Posts

Showing posts from June, 2016

Pada Satu Titik

Pada satu titik, hanya ada musik,
dan perasaan yang terbangun
begitu mendengarnya.

Ia mengantarmu mengembara,
tapi ia tetap di situ, tak ke mana.

Pada satu titik, kau akan pergi.
Meninggalkan satu alunan tak terhenti.
Alunan yang sampai padaku kini.

2016

Sesaat Sebelum Chorus

Ia merasa di stasiun kereta.

Tidak.

Ia merasa duduk di dalam kereta.

Tidak.

Ia merasa duduk dalam kereta roller coaster.

Ya.

Ia merasa sebentar lagi kereta roller coaster itu bergerak.

Ya.

Bergerak

menukik.

Ya.

Menukik

dengan

sangat

kencang.

Ia lupa menyiapkan perasaan.
Sejumput takut.
Sebenang tenang.

Ia merasa jadi umpan di ujung kail.
Dan terlalu kuatir ikan itu akan membuka mulut dan menelannya utuh.

Ia bersyukur untuk tidak berpikir.
Sebab ia tahu tak ada gunanya menyesal.
Ia merasa sudah terlanjur dan tak bisa mundur.
Ia tunggu suara yang akan menuntunnya.

Ada yang menunggunya bertindak.
Seperti mereka yang menangis dan melambaikan tangan
melihat kereta bergerak meninggalkan stasiun.
Mulut-mulut yang cuma menganga dengan tawa atau takjub
melihat gerak roller coaster ini.
Tatapan penuh harap dari Sang Nelayan
yang tak lain dirinya sendiri.

Bersama sebuah nada, ia tahu,
ini waktunya meluncur ke arah yang semakin tinggi,
juga semakin turun,
dan ini semakin mengguncang perasaannya.

Kuntulan

1/
Para rawuh kakung putri Mugi sregep nggone ngaji Ngaji iku sangu mati Sowan marang maha suci Sangu mati dudu bandha Utawa dudu raja brana Iman Islam ingkang sampurna Amal sholeh luwih utomo Ia memberi kegenapan dan berdiri di tengah jalan. Memberi kesan pada yang memandang bahwa ia adalah benar-benar pendekar. Penerus harapan yang sudah dibakar. Ia tahu, kota mudah ditaklukan dan kata-kata biasa dirapatkan sebagai api menyala, sampai semua rindu hangus, dan cinta bukan kepura-puraan, seperti gerak menangkis dan menendang sesama teman. Ia bernyanyi bukan melipur duka, sebab duka hanya warna bendera kusam dipasang di tiang listrik di ujung gang, dan dunia tak berpantang padanya. Karenanya ia berdiri membusung dada, memberi tanda: Ini saatnya bagimu menyampaikan pesan! 2/Shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah Shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah Tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah wa kulli mujahidin lillah bi ahlil badri ya Allah Kesucian tak bisa diraih …

Sintren

1/ Turun-turun sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang ning ayun ayunan
Kembange Siti Mahendra
Widodari temurunan naranjing ka awak sira

Ia bukan lagi pertanyaan -- apakah cinta
bisa mengubah dunia? Hanya ia belum
menjadi jawaban. Ia ragam kemungkinan seperti temali, kacamata, hiasan kepala,
serta bunga ronce atau gadis yang dikurung
dalam pesta dan diberi kesempatan untuk tampil ke dua kali, dalam keadaan
yang benar-benar berbeda. Seperti kata
yang disusun beraturan dalam sebuah puisi. Kau, bisa memilih kesempatanmu sendiri.
Bertanya atau menjawab masalah di dunia ini.
2/ Sih Solasih Solandana
Menyan putih pengundang dewa
Ala dewa saking sukma
Widadari temurunan

Ia akan datang, tanpa kau minta
seperti ketika ia memutuskan pergi. Sebuah kebebasan adalah berlari
tanpa ada yang bertanya, "Apa yang ingin kau hindari? Ke mana
kau hendak pergi?" Atau sembunyi adalah cara untuk mengurangi
rasa takut di dalam dada. Entah hanya untuk menentramkan kata-kata
dari kemacetan kota, atau menipu…