Reboan 25 Juni 2008

Dengan Aneka Duka Sebelum Acara,
Reboan Berlangsung Luar Biasa.

(Laporan Reboan 25 Juni 2008)

Rabuan 25 Juni 2008 terlaksana sudah. Tak banyak yang mengetahui bahwa dari sekian penampil yang dijadwalkan, banyak yang tidak dapat datang karena berbagai hal. Mat Bui Band yang tadinya dijadwalkan tampil (karena lagu-lagunya yang berkarakter alm. Benyamin Sueb) tiba-tiba terpaksa membatalkan kesanggupannya karena anggotanya ada yang sakit, demikian juga dengan band yang digawangi oleh Yudha dari www.kemudian.com juga bernasib sama. Seorang anggotanya pun mengalami sakit hingga terpaksa membatalkan janji untuk tampil.

Dion dari Elex Yo Ben pun mengalami musibah yang menurut dia sangat ironis. Dion mengaku sebagai orang yang anti kekerasan, tetapi Sabtu malam sebelum acara berlangsung dirinya menjadi korban pengeroyokan hingga harus berurusan dengan pihak kepolisian hingga beberapa hari sesudah peristiwa itu. Pak Rachmat Ali, yang dijadwalkan membagi pengalaman kreatif sehari sebelumnya menderita sakit. Kabar buruk lainnya adalah meninggalnya saudara perempuan dari Aulya El Yasa. Yasa sendiri rencananya hendak mengadakan launching novel fantasy-lit nya yang bertajuk Enthirea ; Pertempuran 2 Dunia. Sedangkan Ina, siswi SMP Al Azhar Kemandoran yang hendak membaca puisi terpaksa tidak bisa datang karena urusan pendaftaran ke SMU yang sangat mendesak. Donny Anggoro, yang juga rencananya hendak meluncurkan novelnya terpaksa urung karena dia ada tugas ke Bandung.

Menjelang jam-jam pelaksanaan, Sie Acara mengontak Mata Kail – sebuah komunitas seni yang pada waktu Reboan pertama berhasil mencuri perhatian dengan memasak kertas-kertas sajak – dan untungnya mereka yang tengah sibuk karena urusan pekerjaan masing-masing anggotanya bisa datang untuk kembali meramaikan Reboan.

Dari panitia, Zai Lawanglangit dan Nina Yuliana juga tak bisa hadir karena harus menyelesaikan tugas di luar kota. Sahlul Fuad alias Cak Lul sudah seminggu terbaring sakit pneumonia (paru-paru basah). Maka dengan segala kekurangan, panitia yang ada seperti Dian Ilenk, Setyo Bardono, Yonathan Rahardjo, ditambah Sari bahu-membahu demi suksesnya acara.

Mendekati pukul 8 malam, Budhi Setyawan yang menggandeng Astri dari UBK memulai acara dengan menyanyikan cuplikan-cuplikan lagu yang terinspirasi tentang Jakarta. Heri Latif, dedengkot milis Penyair dan Sastra Pembebasan yang baru saja merayakan ulang tahunnya ke-50, tampil dengan rambut gondrong yang sangar berkata “Heri Latief datang khusus dari Amsterdam untuk Pasar Malam.” Delapan puisi dibacakannya tanpa jeda : Jadilah Dirimu Sendiri, Dia Yang Pergi ke Barat, Jakarta dan Mentalitas Cepek, Restauran di Tong Sampah Kita, Wirawan, Balada Sepiring Nasi Tempe, Bencana Alam dan 10 Tahun Reformasi.

Heri Latief yang berencana untuk keliling daerah sebelum awal Agustus nanti kembali ke Belanda mengatakan kepada Yohannes Sugianto selaku Ketua PaSaR Malam, “Sastra Reboan ini menarik karena merupakan alternatif lain dari arena yang ada di Jakarta. Menarik, karena kalian bertekad untuk independen. Menarik, karena yang hadir bisa dibilang 90% bukan seniman atau sastrawan, tapi mereka yang ingin menikmati sastra atau seni.”

Setelah dibuka dengan lagu-lagu yang sangat ear catchy dari E Sound, yang terdiri atas Irfan pada gitar, Yogi pada gitar, Donny pada bas, Helmi pada keyboard dan Fahdya pada drum, serta Yoke Prabandari pada Keyboard.

E Sound merasa terkesan dengan beragamnya penggemar sastra yang hadir di Wapres. Hingga pada penampilannya yang kedua, mereka menampilkan lagu-lagu karya mereka sendiri. Dan mereka diwakili oleh Yoke yang sekaligus managernya berjanji untuk tampil lagi di Bulan Juli mendatang. Yoke sendiri kemudian membacakan sajak karya Yohannes Sugianto yang berjudul “Cilincing.”

Reboan kali ini lebih didominasi oleh pembacaan puisi dari berbagai kalangan ; Fretty Aulia yang sehari-hari bekerja sebagai Freelance Arsitek sekaligus Marketing Property, Nurrudien Asyhadie atau yang lebih dikenal dengan pabrik_t, teman-teman dari komunitas BungaMatahari seperti ; Anya Rompas, Mikael Johani, Iskandar, dan Yoshie silih berganti tampil. Juga wakil-wakil dari komunitas Sastra Universitas Bung Karno seperti Hujan, T. Arif, dan Deepee. Di tengah-tengah acara, Alan Stein menyajikan aksi teaterikal yang kocak. Mata Kail kali inipun tampil dengan membacakan sajak.

Dari panitia PaSaR Malam tampil Pakcik Achmad, Dedy Tri Riyadi, dan Yohannes Sugianto mengisi acara dengan membacakan sajak. Penampilan lain datang dari penyair Slamet Widodo dengan puisinya yang kocak tapi menohok, juga Herwin dengan musikalisasi puisi Slamet Widodo yang cukup seronok syairnya.

Malam itu memang langit Jakarta tidak turun hujan, akan tetapi di Warung Apresiasi Bulungan diselingi kopi jahe yang wangi, jajanan pasar yang gurih dan manis, serta gelak tawa, hujan kata-kata telah terjadi hingga pukul 23.00 WIB, waktu di mana kami semua undur diri.

(diolah dari laporan versi Om Yo)

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya