Posts

Showing posts from 2012

Dirisaukan Rindu

Mendadak Ada yang Jatuh

Sebuah Komposisi

Yang Tumpur lalu Menghilang

Di Pelipis Pisau Itu

Cinta itu tahan menderita? Ya, sampai asap tipis dari dupa
hilang sebelum mencapai langit-langit wihara dan dengung
doa seolah meraung di telingamu sendiri. Sampai kau lupa
ada foto-foto tua di atas meja, di bawah tiga rupang disusun
menjulang, yang kepadanya kau merasa begitu tak berharga,
lalu bertepuk tiga kali sebelum menjura. Memejamkan mata
sambil membayangkan seseorang tersenyum begitu bahagia,
meski kau tak sedang bersamanya. "Tak mengapa" -  Ia berkata.
Seolah jarak bukan lagi jerat, bukan sebuah sekat yang membuat
kita merasa semakin asing dan sepi. Tersisih dari riuh kata-kata rindu,
dan terpilih sebagai anak-anak piatu. Walaupun aku tahu, kau sempat
merasa jauh hingga kau mulai merintih, berseru - atau mengaduh?
Seperti merasakan sakit yang belum juga mau sembuh.
Dan selintas kaulihat - di pelipis pisau itu, belum tumbuh benih peluh.

2012

Sebelum Ada yang Meledak di Langit Malam

"Cinta adalah kerelaan, bukan perayaan," katamu. Maka kita tak saling
bersalaman. Aku memberimu kecupan, sedang kau memberiku pelukan.
Dan kita bukan lagi orang-orang terasing. Kesepian hanya menghiasi dinding,
walau kadang bersuara seperti tik tok jam, namun detaknya tak menakutkan.
"Mari kutuangkan anggur ke gelasmu." Seseorang mirip pelayan menghampiri
kami. Di tangannya, ada semacam rindu yang cemas. Rindu yang dinginnya terasa
di lidahmu. Dan mungkin beberapa saat lagi, akan terasa juga di lidahku sendiri.
Sebab kulihat ada yang berkelebat dan tumbuh lebat di sana. Di lantai dansa.
"Cinta itu seperti pelukan lembut, bukan memagut," katamu. Aku setuju.
Lalu mengajakmu mengikuti alunan waltz, sambil mengingat betapa lamban malam
bergerak, dan betapa parah waktu patah berderak, hingga kita jadi membisu,
kehilangan semarak kata-kata, sebab katamu;"Cinta tak akan pernah padam!"
Dalam apinya, kita cuma pijar sesaat. Dan dalam apinya, kita hanya yan…

Selalu Ada Waktu Menunggu

Di warung itu, dia memesan kopi dan segera disesap sepi. Halaman-
halaman majalah yang dibaca tak membawanya ke mana-mana, selain
pada sebuah dugaan - ada yang terlambat karena dihambat jalan.
Tapi cinta tak perlu dugaan, bukan? Selain bahwa kita harus yakin
ada yang membuat kita merasa tak bisa dipisahkan - sebagaimana
di dalam sajak: ada yang ingin diucapkan oleh kayu kepada api
dan ada yang harus direlakan awan dari hujan. Itulah mengapa
dia rela menunggu di warung itu, sementara ada yang menepi
dan menyisakan sebuah sudut di dalam ruangan sehingga tak bisa
dilihatnya dari jendela - apakah langkah-langkahnya sudah terlihat,
atau masih terhambat? Barangkali pada halaman-halaman tersisa
dari majalah yang dibacanya, ada tulisan supaya dia tetap sehat
dan membangkitkan minat setidaknya agar lebih rajin berolah-raga,
sebab dalam cinta selalu ada waktu menunggu dan waktu berjaga.

2012

Aku Bayangkan Kau Tersenyum

Kabar kedatanganmu sudah kuterima. Pintu pagar
dari pagi sudah kubuka lebar. Meja di beranda kuberi
taplak warna ungu. Kesukaanmu, bukan? Ada mawar
dirangkum di jambangan putih. Dan kuduga matahari pun iri
menyaksikan bahwa kegembiraan ini begitu berwarna, bahkan
nanti saat kita tertawa. Ah! Gingsulmu itu masih ada dan belum
dioperasi? Aku ingat kalau kau tak pernah berusaha menyimpan
rahasia, sama seperti aku. Sehingga kita sama-sama maklum
betapa pun jarak dan kenyataan membuat semua berbeda
dan mengalami waktunya sendiri, tapi kita masih seperti teruna
yang lugu. Seperti waktu pertama kali kita coba makan papeda,
kau coba pakai sendok & garpu, aku tak tahu harus bagaimana
mengambilnya dan menuangkan ke piring itu. Aku terus bayangkan
kau akan tersenyum, bila kuungkit-ungkit apa yang aku kenangkan.

2012

Cuma Tangisan

Ada yang harus direlakan, agar kita bisa menerima.
Seperti luka di tangan diulurkan ke tangan tabib tua itu.
Dan ada yang harus diobati dan dibebatkan, agar
penerimaan kita terasa ringan. Seperti jarum yang
berkejaran pada jam di langit-langit stasiun. Sementara
kau baru hendak melepas peluk, belum juga duduk.
Tapi peluit panjang itu terdengar lantang. Mungkin
yang kita perlu cuma tangisan, yang jerit, yang sakit,
agar kita bisa bangkit dan menerima kenyataan.

2012

Sebagai Suara yang Didengarkan dengan Mata Tertutup

Ketika yang ingin diterjemahkan
tiba-tiba pejam. Tinggal suara serupa
malam. Lalu bunyi tiang listrik dipukul
dua kali yang teng - tengnya seperti
kata-kata panjang dalam bahasa asing.

Kau masih saja memegang pena itu?

Tanpa sekalipun bertanya dia ingin
menulis atau dituliskan dalam satu
bahasa yang tak perlu diterjemahkan
bahkan mungkin cukup dipahami
sebagai suara yang didengarkan
dengan mata tertutup saja.

2012

Dia yang Berjalan Menyisir Semenanjung

Untuk CA

Jika bukan karena cinta, dia tak mungkin berjalan
sendiri menyisir semenanjung, menyisih dari malam
yang seperti pantai hilang alun. Tak dihiraunya gerimis,
         sebab ini bukan saat yang tepat untuk menangis.

Jika bukan karena cinta, dia tak mungkin memungkiri
sisa penjelajahan pada kapal, perahu, tiang layar, dan temali.
Sebab waktu tak berhenti seperti usai menghitung deret gudang
dan rumah tua ke sekian. Sebelum semuanya lenyap jadi kenang.

Dan jika bukan karena cinta, dia tak akan berucap selamat tinggal
dan membayangkan betapa hangat sarang elang di pucuk pohonan,
                                  betapa erat maut membayang dari kehidupan.

2012

Pada Lipatan Sajadah

Kulihat ada sisa-sisa doa
pada lipatan sajadah
Ada bekas tangis juga

Mungkin milik seorang Ibu
yang ditinggal mati anaknya
Mungkin juga jerit doa
yang terlambat naik pada Tuhannya,
lalu menyesal - mengapa ada waktu menunda?

Kulihat ada gores kuku
pada lipatan sajadah
Seperti seseorang bertanya
padaku: rindu itu menyiksamu?

2012

Seolah Mengarah ke Hulu

Hari yang cemas, matahari berpayung
di atas sampan. Kuingat lelaki tua itu
dengan riak sungai dan dedaunan talas

Sepertinya waktu mengambang
Mengaburkan kabar dermaga yang
kesepian. Siapakah itu menunggu?

Pertanyaanku: kecipak mulut ikan di balik enceng gondok
Yang detik-detiknya tunggu mulut kura-kura

Hari yang cemas, seseorang mendayung pelan
Seolah mengarah ke hulu, tapi tidak,
karena di sebuah dermaga,
penantiannya tak lagi sia-sia

2012

Membalas Sajak-Sajak Dharmadi

Image
Dua sajak ini lahir sebagai "balasan" terhadap sajak-sajak Dharmadi yang baru saja melahirkan buku kumpulan puisinya berjudul "Kalau Kau Rindu Aku." Sajak-sajak beliau adalah sajak-sajak yang lahir dari olah batinnya bahkan masuk wilayah spiritual dirinya, begitu akunya saat dibedah bukunya di Sastra Reboan, semalam (26/12) di Wapres Bulungan, Jakarta Selatan.

Sajak-sajaknya sungguh menarik hati saya, meskipun diksi-nya sederhana. Tidak banyak imaji disajikan, karena kebanyakan justru masuk dan membedah imaji yang ada sehingga roh dari imaji itu yang nampak. Dan maafkan saya karena lewat sajak-sajak berikut ini, saya justru akan lebih memainkan imaji-imaji yang "diabaikan" dalam sajak-sajak beliau.
Di Rest Area

: Dharmadi

Suara azan mengapung di atas
cangkir kopi. Sepotong hari
membeku dalam roti keju.

Hanya Aku dan waktu
berkejaran dalam diri.

2012

Lelaki yang Mencari
Namanya di Kuburan


: Dharmadi

Di dekat pokok kamboja,
dia berdoa (entah di depan
makam siapa).

Di ata…