Lempar Kata, Siapa Menangkapnya? - Bagian 2

Ada 10 (sepuluh) kata lagi dilempar oleh Hasan Aspahani, yang setelah saya hitung
ternyata ada 9 (sembilan) yaitu ;
- kancing,
- kasir,
- saku,
- pasir,
- akar,
- terung susu,
- kamera,
- asbak, dan
- pagar.

Dan inilah sajak saya yang dibuat dengan 9 (sembilan) kata itu ;

Duapuluh Delapan Larik
Tentang Mimpi

Di luar kita, mimpi merangkai dunianya sendiri.
Sebuah dunia yang tumbuh dengan akar menjalar,
daun yang lebar, dan batang yang besar. Hingga
kita selalu mengira dunia kita adalah selembar

tunas daun yang telah lama tercabut dari pohon
mimpi itu. Dan itulah sebabnya kita selalu
mengigau tentang buah, yang bahkan
bakal bunganya pun kita belum pernah tahu.

Buah yang diceritakan secara sempurna,
seperti seorang tabib pernah menjelaskan
kepadaku khasiat terung susu untuk
kesehatan payudaramu. Atau seperti hadirnya

seorang pelayan dengan asbak di tangannya segera
setelah kau meraih sebungkus rokok dari saku bajumu.
Lalu katamu ada pagar rahasia, melingkari tubuh kita
agar selalu terhindar dari jatuhan buah mimpi.

Pagar dengan pintu bundar seperti kancing jaketku,
lengkap dengan penjaga yang selalu menghitung
waktu tidur kita, layaknya kasir dengan lirik mata
lurus ke arah layar monitor kecil itu.

Dari pintu itu, kadang-kadang kita bisa mencuri
pandang pada detik-detik yang dtanduskan
malam-malam panjang kita seperti batu
yang digerus titik-titik hujan menjadi pasir.

Ketika aku terpaku dengan pintu pagar dan buah
mimpi segar, kau abadikan wajahku lewat
kamera
saku. "Ini kau yang sama, dalam media
berbeda," begitu lengkapnya kaujelaskan mimpi.

2008

Comments

Eko Putra said…
bang, kata guru hasan ; terung dan susu menjadi 2 nomina, bukan frase..

jadi terung dan susu

bukan terung susu
timur matahari said…
salam kenal
dunia yang sudah lama ku cari
dunia kata-kata yang tertulis
bebas
puisi yang indah
chiero said…
walopun gag mudeng,,tapi bagus juga,,:)

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya