Posts

Showing posts from June, 2011

Ode Pada Cahaya yang Terpesona

Di bawah pepohonan cahaya
telah jatuh dari ketinggian langit,
bersinar
seperti hijau
kisi-kisi cecabang itu,
berpendar
pada setiap helai daun,
meluncur turun seperti jernih
pasir putih.

Seekor jangkrik melantun
anggun lagu gesekannya
meninggi di kosong udara.

Dunia itu
sebuah gelas penuh
luber air.

~ Pablo Neruda ~

Lembu

Tanggunganku, rindu pungguk. Berbeban kayu gandar dan lengkung kuk
Aku lembu penarik. Kuseret sarat terbaik untuk bulan setengah hilang.

Pada malam di luar pagar, ku syairkan aneka kenangan liar
Yang mencambukku tanpa irama, sepanjang jalan mendaki ke huma.

O, Tandukku, Sepasang lengan kesombonganku. Yang kukuh hanya
garis mimpi. Di hadapan bulan, ia menekur semak rumput,
mensyukuri nikmat maut.

Dan punggungku, rimbun lembut kecup Ibu, bertabah pada semua
yang berubah. Tak ada yang berat dan berarti melelahkannya. Mengalahkannya.

Sepanjang jalan ke huma, roda pedati bergerak-berderak seperti usia.
Aku lembu penarik, di bawah bulan setengah hilang, terengah-tertatih.

2011

Sejak dari Pasar, Aku Bumbu Dasar

Di lorongmu, Pasar, aku sekeranjang rimpang lengkuas.
Sedikit bercabang dan bertunas. Didasarkan, disadarkan,
nanti seorang pembeli mempesiangku. Sesiangan.

Lukaku getir ketumbar. Padanya terhidu anyir sabar.
Tak dirawat, terus ditawar. Ditunjuk-tunjuk tangan
saudagar: "Secupak sedinar? Segenggam sedirham!

Alahai, langkahku hanya bubuk rempah. Cengkeh dan lada.
Selekeh tak berharga. Sejimpit tak sejumput, bagi bumbu
sup buntut. Tak sesiapa pun membuatku surut.

Bagiku hidup ditumbuk dan disangrai. Didera mabuk
dan sangsai. Sampai kelak berubah bentuk. Dari kukuh
hingga lepai. Begitulah kelak segalanya selesai.

Sejak disajakkan untukmu, Pasar, daging lembu dan lawar.
Aku akar temu dan aneka bubuk. Di meja makan, hanya
lihai lidah yang sanggup membedakan.

2011

Dan Sebuah Huma adalah Kita

Pada padang hijau dan rumput yang sepanjang tahun
dimandikan embun, kau menenangkanku seperti
wajah danau itu.

Duhai, tak ada lagi gelora, gelisah kaki-kaki rusa,
sebab di tepian sungai, kaulah pohon tarbantin terbaik.

Dari lawak-lawak ternak dan pagar yang rusak,
aku serpih bulu domba, sisa dimangsa serigala.

Tapi kau, nyala pelita. Berbuli anggur dan minyak,
sepiring penuh panggang punggung lembu.

Di atas bara, aku dihidupkan. Serupa mur dan ukupan.
O, Api. Di tanganmu ada yang ditarik dan dilepas.

Angin di gisik, angin dikipas. Riuh suara bapak & anak,
para petani berderai menggaru dan lihai membajak.

Di dalam kemah, meja perjamuan meriah.
Tak ada undangan, tanpa tangis sepasang kekasih.

Aku tak melewa, kau bersahaja. Pepokok bunga.
Bungaran di sebuah huma. Duhai, Tak sesiapa.

Hanya gundah lembah dan kidung cemara.
Di gunung. Di himpun bebunga bakung.

2011

Semoga Kau Bertemu Aku di Sajak Ini

Sejak kau bisa berlari, selalu berjumpa persimpangan.
Jalan ke kanan mengarah pada sebuah pasar
: satu pertaruhan besar,


Lorongnya yang gelap seperti lebat akar kota,
tak membawamu ke mana-mana
selain berdesakan di trotoar: sisi penyesalan.

Di sana, tubuhmu dihimpit kenangan,
dijepit harapan.


Jika kau limbung, Tuan, ada satu kursi kecil tersedia.
Serupa neraca. Warnanya sungguh pas
dengan celanamu yang bimbang.
Tapi tenang saja, dia tak pernah bergoyang.
Selalu seimbang.


Dan jika kau mengarah ke kiri, ada taman yang sunyi,
di mana seonggok sajak menyala dan seorang penyair
membakar diri sepenuh mantra.


Ada tikar lebar terhampar: mirip tahun yang sabar
menungguimu berhenti berlari, berbelok bahkan berbalik,
sampai kau menemu seseorang yang duduk menemani,

atau pura-pura sibuk, tak peduli.

2011

Sajak Becak

Tiga roda dekil,
dalam laju yang kelu
membelah jalan kota
siang itu.

"Padanya adalah mereka sekeluarga,
tangis minta susu dan uang belanja.
Sebab itu kami dikayuh sekuat tenaga
oleh seorang bapak yang nyaris mati
setiap hari."

2011

Tersesat di Negeri Boneka - 2

Image
: Barbie




i

Tak hendak aku melicinkan kulit pundak. Tak juga ingin mengepaskan sepasang
payudara di bagian muka gaun penuh renda. Aku kayu saja. Lebih padu dengan
legam rambutmu sebagai konde.

Ibu sajak suka menyasak rambutmu itu. Dia tak suka mengajariku memasak.
Sebab rambutmu teduh dan rimbun serupa miang tebu. Dan jemariku terlanjur
lurus terhunus. Ibu sajak kuatir jari-jari ini melukaimu.

Maka tampillah kau serupa puteri. Menjalani simpang ragu. Melenggang di jalur
rindu. Supaya cinta tampil sempurna pada keriap mata dan tubuh kayu ini
semakin lencang, tak kunjung layu.

Berdiri aku di halaman rumah. Mengharap alam selalu ramah,
tak pernah marah. Dan matahari, bapak yang selalu pulang pagi
dan menghilang di pematang petang, guru menggaru dan membajak,
juga mengurus ternak. Itulah sebabnya, kulit pundakku
tampak legam dan berkerak. Persis kayu.

ii

Semakin hari, rambutku merah. Bukan kuning cerah
seperti rambutmu. Tapi Ibu sajak suka sekali pada
sisa angin gunung dan keringat petani di rambutku ini.
Dia…