Posts

Showing posts from April, 2014

Dua Sajak di Kompas Minggu, 27 April 2014

Berikut ini adalah 2 sajak saya yang dimuat di Kompas Minggu, 27 April 2014;

Bagaimana Capung Melihat Dunia

Ingatlah peristiwa ini:

Musa baru saja selesai menulis,
sedang di bawah bukit, Harun
tak kuasa menolak upacara
di hadapan patung sapi emas.

1/

Dalam semak itu, seekor siput
merambati tangkai bunga, tapi
lingkar kambium tunggul itu
tak lagi mengingatkan tentang waktu.

Barangkali, saat itu, kau mendengar
ada yang menyanyi dengan syahdu;

"Cahaya siang telah datang,
dan aku ingin segera pulang."


2/

Seekor capung yang baru saja hendak terbang
mengira langit terbuat dari lembar-lembar kain sutra.

Sementara berhelai-helai dedaunan rumput
seolah tangan yang menghimbau;

"Siapa yang memihak pada Tuhan,
datanglah ke depan kemahku!"

Dan berkumpullah kita, di halaman sajak.
Capung itu melihat cahaya di balik semak.

3/

Rasanya, seekor burung pernah mematuk
serpih kayu itu. Entah di kulitnya, atau
bagian batangnya yang mudah pecah.

"Sekuntum bunga seolah menyala, Tuan."

Ketika Kau Tiada

Aku mencarimu lewat tanda-tanda
yang bisa aku kesan. Lewat suara yang
merisaukan. Lewat licik laku angin
yang menabur dingin di sela-sela

jemari yang menghapus buram di jendela.
Dan kalau tak bisa, aku mengenangmu

lewat gambar-gambar yang berkelebat
dari jendela dan mengenangmu sebagai
tetes air yang membuat jalannya sendiri
di sana. Lalu aku menduga ada semacam

suara mengaduh sendirian dan tak terhirau
oleh sesiapa. Suara yang tak bisa kukatakan
ketika kau tiada. Terlebih, segala kata dalam
puisi ini, tak bisa menghadirkan kau

kepadaku.

2014

Cinta di Tanah Lapang

Seperti permainan kanak, cinta mudah pecah
oleh gelak tawa dan tangis yang tiba-tiba, katamu.
Tapi malam turun ke bukit itu lengkap
dengan cuacanya yang pengap.
Laut mingkup, menyimpan kilaunya.
Menyisakan mata yang terbuka.

Tadi, seorang pelaut membuka kitab,
menderulah tujuh samudra dan kisah kibas sisik todak.
Kau bilang padanya - jangan tergesa!
Awan belum bertelur bulan,
dan lampu di teras mengeraskan makna penantian.

Seperti lagu yang pernah kudengar sebelum remaja,
kita adalah tanah lapang yang siap digeruduk
langkah-langkah bocah. Ditingkahi rasa penasaran
tentang kisah-kisah tua.

Yang setua cinta?
Yang setahu mata, kataku,
sebelum dia menutup di sebuah pulau.
Dirayu engkau.

2014

Osternacht

Bagaimana aku akan lupakan tangismu itu?
Tangis yang memanggil para pemanggul salib,
penduduk negeri yang rumahnya terbuat dari batu.

Waktu itu, kami semua seolah diliput ragu,
dililit sesuatu yang abu-abu. Sewarna tali pusar
bayi sewaktu lahir. Dan mata kami

seolah buta. Tapi telingaku menangkap tangismu
seperti bunyi air yang terus memancar
di sela batu. Barangkali ini memang misteri

yang jawabannya tak bisa kutemu
meski telah tegak salib dan rumah-rumah raib,
dan penduduk negeri itu sembunyi di balik waktu.

2014

Di Depan Coloseo

Di Depan Coloseo
Ketika waktu berlalu, yang ada hanya kenangan, duka, dan kesepian. Yang berkumpul seolah bayang bangunan tua di badan jalan. Tapi aku sedang tak ingin mengenangmu dengan cara begitu.
Barangkali, ada yang masih tersisa dari waktu yang kini seperti sisa belulang binatang, mungkin pada sebidang tembok kukuh dan tebal, ada erang yang tak terkabarkan, pekik yang teramat pelan.
Aku ingin mengenangmu dengan beragam sebutan; syuhada atau petarung atau pejuang, yang tak menangis walau habis ingin, yang tak bersedih walau segala lalu.
Karena cinta memang tak bisa dibiasakan untuk melipur kenangan, duka, dan sepi yang mulai dingin. Dan seperti tulisan di batu-batu marmar yang terhilang,
di depan Coloseo, selalu ada doa dipanjatkan.
2014