Posts

Showing posts from October, 2020

Rumah

1. Di halamannya, aku bermimpi daun berbentuk hati, separuh hijau, selebihnya kuning tua kecoklatan jatuh dengan asa jadi serasah untuk sebentuk biji berkecambah. Di pagi basah, sebagian dari diriku berdiri memandangi langit cerah. Sebagian lain masih belum bisa tidur. Terlalu banyak rencana di dalam rumah. Terlalu banyak bencana di luar rumah. Tubuhku kolam duka bergolak-golak airnya. Yang ingin kusampaikan padamu -- langit cerah dan akan selalu cerah. Meski mendung akan datang dan hujan akan turun. Kata-katamu, atap dengan pelimbahan yang siap menampung hujan itu. Haruskah aku risau pada hujan? Jadi, aku berdiri di halaman dengan keyakinan seperti daun jatuh itu. Daun berbentuk hati, sebagian hijau, sebagian lagi kuning kecoklatan. Dan tubuhku kolam bergolak-golak airnya. Seperti ada tangan yang terus menerus bergerak di dalamnya. 2. Puisi ini menjadi beranda. Pot-pot bungaran memamerkan warna. Mereka perlu teduhan dan cahaya. Mereka perlu hujan atau air pancuran. Setiap hari, kau be

Sebilah Pisau

1. Aku pikir ini malam. Dan benar, ini malam. Seharusnya aku sudah tertidur. Dan setelahnya, aku bermimpi. Apa arti hidup tanpa bermimpi? Pertanyaan itu, pisau tergeletak di meja dapur. Sebentuk nyawa adalah taruhannya. Nasib semata luka. Dengan atau tanpa darah -- luka adalah luka. Setiap kita tak pernah bermimpi akan mendapat luka di hidupnya. 2. Waktu, tahun berapa saja, hari apa saja, mengiris hidup kita. Namun, kita tak mampu menghentikan waktu. Kecuali, kau adalah luka. Kecuali, kau adalah pisau. Pisau yang tajam mengembalikan kenangan. Membuatmu jadi bayi di mata ibu. Pisau, anggota keluarga yang tak ingin kita akui keberadaannya. Namun, ia ada. Tergeletak di meja dapur. Di sebelah mimpimu. 3. Ada malam menjelma pisau. Pagi harinya, aku tinggal bercak darah di dinding, di lantai, di jalanan. Tak ada yang bermimpi jadi pisau. Tak ada yang bermimpi jadi malam. 4. Kata adalah pisau. Kata menembus daging dan jantung. Malam ini, dalam mimpiku -- kau menjelma rumah jagal. Tak ada yang

Bersin

Jangan beri banyak alasan untuk sesuatu yang sederhana. Aku tahu dan percaya -- kau perlu demam dan selesma dan momen yang tepat, meski itu singkat. Jangan terlalu mudah mengatakan sesuatu maha penting karena direncana. Aku malas mendebat -- karena ada waktu untuk kau istirahat menjauh dari segala perkara, menepikan sejumlah gulana. Mengertilah -- larik-larik ini serumpang suasana ruang isolasi; selimut bau minyak kayu putih bercampur kecut keringat dan rintih malam-malam yang tak ingin kau perdengarkan. Dan, aku memang masih ragu: ini semacam reaksi spontan pada dunia dan kukuh kuasa. 2020

Telepon

Aku menyebut namamu, tapi namamu juga namaku. Hubungan kita semata dibentuk dari kabel, transmiter, satelit, dan kehendak untuk saling terkait. Sedang yang akan memisahkan; daratan, lautan, dan cinta. Kadang, sering hilang sinyal -- kita memang di tengah perjalanan, turun-naik lift kehidupan. Namun, kita akan selalu terhubung. Ada dengung di kabel begitu percakapan terhenti. Tidak peduli jika hanya bertukar kabar atau memang menyampaikan duka -- waktu tak pernah terasa pas saat hendak memutus. 2020

Sajak Pertama

Bahkan kita belum tahu apa arti tangisan itu. Nyanyi satwa hilang lahan? Atau tangan kita tak mampu menahan apa yang tak pernah diucapkan sebentang firman? Aku mengira; hanya sebuah persembahan. Aku menjeritkan nama-nama dan tak ada namamu di sana. Kau seperti tidur, seperti terkubur. Kita menggali waktu. Di sana -- kita akan bertemu. Bahkan kita belum tahu apakah kita memang akan bertemu. Ada yang membunuh diriku. Ada yang menuduh; kaukah itu? Dalam kalam: kita akan terus diperjalankan. Kita merasa harus menemukan. Sebuah jalan berarti pagar terbuka, dan kita tak lagi duduk di taman. Kita sibuk dengan seluruh pikiran, tapi tak pernah berjalan ke mana-mana. Kita bergerak dengan bermacam kehendak. Aku mencarimu. Kau mencariku. Sampai seekor gagak mematuk tanah. Mengajari kita menyimpan darah tumpah. Dan kita berlari ke sembarang negeri. Kita menghindar dari sekeranjang ngeri. Beban itu bernama cinta. Karena beban itu kita bersuara. Jangan mengira ini hanya persembahan. Ini lebih dari me

Bingkisan

Pertama, kau akan terkejut saat ia sampai di hadapanmu, meski sebelumnya, dari luar pintu pagar, pengantar itu telah berteriak, "Paket!" dan kau telah melihat wujudnya -- kardus coklat berbungkus plastik bening, masih ditambah lilitan pita perekat plastik bening, yang tanpa ragu kau segera membubuhkan tanda tangan pada resi yang disodorkan. Setelah keterkejutan itu lesap, kau segera merasa penasaran. Dunia seperti apa terbuka bagi seekor anak ayam dari dalam cangkang telur? Semasam apa sebutir mempelam yang tiba-tiba jatuh di halaman dari pohon yang didera hujan semalaman? Meskipun ia telah terbuka, kau masih juga didera perasaan untuk memastikan: sebiru apa baju itu sesuai dengan warna toska yang kaupesan? Apakah panjangnya tepat pada pertengahan betismu? Seberapa mirip ia dengan gambar katalog yang membuatmu tertarik untuk membelinya? Manusia memang hidup dengan banyak dugaan dan kecurigaan, meskipun bingkisan itu sudah sampai dengan aman di tangannya. Meletakkan dengan sek

Gambar

Kau bisa berlama-lama menatapnya; kanvas putih, selarik warna pudar. Kau bisa bersitahan berpendapat -- ini masa lalu, waktu yang ingin kukuburkan, atau, di waktu lain, kau ingin mengatakan -- di sana ada masa depan, terang sekaligus samar. Kau tidak bisa menolak pada seseorang yang ingin sekali menyebut; ada sekelompok manusia terusir dari situ. Kau juga tak bisa membantah jika ia ingin berkata; di sana ada keterasingan yang belum pernah dirasakan sesiapa. Kanvas putih, selarik warna pudar, mempersilakan kau masuk dan mendengar apa saja; meski hanya gema dari ruang hitam di hatimu. 2020

Beberapa Puisi Terjemahan

Vladimir Mayakovsky Rasanya Mungkin Berbeda Seekor kuda melihat seekor unta lalu tertawa terbahak "Betapa aneh bentuk dari kuda itu!" Unta itu membalas: "Kau - seekor kuda? sama sekali tak mendekati! Kau seekor unta yang belum jadi, sepertinya." Hanya Tuhan, yang tentu Mahatahu, mengenali mereka sebagai mamalia dari jenis yang berbeda. 1929 Paavo Haavikko Kidung Bunga Memanggung pokok-pokok cemara; buah-buahnya berguguran tiada jeda; O kau, anak gadis penebang pohon, melangkah laksana ancala, betapa gusar dan betapa megah, dengar, kalau kau tak pernah dicinta, kalau aku tak pernah dicinta (kata-katamu terpahit saat kita berpisah), O dengarkan -- buah-buah cemara, menghujan ke atasmu dengan limpah, tanpa jeda, tanpa kasih. Nissim Ezekiel Malam Kalajengking