Posts

Showing posts from January, 2018

Togog Kosong Nyaring Duitnya

Sebuah Sindiran untuk genre Puisi Esai Indonesia Pada tahun 1729 sampai dengan tahun 1731, Alexander Pope menuliskan esai filosofis dengan bentuk puisi, menggunakan kuplet dengan iambik pentameter. Esai berbentuk puisi itu berjudul An Essay of A Man. Terdiri dari empat epistel (bagian) di mana yang pertama mengulas hubungan antara manusia dengan semesta, yang ke dua mengulas manusia berbicara mengenai dirinya sendiri sebagai mahluk individual, yang ke tiga mengulas hubungan antara manusia dengan lingkungannya (manusia sebagai mahluk sosial) dan yang terakhir adalah pertanyaan-pertanyaan potensial bagi manusia mengenai kebahagiaan. Tulisan itu dipublikasikan tahun 1733 – 1734, dan mendapatkan penghargaan luar biasa dari beberapa tokoh seperti Voltaire, Rouseau, bahkan Emanuel Kant. Inilah pertama kalinya sebuah esai ditulis dalam wujud puisi. Menurut pengertian Thomas Gray, tulisan semacam itu dikelompokkan ke dalam satu jenis yang diberi nama puisi esai. Penjelasannya adalah sebuah k…

Somehow, dari Darbo

101 Lampu Lemak
untuk Almarhum Paman
~ Perlu seratus cahaya
untuk kesadaran agung,
Chakrasamvara

Paman sudah mati, dan aku
tak ingin mengenangnya.
Tak ingin terjebak dalam gelap
kenangan itu. Penjara pengap
penuh coret dan hitungan akan
waktu.
Karenanya aku nyalakan 101
lampu lemak yak. Tidak. Aku
tidak pernah takut Paman datang
dengan muka cemberut dalam
mimpiku.
Aku hanya tak ingin kegelisahan
jadi tuhan (dalam Genesis, Ia berjalan
di taman sambil berteriak pada
Adam dan Hawa dalam semak
).
Tak perlu ada ziarah. Paman sudah
mati, dan aku tak sedang ingin
menyapanya.
Aku nyalakan 101 lampu lemak yak
bagi perjalananku ke Shangri-La (di
sana, tak ada paman atau kenangan
akan dia).
Meski aku tahu, cahaya dari 101
lampu lemak itu tak bakal sampai
di kaki Kun Lun.

Kau Mati, Hidup Kembali,
dalam Doa Kami.
Tenang. Aku akan berdoa,
meski tak tahu: arwahmu
sedang berjalan di Hunza
atau sampai di Sinchuan.