Bukan - tetapi masih - Mozaik Kata

Puisi ini dibuat dari mozaik kata yang dilemparkan
oleh benz dan steven. Setelah beberapa yang sudah,
tentu saja.

Bukan Semacam Mozaik Kata
Yang Digunting dari Poster
Pendaftaran Siswa Baru

Duduklah, tapi terlebih dahulu, lepaskan topimu.

Di sini, hanya tersedia gunting untuk memangkas
rindu yang tak ingin lekas. Tak ada sepeda untuk
kaukayuh menjangkau kenangan di tempat terjauh,
tak juga ada sampan tertambat, yang dengannya
akan kau susuri sungai, danau, dan selat, mencari
harapan yang luput, hanyut, bahkan nyaris tenggelam.

Di sini, selalu saja, cinta dinyalakan sempurna.

Setelah berkali-kali kotamu jadi abu karena perang,
ini hari, begitu banyak ibu berdaster kembangkembang,
ingin menemanimu, menepuki pundakmu yang
melengkung seperti rak penuh buku usang.

Berbaringlah, jika kau begitu lelah, terlalu tabah,
atau bahkan sudah merasa; “Inilah saatnya untuk
tak lagi pernah merasa resah!”

Duniamu, bukan semacam mozaik kata
yang digunting dari poster pendaftaran siswa
baru, tak pernah hadir kata-kata seperti; terakreditasi,
bersubsidi, atau bisa beasiswa pribadi.

Duniamu, telah kukenali seperti dunia cahaya,
bisa berpendar dari lampu, waktu, batu, kalbu,
aku, kamu, …

2008

Comments

Malaikat Kecil said…
bukan semacam puisi balasan
tapi tulisan yang cepat melesat

bahwa menatap mozaik itu
seperti termangu sendiri
di sebuah kastil sepi

dengan latar belakang
lukisan kaca penuh warna

dan cuma berdiri
kehabisan kata

;-)
Penulisgila said…
Ah, sajak yang indah dan tulus. Tapi judulnya panjang banget ya...hehehehe

But udah dibacain sama Uly di acara Sastra dan Kita @ www.voiceofjakarta.com
fuadi17 said…
wih keren kata-katanya !!!

rindu itu indah
seperti umur yang selalu bertambah
jika pikiran gundah dan resah
cobalah minta petunjuk dari mbah"
Anonymous said…
mas dedi .....aku suka puisi yang ini jadi list favoritku....
lucuuuu......how did u describe your feeling....gw banget gitu loh

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya