Dua Sajak di Kompas Minggu, 27 April 2014

Berikut ini adalah 2 sajak saya yang dimuat di Kompas Minggu, 27 April 2014;

Bagaimana Capung Melihat Dunia

Ingatlah peristiwa ini:

Musa baru saja selesai menulis,
sedang di bawah bukit, Harun
tak kuasa menolak upacara
di hadapan patung sapi emas.

1/

Dalam semak itu, seekor siput
merambati tangkai bunga, tapi
lingkar kambium tunggul itu
tak lagi mengingatkan tentang waktu.

Barangkali, saat itu, kau mendengar
ada yang menyanyi dengan syahdu;

"Cahaya siang telah datang,
dan aku ingin segera pulang."


2/

Seekor capung yang baru saja hendak terbang
mengira langit terbuat dari lembar-lembar kain sutra.

Sementara berhelai-helai dedaunan rumput
seolah tangan yang menghimbau;

"Siapa yang memihak pada Tuhan,
datanglah ke depan kemahku!"

Dan berkumpullah kita, di halaman sajak.
Capung itu melihat cahaya di balik semak.

3/

Rasanya, seekor burung pernah mematuk
serpih kayu itu. Entah di kulitnya, atau
bagian batangnya yang mudah pecah.

"Sekuntum bunga seolah menyala, Tuan."
Bisik kepik dari balik bayang. Kau tak melihatnya?

Aku hanya melihat putik bunga berwarna putih.
Aku hanya mengira alam tengah merintih.

4/

Tak ada bau hujan atau sisa embun
di dedaunan rumput itu.

Seolah tak ada cerita yang bisa
kau rangkum sebelum sebuah bunga
jadi alum.

5/

Barangkali, seorang menggurat batang tunggul itu
dengan inisial namanya.

Dan sebuah luka dibuka, pelan-pelan sekali,
pagi itu.

Pekik burung di balik semak, membuat capung
terbang semakin tinggi.

6/

Di halaman, seorang menyanyi Calypso;

"Tapi aku bersedih mengatakannya,
  aku dalam perjalanan,
  tak akan pulang berhari lamanya."

Di halaman, capung memandang dunianya:
cahaya, semak, dan bayangan.

Tak dia pedulikan tunggul kayu
dan burung yang lupa rasa.

7/

Esok pagi - entah jika kau menyebutnya "lagi"
- di depan kemah, remah-remah roti.

Dan burung itu bersembunyi dalam bayangan
semak-semak yang tak lagi jadi api.

Capung itu tidak mengapung.

Dia tidak limbung.
Dia tidak bingung.

Capung itu terbang membubung.

8/

Di antara kepak sayapnya,
capung itu merenung;

Bagaimana dunia dibuat sesuram
bayang di bawah tunggul kayu itu?

Di antara kepak sayapnya,
capung itu terus membubung.

9/

Di bawah langit yang serupa lembar-lembar kain sutra,
Musa mengasah pedangnya dan membayangkan
urat yang mengeras di leher saudara-saudaranya.

Sesekali, dia melirik pada puncak bukit, dan berkata:
Jika waktunya tiba, hapuskan namaku saja.

Kelopak matanya tiba-tiba menutup
ketika sayap-sayap capung itu terlihat
seperti tembaga.

2014

Liburan Penyair

Sekali waktu,
aku libur jadi penyair.

Menyaru sebutir apel,
tapi pisau sepi membelahku.

Aku jadi kupu-kupu,
Sepi jadi ulat masa lalu.

Ada baiknya aku jadi biji saja.

Eh, sialan! Ada lalat
menghisap-hisap sisa manisku.

Kukemas diriku jadi kanvas.
Pucat putih itu.


2014

Sajak-sajak ini seperti mengingatkan saya bahwa kerja kepenyairan saya masih amatlah panjang. Apa betul begitu? Saya merasa ini semacam angka-angka yang terus beranjak dan mengemas dirinya sendiri. Bersabarlah. Bersabarlah. Saya masih hendak menulis.

Comments

Jual Mesn Jahit said…
Kakak rajin sekali. Selamat beraktivitas kak.

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya