang ibu di kejauhan
seperti dedaunan pisang
menyapa kami atau bulan
yang mengintip ubun-ubun

2008

Reboan sudah mau 6 bulan

Image
Datang ya teman-teman ....

Telur Waktu

: Steven Kurniawan

Kurasa ada sebuah masa yang menjelma
jadi ayam betina di sangkar matamu, ia
terperangkap dalam sukar lingkar remaja
seperti kau yang menanti suar dan suara
pada ledakan sebuah sajak yang tercipta

di antara kurung gedung, juga asing negeri
singa ini, antara ruang kampus, beratus seri
bus, dan puluhan pesan di teleponmu. Seperti
kau harapkan juga selalu ada cahaya matahari
yang hangat dan diam-diam mengintip di

antara ujung tidurmu yang kaujaga selalu
tetap simpul dan sederhana, seperti telur itu.
Karena bagimu ada hangat yang berlaku
di rintih rindu, di sisa senyummu, di bibir ibu,
dan kau jelmakan semuanya jadi telur waktu.

Menetaslah, meneteslah
seperti
detak detik di dadamu

2008

Lempar Kata, Siapa Menangkapnya? Bagian 3

TSP: suvenir, printer, setrika, kotak perhiasan, kerupuk, magic jar, kalender, tikar, kapas, spidol, kamera.

Siapa mau ikutan?

Ini puisiku hasil kata-kata itu.

Ini Bukan Bagaimana
Memilih Mati

Kupilih pil tidur sebagai suvenir
sebab malam menggeliat bak kerupuk
di penggorengan

Lalu mimpi adalah kotak perhiasan
yang sempurna seperti sebuah sajak
tanpa kamera

hanya ada kalender bekas dan spidol
di tangkai bulan, kanak-kanak dalam
kepalaku berebutan menggambar

Jika ada yang bergumam, pastilah
ia yang sejak tadi memegang setrika
mencoba meluruskan hidupnya

Tapi ini malam begitu berisik,
seperti ada yang tengah memilih
bagaimana ia akan mati

Padahal di suatu sudut, telah
terhampar tikar, nasi hangat ala magic jar
dan lauk yang ikhlas disendok

Sebagaimana catatan di atas printer, aku akan
menggeser satu tuas untuk hidup selamanya
atau jadi selembar angan

Dan ini bukan bagaimana memilih
cara mati, tapi hanyalah sapa seringan kapas
pada dada dan hari berarus deras

2008

Lempar Kata, Siapa Menangkapnya? - Bagian 2

Ada 10 (sepuluh) kata lagi dilempar oleh Hasan Aspahani, yang setelah saya hitung
ternyata ada 9 (sembilan) yaitu ;
- kancing,
- kasir,
- saku,
- pasir,
- akar,
- terung susu,
- kamera,
- asbak, dan
- pagar.

Dan inilah sajak saya yang dibuat dengan 9 (sembilan) kata itu ;

Duapuluh Delapan Larik
Tentang Mimpi
Di luar kita, mimpi merangkai dunianya sendiri.
Sebuah dunia yang tumbuh dengan akar menjalar,
daun yang lebar, dan batang yang besar. Hingga
kita selalu mengira dunia kita adalah selembartunas daun yang telah lama tercabut dari pohon
mimpi itu. Dan itulah sebabnya kita selalu
mengigau tentang buah, yang bahkan
bakal bunganya pun kita belum pernah tahu.Buah yang diceritakan secara sempurna,
seperti seorang tabib pernah menjelaskan
kepadaku khasiat terung susu untuk
kesehatan payudaramu. Atau seperti hadirnyaseorang pelayan dengan asbak di tangannya segera
setelah kau meraih sebungkus rokok dari saku bajumu.
Lalu katamu ada pagar rahasia, melingkari tubuh kita
agar selalu terhindar dari jatuhan buah mimpi.P…

Lempar Kata, Siapa Menangkapnya?

M. Aan Mansyur mengajak saya memecah
"kebuntuan" bersyair dengan melemparkan
5 (lima) buah kata benda. Saya menyambut
"tantangannya" dengan melempar lebih
dahulu 5 (lima) kata kepadanya;

- radio
- kolam renang
- topi
- kantong plastik
- lemari

dan dia menyambutnya dengan melempar
kembali 5 (lima) kata kepada saya;

- bendera
- kartu nama
- baju baru
- capung
- surat kabar lama

Seharian mengamati 10 (sepuluh) kata
yang tertebar ini, saya mencoba merangkai
perlahan-lahan. Akhirnya saya berhasil
membuat (lagi-lagi) 2 (dua) puisi dengan
tema cinta sebagai berikut ;

Kau di antara Bendera
dan Iklan Baju Baru
Mengenangmu seperti menyimpan
bendera dalam lemari, walau dikibarkan
hanya sesekali, selalu ia kusiapkan
untuk hari-hari seperti hari iniHari yang biru tenang
seperti kolam renang,
dan hanya aku
yang takut tenggelamKarena mengenangmu adalah
mengingat di halaman mana
pada surat kabar lama,
sebuah iklan baju baru
yang pernah kujanjikan padamuBaju berkancing hijau
secerlang mata capung
yang membuatmu selal…

Puisi Nanang Suryadi

Nanang Suryadi
Sepatu Itu Tak Sendirian

:dtr

Sepatu itu tak sendirian. Di deras hujan. Ada mimpi yang menyerta.
Menyapa. Serupa tarian. Angin menerpa. Air mencurah. Di ubun kepala.
Sebagai kata. Mungkin mantra. Mungkin bukan apa-apa.

Tapi kutahu, sepatu itu tak sendirian. Rupanya

Apakah Itu Tangis?

Ada bebunyian yang akrab kita dengar dari
pecahnya kesunyian atap sirap karena gerimis
kerap singgah pada lembar-lembarnyaseperti juga
ada yang mengaduh begitu riuh
di antara dedaunan yang jatuh
dari rumpun mawar di halaman kitaApakah itu yang kaumaksud dengan tangis
dalam setiap perbincangan di malam-malam
jauh dari rimbunan gemintang itu?Padahal adalangkah-langkah ke arah luar pagar,
diselingi tatapan tak percaya bahwa ada
peristiwa-peristiwa yang mengiris kitadari dalam dada 2008

Percakapan di Ubud

Bicaralah seperti sore jatuh di atas pematang sawah
di antara teriak kanak mengoyak hening malai kuning padi,
agar nampak sendu bebatang pinus yang meremang
pada ombak rambutmu dan riak-riak sungai mengalun begitu lembut
karena di hatiku, ada yang tengah bergelut

Bicaralah kau dalam lincah tangan bocah bermain layang-layang,
supaya yang luput dari genggaman kita senantiasa berhembus
seperti para peziarah yang tak merasa gerah
walau seharian di dalam bis dan kau terabadikan sementara
dalam kamera digital bagai tubuh sintal para penari ituJika kau sedang tak ingin bicara,
dengarkanlah suara-suara malam
sebab ada bulan renta yang hampir tenggelam
bergayut di antara percakapan kita 2008

Sekeping Uang Logam

kau genggam juga erat-erat
sekeping uang logam berkarat
lalu terpejam matamu
merapal doa yang bisuceruk kecil di depan katedral
seperti kenangan yang tersengal
mengejar langkahmu di kota ini
dan akan terus menemanihingga ada yang menggelinding begitu saja,
jatuh ke dasar, tampakkan satu sisinya
“The Wishing Well, The Wishing Well
All my fortune only you can tell…”
penuh bimbang di dada,
kau melangkah juga
ke pikuk pekan raya,
ke hiruk pukau cahaya2008

Rumah Kesunyian

Hanya angin, lalu tirai jendela
menyapa bingkai-bingkai foto tuaDeru sepeda, secepat berita yang
menghilang dalam perpindahan
kanal radioTerdengar lamat-lamat,
seperti ada yang berkesiut,
semacam suara bersahutan,
atau sebuah perselisihantentang hal-hal yang batal,
dan yang gagal dalam
sebuah penantian2008

Dadaku Rumah Kapal

Beribu kembang dilarung peziarah
pada danau yang dikepung kekuntum padma.
Begitulah kulantun segala kesah
atas kepergianmu yang begitu tiba-tiba.Dan kapal demi kapal dilepaskan
penuh harapan,
sebagaimana dari dada sebelah kanan
darah mengalir pelan.Hanya di palung, ceruk yang tak pernah
diselami, disebarkan tumpang saji.
Hingga di jantung, betapa teruk resah
ini terus meradang, tak mau pergi.Sebab peziarah terlalu bebal,
selalu meminta mukjizat
tanpa bisa ikhlas untuk memberi,maka dadaku, rumah kapal
; di mana ada yang ditambat
untuk dilepas kembali.

2008

Akhirnya Sepasang Sepatu selesai cetak

Image
Puji Tuhan, buku yang digagas dan dibentuk dari 3 kumpulan sajak Pakcik Achmad, Bunda Inez Dikara, dan saya sendiri selesai dicetak. Buku itu diberi judul "Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan" yang disunting oleh Mas TS Pinang, diberi komentar panjang oleh Abang Hasan Aspahani, seleksi lanjutan oleh Uda Raudal Tanjung Benua dan Mas Joni Ariadinata serta dilay-out oleh Kinu "Hujan Utara" dan oleh tangan Mbak Nur Wahida Idris dan Carang Book akhirnya buku ini lahir.

Beberapa patah kata di buku ini;

- "Kumpulan ini bukanlah sebuah selebrasi," Akmal Nasery Basral, jurnalis-penulis.

- "Mereka sedang menunjukkan pada kita bahwa hidup begitu memikat justru karena ia (terlalu) singkat," Gratiagusti Chananya Rompas, founder BungaMatahari.

- "...kontemplasi yang memadukan unsur peristiwa dan kegelisahan dalam diri," Kurnia Effendi, cerpenis-penyair.

- "Ketiga penyair ini sedang menegur pembaca dengan cara yang berbeda," Sigit Susanto, penu…

Nyanyi Puji

Betapa harus kusamarkan diri
agar dirimulah yang menjadi
dan merajai segala tempat,
setiap sempat, dan semua saat,
seperti sebuah iqamat sebelum
salat itu sendiri.Betapa harus kunistakan dan
kusangkal diriku sejadi-jadinya
supaya hanya engkaulah raja
di atas segala kehendak, setiap
tindak, dan semua jejak,
selayaknya bayangan di tembok
yang tak akan pernah kautengok.Namun kuinginkan kau sepenuh
sungguh, sebagai ruh, dan tak jenuh
mengisi kehampaan dada.Dan ku mau kau mengada
pada segala jeda Sebagaimana laut rindu gelombang,
kunyanyikan segala bimbang
sebelum kau menjelang.2008

Artikel di Republika

Sastra Mutakhir, Zaman Mati bagi PuisiOleh: Hamdy Salad
Dosen Seni Univ Negeri Yogyakarta

Perdebatan sastra Indonesia mutakhir banyak dipenuhi oleh kutuk dan pujian yang tertuju pada dunia fiksi. Nyaris tak terdengar gema keindahan yang mengatasnamakan puisi. Bahkan tak juga menampak adanya kosa-kosa pergerakan yang memiliki aras pada kedalaman jiwa puisi. Seakan zaman menolak kehadiran puisi.Sementara dunia fiksi novel dan cerpen begitu cepat membengkak dalam ruang literasi terkini. Poster-poster kesusastraan, rehal pustaka dan toko buku dipenuhi karya fiksi yang ditulis oleh remaja dan orang dewasa. Para sastrawan bernama atau mereka yang sekedar bertahan untuk memenuhi pasar permintaan. Berbalik dengan fenomena di atas, sosialisasi dan penyebaran puisi hanya bergerak di ruang domistik. Begitu rentan dan getas. Beragam jenis dan bentuk puisi tak pernah lagi disentuh dan dibaca sebagai sumber inspirasi budaya. Akibatnya, ratusan ribu karya tersuruk dalam ruang hampa. Seolah puisi hany…

Aubade

Kukira menangis adalah senyum yang terbaik bagi sebuah
perpisahan, maka Tuhan mencipta gerimis pada sore
di antara pagar-pagar tinggi dan bayang akasia.Engkau akan menutup selendang dan melangkah pergi,
sementara aku memandang lubang dadaku
agar tak lekas penuh dengan luka-luka masa lalu.Sebelum malam, biasanya kita siapkan rumah agar selalu hangat,
dan selalu engkau yang menyalakan api, menyiapkan kopi, dan membuka percakapan dengan awalan “masihkah…”Maka akan kutanyakan lagi sebelum kita saling meminta diri,
“Masih ingatkah bagaimana kita bertemu dulu?”

Jika Kau Lihat ke Luar Jendela

Pintu pagar terbuka sebagai penjara bagiku,
yang masuk ke halaman rumahmu dan enggan
berpaling dan berlari lagi. Sepeda merah tua
di bawah pohon mangga tak sedang menjemput
kita, sebab aku tak akan pernah mengajakmu
pergi melainkan memintamu singgah selalu.

Dan seikat kembang di tanganku, bukan sejenis
pikat, karena kita telah sepakat bukan oleh rupa
kita terikat, tetapi pada hal-hal lain yang tak bisa
kita temukan pada diri masing-masing.

Jika kau lihat ke luar jendela, hanya ada aku
dan tatapan iba, seakan bertanya "Apakah
kau baik-baik saja?" Sebab aku telah lama
berdiri menanti "Apakah aku yang kau
tunggu-tunggu sedari tadi?"

Dekat rerumputan sepasang sepatuku
tergolek pasrah, hujan kemarin malam
masih erat melagukan basah pada tubuhnya.
Hingga pada siang itu, mereka terlihat
gembira tanpa pernah bertanya,
"Kau masih lama menunggu?"

2008

Di Bawah Payung Hitam

Sepatu melangkah pelan
di antara isak dan harapan.


2008

Undangan Sastra Rabuan ke-4, 30 Juli 2008

Image

Dari Tepian Sungai

Santanu, perahu terakhir telah berlalu
Tepian sungai hanyalah rimbun pucuk teratai,
dan sekumpulan sunyi yang merajai diri.

Di perut Gangga, seorang gadis
dan lambung perahu kecil bermufakat
bahwa borok, nanah dan kudis adalah jerat!

Sedang kau, di bawah bayang dedaunan bayan
tak hendak samadi atau meminta diri
dari keriuhan kitab-kitab suci.

2008

Ketuban

Dialah yang membasuh jalanku, memberi tanda kelahiran.
Seperti dentang genta kerbau mengabarkan burung-burung pipit,
seperti keloneng kaleng-kaleng bekas indomilk di tangan kecilmu,
meruntuh-rebahkan bongkah-bongkah gundah di antara lembah,
di petak-petak sawah.

Dari dipan tua dan kusam berlapis tilam,
turunlah dia serupa sungai yang membelah desa,
merimbunkan rumpun bambu dan menyemakkan
batang-batang keladi. Digerusnya keras padas
pada perbukitan kecil di ujung kampung.

Seperti bidan desa di atas sepeda, angin yang menerpa wajah
seakan waktu yang terasa begitu riuh,begitu gaduh.
Di rongga dadaku, ada yang memukul kentongan
di tengah malam; meminta untuk dilahirkan.

2008

Kapan Lagi, Penyairku?

Kapan lagi hujan yang rintik, kaugubah
jadi bisik yang gema di telinga?Kapan lagi bunga yang kembang kauberi
jadi gelombang yang riuh dalam diri?
Kapan lagi rumpun yang rimbun, kausebut
jadi embun yang tetes di tengah kalut?Kapan lagi kau yang resah, tumpah
jadi galau yang tak sudah, Penyairku?2008

Andai

Andai ada yang mencintainya sedalam itu,
sumur ini tak pernah kering. Pada kecipak
daun yang jatuh, kau dengar tepuk kami begitu riuh.

Andai ada yang mencintainya seperti kau,
hujan itu tak pernah turun. Kami kanak
yang terlalu rindu pada kubang air di halaman.

Andai kau mencintainya begitu dalam,
dia tak akan pernah diam. Menuliskan puisi
di antara langit yang temaram, saat mata mulai pejam.

2008

(reply sajak Ingrid di BuMa)

Reboan 25 Juni 2008

Dengan Aneka Duka Sebelum Acara,
Reboan Berlangsung Luar Biasa.

(Laporan Reboan 25 Juni 2008)

Rabuan 25 Juni 2008 terlaksana sudah. Tak banyak yang mengetahui bahwa dari sekian penampil yang dijadwalkan, banyak yang tidak dapat datang karena berbagai hal. Mat Bui Band yang tadinya dijadwalkan tampil (karena lagu-lagunya yang berkarakter alm. Benyamin Sueb) tiba-tiba terpaksa membatalkan kesanggupannya karena anggotanya ada yang sakit, demikian juga dengan band yang digawangi oleh Yudha dari www.kemudian.com juga bernasib sama. Seorang anggotanya pun mengalami sakit hingga terpaksa membatalkan janji untuk tampil.

Dion dari Elex Yo Ben pun mengalami musibah yang menurut dia sangat ironis. Dion mengaku sebagai orang yang anti kekerasan, tetapi Sabtu malam sebelum acara berlangsung dirinya menjadi korban pengeroyokan hingga harus berurusan dengan pihak kepolisian hingga beberapa hari sesudah peristiwa itu. Pak Rachmat Ali, yang dijadwalkan membagi pengalaman kreatif sehari sebelumnya menderit…

Mata Materai

Aku tahu kau inginkan sebuah ikatan.
Semacam perjanjian yang disepakati bersama.

Padahal tanpa kutulis, tubuhmu menderas di darahku.
Dan kau manfaatkan setiap langkahku sebagai sepatu
di jalan-jalanmu yang berliku.

Tetapi kau mau begitu,
mengedepankan ikatan seperti pencatatan sumpah
bahwa aku tidak akan pernah
meninggalkanmu.

Padahal tanpa bersumpah, adalah aroma tubuhmu
yang menguar dari celah bibirku.
Dan kau selalu meminta aku berucap pada setiap kesepianku,
pada luka-luka hidupku, dan pada tawa yang lepas
setelah perjalanan yang begitu luas.

Lalu di kedua mataku, kau sematkan materai.
Agar apa yang kusaksikan dapat kau saksikan juga.

Tapi mungkin kau lupa, ada kalanya aku tertidur.
Berlatih mematikan hidup, sebelum mimpi yang panjang.
Akankah kau meminta aku berjanji atas mimpi-mimpi?

2008

Sajak Saya di Jurnal Nasional Minggu (29/06/08)

Jurnal Nasional Minggu tanggal 29 Juni 2008 memuat 5 sajak saya.

1. Kupukupu Cahaya
2. Perkawinan di Kana
3. Menunggu Kereta Berangkat, Berharap Kau Selalu Dekat
4. Berjalan di Punggung Bukit
5. Kamar yang Sesak

Sedangkan di situsnya, tadi pagi saya lihat terdapat 8 sajak saya, dengan tambahan :

6. Percakapan Argometer 5
7. Tentang Kita
8. Pada Pijar Lampu di Beranda

Saya merasa berbangga hati sekaligus berucap syukur dan berterimakasih kepada teman-teman yang selalu menyemangati saya selama ini.

Bolaforia dalam Puisi

Hingar bingar sepak bola kadang menjadi salah satu pemicu kreativitas para penyair. Beberapa waktu lalu sebelum Euro 2008, saya sempat menengok situs seorang penyair kesayangan saya. Dan ternyata beliau sudah menuliskan sebuah sajak dengan imaji sepak bola.

Inilah puisi yang saya maksud :

Mata Bolaby Joko PinurboIa baru saja menunaikan pertandingan sepakbola.
Hatinya memar dan lara. Ia dapatkan tiga peluang emas
untuk mencetak gol, semuanya terbuang percuma.
Bola yang ditembaknya dengan penuh perhitungan
melambung di atas mistar gawang.
Satu mendarat di pelukan penjaga gawang.
Satu lagi membentur tiang gawang,
kemudian memantul deras menghantam jidatnya tersayang. Dengan terpincang-pincang ia tinggalkan gelanggang.
Kakinya yang gigih agak rusak digasak lawan.
Bola yang dingin dan angkuh dibawanya pulang
dan dihajarnya dengan beringas.
“Ampun, bang,” rintih bola, “bukan saya
yang bikin naas. Kaki abanglah yang kurang cerdas.” Dipandanginya mata bola yang menatapnya penuh iba.
Sekonyong-kon…